Senin, Februari 02, 2015

Ibu Dahsyat #1

Wanita mana yang tak ingin disebut Ibu Dahsyat? Mendengar istilahnya saja rasanya terasa hebat.
Lalu apa itu ibu dasyat?

Sebelumnya, mari kita buka kembali Kitabullah dan membaca Surat Faathir ayat 32

Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan diantara mereka ada yang petengahan dan diantara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar.
(QS: Faathir Ayat: 32)

Dalam ayat tersebut Allah menggolongan hambaNya menjadi 3 golongan. Dan ternyata, hal tersebut sejalan dengan penelitian yg dikemukakan oleh Paul Stoltz.

Paul membagi manusia menjadi tiga dalam analog mendaki gunung.

Tipe pertama adalah Quitters atau mereka yang keluar dari pertarungan. Inilah yang Allah sebut sebagai mereka yang mendzolimi diri sendiri.
Orang-orang ini mudah putus asa jika menemui rintangan, dan kemudian berhenti di tengah pendakian. Dalam kehidupan nyata, orang-orang seperti ini sangat pesimis dan mudah menyerah sehingga jauh dari kata sukses.
Dalam konteks ibadah, fujurnya lebih besar daripada taqwa.

Tipe kedua adalah Campers atau mereka yang berkemah. Mereka yang Allah sebut pertengahan yaitu Orang-orang yg berhenti ditengah jalan. Pendakian tidak selesai, tapi mereka mersa sudah berhasil meskipun belum sampai ke puncak. Tipe ini lebih baik disbanding tipe Quitters karena berhasil menyelesaikan beberapa tantangan meskipun tidak semuanya. Dalam kehidupan nyata, orang-orang seperti ini adalah yang cepat puas meskipun belum mencapai hasil yang maksimal dan masih tersimpan banyak potensi untuk bisa melangkah lebih jauh.
Dalam konteks ibadah, fujurnya sama dengan taqwa.

Tipe ketiga adalah Climbers atau mereka yang terus mendaki. Inilah orang2 yang lebih dulu berbuat kebaikan. Sabiqun bil khairat. Orang-orang ini selalu berpikiran positif, tidak pernah menyerah, terus melangkah dan berjuang sampai akhirnya mencapai puncak gunung. Dalam kehidupan nyata,orang-orang inilah yang terus bergerak maju dan melihat tantangan sebagai peluang. Jika rintangan adalah malapetaka bagi orang lain, maka bagi mereka adalah berkah, karena itulah yang akan membawa mereka naik ke puncak. Inilah orang-orang yang akan sukses mengejar impian-impiannya.
Dalam konteks ibadah, fujurnya lebih kecil daripada taqwa.

Lalu konsep hidup yang manakah yang paling baik?
Ya, climber. Sabiqun bil khairat. Itulah konsep hidup yang seharusnya melekat pada sosok ibu yang darinya akan lahir generasi-generasi pembaharu dan tentu saja penegak Islam.

Menjadi pembelajar. Tiba-tiba saja saya jadi ingat salah seorang teman yang baru saja meluncurkan buku tentang seorang ibu pembelajar. Next time kita review ya..kalo sudah baca ^^

Oke, kembali ke hape (karna ngeblognya pake hape)

So, inilah beberapa indikator ibu dahyat menurut pembicara (Teh Deri) SCI:

1. Tangguh
Tangguh disini tak hanya sekedar pada fisik, namun juga fikiran dan terutama hati. Hati yang tangguh adalah hati yang senantiasa Lillah, menjadikan segala tujuan adalah Allah.

2. Tanggap
Seorang ibu harus mengerti apa yang di dengar  kemudian melakukan apa yang harus dilakukan sesuai dengan kondisi yang dihadapi.
Tanggap pada kondisi saat menghadapi suami, anak, mertua, bahkan tetangga dan sahabat.
(Pengalaman hampir 5 tahun menikah, poin ini cukup sulit dan harus terus menerus diasah. Ga jarang ketidakmampuan kita tanggap pada lingkungan sekitar dapat menimbulkan akibat-akibat lain setelahnya, yang rata-rata tidak menyenangkan...hiks..)

3. Terampil
Kaya ilmu, ketrampilan, dan keahlian.
Seorang ibu yang terampil, minimal memiliki 5 ketrampilan.
(Belum dijelaskan apakah kita hra expert dalam ketrampilan2 tersebut atau sekedar bisa)

Well, ini sekilas info hasil materi SCI (Sekolah Calon Ibu) yang dua bulan ini bakal saya ikuti. In Sya Allah akan sharing materinya di blog. Semoga menjadi manfaat bagi semua, dan menjadi doa agar kita bisa menjadi satu dari sekian ibu dahsat di negri ini. Aamiin.




sumber: Teh Deri (Pembicara SCI)
rumahpintar-kembar.com

Rabu, Januari 14, 2015

Kapan Nulis Lagi?

*muncul dari tanah*
Rada serem ya... tapi bener..ini uda lama bgt sejak tulisan terakhir. Dan tetiba, setelah iseng2 ngebaca blog orang -yang ga sengaja nemu pas cari info harga tes torch di jogja-, ada gemerisik (ciehh) rindu akan blog sndiri yang lama tak ditengok.

Sebenernya si abi beberapa waktu lalu sempet ngingetin, malah mau beliin laptop baru dengan dalih biar bisa nulis lagi. Girang donk sayanya... ^^ Ahaha, etapi kan manajer keuangan kan di tangan saya, jadi mulai dari cashflow sampe budget anggaran masa kini dan masa depan saya yang ngerti. Doski mah taunya kerja dapet uang. Meski girang, tapi ga saya acc jg. Lah, secara sekarang lagi off produksi, jadi sumber rejeki cuman ngandelin Abi. Biasanya gitu juga dink.. wong kerjaan cuman cukup buat jajan kita aja...hhehe..
Back to nulis. Yach, jujur banget nget ya.. memanglah uda lama ga nulis (selain nyetatus..duh!). Ada beberapa rencana proyek buku pun belum bikin plot. Padahal.kalo dibilang pengen sih iya pake banget. Punya karya yg diterbitkan, dengan kelas menulis super abal2 ala diary gini, uda prestasi yang oke banget.

Tapi entah kemana perginya nyali saya. Rasanya ada ketakutan tersendiri saat menulis. Saya bukan tipikal.sastrawan, saya ini tipikal "gampang dipengaruhi". Nah itu masalahnya. Jadi tiap nulis, saya ga bisa konsisten dengan gaya bahasa dan tulisan saya. Kenapa? Karna itu pasti tulisan saya tergantung pada buku/ tulisan yang baru saya baca saat itu.

Contohnya ya, saat sedang asyik masyuk dengan buku2 ustadz Salim AFillah, tulisan yang saya hasilkan bisa puitis dan 'mendayu-dayu' seperti tulisan beliau.
Nah giliran saya, misalnya habis baca blognya Radityadika, tulisan Arham kendari, dan sejenisnya, maka tulisan dan bahasa saya bisa 'njomplang' 180 derajat kaya tulisan mereka yang rata2 gokil dan nyeleneh.

Baiklah, saya cukup merasa diri ga punya pendirian dalam tulis menulis karna ini. Hasilnya, jangankan pembaca, saya aja ngerasa bingung...
Selabil inikah saya? Hiks..#merunduk sedih

Jadi kapan saya bisa nulis lagi...
jawabannya hanya Allah yang tau..
Mohon kritik dan sarannya.. Meski saya tau, pembaca tulisan saya tak banyak, silahkan kritik dan beri saran..
Terimakasih... ^^

Senin, Oktober 20, 2014

Tanpa pesta, tanpa kue, tanpa kado, tanpa ucapan yg penuh gegap gempita, dengan nada hidup biasanya, kita lalui tanggal dimana beberapa tahun silam kau pernah terlahir.

Bukan karna lupa, bukan juga karna enggan, tapi karna Rasul kita tak mengajarkannya.
Maka ijinkan doa yang menyertai hari itu, sama seperti hari-hari lainnya.

Kalau saja boleh jujur, aku tak bahagia menyambutnya. Kurasa pelukan sudah mampu membuatmu mengerti kan,mas? Iya, karna hari itu, sebenarnya bukan hanya jatahmu umurmu yg berkurang, tapi juga jatah hidupku di dunia. Dan, ah, tanggal lahir selalu membuat kita makin mengingatnya.... :((

Maaf jika kado tak berujud nyata. Hanya berupa doa pada Sang Maha Cinta, yg semoga membawa jalan cinta padaNya, menyatu kembali usai dunia. Menjadi pemberat dalam timbangan hisab, dan tak menjadi musuh dalam pengadilanNya.

Mas,ijinkan aku menulis sepenggal doa dan pesan sederhana untukmu di hari 'spesial'mu
Aku memang mencintaimu, tapi semoga cintamu pada Robb kita jauh lebih besar dan Allah pun smakin mencintaimu...
Aku memang akan mendampingimu dalam suka maupun duka, tapi ingatlah Allah dalam kondisi apapun, maka semoga Allah selalu mengingatmu...
Engkau adalah pemikul tanggungjawab keluarga kita, aku, dan anak2 kita, maka smoga Allah karuniakan bahu tangguh untukmu, iman yg kokoh dan langkah yg senantiasa terjaga.

Barrakallah fii umrik, mas
Aku tak mampu memberi kado, tapi smoga Allah memberi umur yg barakah, rezeki yang barakah, keluarga yg barakah, dan hidup yang berlapis keberkahan didalamnya. Aamiin Allahummaamiin..