Rabu, Oktober 23, 2013

Hidup : Orientasi atau Kebutuhan

Beberapa hari lalu sempet berdiskusi santai sama mbakyu, setelah sekian tahun gak pernah. Beraawal dari bahasan tv yang membuat anaknya betah menonton film-film ga jelas berjam-jam dan membuatnya bawel tiap hari. Eh, tiba2 nyambungnya ke fenomena pernikahan jarak jauh.

Saat ini mbakyuku juga termasuk salah satu yang mengalaminya. Suaminya ada di Manado, sedangkan dia dan anaknya di Jogja. Awalnya, sudah dua kali pindah2 tempat juga. Kalaupun sampai akhir tahun ini ga ada SK pindah, rencananya dia bakal nyusul sang suami, sama anaknya tentunya.

Menurutnya, pernikahan jarak jauh itu ga akan menghasilkan sakinah di dalamnya. Wah, seru nich, pikirku...secara pernah ngalami. Jadi malah makin pengen ngorek2 pendapat ibu muda lulusan psikologi di depanku kala itu.
Dalam kehidupan, ada dua hal yang mendasari pilihan untuk hidup terpisah atau bersatu dalam suatu keluarga. Yaiut Orientasi atau kebutuhan.

Seseorang yang memilih meninggalkan keluarganya demi mencari sesuap nasi, itu pilihan yang didasari kebutuhan. Tapi, ungkapan 'sesuap nasi' di sini adalah makna harafiahnya lho. Jadi, jika dia ga bekerja, bahkan sekedar makanpun tak dapat terpenuhi. Hal ini dicontohkannya pada TKI/ TKW yang terpaksa meninggalkan keluarganya untuk bekerja.

Dasar pemilihan kedua adalah orientasi. Nah, orientasi di sini pun masih terbagi menjadi dua, yaitu fitrah dan kemakmuran. Kira-kira begitu penjelasannya kemaren.
Yang banyak dipilih sekarang ini, orientasi kemakmuran. Bagi pandangan umum, definisi kemakmuran itu adalah kelapangan materi yang kasat mata. Rumah, kendaraan, brand ternama, dan tentu saja status pekerjaan, mungkin itu beberapa simbolnya. Bagi pemilik orientasi ini, maka walaupun harus bermil-mil jauhnya dari keluarga tidak masalah baginya, meskipun jika ia bersama keluargapun juga tak kekurangan, tapi mungkin memang tak selapang jika ia mengambil pekerjaan yang berakibat memisahkannya dengan keluarga (suami/ istri). Karna baginya ketakutan pada kesempitan jauh lebih membuatnya tertekan ketimbang jauh dari keluarga namun memiliki kelapangan materi.

Sebaliknya dengan seseorang yang memilih dasar fitrah dalam hidupnya. Misalnya seorang wanita, yang pada fitrahnya adalah pendamping suami dan seorang ibu, maka ketika seorang wanita dengan dasar ini diberi kesempatan untuk memiliki materi berlebih namun jauh, ia akan lebih memilih fitrah awalnya. (Hahaha...waktu si mbakyu ngomong ini makjleb...kayanya kerasa banget gitu..).

Nah, kedua dasar tersebut pun sebenarnya adalah hak masing2 dalam menyikapi hidup. Fitrah sendiri merupakan pilihan bagi orang2 yang mungkin memikirkan kedupan setelah kehidupan ini. (Aku manggut2 aja sambil senyum). Karna ketika dalam satu keluarga (red-suami istri) saling berjauhan, maka PASTI sakinah tak mampu hadir di dalamnya.

Bener juga, pikirku.Arti sakinah itu bahagia/ tentram. Coba siapa yang bahagia kala harus berpisah dengan pasangan/ buah hati dalam jarak sekian mil, walaupun apa yang ia kerjakan saat itu juga untuk mereka? Tapi memang tak dipungkiri kok, coba inget2 ayat ini:

الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُمْ بِالْفَحْشَاءِ ۖ وَاللَّهُ يَعِدُكُمْ مَغْفِرَةً مِنْهُ وَفَضْلًا ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

Syaitan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjadikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengatahui. 
(QS. Al-Baqarah: 268).


Ah, aku jadi ingat percakapanku dengan salah seorang temen, yang juga psikolog sebulan lalu kira-kira.
"Entah ya, Din...aku kok belum menemukan dimana sisi kenikmatan dengan hidup berjauhan seperti yang teman-temanku lalui. Aku sebagai ibu rumah tangga memang kerap kali bosan dan capek dengan pekerjaan ita itu saja dan kerewelan anak2. Tapi itu cuma beberapa menit lho, setelah itu lupa kok. Selalu saja ada yang kemudian membuatku bersykur dan bersemangat kembali menjalani ini. Dan sekalipun ga ada duit, aku kok ga pernah sedih ya... Yakin pasti hari ini makan. Selama hari ini masih mampu mendampingi suami dan mendidik anak-anak, itu sudah karunia besar yang wajib membuatku bersyukur. Kadang bukan ga pengen punya tanah lebih utk investasi, atau punya yang lain2 yang sifatnya duniawi. Tapi tak pikir-pikir, toh kita hidup sementara aja...ikhtiar saja selama nafas masih berhembus, tapi sebisa mungkin ga usah ninggalin fitrah apalagi ibadah."

Nah, itu dia...itu kalimat orang yang ilmu agamanya emang uda tinggi. Aku sendiri masih kadang diliputi kecemasan duaniawi.. Semoga kita masih terus mampu belajar dan terus berikhtiar. Soal kemuliaan dunia dan akherat itu biar Allah yang menilainya dari sikap dan usaha kita. Miskin itu belum tentu hina, kaya pun belum tentu mulia. Tapi pilihlah untuk menjadi kaya dan mulia. Kaya dan manfaat. Kaya dan bahagia akherat.

Wallahu'alam... ini sekedar share...semoga bermanfaat ^^

4 komentar:

  1. Good opini Bu... :')
    salam kenal ya, lain kali mampir jg di blog saya,
    coretan-along.blogspot.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. terimakasih sudah mampir... Wah, kalah nic kayanya blognya. Yang sini uda tuaan tapi nulisnya masih acakadul...hehe.. Monggo yang muda skali2 boleh kasih saran :)

      Hapus
    2. sama-sama Bu.. hihihi, Blog saya sangat sederhana Bu, karena saya sendiri enggak tahu desain, jadi ya seperti itu, tapi isinya insya allah bermanfaat..
      "kepada yang muda yang brondong. mangkal yuk disini, #Eh! xixixi :))
      jangan hanya bengong, tapi di baca juga".. benarkan Bu? :D

      Hapus
    3. "betul..betul...betul.. ", kata upin ipin :D

      Hapus