Tampilkan postingan dengan label inspirasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label inspirasi. Tampilkan semua postingan

Senin, Februari 02, 2015

Ibu Dahsyat #1

Wanita mana yang tak ingin disebut Ibu Dahsyat? Mendengar istilahnya saja rasanya terasa hebat.
Lalu apa itu ibu dasyat?

Sebelumnya, mari kita buka kembali Kitabullah dan membaca Surat Faathir ayat 32

Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan diantara mereka ada yang petengahan dan diantara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar.
(QS: Faathir Ayat: 32)

Dalam ayat tersebut Allah menggolongan hambaNya menjadi 3 golongan. Dan ternyata, hal tersebut sejalan dengan penelitian yg dikemukakan oleh Paul Stoltz.

Paul membagi manusia menjadi tiga dalam analog mendaki gunung.

Tipe pertama adalah Quitters atau mereka yang keluar dari pertarungan. Inilah yang Allah sebut sebagai mereka yang mendzolimi diri sendiri.
Orang-orang ini mudah putus asa jika menemui rintangan, dan kemudian berhenti di tengah pendakian. Dalam kehidupan nyata, orang-orang seperti ini sangat pesimis dan mudah menyerah sehingga jauh dari kata sukses.
Dalam konteks ibadah, fujurnya lebih besar daripada taqwa.

Tipe kedua adalah Campers atau mereka yang berkemah. Mereka yang Allah sebut pertengahan yaitu Orang-orang yg berhenti ditengah jalan. Pendakian tidak selesai, tapi mereka mersa sudah berhasil meskipun belum sampai ke puncak. Tipe ini lebih baik disbanding tipe Quitters karena berhasil menyelesaikan beberapa tantangan meskipun tidak semuanya. Dalam kehidupan nyata, orang-orang seperti ini adalah yang cepat puas meskipun belum mencapai hasil yang maksimal dan masih tersimpan banyak potensi untuk bisa melangkah lebih jauh.
Dalam konteks ibadah, fujurnya sama dengan taqwa.

Tipe ketiga adalah Climbers atau mereka yang terus mendaki. Inilah orang2 yang lebih dulu berbuat kebaikan. Sabiqun bil khairat. Orang-orang ini selalu berpikiran positif, tidak pernah menyerah, terus melangkah dan berjuang sampai akhirnya mencapai puncak gunung. Dalam kehidupan nyata,orang-orang inilah yang terus bergerak maju dan melihat tantangan sebagai peluang. Jika rintangan adalah malapetaka bagi orang lain, maka bagi mereka adalah berkah, karena itulah yang akan membawa mereka naik ke puncak. Inilah orang-orang yang akan sukses mengejar impian-impiannya.
Dalam konteks ibadah, fujurnya lebih kecil daripada taqwa.

Lalu konsep hidup yang manakah yang paling baik?
Ya, climber. Sabiqun bil khairat. Itulah konsep hidup yang seharusnya melekat pada sosok ibu yang darinya akan lahir generasi-generasi pembaharu dan tentu saja penegak Islam.

Menjadi pembelajar. Tiba-tiba saja saya jadi ingat salah seorang teman yang baru saja meluncurkan buku tentang seorang ibu pembelajar. Next time kita review ya..kalo sudah baca ^^

Oke, kembali ke hape (karna ngeblognya pake hape)

So, inilah beberapa indikator ibu dahyat menurut pembicara (Teh Deri) SCI:

1. Tangguh
Tangguh disini tak hanya sekedar pada fisik, namun juga fikiran dan terutama hati. Hati yang tangguh adalah hati yang senantiasa Lillah, menjadikan segala tujuan adalah Allah.

2. Tanggap
Seorang ibu harus mengerti apa yang di dengar  kemudian melakukan apa yang harus dilakukan sesuai dengan kondisi yang dihadapi.
Tanggap pada kondisi saat menghadapi suami, anak, mertua, bahkan tetangga dan sahabat.
(Pengalaman hampir 5 tahun menikah, poin ini cukup sulit dan harus terus menerus diasah. Ga jarang ketidakmampuan kita tanggap pada lingkungan sekitar dapat menimbulkan akibat-akibat lain setelahnya, yang rata-rata tidak menyenangkan...hiks..)

3. Terampil
Kaya ilmu, ketrampilan, dan keahlian.
Seorang ibu yang terampil, minimal memiliki 5 ketrampilan.
(Belum dijelaskan apakah kita hra expert dalam ketrampilan2 tersebut atau sekedar bisa)

Well, ini sekilas info hasil materi SCI (Sekolah Calon Ibu) yang dua bulan ini bakal saya ikuti. In Sya Allah akan sharing materinya di blog. Semoga menjadi manfaat bagi semua, dan menjadi doa agar kita bisa menjadi satu dari sekian ibu dahsat di negri ini. Aamiin.




sumber: Teh Deri (Pembicara SCI)
rumahpintar-kembar.com

Senin, Maret 31, 2014

Ibu-ibu Hebat!

Tak sengaja melihat postingan bunda Muktia di fb tentang seorang ibu yang begitu sabar, ingin juga berbagi 2 cerita tentang ibu2 sabar yang tak begitu kukenal, namun Allah mempertemukan kami dan mengijinkanku menyimak sekelumit cerita hidupnya yang luar biasa.

Cerita 1

Ibu ini kutemui saat musim haji lalu. Dengan ijin Allah beliau bisa berangkat haji. Masih kerabat jauh ibu, beliau yang berangkat hanya sendiri sempat membuat ibuku cemas saat hari2 pemberangkatan. Maklum saja, beliau penderita gula darah. Saat ada di asrama solo, dikabarkan kadar gula darah beliau 800. Iya 800! Maka tim dokter segera mengkarantina beliau agar pulih dan tetap bisa berangkat.
Seminggu sebelum keberangkatan ke solo, gula darah beliau memang sudah pada angka 600. Pingsan? Tidak, bahkan beliau ke rumah sakit sendiri dg menumpang tukang becak.

Cerita lengkapnya kudapati saat menengok beliau usai pulang haji.
Di sebuah rumah, ah entah apa bisa disebut rumah, krn bangunan itu bisa dibilang sebuah ruang dg pintu depan dan bagian dalamnya disekat dg dinding triplek.

Di dalam rumahnya, kami jumpai suaminya sedang sakit stroke yang kabarnya sering mengamuk. Lalu dari mana beliau memiliki dana utk berhaji? Jawabannya adalah tabungan. Ya tabungan yg beliau kumpulkan sejak muda, untuk sekolah sang putra semata wayang. Namun, gempa 2005 silam merenggut sang putra dari sisi ibundanya.
Dengan suntikan insulin yg harus terus beliau suntikan pd tubuhnya, beliau jg hrs merawat suami yg sakit lagi tempramen.

Allah kecilkan nilai diri ini di hadapan beliau. Maluuuu... Air mata haru kutahan kuat2 saat mendengar cerita demi cerita episode hidupnya dari ibuku. Cantik, berketurunan baik, namun mudanya harus 'terpaksa' menikah dg orang yang tak begitu disukainya atas dasar demi orang tua. Memiliki putra semata wayang yg pintar, yg kemudian Allah panggil dihadapannya saat gempa merobohkan tembok kamar putra tercinta. Sang suami menderita stroke dan menjadi tempramen. Berteman dengan insulin dan obat-obatan agar kadar gula darahnya tak meningkat dan terus menggerogoti badannya yg sudah terlihat begitu kurus. Mengais rezeki demi agar obatnya dan suami bisa tertebus di apotek.
Hatiku rontok karna malu.

Ibu yang hebat!
Hebat karna dalam keadaan seperti itu beliau masih bisa tersenyum, bahkan tertawa, dan bercanda.
''Jika memang harus dengan sabar dan ikhlas hidup seperti ini yg bisa membuatku pantas masuk surga, mbak, maka akan kujalani ini''
katanya pada ibuku suatu ketika.

DEG!
Surga atas sabarnya.Surga atas ikhlasmu wahai bude... :,)

••••••

Cerita 2

Kejadian ini belum lama. Terjadi kemarin lusa saat Allah menghendakiku bertemu seorang ibu di sebuah kajian yg diisi oleh Aa' Gym. Beliau temannya teman di grup ODOJ yg berbeda. Saat beliau datang, terlihat jelas bahwa usianya mungkin seumur dengan tante saya, namun kecantikan masih sangat terjaga.
Ah, dasar wanita, sempat2nya juga saya perhatikan tas jinjingnya yg seharga motor saya membuat saya langsung bisa menebak bahwa ibu ini jelas serba berlebih.

Mulailah perbincangan kami, kebetulan beliau sdg mencarikan tempat 'singgah' sementara bagi putranya yg bersekolah di jogja. (beliau dr luar kota jogja yg jaraknya skitar 1  jam perjalanan). Beliau menawari saya yg memang dekat dengan sekolah putranya. Maka semakin mendalamlah obrolan kami di sela-sela menunggu aa' gym datang, sampai akhirnya:

''Sudah punya putra, mbak?"
"Sudah bu..''
"Wah, usia berapa?''
''Sudah Allah panggil, bu'' jawabku :)
Lalu beliau pegang tangan saya, dingenggamnya
''Ikhlas ya..kuat"
''Iya bu..."
( Tapi dalam hati : Yaelah ibu ini gampang bgt ngomong. Anaknya banyak, pinter semua, suaminya sayang, materi berlimpah')

''Anak saya tujuh, mbak'' lanjutnya sambil menunjukkan jarinya yg berjumlah 7. '' Tapi bukan anak kandung, SEMUANYA''
Saya membatu.Speechless

Lalu mengalirlah cerita beliau
''Mbak beruntung sempat merasakan hamil bahkan melahirkan. Dulu saya hamil 3 bulan, ternyata di luar kandungan, dan harus ada yang dipotong pada organ saya hingga akhirnya saya divonis tidak bisa hamil.
Pernikahan pertama saya. Ya, yang kali ini suami kedua. Pada akhirnya saya bicara pada suami saya. 'Bila memanb aku mau dipisah, silahkan, mas. Tapi bila kamu mau nikah lagi, silahkan, aku rela, asal ia wanita sholihah, bahkan akan kulamarkan untukmu. Tapi bila ia bukan wanita baik2, maaf mas, aku lebih baik mundur, krn yg seperti itu bukan tandinganku, bukan sahabatku, dan bukan patner bagiku.'

Saya masih takjub.

Tanpa disangka, bukan perpisahan dunia yg terjadi, beberapa tahun setelah mengangkat seorang anak, sang suami pulang ke Rahmatullah.

''Apakah saya hancur? Manusiawi, tp saya mencoba ikhlas, hingga kimi saya ada di samping mbak dengan tetap tersenyum bukan?"

Allah itu tahu apa yg terbaik bagi kita, kitanya saja yg sok tau apa yg baik buat kita padahal tidak tau apa-apa.

Sekarang saya memiliki 7 anak, dan tidak ada yg saya lahirkah satupun. Tapi saya yakin, doa anak shaleh bukan hanya dari seorang anak kandung

Subhanallah, ibu orang hebat!

Kini beliau jg sedang mempersiapkan sebuah panti yang kelak menampung bayi dan balita. Cita-citanya adalah mencetak generasi hafidz Qur'an.

Saya haru. Haru karna iri pada beliau yg Allah berikan kesempatan untuk beramal sedemikian besar.....

Jumat, Oktober 25, 2013

Pelajaran dari Ibu Pemulung

Semalam, malam Jumat, seperti biasanya aku dan suami melakukan "wisata masjid". Belum lama jadi kebiasaan, kami sengaja shalat isya' di Masjid yang belum pernah kami kunjungi. Dari yang di pinggir jalan sampai yang 'blusukan'. Hehe, agak aneh ya kebiasaanya. Tapi dari sini biasanya kami dapat ilmu baru, syukur2 dapat saudara baru, atau mungkin dapat pelajaran baru.

Seperti tadi malam, tapi kali ini pelajaran yang kuambil bukan ketika menunaikan Isya' di masjid, tapi ketika dalam perjalanan seusainya. Berduaan boncengan motor sambil sesekali melirik jajanan makanan pinggir jalan yang tidak ada satupun menarik selera meski perut mulai protes..hihiihi. Yang ada malah keinget sayur di rumah, kayanya lebih seger dan sehat dibanding jajan. Kadang, wisata masjid ini memang dilanjutkan dengan wisata kuliner. Tapi kalo lagi pengen, nah kalo pas kaya tadi malem, akhirnya memutuskan untuk pulang dan menikmati makan malam berdua di rumah saja.

Saat perjalanan pulang inilah mataku menangkap sosok di pinggir jalan. Ibu dan kedua anaknya, duduk di trotoar, di samping gerobak yang berisi barang bekas dan mmm mungkin sampah. Aku langsung 'njawil' suami. Tapi ga langsung berhenti, dan baru berhenti setelah kurang lebih 100 meter. Saat itu juga aku langsung nagih dompet suami,,,haha, ini juga kebiasaan. Dan minta ijin tentunya :D.
Singkatnya, setelah menyisakan untuk keperluan bensin esok hari dan beberapa rupiah, kami berbelok arah menemui ibu tadi.

Aku turun dan medekati mereka. Sejenak mataku tertakjub pada kebahagiaan yang ada di depanku. Satu episode kebahagiaan yang tidak kulihat di kecukupan harta, keteduhan atap dan kehangatan tempat. Ibu, yang sepertinya usianya lebih muda dariku beberapa tahun, bersama kedua putranya. Yang pertama mungkin sekitar 2 tahunan, dan yang berada dipangkuannya mungkin baru enam atau tujuh bulanan.
Sang Ibu sedang menggelitik perut anaknya yang bungsu, si sulung dan bungsu ikut tertawa geli.
Aku berjongkok, menemui mereka yang duduk di trotoar. Kuberikan niatku, dan kulihat wajah sang ibu yang malu-malu. Aku sempat memberi canda pada si kecil, yang terlihat sangat dekil namun sehat. Namun hanya sekejab, aku segera kembali membonceng suamiku keburu air mata haru yang menetes terlihat oleh mereka.

Malam itu, uang yang ada di genggaman mereka lebih besar dibanding yang ada di dompetku, berharap setidaknya malam itu mereka merasakan kelapangan yang selalu kurasakan setiap malam, dan berharap kebahagiaan bermain dengan para buah hati segera menghampiri malam-malamku.

Malam itu lagi-lagi Allah menunjukkan kemahaanNya padaku. Ya, Maha Berkehendak atas segala sesuatu. Maha Adil, Maha Kuasa dan Maha Memilki. Malam itu seorang ibu pemulung dengan kedua putranya memberiku ilmu, jauh lebih berharga dari apapun...


Wallahu'alam...semoga bermanfaat

Rabu, Oktober 23, 2013

Hidup : Orientasi atau Kebutuhan

Beberapa hari lalu sempet berdiskusi santai sama mbakyu, setelah sekian tahun gak pernah. Beraawal dari bahasan tv yang membuat anaknya betah menonton film-film ga jelas berjam-jam dan membuatnya bawel tiap hari. Eh, tiba2 nyambungnya ke fenomena pernikahan jarak jauh.

Saat ini mbakyuku juga termasuk salah satu yang mengalaminya. Suaminya ada di Manado, sedangkan dia dan anaknya di Jogja. Awalnya, sudah dua kali pindah2 tempat juga. Kalaupun sampai akhir tahun ini ga ada SK pindah, rencananya dia bakal nyusul sang suami, sama anaknya tentunya.

Menurutnya, pernikahan jarak jauh itu ga akan menghasilkan sakinah di dalamnya. Wah, seru nich, pikirku...secara pernah ngalami. Jadi malah makin pengen ngorek2 pendapat ibu muda lulusan psikologi di depanku kala itu.
Dalam kehidupan, ada dua hal yang mendasari pilihan untuk hidup terpisah atau bersatu dalam suatu keluarga. Yaiut Orientasi atau kebutuhan.

Seseorang yang memilih meninggalkan keluarganya demi mencari sesuap nasi, itu pilihan yang didasari kebutuhan. Tapi, ungkapan 'sesuap nasi' di sini adalah makna harafiahnya lho. Jadi, jika dia ga bekerja, bahkan sekedar makanpun tak dapat terpenuhi. Hal ini dicontohkannya pada TKI/ TKW yang terpaksa meninggalkan keluarganya untuk bekerja.

Dasar pemilihan kedua adalah orientasi. Nah, orientasi di sini pun masih terbagi menjadi dua, yaitu fitrah dan kemakmuran. Kira-kira begitu penjelasannya kemaren.
Yang banyak dipilih sekarang ini, orientasi kemakmuran. Bagi pandangan umum, definisi kemakmuran itu adalah kelapangan materi yang kasat mata. Rumah, kendaraan, brand ternama, dan tentu saja status pekerjaan, mungkin itu beberapa simbolnya. Bagi pemilik orientasi ini, maka walaupun harus bermil-mil jauhnya dari keluarga tidak masalah baginya, meskipun jika ia bersama keluargapun juga tak kekurangan, tapi mungkin memang tak selapang jika ia mengambil pekerjaan yang berakibat memisahkannya dengan keluarga (suami/ istri). Karna baginya ketakutan pada kesempitan jauh lebih membuatnya tertekan ketimbang jauh dari keluarga namun memiliki kelapangan materi.

Sebaliknya dengan seseorang yang memilih dasar fitrah dalam hidupnya. Misalnya seorang wanita, yang pada fitrahnya adalah pendamping suami dan seorang ibu, maka ketika seorang wanita dengan dasar ini diberi kesempatan untuk memiliki materi berlebih namun jauh, ia akan lebih memilih fitrah awalnya. (Hahaha...waktu si mbakyu ngomong ini makjleb...kayanya kerasa banget gitu..).

Nah, kedua dasar tersebut pun sebenarnya adalah hak masing2 dalam menyikapi hidup. Fitrah sendiri merupakan pilihan bagi orang2 yang mungkin memikirkan kedupan setelah kehidupan ini. (Aku manggut2 aja sambil senyum). Karna ketika dalam satu keluarga (red-suami istri) saling berjauhan, maka PASTI sakinah tak mampu hadir di dalamnya.

Bener juga, pikirku.Arti sakinah itu bahagia/ tentram. Coba siapa yang bahagia kala harus berpisah dengan pasangan/ buah hati dalam jarak sekian mil, walaupun apa yang ia kerjakan saat itu juga untuk mereka? Tapi memang tak dipungkiri kok, coba inget2 ayat ini:

الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُمْ بِالْفَحْشَاءِ ۖ وَاللَّهُ يَعِدُكُمْ مَغْفِرَةً مِنْهُ وَفَضْلًا ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

Syaitan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjadikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengatahui. 
(QS. Al-Baqarah: 268).


Ah, aku jadi ingat percakapanku dengan salah seorang temen, yang juga psikolog sebulan lalu kira-kira.
"Entah ya, Din...aku kok belum menemukan dimana sisi kenikmatan dengan hidup berjauhan seperti yang teman-temanku lalui. Aku sebagai ibu rumah tangga memang kerap kali bosan dan capek dengan pekerjaan ita itu saja dan kerewelan anak2. Tapi itu cuma beberapa menit lho, setelah itu lupa kok. Selalu saja ada yang kemudian membuatku bersykur dan bersemangat kembali menjalani ini. Dan sekalipun ga ada duit, aku kok ga pernah sedih ya... Yakin pasti hari ini makan. Selama hari ini masih mampu mendampingi suami dan mendidik anak-anak, itu sudah karunia besar yang wajib membuatku bersyukur. Kadang bukan ga pengen punya tanah lebih utk investasi, atau punya yang lain2 yang sifatnya duniawi. Tapi tak pikir-pikir, toh kita hidup sementara aja...ikhtiar saja selama nafas masih berhembus, tapi sebisa mungkin ga usah ninggalin fitrah apalagi ibadah."

Nah, itu dia...itu kalimat orang yang ilmu agamanya emang uda tinggi. Aku sendiri masih kadang diliputi kecemasan duaniawi.. Semoga kita masih terus mampu belajar dan terus berikhtiar. Soal kemuliaan dunia dan akherat itu biar Allah yang menilainya dari sikap dan usaha kita. Miskin itu belum tentu hina, kaya pun belum tentu mulia. Tapi pilihlah untuk menjadi kaya dan mulia. Kaya dan manfaat. Kaya dan bahagia akherat.

Wallahu'alam... ini sekedar share...semoga bermanfaat ^^

Senin, Oktober 14, 2013

SIAS (Senyum Ibu Anak-anak Surga)

Selamat puasa arofah dan wukuh bagi yang berhaji. Sayangnya, aku menjadi orang yang kurang beruntung karna tahun ini tidak melaksanakan keduanya. Usai menemani orang rumah sahur, aku cuma bisa nangis. Merasa merugi serugi-ruginya. Padahal doa diijabah, dosa diampuni dan dihapus, hajat dipenuhi, komunikasi tanpa hijab dengan Sang Maha Pemberi, tapi ga bisa ikutan *nangis lagi*
Ah, jadi menghibur diri bahwa tubuh ini pun milikNya, Dia pulalah yang berhak mengatur siklusnya.

Sudah cukup 'gelonya', yang seperti inipun kata suami kudu ikhlas, ndak condong ke kufur ni'mat, na'udzubillah.

Bahas rencana forum yang kemaren sempet dibahas diposting sebelumnya aja ya. 
Alhamdulillah, setelah banyak masukan dari beberapa temen dan pertimbangan dari beberapa kenalan yang kuanggap lebih arif, tercetuslah group ini 

Senyum Ibu Anak-anak Surga. Nama ini terlintas begitu saja siang kemaren. Daripada ide ini mentah dan cuma ngambang, pada akhirnya kuputuska untuk mengambil nama ini sekaligus membuat desain logonya. Kalaupun nanti ada yang punya nama lebih oke, bisa diganti ko. Jadi nama ini cuma buat 'pancingan' aja, biar rencana silaturahim ini ga mentah begitu saja.

Tujuan dari group ini pada dasarnya adalah 'menganyam' senyum bagi orang tua -terutama ibu- yang pernah kehilangan buah hatinya yang belum baligh. Baik itu dengan menjadi wadah sharing/ curhat, saling memotivasi, maupun sekedar menemani dan meyakinkan bahwa yang bersangkutan tak sendiri. 

Karena tidak dipungkiri bahwa kesedihan ini dapat membawa tekanan psikologis yang cukup berat. Sperti yang pernah kualami dan kuceritakan. Namun, karna sebelumnya Allah telah mempertemukanku dengan orang lain yang juga mengalami hal serupa, terus terang, takdir ini lebih mudah dihadapi. Lebih mudah bukan berarti mudah lho ya, karna saat inipun duka ini masih mengambang dan sewaktu-waktu bisa tumpah kala iman lemah.

Bismillahirochmannirohim...semoga grup ini kelak mampu memberi semangat dan harapan bagi anggotanya untuk tetap tegak menjalani hari-hari berikutnya dengan kesabaran. aamiin.



Jumat, September 27, 2013

Maka Nikmat Tuhanmu manakah yang kamu Dustakan?

Bismillah...
Pagi ini jumat kesekian setelah kepergian Mashka yang masih sering mejadi episode dhuhaku terisak. Maka tak bisa dipungkiri kenapa Nabi Ya'qub as sampai buta lantaran kesedihannya sepeninggal Yusuf as. Dan satu-satunya cara membangkitkan semangatku kali ini masih sama, menyiapkan pesanan produk babymashka agar segera cair menjadi jalan sedekah. InsyaAllah.

Tapi pagi ini, lagi2 aku terpaku pada beberapa kisah dan foto. Dari buku LaTahzan pemberian seorang sahabat, salah satu tips untuk tidak larut dalam kesedihan dan kedukaan adalah dengan mengingat bahwa masa lalu tidak akan pernah kembali, semua adalah ketentuanNya dan mengingat bahwa semua orang di dunia ini telah memiliki kadar masing2 untuk menerima ujiannya.
Coba lihat gambar yang satu ini, kutemukan saat menjelajah dunia maya.


Aku terpaku sejenak menatap foto ini. Seperti ditampar dan diteriaki: "HEI, ujianmu itu belum seberapa, Din!!"
Semoga ini bukan hanya menjadi peringatan bagi saya terutama, namun juga siapapun yang sedang merasa terhadang musibah. Bagaimanapun, keterbatasan diri tak akan membatasi ketaatan seseorang, teerlebih kita yang masih dikaruniai kedua tangan untuk sempurna saat takbiratul ihram, dan kedua kaki yang masih mampu menopang kala rukuk dan sujud.
Maka Nikmat Tuhanmu manakah yang kamu Dustakan?

-Semoga bermanfaat-

Kamis, Mei 30, 2013

Sunnah Nabi dan Kebiasaan Sahabat Menyambut Kelahiran Anak (Revisi dan Opini)

Berhubung post tentang Sunnah Nabi dan Kebiasaan Sahabat Menyambut Kelahiran Anak jadi artikel yang hampir setiap hari dibuka oleh pengunjung blog, rasanya ada yang perlu saya tambahkan untuk post yang takutnya nanti malah jadi dosa kalo apa yang saya tulis ga bener.

Jadi begini, post itu berangkat dari kultwit following saya di twitter. Karna hal tersebut termasuk baru bagi saya, saya mencoba mensharenya. Sebenernya sich biar jadi pengingat saya kalo punya anak nantinya, gitu pikir saya.

Nah, syukur alhamdulillah, saya benar2 akan segera melahirkan insyaAllah 1,5bulan lagi. Saya jadi inget dengan posting saya tersebut dan membacanya kembali. Nah, setelah krocek sana sini ternyata ada beberapa pro dan kontra terhadap sunnah ini. Adapula penjelasan yang agak berbeda dari takaran penimbangannya. Ini dia revisi2 yang saya dapatkan:

1. DIUKUR BERDASAR PERAK
    Pada posting saya, ukuran penimbangan rambut bayi berdasar ukuran emas pada saat itu. Tapi di beberapa artikel, dan saya pernah melihat tayangan di mozaik islam transtv, menyatakan kalo timbangannya berdasarkan perak.

2. RIWAYAT YANG TIDAK SHAHIH
    Ada artikel yang menjelaskan bahwa riwayat sunah ini tidak shahih. Monggo dipelajari :
Mencukur Rambut Bayi Dan Menyedekahkannya Dengan Perak


Nah, berhubung ilmu yang saya miliki cetek banget, saya sendiri ga tahu seberapa shahihnya hadist ini. Karna ya, sebelumnya toh dikeluarga saya ga melakukan sunah ini. Jadi saya dan suami memutuskan begini: Toh ini sunah, kalo dilakukan ada pahala, klo enggapun gapapa. Dan kalopun ga shahih, niatkan sedekah pun ga ada ruginya malah berpahala.
Terimakasih. Semoga bermanfaat ^^

 

Rabu, Mei 15, 2013

Trisemester 3 : Sharing (lagi)

Jam setengah delapan pagi, bekas hujan subuh masih segar dan saya masih duduk di atas birthingball dengan kaki ngangkang sambil agak goyang2 ^^. Sambil mendengarkan alunan musik klasik for baby dan menunggu si akung uti slesein dhuha untuk sarapan bersama. Laper uda keganjel dengan roti panggang pagi2 sekali tadi nemenin suami sarapan. Aahhh...pagi yang damai, rasanya jadi pengen ngentri di blog.. #lho.. hihihi

Di trisem akhir ini kayanya saya bakal sering ngentri post deh. Selain mengeluarkan unek2 yang selalu 'nggrunjel' pengen dikeluarin, sebagai motivasi juga bahwa pada akhirnya ini yang akan jadi salah satu dokumentasi kehamilan dan kelahiran gentlebirth kami nantinya...aamiin..

Nesting Instinct
Begitu banyak istilah dalam kehamilan, dan ini salah satunya. Nesting instinct atau naluri bersarang biasanya dialamai ibu hamil ketika usia kandungannya memasuki trisemester ketiga. Naluri bersarang ini diwujudkan dengan getolnya sang ibu bersih2 rumah, merapikan tata letak, atau bahkan membuat suasana baru di rumah untuk menyambut kehadiran sang buah hatinya sebentar lagi. Well, ga cuma manusia, insting ini juga dialami oleh hewan. Burung kenari peliharaan akung yang bertelor sengaja akung beri serat2 kayu di kandangnya. Dari serat2 itulah dia membuat sarang di keranjang pojok yang memang telah disiapkan akung. Satu per satu, hari demi hari, sarang itu jadi sebuah sarang yang terlihat empuk dan hangat, bukan sekedar keranjang. Dan begitu telur2 kenari menetas, anak2 kenari pun ga kedinginan. ^^ Oh so cwiiit.... 
So, mungkin ini juga yang sedang saya alami. Beberapa hari ini keinginan untuk  bersih2 rumah dan menata ulang perabotan rumah begitu menggebu-gebu. Ahaaai, dan ini sangat tidak biasa...hehehe. Berhubung masih ngikut ortu, naluri ini memang ga bisa sepenuhnya terpenuhi, selain calon kamar kami bertiga, ruangan lain hanya sebatas saya bersihkan. Nah, untuk calon kamar kami (karna mo pindah kamar dari yang sekarang ditempati), saya mulai rempong. Walopun dipan belum kelar digarap oleh tukang kayu langganan keluarga kami, saya mulai rempong mikirin asesorisnya. Mulai dari mempersiapkan wallsticker lucu2 sampai menggambarkan detail kasarnya via corel. Saya juga memberi limit pada diri sendiri untuk kelar menata segalanya pertengahan juni nanti. Yach, setidaknya kepengennya nanti 2 minggu sebelum hpl uda tinggal konsen saja ke relaksasi dan penenangan diri demi meyambut buah hati dengan proses gentle.


Behavior while Pregnant

Seminggu lalu ktika ada ta'ziah tetangga, saya duduk diantara ibu2 muda dan tentunya dengan pengalaman melahirkan yang kemudian dibeberkan kepada saya. Termasuk di situ kakak ipar. Mulai dari ketidakpengetahuan mereka pada saat akan melahirkan anak pertama sehingga ketika akan berangkat ke rumah sakit dia terus2an saja  memegang area bawahnya seolah takut anaknya mbrojol di tengah jalan.Kantong kresek kali mbrojol, mbaaak ^^
Atau pengalaman kaka ipar saya yang merasa kepengen buang air kecil terus2an kemudian merasakan nyeri dan sudah bukaan 7 ketika sampai di klinik. Dan juga pengalaman makanan yang mereka konsumsi yang kemudian berimbas pada selera makan anak2nya ketika mereka beranjak besar. Tapi bukan itu yang menjadi perhatian saya, karna sudah mental blocking dulu, cerita2 yang mengandung mitos cenderung mampu saya filter untuk masuk ke otak. Saya justru tertarik ketika pembicaraan mengarah pada pola prilaku anak yang mereka hubungkan dengan pola prilaku mereka saat hamil.
Tetangga saya yang memiliki 2 putra mengaku kedua putranya memiliki tingkahlaku yang berbeda. Anak pertamanya cenderung santai dan lambat. Anak keduanya justru sebaliknya, aktif dan energik. Hal tersebut diakuinya krn dianya juga demikian ketika hamil. Kakak ipar saya juga mengakui hal yang sama. Anak pertamanya paling males kalo disuruh beberes rumah, bahkan sekedar diminta ibunya membantu mengangkat jemuran kering....yeeay, i know it well. Tapi dalam persoalan sekolah, dia memang akan mengerahkan segala effortnya. Tak jarang keponakan saya itu jatuh sakit ketika akan menghadapi ujian krn saking tegangnya. Kakak saya menuturkan bahwa ianya dulu saat hamil juga demikian. Sangat malas mengerjakan kerjaan rumah tangga.
Well, terlepas benar atau tidaknya hal2 yang diungkapkan oleh ibu2 senior itu, saya merasa ada benarnya juga. Terlepas hal tersebut sugesti atau bukan, bagi saya, kehamilan bukan saja sekedar suatu proses hidup wanita sewajarnya, tapi lebih dari itu, kehamilan merupakan proses pembelajaran menaiki level baru dalam kehidupan yaitu to be parent.

Sebelum hamil, beberapa kali saya mengungkapkan pada suami dan teman-teman (saat sesi curhat) saya bahwa meskipun keinginan hamil itu begitu besar, terbersit rasa takut yang sama pada ketidakpercayaan diri apakah saya mampu menjadi ibu yang baik. Saya sangat ingat betul. Saat itu suami selalu menenangkan bahwa hal itu akan berproses dan naluriah. 

Dan benar saja, ketika mulai memasuki masa kehamilan, pelahan mental kita sebagai calon ibupun mulai dilatih. Maha Besar Allah yang telah memberikan waktu 9bulan 10 hari kepada calon ibu untuk belajar siap menjadi ibu sepenuhnya. Dimulai dari tanggungjawab. Makan dan minum mungkin menjadi satu hal yang sepele ketika wanita tidak sedang hamil. Tapi coba tengok, wanita akan cenderung memperhitungkan pola makannya demi buah hati yang sedang berkembang di rahimnya. Yang pada awalnya sangat menjauhi sayur, bisa saja setiap hari mengkonsumsi sayur. Rasa tanggungjawab atas perkembangan sang buah hati dalam rahim pelahan tumbuh. 

Beberapa mitos juga mengungkapkan untuk jangan membenci sesuatu/ seseorang atau menyiksa hewan, nanti anaknya kenapa2. Bagi saya, itu juga sebagian dari pembelajaran tanggungjawab prilaku. Karena ketika hamil, pembelajaran untuk menjadi orang tua sesungguhnya itu tidak terputus dan melingkupi berbagai aspek. Membiasakan diri menjadi pribadi yang lebih baik yang kelak bisa menjadi contoh bagi anak2nya. Karena bagaimanapun, tidak akan berhasil strategi mengasuh seperti apapun ketika sang orang tua tidak memberi contoh. Dan tidak akan berhasil sang orang tua memberi contoh yang baik jika ianya juga tidak membiasakan diri pada hal baik tersebut.

Saya, tentu masih sangat harus belajar. Saya selalu diingatkan suami pada visi keluarga kami, yaitu meraih jannahNya, maka sebisa mungkin saya dan suami berusaha untuk menomorsatukan pembentukan generasi sholeh sholehah. Dengan kunci itu, insya Allah prilaku baik bagi urusan dunia pun akan mengikuti. Karna sesungguhnya akar dari segala prilaku itu sendiri adalah iman. Begitu katanya. Baiklah.
Maka saya mulai belajar, mencari tau kenapa anak tetangga saya selalu cenderung tenang dan anteng ketika diajak jamaah ke langgar oleh akungnya. Yach, saya ingat banget, dulu ibunya yang juga teman sejak kecil sangat rajin berjamaah, sekalipun sedang sakit. Saya mulai belajar, kenapa anak tetangga saya mudah sekali belajar Qur'an, saya tau karna pernah mengajarnya. Dibanding teman-temannya yang masih iqro', anak yang lahir tanpa ayah ini cenderung lebih cerdas. Ibunya sekalipun pernah 'melakukan kekhilafan', sepertinya terus memperbaiki diri. Mulai dari rajin jamaah sampai mengaji walaupun masih terbata. Subhanallah, sebetulnya Allahlah yang paling tau seberapa besar niatnya.
Begitu juga pada perilaku2 sebaliknya. Dan ya, saya merasa harus terus memperbaiki diri. Dan ternyata suami saya benar. Ini semua berjalan dengan  naluri sebagai calon ibu yang sangat mendambakan setiap kebaikan dirinya akan menjadi contoh bagi buah hatinya kelak.

Baiklah. Cukup sekian sharing2nya hari ini. Ini hanya sekedar uneg2 yang uda meletup-letup saja pgn dikeluarin pagi ini. Hehehe... Kalo ada salahnya mohon dikoreksi. Semoga manfaat ^^






Kamis, Oktober 25, 2012

Aku Rindu menjadi Sepertimu


Tulisan yang menginpirasi pagi ini:

Ada seorang laki-laki yang ingin sekali punya anak. Setelah bertahun-tahun berdoa, berharap dan berusaha akhirnya keinginannya dikabulkan oleh Allah SWT. Anda tentu bisa membayangkan bagaimana kebahagiaan lelaki itu. Saat rasa cinta kepada sang anak begitu bergelora Allah SWT memerintahkannya untuk menyembelih sang buah hati yang sangat ia cintai. Saya tidak bisa membayangkan perasaan yang berkecamuk dalam hati laki-laki bernama Ibrahim AS itu.
Begitu cintanya lelaki ini kepada Allah SWT, ia relakan sesuatu yang sangat dicintainya untuk dikorbankan. Oh, aku tertegun. Hal terbaik apa yang sudah saya korbankan? Mengapa terkadang aku masih menomorduakan perintah-perintah Allah SWT? Terlalu sibuk dengan kesenangan dunia yang hanya sementara. Terlalu terburu-buru dan tak sabar dengan janji dari Yang Maha Tahu. Pantaskah saya mengaku bahwa saya sangat mencintai Allah SWT?
Padahal saat taat kepada Allah SWT, maka kita akan mendapat berbagai jalan dari arah yang tidak terduga. Sebagaimana Ibrahim AS, ia rela korbankan yang terbaik tetapi dia tak kehilangan yang terbaik bahkan mendapat ganti sesuatu yang diluar nalar manusia, seekor domba terbaik.  Janji Allah SWT pasti bahwa siapa yang taat kepada-Nya akan mendapat berbagai kemudahan dari berbagai penjuru. Tetapi mengapa terkadang kita masih ragu?
Dalam bisnis kita diingatkan untuk bertransaksi secara halal, tetapi mengapa kita masih juga berani menggunakan cara-cara yang haram? Hasilnya? Keuntungan bisnis habis untuk sesuatu yang tidak jelas. Bagi yang bekerja, gajinya terserap habis untuk angsuran yang semakin membesar. Hidup kita akhirnya diperbudak dunia. Kita dibuat sibuk tetapi tidak ada hasil signifikan yang bisa kita nikmati.
Hal-hal yang kita berikan kepada Allah SWT bukanlah yang terbaik. Waktu yang diberikan kepada-Nya adalah waktu-waktu sisa setelah kita lelah untuk urusan dunia. Di saat sepertiga malam Allah SWT merindukan kehadiran kita, tetapi justru kita tertidur pulas atau di depan TV menonton sepak bola. Sedekah atau sumbangan yang kita persembahkan hanyalah recehan, sisa-sisa dari belanja kita bukan sedekah yang disiapkan sejak semula.
Ketika Allah SWT meminta kepada kita melalui nabi-Nya, ‘sampaikanlah walau hanya satu ayat’, kita hanya berdiam diri tanpa aksi bahkan terkadang sibuk menghujat orang-orang yang sibuk berbuat kebaikan. Ketika kita diminta berpegang teguh kepada kitab suci yang Dia turunkan, ternyata kitab suci itu justru kita kunci di dalam almari.
Kita, atau setidaknya saya, belum memberikan yang terbaik untuk Allah SWT. Pantaslah bila berbagai jalan kemudahan dan solusi kehidupan tidak begitu mudah hadir dalam kehidupan kita. Mengapa kita belum memperoleh yang terbaik? Karena kita juga belum memberikan yang terbaik kepada Sang Maha Kuasa.
Terima kasih wahai Ibrahim AS. Aku rindu menjadi sepertimu, menjadi kekasih Allah SWT.
Salam SuksesMulia!

Senin, Februari 06, 2012

Sukses Mulia

Hai readers, maaf baru mengupdate blog hari ini, stelah sempat janji bakal berbagi tentang seminar pertamaku dengan salah satu motivator nasional, Jamil Azzaini.
Well, ini karna menag sedang sangat senggang, berada di tengah hiruk pikuk pasar beringharjo, dengan kondisi hape yang super lowbat mendekati maut... hihihi...

So, here it is,,, seminar itu berisi tentang tema yang sudah lama di tulis pak Jamil di situsnya Jamilazzaini.com. Sebuah resep untuk memperoleh Sukses Mulia. Menjadi Pribadi yang bukan hanya sukses (materi) tapi juga mulia (imateri). Menjadi sukses digambarkan bukan saja tentang keberhasilan memiliki senilai rupiah atau dolar tertentu, tapi lebih pada kebermanfaatan pada sesama. Well, ga perlu dijelaskanya coba baca artikel ini.

Satu hal yang membuatku sempat menitikan air mata, bukan pada cerita tentang kesuksesannya memiliki perusahaan dan kebermanfaatan di banyak lini, hal itu tentu saja tak terbantahkan. Tapi lebih pada ketika beliau menceritakan kesuksesannya mendidik anak2 nya, terutama putra keduanya yang beliau panggil Izul. Tanpa rona malu sedikitpun, bahkan sangat bangga, beliau mencertakan tentang putranya yang 'berbeda' dengan teman2nya. Saya pribadi pasti akan menganggapnya sebuah ujian, tapi beliau menyebutnya sebagai anugrah. Ya, anugrah karna dipilih untuk menjaga putranya yang 'berbeda', namun tak pernah dibedakannya. Well, that why, putranya (dengan segala kelebihannya) itu tumbuh menjadi anak yang di luar dugaan. Pintar dan sholeh.

Hal serupa mungkin pernah kita alami, walaupun tak seberat itu. But aniwe, sampai dimana sabar kita? Saat itulah saya sadar, bahwa begitu banyak yang saya abaikan. Sesuatu yang menurut saya selama ini kurang, mungkin justru merupakan sebuah anugrah dan kekuatan.
Terimakasih Pak Jamil, semoga pertemuan berikutnya saya tidak berada di kursi peserta, tapi di kursi CEO yang mengundang Anda. Amin ^_^

Senin, Januari 02, 2012

Resolusi 2012

Tiap tahun baru selalu ditanya, "Apa resolusimu?" atau dengan kalimat lain "Apa harapan pencapaianmu?". Tahun memang selalu identik dengan titik nol suatu gagasan2 baru dalam hidup manusia. Entah sejak kapan, tapi tahun baru masehi memang menjadi sebuah titik awal perubahan suatu tren yang kemudian pelahan tetapi pasti akan menjadi ciri untuk tahun tersebut.


Secara pribadi, aku bukan penganut sistem tahun baru dengan 'kehebohan' malam menjelang detik2 pergantiannya. Sama dengan malam lainnya. Tapiiiiii, berbicara tentang pencapaian akan harapan, mungkin memang lumayan latah. Sebuah 'awal' yang diakui secara internasional, ga mungkin donk aku tetap dalam tempurungku. Aku coba evaluasi ulang hidupku di tahun sebelumnya dan bersiap menjemput tahun berikutnya yang (seharusnya) di kelas yang lebih tinggi.

Perjalanan 2011 bagiku adalah sebuah perjalanan yang penuh pertualangan. Seperti impian kecilku dulu, menjadi petualang. Yak, 2011 adalah tahun dimana aku berada pada puncak impian sebagai seorang freshgraduate minim pengalaman. Rekan2 setaraku masih berusaha kesana-kemari dengan ijazah dan surat lamaran, sedangkan aku awal tahun 2011 sudah diangkat utk duduk di kursi sebuah perusahaan raksasa nasional. Sebuah impian seorang sarjana yang terwujud, bukan? Tadinya, ya, tadinya memang kupikir demikian. Karir gemilang kupikir akan membuatku bahagia dan hidup 'sepenuhnya'. Dan ternyata, memang benar, manusia hanya mampu berencana...

Perjalanan demi perjalanan akhirnya membuatku memutuskan untuk berhenti menikmati pertualangan dan kembali pulang. Banyak yang menyayangkan, tidak sedikit pula yang memberi dukungan. Sebuah keputusan terbesar bagiku di tahun itu. Tahun 2011 banyak sekali pengalaman yang menjadi sumber pembelajaran masa depan bagiku. Banyak saudara yang kemudian sangat terasa keterikatannya.

Ga kerasa, sekarang uda 2012 aja. Saatnya menata impian dan harapan yg belum terlaksana, dan menuliskan proposal hidup yg baru untuk tahun ini. Perjalanan ke depan semoga 'naik kelas', walaupun memang harus dihadapi dengan perjuangan yang lebih berat.

Syukurku atas limpahan umur dan kesempatan hingga di tahun ini aku masih terus hidup, bahagia, sehat, dan dikelilingi oleh orang2 yang penuh kasih sayang.
Dan lagi, kali ini setelah aku memiliki toko online, silaturahmi dapat terus berkembang, lebih banyak sahabat, lebih banyak ilmu. Resolusi 2012, semoga menjadi manusia yang lebih bermanfaat dan bermartabat dunia akherat... aminn...


Jadi, apa harapan 2012 mu?

--semoga bermanfaat, ya....  ^_^

Rabu, Desember 14, 2011

When Moon 'Meets' Sun

Dua hari lalu, malam itu seperti biasa makan bersama di meja makan tak pernah terlewatkan tanpa dua generasi di rumah ini. Generasi orang tua kami yang tak pernah kehilangan humornya dan kami, aku dan suami yang selalu mencari pembela masing2 di tiap pembenaran kami. Doakan ya, semoga segera ada generasi ketiga di posting berikutnya..hehe...

Di tengah pembicaraan kami sembari menikmati sayur dan tempe, menu favorit keluarga ini, ibu mengajakku untuk melaksanakan sholat gerhana usai isya'. Gerhana??? Aku kebingungan. Lha kapan gerhananya, lha wong bulannya aja absen kok malem ini. Well, merasa sangat ketinggalan, aku langsung cari infonya. Dan benar saja, malam ini memang diperkirakan ada gerhana. Ada yang bilang jam 8, ada yang bilang setengah 8. Manut sajalah.

Usai sholat isya' di langgar, kami menuju masjid... Kami sengaja tetep sholat di langgar tua di samping rumah agar tetap hidup di 5 waktunya. Sampai di masjid, duduk membersamai tetangga yang sebagian masih mengiraku cuti dari pekerjaan dan lagi2 menerima reaksi kaget dari mereka yang kemudian tau bahwa aku tak lagi pergi dari tanah jawa. hehehe...
Pukul 8 tepat, imam menjelaskan tatacara shalat gerhana. Syukurlah, ini perdana bagiku dan sebagian jamaah lain, malu donk kalo nanti salah gerakan, hehe. Skip...sampelah di khutbah Pak Khotib. Bapak yang kuperkirakan seusia bapakku itu menjelaskan bahwa Gerhana adalah wujud kuasa Allah. Otakku mulai menyusun rangkaian ketika beliau mengingatkan garis edar masing2 benda itu, bulan, bumi dan matahari... bulan yang selalu mengelilingi bumi, bumi yang selalu mengintari matahari, dan matahari yang memutar pada orbitnya di galaksi... Subhanallah ya... Jadi mengingatkan kita betapa kita ini sekecil upil #ehh... itu kegedean..kita ga lebih dari debu yg cuma bikin bersin si matahari. :)

Bagiku, gerhana adalah seni Maha Karya Sanga Pencipta. Sebuah perpaduan kontras yang jarang terlihat, yang kadang ditunggu, yang tak ternilai. Bulan sebagai lambang malam, matahari sebagai simbol siang menjadi satu kesatuan di hadapan bumi, 'pihak' diantara mereka.

Maha Karya itu tak ditemui dalam gerhana saja. Pernah dengar nggak curhatan seseorang bahwa ia dan pasangannya bagai langit dan bumi, pada akhirnya, mereka tetap bersama..membina rumah tangga dan saling melengkapi, kan? Sepatu, sandal, pasti ga akan ada yang beli kan kalo semua kanan atau kiri saja?

Well, sisi lain dari gerhana membuatku belajar tentang perbedaan yang indah. Yang melengkapi setiap sudut kehidupan kita, disadari atau tidak... Semoga bukan sekedar belajar, bukan sekedar memaklumi sebuah perbedaan, tapi perbedaan harus disikapi juga dengan sebuah kebijakkan. Memaklumi saja tidak cukup, bagiku itu seperti pengorbanan kepentingan sendiri, bukan memadukannya jadi irama. So mari, bagaimana menyikapi perbedaan ada di diri kita masing2. Kita doakan bersama, semoga perbedaan yang selama ini menyulut konflik di negara ini tak ada lagi. #mulainasionalis...

--see ya..semoga bisa diambil manfaatnya--

============================================ >>

KLIK HERE !!
Ups, ada yang ketinggalan ney..
Masih dalam rangka perpaduan 2 perbedaan...Kami mencoba membuat karya paduan 2 motif batik untuk kamu dalam balutan blus menawan. Untuk lihat koleksi lainnya klik aja fotonya... ^_^v

Sabtu, Desember 03, 2011

Menjadi Tua

Uda lama ya ga ngepost... Maaf..maaf, dari kemaren masih aja ngurusin hobi baru, aka jualan. Hehe, alhamdulillah, menyenangkan hati dan dompet ^_^.
Sudah, post kali ini bukan mo ngomongin itu kok, hehe..

Ga kerasa uda bulan desember aja ya...? Bentar lagi kalender uda jadi bungkus kacang. 2012, guys... "Whats in ur mind?" kalo di status.
Semalem sempet terpikirkan..tinggal 28 hari lagi tahun 2011 segera berakhir. Well, berapa sich umur kita? Aku yak, bentar lagi resmi menyandang gelar seperempat abad (hiks). Teman2 seangkatan mungkin ada yang 22, 23, 24 atau mungkin lebih, 26 tahun.
Berapapun umur kita, pasti nambah. Ga mungkin berkurang. Sadar kan ya kalo makin lama kita makin menua. Ini bukan pesimis karna menua lho ya...tapi lebih pada refleksi.
Secara pribadi aku sempat menangis dua hari lalu. Pas ketika 1 desember. Aku tersadarkan ketika pagi hari mulai buka socmed ~>> twitland dan fb. Sejenak aku mulai teringat pada proposal hidup yang sempat kususun sejak memulai hidup baruku 3 bulan lalu. Betapa banyak target yang tertulis, tapi sampai hari ini hanya beberapa yang mendekati pencapaian. Yach, artinya memang belum ada yang benar2 tercpai.

Semalam aku belajar dari seorang simbah yang ga pernah absen jamaah di langgar. Bahkan ketika angin bertiup agak kencang disertai hujan semalam. Dengan beliau, lengkaplah 4 orang jamaah. 1 orang imam dan 2 orang makmum. Cuma simbah yang ada di sampingku. Hebat, pikirku... Mampukah aku mempertahankan jamaahku yang bahkan saat skr ini masih kurang hingga setua beliau nanti? Pernah ibuku bilang, "simbah ini kalo jam 2 'ngaji', lho".."Ciri ahli syurga insya Allah", tambahnya. Aku tersadarkan kembali...rasanya aku masih jauh.

Menjadi Tua...
ketika menjajaki pergatian tahun aku memang agak parno dengan berkurangnya sisa waktu untuk membahagiaan sesamaku, memberi manfaat bagi kluargaku, menjadikan hidupku lebih berarti dan bernilai. Terlalu tinggi memang. Tapi kata pak jamil azzaini kita memang harus berani memberi target besar pada kehidupan kita. Kalo mau menunggu nasib ya jangan harap akan ada perubahan nilai, malah bisa turun. Semoga kita yang bertambah tua setiap detiknya mampu selalu belajar. Ingatkan aku tentang post ini, agar kita mampu terus belajar. Bukan saja beranjak menjadi tua, tapi menjadi bermakna.

#justsharing
#semoga bermanfaat ^_^

Selasa, November 15, 2011

Harta yang berharga



Seorang professor berdiri di depan kelas filsafat.
Saat kelas dimulai, dia mengambil toples kosong dan mengisi dengan bola2 golf.
Kemudian berkata kepada murid2nya, apakah toples sudah penuh...?
Mereka setuju !!!!
Kemudian dia menuangkan batu koral ke dalam toples, mengguncang dengan ringan.
Batu2 koral mengisi tempat yg kosong di antara bola2 golf.
Kemudian dia bertanya kepada murid2nya, apakah toples sudah penuh??
Mereka setuju !!!
Selanjutnya dia menabur pasir ke dlm toples..
Tentu saja pasir menutupi semuanya.
Profesor sekali lagi bertanya apakah toples sudah penuh..??
Para murid berkata, "Yes"...!!
Kemudian dia menuangkan dua cangkir kopi ke dalam toples, dan secara efektif mengisi ruangan kosong di antara pasir.
Para murid tertawa...
"Sekarang.. saya ingin kalian memahami bahwa toples ini mewakili kehidupanmu."
"Bola2 golf adalah hal yang penting; Tuhan, keluarga, anak2, kesehatan, teman2."
"Jika yang lain hilang dan hanya tinggal mereka, maka hidupmu masih tetap penuh."
"Batu2 koral adalah hal2 lain, seperti pekerjaanmu, rumah dan mobil."
"Pasir adalah hal2 yang sepele."
"Jika kalian pertama kali memasukkan pasir ke dalam toples, maka tidak akan tersisa ruangan untuk batu2 koral ataupun untuk bola2 golf..
Hal yang sama akan terjadi dalam hidupmu."
"Jika kalian menghabiskan energi untuk hal2 yang sepele, kalian tidak akan mempunyai ruang untuk hal2 yang penting buat kalian."
"Jadi sediakan perhatian untuk hal2 yang penting untuk kebahagiaanmu."
"Bermainlah dengan anak2mu."
"Luangkan waktu untuk check up kesehatan."
"Ajak pasanganmu untuk keluar makan malam."
"Berikan perhatian terlebih dahulu kepada bola2 golf."
Hal2 yang benar2 penting. Atur prioritasmu.
Baru yang terakhir, urus pasirnya.
"Salah satu murid mengangkat tangan dan bertanya, "Kopi mewakili apa?"
Profesor tersenyum, "Saya senang kamu bertanya."
"Itu untuk menunjukkan kepada kalian, sekalipun hidupmu tampak sudah sangat penuh, tetap selalu tersedia tempat untuk secangkir kopi bersama sahabat".;)

sumber: geandra_uk@yahoo.com (milis pembaca asmanadia)

Kamis, Oktober 27, 2011

Blogging itu "sesuatu"



He?? Ini HARI BLOGGER?!?! Yach, begitulah saya, blogger kuper sepanjang jaman. Hari ini setauku hari listrik nasional, aka hari ultahnya perusahaan listrik Negara ke 66. Eh ternyata, hari ini juga hari blogger. Kebangeten memang, aku baru tau setelah gembar gembor di twiterland mulai rame ngomongin blogger.
Sebagai blogger juga, (ehem, #benerinkacamata) rasanya ga ‘afdhol’ dan pelit kalo hari ini ga nulis apa2 di blog. Setelah tadi sempat keluar mencari inspirasi, akhirnya nihil, masih bingung mo nulis apa hari ini. Secara tadi cuma ke toko kain dan mempir rumah temen aja..hehe, bahkan kain yang dicari juga belom nemu, alhasil yang didapet segelas es syrup dan obrolan, ^^ love it!

Mungkin ngomongin pengalaman ngeblog aja kali ya. Ini bukan contoh yang baik untuk ditiru, karna yach seperti yang kalian lihat, ini bukan blog professional dengan update’an post yang rutin. Fokus tulisannya pun bias, sama lah kaya penulisnya. (ngaku kok, ga usah disuruh)

Sedikit flashback yach, aku punya kebiasaan nulis sejak kelas 4SD. Yep, nulis diary. Jaman itu, buku diary biasa digunakan untuk menulis biodata temen2, ya aku juga punya, tapi aku punya satu buku lagi di rumah, khusus untukku dan Cuma boleh dibaca olehku. Apapun yang terjadi di sekolah atau dimanapun pasti kutulis. Sampe sekarang masih ada lho…hehehe, lucu kalo dibaca lagi. Malu2in tepatnya.

Kebiasaan itu berlanjut sampai lulus di sekolah dasar. Memasuki dunia sekolah menengah pertama, aku makin sering menulis. Jarang ada absen hari di diaryku. Bahkan, karna kehabisan buku, sebagian aku tulis di kertas sisa buku lamaku kemudian kujilid sendiri (ini baru kasian namanya). Saking banyaknya, aq membuat no pada masing2 diaryku agar kelak saat aku ingin membacanya, aku tau urutannya, pikirku dulu. Memasuki SMA, nah di masa2 paling indah (kata orang) ini, aq masih sering curhat di diary. Sampai kelas 3, karena persiapan ujian, aku mulai jarang menulis. Hampir tidak pernah. Waktu itu, friendster lagi jaya2nya, pernah beberapa kali ngeblog di friendster tapi ga berhasil. Aku merasa tulisanku basa-basi dan kaku tanpa bisa blak-blakan seperti di diary.

Aku mulai mengenal blog lagi setelah kuliah, tahun 2005 tepatnya. Sempet juga bikin di blogspot, tapi karna ga rutin ngeblog dan harus ke warnet, aku lupa passwordnya, dan hilang…ya sudah. Sempet mencoba bikin voice diary. Semacam kita merekam suara kita dan ngomong apa yang pengen diomongin. Berhasil dengan 3 kaset diary dengan logat medok-ku..(ok, tengkyu itu saja).

Sibuk dengan aktifitas kuliah, semester pendek, kejar target lulus cepet, skripsi, dan ujian pendadaran, blog mulai kutinggalkan sedikit demi sedikit,dan hilang. Aku mulai menyadarinya tahun 2010, ketika kegalauan super melandaku. Hihihi, kebiasaan kalo galau curhat pake nulis kalo ga nulis kaya ada yang kurang. Yach, akhirnya munculah WIFESHOPES ini. Wife’s hopes, harapan seorang istri yang ingin pulang ke suami dan keluarganya. Sangat galau dan klasik aku memulai blog ini. Awalnya aku belum cukup punya nyali untuk nulis lagi. Berantakan dan membingungkan, itu kesan pertamaku saat menulis post pertama di blog ini sebelum di publish. Setelah ngendap di draft beberapa minggu lebih beberapa hari plus banyak perbaikan, akhirnya aku beranikan untuk mempublish. Nah setelah itu, aku mulai menulis kembali. Alhamdulillah, tanggapannya cukup positif walo kadang Cuma ngasih opini pada artikel copas, hihihi…

Yach, setelah itu aku sadar bahwa menulis itu adalah bagian dari hidupku sejak lama. Aku bukan penulis, bahkan jauh dari itu. Tapi dengan menulis dan dibaca, ada rasa tersendiri. Bahkan jika itu hanya satu dari sekian ribu orang yang membaca. Menulis mengajarkanku jujur pada apa yang kulihat, kudengar dan kurasa. Menulis itu proses belajar, seperti saat guru meyuruh kita merangkum suatu ceramah atau penjelasan di depan kelas. Menulis adalah merangkum fenomena kehidupan yang kita alami, atau yang dialami oleh orang lain, atau merangkum apapun yang diterima indra kita kemudian menuangkannya lewat tulisan dengan bahasa kita sendiri.

Kalau sekarang banyak orang yang bisa berpenghasilan lewat menulis blog, yach tentu aku juga mau, suatu hari, insya Allah, tapi setidaknya sekarang ini aku sedang belajar terus memperbaiki tulisanku, mengasahnya, membuatnya jadi manfaat dan semoga kelak menjadi bernilai.
Selamat menulis teman-temin… Kalaupun tidak di blog, di kertas juga bisa, atau di software writing  di computer kamu juga ok. Menulis membuatku bahagia dan (semoga) bermanfaat, semoga kamu juga. Selamat Hari Blogger, readers.. ^^

Jumat, September 23, 2011

Belajar lebih PRODUKTIF


Mencoba sharing artikel 'mengena' hari ini... monggo pinarak...
Di copas dari blognya pak Jami Azzaini dengan judul : Produktif Itu Diawali Dengan Menentukan Prioritas


Gagal mengelola waktu bisa menjadikan seseorang tidak produktif. Atau dengan kata lain, seseorang yang tidak produktif biasanya karena ia salah menetapkan prioritas.
Sejak tahun 1997, saya menggunakan kerangka penggunaan waktu yang dipopulerkan oleh Stephen R. Covey. Cara ini sangat membantu dalam menetapkan prioritas hidup sehingga saya selalu bersemangat.
Menurut Covey ada 4 cara membagi/mengelola waktu. Pertama, penting tetapi tidak mendesak. Apa contohnya? Anda menemui seorang klien potensial itu penting. Tetapi bila pertemuan itu hanya untuk membicarakan susunan acara gathering awal tahun 2012 itu berarti tidak mendesak. Bukankah sekarang masih September?
Kedua, mendesak tetapi tidak penting. Misalnya? Saya pernah ditelepon teman lama zaman sekolah dulu. “Mil bantuin saya dong. Mantan pacar saya besok mau menikah. Ini khan kejadian spesial buat dia. Saya ingin memberikan hadiah yang mahal dan berkesan buat dia supaya dia menyesal tidak memilih saya.” Kemudian saya bertanya, “Terus apa hubungan dengan saya?” Dengan mantap dia menjawab, “Tolong pinjemin saya uang dong!”
Ketiga, tidak penting dan tidak mendesak. Sibuk di depan komputer, iPad, BB tanpa tujuan yang jelas sehingga habis memikirkan status yang hendak ditulis di Facebook atau twiiter. Bahkan karena bingungnya ia kemudian hanya menulis status: Saya bingung, sepi sendiri,  gue lagi gak ada ide.
Keempat, penting dan mendesak. Contohnya, sebagai seorang trainer saya harus memberikan training hari ini pukul 10.00 di Ritz Carlton Hotel Jakarta. Contoh lainnya, seorang mahasiswa harus meminta persetujuan judul skripsi kepada dosen hari ini sebelum dia berangkat ke luar negeri selama 2 bulan.
Jadi, agar selalu produktif tetapkanlah prioritas kegiatan Anda setiap hari. Caranya, urutkan kegiatan Anda mulai dari yang penting dan mendesak, penting tetapi tidak mendesak, mendesak tetapi tidak penting. Setelah itu baru kerjakan yang terakhir: tidak penting dan tidak mendesak.
Ayo coba sekarang juga!
===================================
Rasanya bukan hal yang mudah ya untuk dipraktekkan. Memilih dan memilah prioritas dalam kehidupan, mulai dari belanja (yak yuk mari para mbak2 dan ibu2) dan hal2 yang harus dilakukan kadang perlu dievaluasi ulang tiap minggunya.  Mumpung Jumat, besok uda weekend..Yuk mari evaluasi ulang apakah kita sudah melaksanakan prioritas kita atau malah kelupaan. Yang lebih parah lagi, belum menentukan prioritas... Yasudah, mari sama2 belajar... agar hidup lebih PRODUKTIF (sambil mikir dan nginget-inget) 


semoga bermanfaat :)

Sabtu, September 17, 2011

Punya Kehidupan dan Hidup !!


Sejenak aku hampiri twitlandku sebelum tidur semalam. Belum ada pukul 9 malam dan suami yang memang sudah ngantor seharian sudah lelap. Maka, agenda sharing pun terlewat. Ah, toh bisa besok pagi, pikirku. Karna ga bisa merem juga, aku mulai membaca berpuluh timeline yang sudah terlewat. Sebagian besar tentang ilmu dari para inspirator yang kufolow, sebagian lainnya tentang percakapan, dan terhenti pada twit kakak kelasku semasa SD. "Mumpung msh pd belom ngantuk,,saya tulis ini 'Get a life and be alive!' semoga bermanfaat", dan ku klik linknya. Link itu menyambungkanku pada note di facebooknya. Well, baru nyadar aku ga pernah tau tentang facebook penyiar radio paling top sekota ini...hihihi.So, mari kita baca dulu "Get a Life and be Alive" sebelum lanjut posting. 


Sudah bacanya?
Gimana? Nancep banget kan? 
Well, aku sempat termenung setelah membacanya. Mencoba mem'flashback' ingatanku pada penulisnya. Kami tidak saling kenal meski berdiam di kota bahkan di kecamatan yang sama. Kami satu almamater sekolah dasar dan perguruan tinggi. Satu hal yang kuhapal darinya adalah rambut cepaknya yang tidak pernah berubah. Dan sampai sekarang aku sadar, dia memiliki kehidupan yang sukses. Untukku, kesuksesannya adalah kesuksesan mempertahankan mimpinya hingga berbuah. Kalimatnya yang begitu menyindirku adalah 


"Jangan cari duit, tapi duit yang cari kita! Can u imagine, kita melakukan hal yang kita suka..kita jadi expert plus kita masih dapet duit lagi.. heheh! Simple thing, saya suka siaran. Berapa banyak orang yang meragukan pilihan saya waktu itu? Buanyaakk! Tapi, saya yakin dengan jalan yang saya ambil, saya libatkan Tuhan. Tuhan itu maha kaya, rejeki bisa datang dari pintu mana saja. Sekarang? Dengan siaran saya ini saya itu dan blablabla..gaji? mobil? Jalan – jalan ke luar negeri? I have all the things in my hand..alhamdulillah. Kebahagiaan dan keihklasan kita dalam melakukan sesuatu yang kita suka, akan membuka pintu rejeki dan kebahagiaan yang lain. Do what u love or otherwise u will getting nowhere, bakal stuck disitu – situ aja! 


Buatku, dia menang. Berapa banyak orang yang bermimpi kemudian jatuh? Seorang pengusaha kreativ dari belitung yang merantau ke jogja, Mas Arief Budiman pernah menulis dalam artikel onlinenya tentang ini. Dari 100 orang yang bermimpi, hanya 20 saja yang berhasil mempertahankan dan meraih mimpinya. Yang 80 kemana? Ada yang tergoda ketika di jalan, ada yang berbelok arah, dan yang paling parah adalah pesimis dan meyerah. "Jadi kalo kita punya mimpi, hanya 1:4 tingkat keberhasilan kita", gitu tulisnya. Jadi, sangat dipastikan bahwa berjalan sambil 'membopong' mimpi itu bukan sesuatu yang mudah

Kembali ke note...
Membacanya sempat membuatku tersindir berat. Pada masanya, tepatnya saat masa SMA , aku pernah memiliki mimpi yang hampir mirip dengannya. Menjadi penyiar, aktivis di berbagai komunitas bahkan LSM sosial di kotaku ini. Kesadaran penuh sebagai 'talkactive' kadang menguatkanku pada hal itu. Bahkan, percaya atau tida, aku pernah membuat semacam voting untuk teman2 sekelasku tentang bagaimana diriku di mata mereka dan jurusan perguruan tinggi mana yang cocok untukku, komunikasikah, psikologikah, atau sesuai saran guruku, akuntansi. Hasilnya, Komunikasi menempati nilai tertinggi yaitu 14 suara, sisanya psikologi 12 dan akuntansi 4. Well, sebagian dari mereka menilai dari kebiasaanku berbicara untuk jadi alasan penilaian mereka. Tapi kenapa tiba2 aku mendarat di dunia keuangan sekarang ini??? #hembuskan nafas... itu tak perlu terlalu dibahas kenapa. Yang jelas, pelahan tapi pasti impianku mulai kabur. Otak kananku mulai tumpul, gaya bahasaku mulai kaku, tapi pemahamanku pada spekulasi dan logika angka mulai tajam.
Tapi murni itu semua demi membahagiakan orangtuaku. Karna di balik mimpi2ku, tentu aku tak ingin mengecewakan mereka. Demi mereka, kemudian aku berusaha di jalur lain.#Alhamdulillah ya, :) di jalur itupun meski ga expert, aku dimudahkan dari berbagai sisi. Dari setiap ujian, hingga ujian akhir, dan pekerjaan yang tiada henti. Aku mensyukurinya, dan itu pasti karna visiku demi orang tua, dan ketika mereka ridho, Tuhanpun dengan lapang membuka jalan kita, ya tho? Aku masih percaya bahwa itu semua iya.

Tapi, kalo boleh blak-blakan ala 'Joni', aku sama sekali tidak menikmati pekerjaan itu. Bukan tidak mau, bukan tidak bisa, tapi bener2 ga menikmati. Seorang teman di jurusan yang sama pernah ga bisa tidur ketika neraca kami belum balance. Sampe kebawa mimpi kalopun tidur. Hahaha, lebay ya..Tapi bener kok. Lhah, akunya kok biasanya aja ya. Sampai akhirnya aku tiba pada suatu kesimpulan, aku harus berubah!!! Maka, sedikit demi sedikit, aku mulai melakukan yang aku suka. Dan itu jungkir balik dari profesi yang aku tekuni saat itu. Sementara yang lain cari rumus, maka aku akan cari tools dalam corel dan photoshop yang mampu menciptakan beberapa efek gambar seru. Dan itu benar2 seru. Atau ketika yang lain membaca tentang kurs, maka yang kubaca adalah artikel2 usaha, peluang2 bisnis, dsb. Yach, memang terlalu tua untuk bermimpi jadi penyiar lagi, bukan? Tapi bukan berarti aku tak punya mimpi lainnya. Wiraswasta sukses adlah impianku yang mulai mengembang. Dan mulai kuwujudkan di pertengahan tahun ini.

Bener kata mbak Tikayusuf, ini bukan sesuatu yang countable saja. Yang seperti itu akan mengikuti kita kok nantinya. I believe in that. Ketika membuang gaji besar, bonus hingga 400%, tunjangan tinggi, pensiun oke dan prestice yang beken mungkin sebagian memang menganggapku hilang akal dan egois. Ga salah kok, mereka bener. Tapi, aku menyertakan Allah dalam semua tindakanku ini. Aku menyertakan Sang Maha Kaya , jadi ketika aku berubah, rejeki itu pasti datang dari jalan2 tak terduga. 

Terimakasih mbak Tika Yusuf aka mbak Vien2 yang notenya sempet mengajarkanku untuk tetap berdiri. Mungkin saat ini aku baru memulai, tapi setiap prosesnya adalah perjuangan. Dan ketika ada hal2 negatif mampir, sungguh, itu adalah pacuan untuk tetap berproses dan menjadi lebih baik lagi. Terkadang orang lain melihat kita bukan pada proses kita mencapai sukses, tapi saat kita telah sukses. Tapi yang tak bisa kita lupakan justru pada saat proses itu. Dan kita menyukainya...Seperti itulah 'Get a Life and be Alive', memiliki kehidupan dan hidup, maka kita akan menjadi pemenang dalam hidup kita #tink ~_^

Semoga bermanfaat ^^

Jumat, Juni 17, 2011

Proposal Hidup


Sejak folo para trainer, komunikator dan pengusaha, makin banyak referensi yang saya dapat dari situ. Setiap hari, setidaknya pasti ada pelajaran baru yang di dapat untuk lebih menyemangati hidup dan menjadi 'bahan bakar' pelambung imajinasi untuk mewujudkannya jadi nyata.

Well, ini dia salah satu motivator, trainer sekaligus pengusaha, Jamil Azzaini, yang blognya ga pernah absen saya baca dan baru kemaren sempet baca history postnya.

Rabu, Mei 11, 2011

Belajar jadi Ibu Pembelajar ;)


Mencoba share pelajaran dari milis tetangga:
-----------------------------------------------

SELAMAT MENEMPUH UASBN, PUTRIKU...

Malam tadi, malam yang kuciptakan serileks mungkin,
karena hari ini sampai 3 hari ke depan, putri sulungku, Hurin, akan menghadapi
UASBN, ujian nasional untuk anak kelas 6. Upaya mendampinginya belajar
kemarin-kemarin, kurasa cukuplah. Tapi tidak perlu belajar malam ini,
ngobrol-ngobrol ringan saja dan tidur agak awal. Juga tentu
mengingatkan untuk berdoa pada Nya.

“Bu, kalau nilai UASBN-ku 26
lebih, atau ke-3 pelajarannya nilainya 8 lebih, aku mau bernadzar
puasa, boleh?” tanya kak Hurin, kemarin petang.
“Oh, Subhanallah, tentu saja boleh. Nadzar puasa berapa hari?”
“Satu hari aja sih. Tapi salah satu target itu tercapai, aku tetap puasa”
“Maksudnya, kak?”
“Iya,
tadi kan mau nadzar kalau UASBN nya 26 ke atas., atau nilainya diatas 8
semua. Jadi, kalau kurang dari 26 tapi nilainya di atas 8 semua, juga
tetap puasa” katanya menjelaskan.

Tiba-tiba, rasa haru menyergap
hatiku. Subhanallah,  gadis kecilku sudah berpikir dewasa sekarang,
bahkan saat tanda2 baligh secara biologis belum terjadi pada dirinya.

Lalu, malam harinya, menjelang tidur.
“Bu, manfaat sholat tahajud itu sebenarnya apa sih?” tanyanya lagi
“Ooh, banyak kak. Itu sunnah yg utama. Lagi kan malam hari sepi, jadi kita enak berdoanya” jawabku.
“Aku pingin sholat tahajud bu, biar UASBN-ku sukses”

Kembali aku disergap haru biru. Subhanallah, Engkau lah yang menggerakkan hatinya, ya Rabb…
“Oya,? Bagus itu. Kalau gitu, HPnya dipasang alarm jam 3-an, biar bisa bangun”
“Tapi….
kan aku suka susah bangun bu, biar sudah pasang alarm. Gimana dong?
Lagian kamarku di atas, mau wudhu dan sholat mesti ke bawah” ujarnya,
tampak ragu.
“Emm, gini aja. Sementara kakak pindah di bawah. Kamar
depan kan kosong. Biar ayah atau ibu bisa memastikan kakak benar2
bangun untuk tahajud. Gimana?”
“Iya deh..”

Dan malam

Selasa, Mei 10, 2011



Subhanallah...
Bahkan mereka tak segagah dan secantik dulu...
Bahkan mereka bukan raja atau ratu 
yang mahal pakaiannya
yang memiliki berlian dan logam mulia

Mereka telah senja...
dengan jaket dan sweater biasa
bukan sutra, apalagi ada di istana

Tapi senyum mereka berucap:
"aku bahagia!"
dengan saling menggenggam..