Tampilkan postingan dengan label mom wannabe. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label mom wannabe. Tampilkan semua postingan

Senin, Mei 20, 2013

Let's make some Creativities, son..

Iseng2 buka kembali web handmade kesayangan dan menelusuri kategori babies. Ga tau kenapa web satu ini selalu bikin saya takjub dengan kreasi2 mereka di luar sana yang lucu2, dan jadi mahal tentunya.

CLING!!

TIba2 saya punya keinginan untuk membuat beberapa barang sederhana dengan meniru beberapa sample babies mobile di web tersebut. And here we go, ini dia hasil dari keisengan kami (saya dan calon buah hati yang ikut nendang2 uminya lg ngerjain stuff ini) ^^

Referensi : Poto oke, pencahayaan oke, warna bahan lengkap
Hasil buatan sendiri : Potonya jelek banget cry cute cat




Referensi
Hasil buatan sendiri..(teteup, males ngambil kamera)




Referensi
Belon jadi. Kehabisan warna putih, krem pun jadi.. smile pink cat

Jumat, Mei 17, 2013

Gentle Birth Plan : "Ijinkan kami..."

Emosi seorang ibu hamil seperti ini emang ga stabil. Tapi se engga stabilnya emosi yang saya rasakan selama hamil, mungkin sore ini yang sangat berasa. Kasian suami kalo pulang kerja langsung dicurhati sambil mewek, saya pun langsung membuka blog setelah sebelumnya sempet mewek2 waktu sholat asar.

Belum ada sejam lalu ketika kakak saya, yang paling deket ke rumah, bareng dengan pulangnya ibu sedari kerja di toko seharian. Dia ini kakak kesayangan saya, kecuali kalo kami sudah berdebat tentang kehamilan dan kelahiran. PIkiran jadulnya susah banget di rubah. Sampai akhirnya tadi saya keceplosan bakal melahirkan 'di air'. Well, kalo saya bilang gentlebirth, mereka juga ga bakal ngerti apaan. Apalagi kalo saya bilang melahirkan tanpa rasa sakit dengan metode hypnobirthing....duh, pasti makin ga ngerti. Makanya saya bilang di air. Ibu saya langsung berkomentar:
"Lah nanti malah kluar darahnya, hii..." komennya sambil bergidik
Saya: "Lah, memang ada yang melahirkan tanpa keluar darah, buk?"
Ibu: " Nanti darahnya malah kecampur air, kemana2"
Ehhm, saya mo ngejelasin juga percuma...ya sudah, besok saya tunjukkan 'film'nya, kata saya.

Kakak saya tiba2 nyeletuk : "Halah, rasakno sesuk, naaaa..."
At that time, saya cuma cengar cengir dan biasa saja. Setelah kakak saya pamitan, entah kenapa seketika emosi saya berubah total. Kalimat celetukan kakak saya tadi seperti sebuah akumulasi dari celetukan serupa yang pernah datang darinya atau orang lain yang kemudian menjadi kalimat yang berulang kali menggema di pikiran saya. Saya seperti terpojokan dan sakit hati. Labay banget ini....maklum, hormon..

Yach, ternyata merencanakan kehamilan secara gentle ini bukan menguras energi dan emosi untuk meyakinkan diri, namun justru orang2 terdekat saya. Tadinya, saya dan suami berniat bakal berdua saja dan menjaga rencana persalinan nanti. Tapi, ibarat sebuah pernikahan, rasanya saya harus meminta restu kepada orang2 tua di sekitar kami. Bagaimanapun, keberhasilan dari segala rencana kami adalah atas ijin Allah, dan doa orang2 disekitar kami, terutama orang tua akan sangat mendukung keberhasilan tsb.

Kali ini mungkin saya mewek, ini yang harus saya perbaiki. Mental blocking ini harus lebih saya tebalkan. Pengetahuan tentang gentlebirth meskipun akan setengah2 mereka terima, harus saya salurkan. Semampu saya, sebisa saya. Ini memang kehamilan saya, persalinan saya dan kelahiran anak saya, sudah seharusnyalah memang saya memiliki hak menentukan yang terbaik bagi buah hati saya. Tapi, bagaimanapun juga, kelak iapun akan menjadi bagian tak terpisahkan dari kluarga ini, maka selayaknyalah ia mendapat doa dan dukungan dari semua anggotanya, bahkan ketika ia masih di dalam rahim sekalipun. 
Seperti kata seorang teman yang lagi hamil juga,"Terkadang mereka lupa, din, kalo kita sudah menaiki level baru menjadi orang tua. Selayaknyalah kita tau apa yang terbaik bagi anak2 kita". Well, kalo mereka lupa, mungkin perlu diingatkan. Bukan diam2, itu keputusan saya saat ini.
Gentlebirth adalah jalan terbaik yang saya dan suami pilih untuk buah hati kami, sekalipun menuju kesana ternyata bukan sekedar teknik kelahiran tapi mencakup berbagai aspek yang harus 'diluruskan', kami harus siap. Sekeras perjuangan kami memohon momongan, calon momongan kami ini akan kami jaga dan rawat sebaik-baiknya. 

Ijinkan kami....
memberi yang terbaik bagi buah hati kami...
membentuk generasi penerus yang lebih baik, insyaAllah...
memberi kedamaian kepada buah hati kami, sejak ia dilahirkan...
Ijinkan kami menjalani proses 'penyambutan' buah hati kami dengan normal, alami, lancar, dan tanpa intervensi medik yang tidak diperlukan melalui gentlebirth...



Rabu, Mei 15, 2013

Trisemester 3 : Sharing (lagi)

Jam setengah delapan pagi, bekas hujan subuh masih segar dan saya masih duduk di atas birthingball dengan kaki ngangkang sambil agak goyang2 ^^. Sambil mendengarkan alunan musik klasik for baby dan menunggu si akung uti slesein dhuha untuk sarapan bersama. Laper uda keganjel dengan roti panggang pagi2 sekali tadi nemenin suami sarapan. Aahhh...pagi yang damai, rasanya jadi pengen ngentri di blog.. #lho.. hihihi

Di trisem akhir ini kayanya saya bakal sering ngentri post deh. Selain mengeluarkan unek2 yang selalu 'nggrunjel' pengen dikeluarin, sebagai motivasi juga bahwa pada akhirnya ini yang akan jadi salah satu dokumentasi kehamilan dan kelahiran gentlebirth kami nantinya...aamiin..

Nesting Instinct
Begitu banyak istilah dalam kehamilan, dan ini salah satunya. Nesting instinct atau naluri bersarang biasanya dialamai ibu hamil ketika usia kandungannya memasuki trisemester ketiga. Naluri bersarang ini diwujudkan dengan getolnya sang ibu bersih2 rumah, merapikan tata letak, atau bahkan membuat suasana baru di rumah untuk menyambut kehadiran sang buah hatinya sebentar lagi. Well, ga cuma manusia, insting ini juga dialami oleh hewan. Burung kenari peliharaan akung yang bertelor sengaja akung beri serat2 kayu di kandangnya. Dari serat2 itulah dia membuat sarang di keranjang pojok yang memang telah disiapkan akung. Satu per satu, hari demi hari, sarang itu jadi sebuah sarang yang terlihat empuk dan hangat, bukan sekedar keranjang. Dan begitu telur2 kenari menetas, anak2 kenari pun ga kedinginan. ^^ Oh so cwiiit.... 
So, mungkin ini juga yang sedang saya alami. Beberapa hari ini keinginan untuk  bersih2 rumah dan menata ulang perabotan rumah begitu menggebu-gebu. Ahaaai, dan ini sangat tidak biasa...hehehe. Berhubung masih ngikut ortu, naluri ini memang ga bisa sepenuhnya terpenuhi, selain calon kamar kami bertiga, ruangan lain hanya sebatas saya bersihkan. Nah, untuk calon kamar kami (karna mo pindah kamar dari yang sekarang ditempati), saya mulai rempong. Walopun dipan belum kelar digarap oleh tukang kayu langganan keluarga kami, saya mulai rempong mikirin asesorisnya. Mulai dari mempersiapkan wallsticker lucu2 sampai menggambarkan detail kasarnya via corel. Saya juga memberi limit pada diri sendiri untuk kelar menata segalanya pertengahan juni nanti. Yach, setidaknya kepengennya nanti 2 minggu sebelum hpl uda tinggal konsen saja ke relaksasi dan penenangan diri demi meyambut buah hati dengan proses gentle.


Behavior while Pregnant

Seminggu lalu ktika ada ta'ziah tetangga, saya duduk diantara ibu2 muda dan tentunya dengan pengalaman melahirkan yang kemudian dibeberkan kepada saya. Termasuk di situ kakak ipar. Mulai dari ketidakpengetahuan mereka pada saat akan melahirkan anak pertama sehingga ketika akan berangkat ke rumah sakit dia terus2an saja  memegang area bawahnya seolah takut anaknya mbrojol di tengah jalan.Kantong kresek kali mbrojol, mbaaak ^^
Atau pengalaman kaka ipar saya yang merasa kepengen buang air kecil terus2an kemudian merasakan nyeri dan sudah bukaan 7 ketika sampai di klinik. Dan juga pengalaman makanan yang mereka konsumsi yang kemudian berimbas pada selera makan anak2nya ketika mereka beranjak besar. Tapi bukan itu yang menjadi perhatian saya, karna sudah mental blocking dulu, cerita2 yang mengandung mitos cenderung mampu saya filter untuk masuk ke otak. Saya justru tertarik ketika pembicaraan mengarah pada pola prilaku anak yang mereka hubungkan dengan pola prilaku mereka saat hamil.
Tetangga saya yang memiliki 2 putra mengaku kedua putranya memiliki tingkahlaku yang berbeda. Anak pertamanya cenderung santai dan lambat. Anak keduanya justru sebaliknya, aktif dan energik. Hal tersebut diakuinya krn dianya juga demikian ketika hamil. Kakak ipar saya juga mengakui hal yang sama. Anak pertamanya paling males kalo disuruh beberes rumah, bahkan sekedar diminta ibunya membantu mengangkat jemuran kering....yeeay, i know it well. Tapi dalam persoalan sekolah, dia memang akan mengerahkan segala effortnya. Tak jarang keponakan saya itu jatuh sakit ketika akan menghadapi ujian krn saking tegangnya. Kakak saya menuturkan bahwa ianya dulu saat hamil juga demikian. Sangat malas mengerjakan kerjaan rumah tangga.
Well, terlepas benar atau tidaknya hal2 yang diungkapkan oleh ibu2 senior itu, saya merasa ada benarnya juga. Terlepas hal tersebut sugesti atau bukan, bagi saya, kehamilan bukan saja sekedar suatu proses hidup wanita sewajarnya, tapi lebih dari itu, kehamilan merupakan proses pembelajaran menaiki level baru dalam kehidupan yaitu to be parent.

Sebelum hamil, beberapa kali saya mengungkapkan pada suami dan teman-teman (saat sesi curhat) saya bahwa meskipun keinginan hamil itu begitu besar, terbersit rasa takut yang sama pada ketidakpercayaan diri apakah saya mampu menjadi ibu yang baik. Saya sangat ingat betul. Saat itu suami selalu menenangkan bahwa hal itu akan berproses dan naluriah. 

Dan benar saja, ketika mulai memasuki masa kehamilan, pelahan mental kita sebagai calon ibupun mulai dilatih. Maha Besar Allah yang telah memberikan waktu 9bulan 10 hari kepada calon ibu untuk belajar siap menjadi ibu sepenuhnya. Dimulai dari tanggungjawab. Makan dan minum mungkin menjadi satu hal yang sepele ketika wanita tidak sedang hamil. Tapi coba tengok, wanita akan cenderung memperhitungkan pola makannya demi buah hati yang sedang berkembang di rahimnya. Yang pada awalnya sangat menjauhi sayur, bisa saja setiap hari mengkonsumsi sayur. Rasa tanggungjawab atas perkembangan sang buah hati dalam rahim pelahan tumbuh. 

Beberapa mitos juga mengungkapkan untuk jangan membenci sesuatu/ seseorang atau menyiksa hewan, nanti anaknya kenapa2. Bagi saya, itu juga sebagian dari pembelajaran tanggungjawab prilaku. Karena ketika hamil, pembelajaran untuk menjadi orang tua sesungguhnya itu tidak terputus dan melingkupi berbagai aspek. Membiasakan diri menjadi pribadi yang lebih baik yang kelak bisa menjadi contoh bagi anak2nya. Karena bagaimanapun, tidak akan berhasil strategi mengasuh seperti apapun ketika sang orang tua tidak memberi contoh. Dan tidak akan berhasil sang orang tua memberi contoh yang baik jika ianya juga tidak membiasakan diri pada hal baik tersebut.

Saya, tentu masih sangat harus belajar. Saya selalu diingatkan suami pada visi keluarga kami, yaitu meraih jannahNya, maka sebisa mungkin saya dan suami berusaha untuk menomorsatukan pembentukan generasi sholeh sholehah. Dengan kunci itu, insya Allah prilaku baik bagi urusan dunia pun akan mengikuti. Karna sesungguhnya akar dari segala prilaku itu sendiri adalah iman. Begitu katanya. Baiklah.
Maka saya mulai belajar, mencari tau kenapa anak tetangga saya selalu cenderung tenang dan anteng ketika diajak jamaah ke langgar oleh akungnya. Yach, saya ingat banget, dulu ibunya yang juga teman sejak kecil sangat rajin berjamaah, sekalipun sedang sakit. Saya mulai belajar, kenapa anak tetangga saya mudah sekali belajar Qur'an, saya tau karna pernah mengajarnya. Dibanding teman-temannya yang masih iqro', anak yang lahir tanpa ayah ini cenderung lebih cerdas. Ibunya sekalipun pernah 'melakukan kekhilafan', sepertinya terus memperbaiki diri. Mulai dari rajin jamaah sampai mengaji walaupun masih terbata. Subhanallah, sebetulnya Allahlah yang paling tau seberapa besar niatnya.
Begitu juga pada perilaku2 sebaliknya. Dan ya, saya merasa harus terus memperbaiki diri. Dan ternyata suami saya benar. Ini semua berjalan dengan  naluri sebagai calon ibu yang sangat mendambakan setiap kebaikan dirinya akan menjadi contoh bagi buah hatinya kelak.

Baiklah. Cukup sekian sharing2nya hari ini. Ini hanya sekedar uneg2 yang uda meletup-letup saja pgn dikeluarin pagi ini. Hehehe... Kalo ada salahnya mohon dikoreksi. Semoga manfaat ^^






Jumat, September 23, 2011

Untuk Para MOMWANNABE (Rinduku Padamu Anakku)



Baru mo nutup notbuk, sempetin baca imel dulu. Seperti biasa, list dipenuhi dengan topik2 diskusi milisnya mbak Asma Nadia, salah satu penulis favoritku. Ini sekedar share, ada seorang anggota milis yang becerita tentang dirinya yang sudah 5 tahun berumah tangga dan belum dikaruniai buah hati. Kesuksesan karirnya dan suami tidak mampu menggantikan kerinduan keduanya akan tangisan seorang bayi. Dari imel itu, berbalas dari anggota yang lainnya. Berbagai cerita muncul, 2 tahun menunggu, bahkan seorang anggota telah menanti 10 th untuk memiliki seorang momongan.

Aku jadi mengingat diriku sendiri... Sudah lebih dari 1 tahun, ini perjalanan perkawinan tahun kedua, tapi belum juga dikaruniai momongan. Rasanya sedih betul ketika ada yang menanyakan "uda isi belum?". Ini belum apa2, pikirku... Mungkin benar, Allah punya caranya sendiri ketika akan menitipkan momongan kepada kita. Mungkin Dia sedang mempersiapkan putra putri sholeh sholihah untuk kita. "Ikhlas, tawakal, dan ikhtiar...pada saatnya nanti, pasti akan diberi", kata ibuku ketika aku sempat curhat padanya.

Untukku, sahabatku amanda, mbak tyas, dan momwannabe lainnya.. Mungkin kita memang dipersiapkan jadi ibu yang siap mental dan fisik hingga kelak mampu mendidik anak2 kita sehingga menjadi anak2 yang sholeh. Jadi, mari pantaskan diri, luruskan niat.. Semoga Allah mengijabah doa kita.





Semangat Momwannabe!! ^_^

semoga manfaat..

Selasa, September 20, 2011

Sunnah Nabi dan Kebiasaan Sahabat Menyambut Kelahiran Anak

Hari ini banyak kultwit di twitland. Karna sebagian pembisnis dan investor, seperti biasa, share tentang bisnis dan usaha paling banter di twit. Tapi ada satu yang beda dan menarikku untuk nyimak TLnya. Adalah dari @Muhammad_Rofiq, ga tau persisnya, tapi dari track record twitnya tentang usaha membuatku memfolonya beberapa waktu lalu. Nah, kali ini beliau share tentang "Sunnah Nabi dan Kebiasaan Sahabat Menyambut Kelahiran Anak", well karna merasa perlu dan mengakui tentang keterbatasan memoriku, maka aku bermaksud sharingi di blog. Yach, untuk arsip dan share juga buat yang butuh. Yuk mari disimak....


Di twitter sering sekali para guru2 kita twit utk menganjurkan segera menikah, karena banyak sekali keutamaan dari menikah bagi kebaikan pribadi dan umat. Nah, jika menikah tentu akan mengharapkan kelahiran si buah hati yaitu anak tercinta. Setelah anak lahir, banyak sekali sunnah Nabi menyambut kelahiran si bayi, seperti; segera mengadzankan dan iqomat di telinga si bayi, memberi nama dsb. Yang  sering disampaikan adalah melakukan Aqiqah,  2 kambing utk anak laki2 dan 1 kambing utk anak perempuan.


Sebetulnya ada 1 lagi sunnah nabi utk menyambut kelahiran anak yg mungkin jarang dipraktekkan saat ini. Apa itu? 
Nabi mengajarkan kpd kita untuk mencukur habis rambut si bayi, terus rambut tersebut ditimbang dgn timbangan utk emas. Brp berat rambut bayi tsb sesuai timbangan dinilai dgn harga emas, dan uangnya kita sedekahkan!
Apa faedahnya? 
Sama seperti faedah sedekah; kesehatan, panjang umur, rezeki, tolak bala' dan kecerdasan! Jadi sebetulnya berpadu itu ttg konsep Emas dan Sedekah sejak bayi (yg keduanya lg trend saat ini!) Bagi yg akan punya anak, laksanakan tuh sunnah Nabi utk mencukur, menimbang dgn takaran emas dan mensedekahkannya! Krn itu dlm seminar sy sering bilang "sedekah itu mencerdaskan", lakukan sejak bayi! 
Mungkin dari sini ya muncul istilah "rambut emas":),  jd kalo bayi kita rambutnya lebat, itu artinya bisa sedekah yg besar!


Kalo khalifah Ali bin Abi Thalib ada juga kebiasaan kepada anaknya utk membuat si anak cerdas. Apa itu?  Kebiasaan khalifah Ali RA itu sering disebut "40 rebo an" utk kecerdasaan anak juga. Bagaimana itu? Setelah rambut si bayi di cukur dan tumbuh lagi, setiap hari rabu, rambut si bayi di potong sedikit selama 40 hari Rabu. Ketika di potong sedikit, bacakan Alfatihah dan shalawat nabi di ubun2 si bayi, doakan kebaikan untuk nya! Dari zaman dulu, byk sekali yg sdh praktekkan ini dan anak yg dilakukan ini, setelah dewasa Alhamdulillah baik!  Itu adalah kebiasaan Khalifah Ali RA kepada anak2nya (baca; cucu2 Rasul) utk kecerdasan dan keutamaan2 mereka.
Itu dulu tips dari Nabi dan Sahabat utk kebaikan putra-putri kita tercinta ya! Bagi yg blm melaksanakan, silahkan disegerakan, semoga menjadi kebaikan utk kita semua ya :)


===========================================================================


Waah, kalo boleh jujur belum pernah denger yang seperti ini. Taunya sebatas cukur rambut biasa. Malah sebagian dicampur2in sama hal2 syirik.. Na'udzubillah. Nah, #Alhamdulillah ya (syahrini eaaa) hari ini kita dapet ilmu baru. Nah, karna september ini uda ngantri 3 temenku yang melahirkan baby baru, plus para sahabat yang HPLnya uda deket, hmmm.. semoga bisa jadi referensi ya... Biar si buah hati cerdas dan menjadi star, ga harus minum bebe**q...hehehe. 


-semoga bermanfaat-