Jumat, Mei 17, 2013

Gentle Birth Plan : "Ijinkan kami..."

Emosi seorang ibu hamil seperti ini emang ga stabil. Tapi se engga stabilnya emosi yang saya rasakan selama hamil, mungkin sore ini yang sangat berasa. Kasian suami kalo pulang kerja langsung dicurhati sambil mewek, saya pun langsung membuka blog setelah sebelumnya sempet mewek2 waktu sholat asar.

Belum ada sejam lalu ketika kakak saya, yang paling deket ke rumah, bareng dengan pulangnya ibu sedari kerja di toko seharian. Dia ini kakak kesayangan saya, kecuali kalo kami sudah berdebat tentang kehamilan dan kelahiran. PIkiran jadulnya susah banget di rubah. Sampai akhirnya tadi saya keceplosan bakal melahirkan 'di air'. Well, kalo saya bilang gentlebirth, mereka juga ga bakal ngerti apaan. Apalagi kalo saya bilang melahirkan tanpa rasa sakit dengan metode hypnobirthing....duh, pasti makin ga ngerti. Makanya saya bilang di air. Ibu saya langsung berkomentar:
"Lah nanti malah kluar darahnya, hii..." komennya sambil bergidik
Saya: "Lah, memang ada yang melahirkan tanpa keluar darah, buk?"
Ibu: " Nanti darahnya malah kecampur air, kemana2"
Ehhm, saya mo ngejelasin juga percuma...ya sudah, besok saya tunjukkan 'film'nya, kata saya.

Kakak saya tiba2 nyeletuk : "Halah, rasakno sesuk, naaaa..."
At that time, saya cuma cengar cengir dan biasa saja. Setelah kakak saya pamitan, entah kenapa seketika emosi saya berubah total. Kalimat celetukan kakak saya tadi seperti sebuah akumulasi dari celetukan serupa yang pernah datang darinya atau orang lain yang kemudian menjadi kalimat yang berulang kali menggema di pikiran saya. Saya seperti terpojokan dan sakit hati. Labay banget ini....maklum, hormon..

Yach, ternyata merencanakan kehamilan secara gentle ini bukan menguras energi dan emosi untuk meyakinkan diri, namun justru orang2 terdekat saya. Tadinya, saya dan suami berniat bakal berdua saja dan menjaga rencana persalinan nanti. Tapi, ibarat sebuah pernikahan, rasanya saya harus meminta restu kepada orang2 tua di sekitar kami. Bagaimanapun, keberhasilan dari segala rencana kami adalah atas ijin Allah, dan doa orang2 disekitar kami, terutama orang tua akan sangat mendukung keberhasilan tsb.

Kali ini mungkin saya mewek, ini yang harus saya perbaiki. Mental blocking ini harus lebih saya tebalkan. Pengetahuan tentang gentlebirth meskipun akan setengah2 mereka terima, harus saya salurkan. Semampu saya, sebisa saya. Ini memang kehamilan saya, persalinan saya dan kelahiran anak saya, sudah seharusnyalah memang saya memiliki hak menentukan yang terbaik bagi buah hati saya. Tapi, bagaimanapun juga, kelak iapun akan menjadi bagian tak terpisahkan dari kluarga ini, maka selayaknyalah ia mendapat doa dan dukungan dari semua anggotanya, bahkan ketika ia masih di dalam rahim sekalipun. 
Seperti kata seorang teman yang lagi hamil juga,"Terkadang mereka lupa, din, kalo kita sudah menaiki level baru menjadi orang tua. Selayaknyalah kita tau apa yang terbaik bagi anak2 kita". Well, kalo mereka lupa, mungkin perlu diingatkan. Bukan diam2, itu keputusan saya saat ini.
Gentlebirth adalah jalan terbaik yang saya dan suami pilih untuk buah hati kami, sekalipun menuju kesana ternyata bukan sekedar teknik kelahiran tapi mencakup berbagai aspek yang harus 'diluruskan', kami harus siap. Sekeras perjuangan kami memohon momongan, calon momongan kami ini akan kami jaga dan rawat sebaik-baiknya. 

Ijinkan kami....
memberi yang terbaik bagi buah hati kami...
membentuk generasi penerus yang lebih baik, insyaAllah...
memberi kedamaian kepada buah hati kami, sejak ia dilahirkan...
Ijinkan kami menjalani proses 'penyambutan' buah hati kami dengan normal, alami, lancar, dan tanpa intervensi medik yang tidak diperlukan melalui gentlebirth...



Tidak ada komentar:

Posting Komentar