Rabu, Mei 15, 2013

Trisemester 3 : Sharing (lagi)

Jam setengah delapan pagi, bekas hujan subuh masih segar dan saya masih duduk di atas birthingball dengan kaki ngangkang sambil agak goyang2 ^^. Sambil mendengarkan alunan musik klasik for baby dan menunggu si akung uti slesein dhuha untuk sarapan bersama. Laper uda keganjel dengan roti panggang pagi2 sekali tadi nemenin suami sarapan. Aahhh...pagi yang damai, rasanya jadi pengen ngentri di blog.. #lho.. hihihi

Di trisem akhir ini kayanya saya bakal sering ngentri post deh. Selain mengeluarkan unek2 yang selalu 'nggrunjel' pengen dikeluarin, sebagai motivasi juga bahwa pada akhirnya ini yang akan jadi salah satu dokumentasi kehamilan dan kelahiran gentlebirth kami nantinya...aamiin..

Nesting Instinct
Begitu banyak istilah dalam kehamilan, dan ini salah satunya. Nesting instinct atau naluri bersarang biasanya dialamai ibu hamil ketika usia kandungannya memasuki trisemester ketiga. Naluri bersarang ini diwujudkan dengan getolnya sang ibu bersih2 rumah, merapikan tata letak, atau bahkan membuat suasana baru di rumah untuk menyambut kehadiran sang buah hatinya sebentar lagi. Well, ga cuma manusia, insting ini juga dialami oleh hewan. Burung kenari peliharaan akung yang bertelor sengaja akung beri serat2 kayu di kandangnya. Dari serat2 itulah dia membuat sarang di keranjang pojok yang memang telah disiapkan akung. Satu per satu, hari demi hari, sarang itu jadi sebuah sarang yang terlihat empuk dan hangat, bukan sekedar keranjang. Dan begitu telur2 kenari menetas, anak2 kenari pun ga kedinginan. ^^ Oh so cwiiit.... 
So, mungkin ini juga yang sedang saya alami. Beberapa hari ini keinginan untuk  bersih2 rumah dan menata ulang perabotan rumah begitu menggebu-gebu. Ahaaai, dan ini sangat tidak biasa...hehehe. Berhubung masih ngikut ortu, naluri ini memang ga bisa sepenuhnya terpenuhi, selain calon kamar kami bertiga, ruangan lain hanya sebatas saya bersihkan. Nah, untuk calon kamar kami (karna mo pindah kamar dari yang sekarang ditempati), saya mulai rempong. Walopun dipan belum kelar digarap oleh tukang kayu langganan keluarga kami, saya mulai rempong mikirin asesorisnya. Mulai dari mempersiapkan wallsticker lucu2 sampai menggambarkan detail kasarnya via corel. Saya juga memberi limit pada diri sendiri untuk kelar menata segalanya pertengahan juni nanti. Yach, setidaknya kepengennya nanti 2 minggu sebelum hpl uda tinggal konsen saja ke relaksasi dan penenangan diri demi meyambut buah hati dengan proses gentle.


Behavior while Pregnant

Seminggu lalu ktika ada ta'ziah tetangga, saya duduk diantara ibu2 muda dan tentunya dengan pengalaman melahirkan yang kemudian dibeberkan kepada saya. Termasuk di situ kakak ipar. Mulai dari ketidakpengetahuan mereka pada saat akan melahirkan anak pertama sehingga ketika akan berangkat ke rumah sakit dia terus2an saja  memegang area bawahnya seolah takut anaknya mbrojol di tengah jalan.Kantong kresek kali mbrojol, mbaaak ^^
Atau pengalaman kaka ipar saya yang merasa kepengen buang air kecil terus2an kemudian merasakan nyeri dan sudah bukaan 7 ketika sampai di klinik. Dan juga pengalaman makanan yang mereka konsumsi yang kemudian berimbas pada selera makan anak2nya ketika mereka beranjak besar. Tapi bukan itu yang menjadi perhatian saya, karna sudah mental blocking dulu, cerita2 yang mengandung mitos cenderung mampu saya filter untuk masuk ke otak. Saya justru tertarik ketika pembicaraan mengarah pada pola prilaku anak yang mereka hubungkan dengan pola prilaku mereka saat hamil.
Tetangga saya yang memiliki 2 putra mengaku kedua putranya memiliki tingkahlaku yang berbeda. Anak pertamanya cenderung santai dan lambat. Anak keduanya justru sebaliknya, aktif dan energik. Hal tersebut diakuinya krn dianya juga demikian ketika hamil. Kakak ipar saya juga mengakui hal yang sama. Anak pertamanya paling males kalo disuruh beberes rumah, bahkan sekedar diminta ibunya membantu mengangkat jemuran kering....yeeay, i know it well. Tapi dalam persoalan sekolah, dia memang akan mengerahkan segala effortnya. Tak jarang keponakan saya itu jatuh sakit ketika akan menghadapi ujian krn saking tegangnya. Kakak saya menuturkan bahwa ianya dulu saat hamil juga demikian. Sangat malas mengerjakan kerjaan rumah tangga.
Well, terlepas benar atau tidaknya hal2 yang diungkapkan oleh ibu2 senior itu, saya merasa ada benarnya juga. Terlepas hal tersebut sugesti atau bukan, bagi saya, kehamilan bukan saja sekedar suatu proses hidup wanita sewajarnya, tapi lebih dari itu, kehamilan merupakan proses pembelajaran menaiki level baru dalam kehidupan yaitu to be parent.

Sebelum hamil, beberapa kali saya mengungkapkan pada suami dan teman-teman (saat sesi curhat) saya bahwa meskipun keinginan hamil itu begitu besar, terbersit rasa takut yang sama pada ketidakpercayaan diri apakah saya mampu menjadi ibu yang baik. Saya sangat ingat betul. Saat itu suami selalu menenangkan bahwa hal itu akan berproses dan naluriah. 

Dan benar saja, ketika mulai memasuki masa kehamilan, pelahan mental kita sebagai calon ibupun mulai dilatih. Maha Besar Allah yang telah memberikan waktu 9bulan 10 hari kepada calon ibu untuk belajar siap menjadi ibu sepenuhnya. Dimulai dari tanggungjawab. Makan dan minum mungkin menjadi satu hal yang sepele ketika wanita tidak sedang hamil. Tapi coba tengok, wanita akan cenderung memperhitungkan pola makannya demi buah hati yang sedang berkembang di rahimnya. Yang pada awalnya sangat menjauhi sayur, bisa saja setiap hari mengkonsumsi sayur. Rasa tanggungjawab atas perkembangan sang buah hati dalam rahim pelahan tumbuh. 

Beberapa mitos juga mengungkapkan untuk jangan membenci sesuatu/ seseorang atau menyiksa hewan, nanti anaknya kenapa2. Bagi saya, itu juga sebagian dari pembelajaran tanggungjawab prilaku. Karena ketika hamil, pembelajaran untuk menjadi orang tua sesungguhnya itu tidak terputus dan melingkupi berbagai aspek. Membiasakan diri menjadi pribadi yang lebih baik yang kelak bisa menjadi contoh bagi anak2nya. Karena bagaimanapun, tidak akan berhasil strategi mengasuh seperti apapun ketika sang orang tua tidak memberi contoh. Dan tidak akan berhasil sang orang tua memberi contoh yang baik jika ianya juga tidak membiasakan diri pada hal baik tersebut.

Saya, tentu masih sangat harus belajar. Saya selalu diingatkan suami pada visi keluarga kami, yaitu meraih jannahNya, maka sebisa mungkin saya dan suami berusaha untuk menomorsatukan pembentukan generasi sholeh sholehah. Dengan kunci itu, insya Allah prilaku baik bagi urusan dunia pun akan mengikuti. Karna sesungguhnya akar dari segala prilaku itu sendiri adalah iman. Begitu katanya. Baiklah.
Maka saya mulai belajar, mencari tau kenapa anak tetangga saya selalu cenderung tenang dan anteng ketika diajak jamaah ke langgar oleh akungnya. Yach, saya ingat banget, dulu ibunya yang juga teman sejak kecil sangat rajin berjamaah, sekalipun sedang sakit. Saya mulai belajar, kenapa anak tetangga saya mudah sekali belajar Qur'an, saya tau karna pernah mengajarnya. Dibanding teman-temannya yang masih iqro', anak yang lahir tanpa ayah ini cenderung lebih cerdas. Ibunya sekalipun pernah 'melakukan kekhilafan', sepertinya terus memperbaiki diri. Mulai dari rajin jamaah sampai mengaji walaupun masih terbata. Subhanallah, sebetulnya Allahlah yang paling tau seberapa besar niatnya.
Begitu juga pada perilaku2 sebaliknya. Dan ya, saya merasa harus terus memperbaiki diri. Dan ternyata suami saya benar. Ini semua berjalan dengan  naluri sebagai calon ibu yang sangat mendambakan setiap kebaikan dirinya akan menjadi contoh bagi buah hatinya kelak.

Baiklah. Cukup sekian sharing2nya hari ini. Ini hanya sekedar uneg2 yang uda meletup-letup saja pgn dikeluarin pagi ini. Hehehe... Kalo ada salahnya mohon dikoreksi. Semoga manfaat ^^






Tidak ada komentar:

Posting Komentar