Jumat, Mei 10, 2013

Trisemester 3 : Perkenalanku dengan Hipnobirthing

Sekali lagi, ini cuma wadah saya untuk sharing dan curcol pada intinya, jadi tulisan yang ada di sini kemungkinan mengandung 90% nilai subjektifitas yang tinggi.

Sempat berputus asa karna proses usaha yang kian hari tak membuahkan hasil, kehamilan adalah kado terindah bagi saya, suami dan keluarga besar kami. Cerita lengkapnya bisa baca To be Mom story dan To be Mom story 2. Hal itulah yang kemudian membuat saya sangat intens membaca seluk beluk kehamilan, karna lagi usaha, hingga melahirkan.

Memasuki masa kehamilan, saya cenderung lebih aktif lagi mencari info tentang apapun yang berhubungan dengan kehamilan hingga parenting. Terlalu lebay ya....tapi bagi saya, kehamilan adalah anugrah terbaik yang pernaah saya dapatkan, jadi saya sendiri berjanji pada diri saya akan melakukan dan memberi yang terbaik pada apapun yang saya alami pada masa ini. Kehamilan artinya Allah sedang mempercayai saya untuk menjadi seorang ibu.
Buku yang dibeli saat tau hamil
Sejak awal memasuki promil (program kehamilan), saya sudah mulai penasaran dengan gentlebirth. Rasa penasaran saya makin tak terbendung sejak testpack menunjukkan dua strips. Menyadari bahwa saya adalah pribadi yang panikan dan 'kemrungsung', metode rileksasi selama kehamilan jadi incaran pertama. "Pokoknya saya ga boleh panik dan grusah-grusuh, saya harus terus bisa positif thingking", itu tekad saya sejak awal.

Begitu tau hamil, hal pertama yang saya cari adalah buku plus CD relaksasi. Sadar bahwa melahirkan adalah proses seorang wanita yang merasakan sakit luar biasa, saya mencoba terus memutar hati dan pikiran diri untuk tidak menanamkan  sugesti tersebut di benak saya. Maka, sejak awal saya sudah melakukan teknik rileksasi hipnobirthing dan membaca tentang gentle birth yaitu persalinan tanpa rasa sakit.
Buku yang dibeli saat trisem ke2

Hasilnya cukup signifikan...saya mulai mampu mengendalikan kepanikan yang terjadi setiap saat. Keluhan masa hamil pun bisa dibilang cenderung dapat dihadapi. Menghadapi masa mual muntah dan segalanya dengan terus mencoba senyaman mungkin dengan tubuh.

Memasuki trisemester ketiga, saya mulai mengikuti prenatal yoga yang diajarkan langsung oleh Bidan Yesie dari Bidankita, praktisi gentlebirth. Menyenangkan karna di sana saya juga bisa bertemu dengan bumil2 yang juga mengharapkan kelahiran normal alami (gentle birth). Rasa-rasanya aura positif selalu terpancar kalo lagi kumpul dan melakukan yoga bareng. ^^

Pada esensinya, gentle birth dengan hipnobirthing itu sendiri bukan melahirkan tanpa rasa sakit, saya sadar itu. Melahirkan itu pasti sakit, itu sebabnya berabad-abad lamanya, melahirkan sering diidentikan dengan perjuangan antara hidup dan mati. Kalo ga sakit, maka seorang ibu yang gugur dalam perjuangan melahirkan tidak akan dimasukkan dalam golongan syahid.
Buku yg dibeli pas trisem 3 (telat yaaaa...)
Gentle birth pada hakikatnya adalah pemberdayaan seorang wanita, calon ibu dalam perjalanannya menghadapi proses kehamilan, melahirkan, bahkan saat menyusui sehingga anaknya dapat tumbuh menjadi pribadi yang cerdas, sehat, bukan hanya secara fisik namun juga spiritualnya.

Para praktisi gentlebirth meyakini bahwa kehamilan dan kelahiran bukan sekedar proses fisik seorang wanita mengeluarkan seorang anak dari tubuhnya, namun lebih dari itu, hal tesebut sebuah perjalanan spiritual yang memiliki nilai agung.
Tentu, di masyarakat kita hal tersebut masih sangat asing. Bukan hal yang mudah jika kemudian kita kemudian mencoba metode ini. Saya sendiri masih menutupi rencana kelahiran ini dari orang tua dan pihak2 yang berpotensi masih memegang konsep medik. Bukannya menolak tindakan medik, dalam gentle birth, tindakan medik tetap diperlukan sesuai dengan kebutuhan dan keperluannya. Dengan kata lain, klo memang benar2 terpaksa diambil tindakan medik, yach memang gapapa. Tapi pada praktiknya, tindakan medik sekarang ini cenderung jadi hal yang biasa dan enteng dilakukan bahkan kepada mereka dengan risiko melahirkan kecil.

Saya juga ga mau ngotot2an soal ini, yang jelas, perencanaan kelahiran dengan gentlebirth ini saya dan suami niatkan untuk memberi yang terbaik bagi buah hati kami. Saya sadar betul potensi stres pada diri saya cenderung besar. Hal tersebut tercermin pada perilaku saya sebelum mempelajari hipnobirthing. Grusah grusuh, panik, negatif thingking, traumatis, dan lainya. Setelah saya telusuri, ternyata saya memiliki sejarah kelahiran yang menyakitkan ibu saya. Beliau yang baru 17bulan melahirkan kakak saya harus berjuang kembali melahirkan saya. Tentu bukan hal yg mudah, terlebih jauh dari saudara. Setelah persalinan, beliau mungkin mengalami sedikit trauma dan babyblues dengan kehadiran saya, dimana kakak saya juga masih sangat membutuhkan banyak perhatian beliau. And soon, saya kemudian dibesarkan oleh kakaknya. Hal tersebut tentu berpengaruh pada saya, dimana saya kecil cenderung rewel, begitu kata ibu yang membesarkan saya. Dan saya masih mengingatnya. Im not a nice person anyway, jadi saya sadari betul bahwa saya harus melahirkan buah hati saya dengan penuh cinta. Untunglah, kini, semakin mendekati masa kelahiran saya tidak pernah merasa panik tentang rasa sakit yang akan saya hadapi. Bisa dibilang bahkan saya menantikannya. Setidaknya itu hasil yang saya pelajari selama ini. Percaya pada tubuh dan bayi dalam kandungan kita menjadi kunci kesuksesan hipnobirthing.

Minggu 31
Next post mungkin masih cerita seputar hipnobirthing , gentle birth hingga persalinan. Doakan semua lancar ya.... see ya :)







Tidak ada komentar:

Posting Komentar