Pagi ini kudengar isak kala membuka mata
Lengan kokohmu memeluk lenganku
Sejenak kulihat bahumu terguncang tertahan
Bantal kita basah, oleh air mata
Ah, Jumat pagi,
hari dimana buah hati kembali
menemui Pemiliknya yang Maha Hakiki
Dan kau, aku, kita hanya berusaha mengikhlaskan diri
Sahabatku yang selalu menguatkan,
kali ini aku tak akan ikut terisak
meski harus menahannya spenuh jiwa
Ini waktu kita untuk menukar peran
sebagai penguat dan pengingat
Lenganku tak sekokoh milikmu
tapi aku masih mampu memelukmu
bahuku tak sekuat milikmu
tapi aku akan jadi sandaranmu
Sahabatku yang selalu menyabarkan
Tenanglah, sang buah hati ada di istanaNya
dia juga tak'kan kesepian,
dia punya banyak teman bermain
Sahabat yang syurgaku ada di hatimu,
Aku mungkin ingin mengasuhnya,
seperti juga engkau,
tapi tenang saja,
bukankah kita semakin dekat setiap detiknya?
Bukankah kitapun akan pulang ke kampung akhirat?
Jangan cemas, sahabatku,
rinduku padanya pun menggelegah
Sabarlah
kelak kita akan mengasuhnya lagi
aku akan berlelah-lelah menyusui dan merawatnya
kita akan mengajarinya berjalan dan mengucap kata
Namun sebelum itu, sayang
mari kita berdiri tegak,
kuatkan langkah kita, memupuk modal dengan amal
menyegarkan semangat
menyambut adik-adiknya yang masih harus kita perjuangkan
hingga kelak engkau, aku, dan saudara2nya diijinkan
berkumpul dengannya di Jannah
Sahabatku, suamiku
Kuatlah, untukku dan untuk calon2 buah hatimu
masih banyak yang harus kita lalui
masih rendah amal dan ilmu kita
kuatlah untuk menjadi imam dunia akhirat kami.
Jumat 06.09.13
Untuk suamiku tercinta @fajar_it
Rencana Allah pasti yang terbaik untuk kita
Tampilkan postingan dengan label Life. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Life. Tampilkan semua postingan
Jumat, September 06, 2013
Senin, Mei 20, 2013
Let's make some Creativities, son..
Iseng2 buka kembali web handmade kesayangan dan menelusuri kategori babies. Ga tau kenapa web satu ini selalu bikin saya takjub dengan kreasi2 mereka di luar sana yang lucu2, dan jadi mahal tentunya.
CLING!!
TIba2 saya punya keinginan untuk membuat beberapa barang sederhana dengan meniru beberapa sample babies mobile di web tersebut. And here we go, ini dia hasil dari keisengan kami (saya dan calon buah hati yang ikut nendang2 uminya lg ngerjain stuff ini) ^^
CLING!!
TIba2 saya punya keinginan untuk membuat beberapa barang sederhana dengan meniru beberapa sample babies mobile di web tersebut. And here we go, ini dia hasil dari keisengan kami (saya dan calon buah hati yang ikut nendang2 uminya lg ngerjain stuff ini) ^^
![]() | |
| Referensi : Poto oke, pencahayaan oke, warna bahan lengkap |
![]() |
| Hasil buatan sendiri : Potonya jelek banget |
![]() |
| Referensi |
![]() |
| Hasil buatan sendiri..(teteup, males ngambil kamera) |
![]() |
| Referensi |
![]() |
| Belon jadi. Kehabisan warna putih, krem pun jadi.. |
Jumat, Mei 17, 2013
Gentle Birth Plan : "Ijinkan kami..."
Emosi seorang ibu hamil seperti ini emang ga stabil. Tapi se engga stabilnya emosi yang saya rasakan selama hamil, mungkin sore ini yang sangat berasa. Kasian suami kalo pulang kerja langsung dicurhati sambil mewek, saya pun langsung membuka blog setelah sebelumnya sempet mewek2 waktu sholat asar.
Belum ada sejam lalu ketika kakak saya, yang paling deket ke rumah, bareng dengan pulangnya ibu sedari kerja di toko seharian. Dia ini kakak kesayangan saya, kecuali kalo kami sudah berdebat tentang kehamilan dan kelahiran. PIkiran jadulnya susah banget di rubah. Sampai akhirnya tadi saya keceplosan bakal melahirkan 'di air'. Well, kalo saya bilang gentlebirth, mereka juga ga bakal ngerti apaan. Apalagi kalo saya bilang melahirkan tanpa rasa sakit dengan metode hypnobirthing....duh, pasti makin ga ngerti. Makanya saya bilang di air. Ibu saya langsung berkomentar:
"Lah nanti malah kluar darahnya, hii..." komennya sambil bergidik
Saya: "Lah, memang ada yang melahirkan tanpa keluar darah, buk?"
Ibu: " Nanti darahnya malah kecampur air, kemana2"
Ehhm, saya mo ngejelasin juga percuma...ya sudah, besok saya tunjukkan 'film'nya, kata saya.
Kakak saya tiba2 nyeletuk : "Halah, rasakno sesuk, naaaa..."
At that time, saya cuma cengar cengir dan biasa saja. Setelah kakak saya pamitan, entah kenapa seketika emosi saya berubah total. Kalimat celetukan kakak saya tadi seperti sebuah akumulasi dari celetukan serupa yang pernah datang darinya atau orang lain yang kemudian menjadi kalimat yang berulang kali menggema di pikiran saya. Saya seperti terpojokan dan sakit hati. Labay banget ini....maklum, hormon..
Yach, ternyata merencanakan kehamilan secara gentle ini bukan menguras energi dan emosi untuk meyakinkan diri, namun justru orang2 terdekat saya. Tadinya, saya dan suami berniat bakal berdua saja dan menjaga rencana persalinan nanti. Tapi, ibarat sebuah pernikahan, rasanya saya harus meminta restu kepada orang2 tua di sekitar kami. Bagaimanapun, keberhasilan dari segala rencana kami adalah atas ijin Allah, dan doa orang2 disekitar kami, terutama orang tua akan sangat mendukung keberhasilan tsb.
Kali ini mungkin saya mewek, ini yang harus saya perbaiki. Mental blocking ini harus lebih saya tebalkan. Pengetahuan tentang gentlebirth meskipun akan setengah2 mereka terima, harus saya salurkan. Semampu saya, sebisa saya. Ini memang kehamilan saya, persalinan saya dan kelahiran anak saya, sudah seharusnyalah memang saya memiliki hak menentukan yang terbaik bagi buah hati saya. Tapi, bagaimanapun juga, kelak iapun akan menjadi bagian tak terpisahkan dari kluarga ini, maka selayaknyalah ia mendapat doa dan dukungan dari semua anggotanya, bahkan ketika ia masih di dalam rahim sekalipun.
Seperti kata seorang teman yang lagi hamil juga,"Terkadang mereka lupa, din, kalo kita sudah menaiki level baru menjadi orang tua. Selayaknyalah kita tau apa yang terbaik bagi anak2 kita". Well, kalo mereka lupa, mungkin perlu diingatkan. Bukan diam2, itu keputusan saya saat ini.
Gentlebirth adalah jalan terbaik yang saya dan suami pilih untuk buah hati kami, sekalipun menuju kesana ternyata bukan sekedar teknik kelahiran tapi mencakup berbagai aspek yang harus 'diluruskan', kami harus siap. Sekeras perjuangan kami memohon momongan, calon momongan kami ini akan kami jaga dan rawat sebaik-baiknya.
Ijinkan kami....
memberi yang terbaik bagi buah hati kami...
membentuk generasi penerus yang lebih baik, insyaAllah...
memberi kedamaian kepada buah hati kami, sejak ia dilahirkan...
Ijinkan kami menjalani proses 'penyambutan' buah hati kami dengan normal, alami, lancar, dan tanpa intervensi medik yang tidak diperlukan melalui gentlebirth...
Rabu, Mei 15, 2013
Trisemester 3 : Sharing (lagi)
Jam setengah delapan pagi, bekas hujan subuh masih segar dan saya masih duduk di atas birthingball dengan kaki ngangkang sambil agak goyang2 ^^. Sambil mendengarkan alunan musik klasik for baby dan menunggu si akung uti slesein dhuha untuk sarapan bersama. Laper uda keganjel dengan roti panggang pagi2 sekali tadi nemenin suami sarapan. Aahhh...pagi yang damai, rasanya jadi pengen ngentri di blog.. #lho.. hihihi
Di trisem akhir ini kayanya saya bakal sering ngentri post deh. Selain mengeluarkan unek2 yang selalu 'nggrunjel' pengen dikeluarin, sebagai motivasi juga bahwa pada akhirnya ini yang akan jadi salah satu dokumentasi kehamilan dan kelahiran gentlebirth kami nantinya...aamiin..
Nesting Instinct
Begitu banyak istilah dalam kehamilan, dan ini salah satunya. Nesting instinct atau naluri bersarang biasanya dialamai ibu hamil ketika usia kandungannya memasuki trisemester ketiga. Naluri bersarang ini diwujudkan dengan getolnya sang ibu bersih2 rumah, merapikan tata letak, atau bahkan membuat suasana baru di rumah untuk menyambut kehadiran sang buah hatinya sebentar lagi. Well, ga cuma manusia, insting ini juga dialami oleh hewan. Burung kenari peliharaan akung yang bertelor sengaja akung beri serat2 kayu di kandangnya. Dari serat2 itulah dia membuat sarang di keranjang pojok yang memang telah disiapkan akung. Satu per satu, hari demi hari, sarang itu jadi sebuah sarang yang terlihat empuk dan hangat, bukan sekedar keranjang. Dan begitu telur2 kenari menetas, anak2 kenari pun ga kedinginan. ^^ Oh so cwiiit....
So, mungkin ini juga yang sedang saya alami. Beberapa hari ini keinginan untuk bersih2 rumah dan menata ulang perabotan rumah begitu menggebu-gebu. Ahaaai, dan ini sangat tidak biasa...hehehe. Berhubung masih ngikut ortu, naluri ini memang ga bisa sepenuhnya terpenuhi, selain calon kamar kami bertiga, ruangan lain hanya sebatas saya bersihkan. Nah, untuk calon kamar kami (karna mo pindah kamar dari yang sekarang ditempati), saya mulai rempong. Walopun dipan belum kelar digarap oleh tukang kayu langganan keluarga kami, saya mulai rempong mikirin asesorisnya. Mulai dari mempersiapkan wallsticker lucu2 sampai menggambarkan detail kasarnya via corel. Saya juga memberi limit pada diri sendiri untuk kelar menata segalanya pertengahan juni nanti. Yach, setidaknya kepengennya nanti 2 minggu sebelum hpl uda tinggal konsen saja ke relaksasi dan penenangan diri demi meyambut buah hati dengan proses gentle.
Behavior while Pregnant
Seminggu lalu ktika ada ta'ziah tetangga, saya duduk diantara ibu2 muda dan tentunya dengan pengalaman melahirkan yang kemudian dibeberkan kepada saya. Termasuk di situ kakak ipar. Mulai dari ketidakpengetahuan mereka pada saat akan melahirkan anak pertama sehingga ketika akan berangkat ke rumah sakit dia terus2an saja memegang area bawahnya seolah takut anaknya mbrojol di tengah jalan.Kantong kresek kali mbrojol, mbaaak ^^
Atau pengalaman kaka ipar saya yang merasa kepengen buang air kecil terus2an kemudian merasakan nyeri dan sudah bukaan 7 ketika sampai di klinik. Dan juga pengalaman makanan yang mereka konsumsi yang kemudian berimbas pada selera makan anak2nya ketika mereka beranjak besar. Tapi bukan itu yang menjadi perhatian saya, karna sudah mental blocking dulu, cerita2 yang mengandung mitos cenderung mampu saya filter untuk masuk ke otak. Saya justru tertarik ketika pembicaraan mengarah pada pola prilaku anak yang mereka hubungkan dengan pola prilaku mereka saat hamil.
Atau pengalaman kaka ipar saya yang merasa kepengen buang air kecil terus2an kemudian merasakan nyeri dan sudah bukaan 7 ketika sampai di klinik. Dan juga pengalaman makanan yang mereka konsumsi yang kemudian berimbas pada selera makan anak2nya ketika mereka beranjak besar. Tapi bukan itu yang menjadi perhatian saya, karna sudah mental blocking dulu, cerita2 yang mengandung mitos cenderung mampu saya filter untuk masuk ke otak. Saya justru tertarik ketika pembicaraan mengarah pada pola prilaku anak yang mereka hubungkan dengan pola prilaku mereka saat hamil.
Tetangga saya yang memiliki 2 putra mengaku kedua putranya memiliki tingkahlaku yang berbeda. Anak pertamanya cenderung santai dan lambat. Anak keduanya justru sebaliknya, aktif dan energik. Hal tersebut diakuinya krn dianya juga demikian ketika hamil. Kakak ipar saya juga mengakui hal yang sama. Anak pertamanya paling males kalo disuruh beberes rumah, bahkan sekedar diminta ibunya membantu mengangkat jemuran kering....yeeay, i know it well. Tapi dalam persoalan sekolah, dia memang akan mengerahkan segala effortnya. Tak jarang keponakan saya itu jatuh sakit ketika akan menghadapi ujian krn saking tegangnya. Kakak saya menuturkan bahwa ianya dulu saat hamil juga demikian. Sangat malas mengerjakan kerjaan rumah tangga.
Well, terlepas benar atau tidaknya hal2 yang diungkapkan oleh ibu2 senior itu, saya merasa ada benarnya juga. Terlepas hal tersebut sugesti atau bukan, bagi saya, kehamilan bukan saja sekedar suatu proses hidup wanita sewajarnya, tapi lebih dari itu, kehamilan merupakan proses pembelajaran menaiki level baru dalam kehidupan yaitu to be parent.
Sebelum hamil, beberapa kali saya mengungkapkan pada suami dan teman-teman (saat sesi curhat) saya bahwa meskipun keinginan hamil itu begitu besar, terbersit rasa takut yang sama pada ketidakpercayaan diri apakah saya mampu menjadi ibu yang baik. Saya sangat ingat betul. Saat itu suami selalu menenangkan bahwa hal itu akan berproses dan naluriah.
Dan benar saja, ketika mulai memasuki masa kehamilan, pelahan mental kita sebagai calon ibupun mulai dilatih. Maha Besar Allah yang telah memberikan waktu 9bulan 10 hari kepada calon ibu untuk belajar siap menjadi ibu sepenuhnya. Dimulai dari tanggungjawab. Makan dan minum mungkin menjadi satu hal yang sepele ketika wanita tidak sedang hamil. Tapi coba tengok, wanita akan cenderung memperhitungkan pola makannya demi buah hati yang sedang berkembang di rahimnya. Yang pada awalnya sangat menjauhi sayur, bisa saja setiap hari mengkonsumsi sayur. Rasa tanggungjawab atas perkembangan sang buah hati dalam rahim pelahan tumbuh.
Beberapa mitos juga mengungkapkan untuk jangan membenci sesuatu/ seseorang atau menyiksa hewan, nanti anaknya kenapa2. Bagi saya, itu juga sebagian dari pembelajaran tanggungjawab prilaku. Karena ketika hamil, pembelajaran untuk menjadi orang tua sesungguhnya itu tidak terputus dan melingkupi berbagai aspek. Membiasakan diri menjadi pribadi yang lebih baik yang kelak bisa menjadi contoh bagi anak2nya. Karena bagaimanapun, tidak akan berhasil strategi mengasuh seperti apapun ketika sang orang tua tidak memberi contoh. Dan tidak akan berhasil sang orang tua memberi contoh yang baik jika ianya juga tidak membiasakan diri pada hal baik tersebut.
Saya, tentu masih sangat harus belajar. Saya selalu diingatkan suami pada visi keluarga kami, yaitu meraih jannahNya, maka sebisa mungkin saya dan suami berusaha untuk menomorsatukan pembentukan generasi sholeh sholehah. Dengan kunci itu, insya Allah prilaku baik bagi urusan dunia pun akan mengikuti. Karna sesungguhnya akar dari segala prilaku itu sendiri adalah iman. Begitu katanya. Baiklah.
Maka saya mulai belajar, mencari tau kenapa anak tetangga saya selalu cenderung tenang dan anteng ketika diajak jamaah ke langgar oleh akungnya. Yach, saya ingat banget, dulu ibunya yang juga teman sejak kecil sangat rajin berjamaah, sekalipun sedang sakit. Saya mulai belajar, kenapa anak tetangga saya mudah sekali belajar Qur'an, saya tau karna pernah mengajarnya. Dibanding teman-temannya yang masih iqro', anak yang lahir tanpa ayah ini cenderung lebih cerdas. Ibunya sekalipun pernah 'melakukan kekhilafan', sepertinya terus memperbaiki diri. Mulai dari rajin jamaah sampai mengaji walaupun masih terbata. Subhanallah, sebetulnya Allahlah yang paling tau seberapa besar niatnya.
Begitu juga pada perilaku2 sebaliknya. Dan ya, saya merasa harus terus memperbaiki diri. Dan ternyata suami saya benar. Ini semua berjalan dengan naluri sebagai calon ibu yang sangat mendambakan setiap kebaikan dirinya akan menjadi contoh bagi buah hatinya kelak.
Baiklah. Cukup sekian sharing2nya hari ini. Ini hanya sekedar uneg2 yang uda meletup-letup saja pgn dikeluarin pagi ini. Hehehe... Kalo ada salahnya mohon dikoreksi. Semoga manfaat ^^
Jumat, Mei 10, 2013
Trisemester 3 : Perkenalanku dengan Hipnobirthing
Sekali lagi, ini cuma wadah saya untuk sharing dan curcol pada intinya, jadi tulisan yang ada di sini kemungkinan mengandung 90% nilai subjektifitas yang tinggi.
Sempat berputus asa karna proses usaha yang kian hari tak membuahkan hasil, kehamilan adalah kado terindah bagi saya, suami dan keluarga besar kami. Cerita lengkapnya bisa baca To be Mom story dan To be Mom story 2. Hal itulah yang kemudian membuat saya sangat intens membaca seluk beluk kehamilan, karna lagi usaha, hingga melahirkan.
Memasuki masa kehamilan, saya cenderung lebih aktif lagi mencari info tentang apapun yang berhubungan dengan kehamilan hingga parenting. Terlalu lebay ya....tapi bagi saya, kehamilan adalah anugrah terbaik yang pernaah saya dapatkan, jadi saya sendiri berjanji pada diri saya akan melakukan dan memberi yang terbaik pada apapun yang saya alami pada masa ini. Kehamilan artinya Allah sedang mempercayai saya untuk menjadi seorang ibu.
Sejak awal memasuki promil (program kehamilan), saya sudah mulai penasaran dengan gentlebirth. Rasa penasaran saya makin tak terbendung sejak testpack menunjukkan dua strips. Menyadari bahwa saya adalah pribadi yang panikan dan 'kemrungsung', metode rileksasi selama kehamilan jadi incaran pertama. "Pokoknya saya ga boleh panik dan grusah-grusuh, saya harus terus bisa positif thingking", itu tekad saya sejak awal.
Begitu tau hamil, hal pertama yang saya cari adalah buku plus CD relaksasi. Sadar bahwa melahirkan adalah proses seorang wanita yang merasakan sakit luar biasa, saya mencoba terus memutar hati dan pikiran diri untuk tidak menanamkan sugesti tersebut di benak saya. Maka, sejak awal saya sudah melakukan teknik rileksasi hipnobirthing dan membaca tentang gentle birth yaitu persalinan tanpa rasa sakit.
Hasilnya cukup signifikan...saya mulai mampu mengendalikan kepanikan yang terjadi setiap saat. Keluhan masa hamil pun bisa dibilang cenderung dapat dihadapi. Menghadapi masa mual muntah dan segalanya dengan terus mencoba senyaman mungkin dengan tubuh.
Memasuki trisemester ketiga, saya mulai mengikuti prenatal yoga yang diajarkan langsung oleh Bidan Yesie dari Bidankita, praktisi gentlebirth. Menyenangkan karna di sana saya juga bisa bertemu dengan bumil2 yang juga mengharapkan kelahiran normal alami (gentle birth). Rasa-rasanya aura positif selalu terpancar kalo lagi kumpul dan melakukan yoga bareng. ^^
Pada esensinya, gentle birth dengan hipnobirthing itu sendiri bukan melahirkan tanpa rasa sakit, saya sadar itu. Melahirkan itu pasti sakit, itu sebabnya berabad-abad lamanya, melahirkan sering diidentikan dengan perjuangan antara hidup dan mati. Kalo ga sakit, maka seorang ibu yang gugur dalam perjuangan melahirkan tidak akan dimasukkan dalam golongan syahid.
Gentle birth pada hakikatnya adalah pemberdayaan seorang wanita, calon ibu dalam perjalanannya menghadapi proses kehamilan, melahirkan, bahkan saat menyusui sehingga anaknya dapat tumbuh menjadi pribadi yang cerdas, sehat, bukan hanya secara fisik namun juga spiritualnya.
Para praktisi gentlebirth meyakini bahwa kehamilan dan kelahiran bukan sekedar proses fisik seorang wanita mengeluarkan seorang anak dari tubuhnya, namun lebih dari itu, hal tesebut sebuah perjalanan spiritual yang memiliki nilai agung.
Tentu, di masyarakat kita hal tersebut masih sangat asing. Bukan hal yang mudah jika kemudian kita kemudian mencoba metode ini. Saya sendiri masih menutupi rencana kelahiran ini dari orang tua dan pihak2 yang berpotensi masih memegang konsep medik. Bukannya menolak tindakan medik, dalam gentle birth, tindakan medik tetap diperlukan sesuai dengan kebutuhan dan keperluannya. Dengan kata lain, klo memang benar2 terpaksa diambil tindakan medik, yach memang gapapa. Tapi pada praktiknya, tindakan medik sekarang ini cenderung jadi hal yang biasa dan enteng dilakukan bahkan kepada mereka dengan risiko melahirkan kecil.
Saya juga ga mau ngotot2an soal ini, yang jelas, perencanaan kelahiran dengan gentlebirth ini saya dan suami niatkan untuk memberi yang terbaik bagi buah hati kami. Saya sadar betul potensi stres pada diri saya cenderung besar. Hal tersebut tercermin pada perilaku saya sebelum mempelajari hipnobirthing. Grusah grusuh, panik, negatif thingking, traumatis, dan lainya. Setelah saya telusuri, ternyata saya memiliki sejarah kelahiran yang menyakitkan ibu saya. Beliau yang baru 17bulan melahirkan kakak saya harus berjuang kembali melahirkan saya. Tentu bukan hal yg mudah, terlebih jauh dari saudara. Setelah persalinan, beliau mungkin mengalami sedikit trauma dan babyblues dengan kehadiran saya, dimana kakak saya juga masih sangat membutuhkan banyak perhatian beliau. And soon, saya kemudian dibesarkan oleh kakaknya. Hal tersebut tentu berpengaruh pada saya, dimana saya kecil cenderung rewel, begitu kata ibu yang membesarkan saya. Dan saya masih mengingatnya. Im not a nice person anyway, jadi saya sadari betul bahwa saya harus melahirkan buah hati saya dengan penuh cinta. Untunglah, kini, semakin mendekati masa kelahiran saya tidak pernah merasa panik tentang rasa sakit yang akan saya hadapi. Bisa dibilang bahkan saya menantikannya. Setidaknya itu hasil yang saya pelajari selama ini. Percaya pada tubuh dan bayi dalam kandungan kita menjadi kunci kesuksesan hipnobirthing.
Minggu 31
Next post mungkin masih cerita seputar hipnobirthing , gentle birth hingga persalinan. Doakan semua lancar ya.... see ya :)
Sempat berputus asa karna proses usaha yang kian hari tak membuahkan hasil, kehamilan adalah kado terindah bagi saya, suami dan keluarga besar kami. Cerita lengkapnya bisa baca To be Mom story dan To be Mom story 2. Hal itulah yang kemudian membuat saya sangat intens membaca seluk beluk kehamilan, karna lagi usaha, hingga melahirkan.
Memasuki masa kehamilan, saya cenderung lebih aktif lagi mencari info tentang apapun yang berhubungan dengan kehamilan hingga parenting. Terlalu lebay ya....tapi bagi saya, kehamilan adalah anugrah terbaik yang pernaah saya dapatkan, jadi saya sendiri berjanji pada diri saya akan melakukan dan memberi yang terbaik pada apapun yang saya alami pada masa ini. Kehamilan artinya Allah sedang mempercayai saya untuk menjadi seorang ibu.
| Buku yang dibeli saat tau hamil |
Begitu tau hamil, hal pertama yang saya cari adalah buku plus CD relaksasi. Sadar bahwa melahirkan adalah proses seorang wanita yang merasakan sakit luar biasa, saya mencoba terus memutar hati dan pikiran diri untuk tidak menanamkan sugesti tersebut di benak saya. Maka, sejak awal saya sudah melakukan teknik rileksasi hipnobirthing dan membaca tentang gentle birth yaitu persalinan tanpa rasa sakit.
| Buku yang dibeli saat trisem ke2 |
Hasilnya cukup signifikan...saya mulai mampu mengendalikan kepanikan yang terjadi setiap saat. Keluhan masa hamil pun bisa dibilang cenderung dapat dihadapi. Menghadapi masa mual muntah dan segalanya dengan terus mencoba senyaman mungkin dengan tubuh.
Memasuki trisemester ketiga, saya mulai mengikuti prenatal yoga yang diajarkan langsung oleh Bidan Yesie dari Bidankita, praktisi gentlebirth. Menyenangkan karna di sana saya juga bisa bertemu dengan bumil2 yang juga mengharapkan kelahiran normal alami (gentle birth). Rasa-rasanya aura positif selalu terpancar kalo lagi kumpul dan melakukan yoga bareng. ^^
Pada esensinya, gentle birth dengan hipnobirthing itu sendiri bukan melahirkan tanpa rasa sakit, saya sadar itu. Melahirkan itu pasti sakit, itu sebabnya berabad-abad lamanya, melahirkan sering diidentikan dengan perjuangan antara hidup dan mati. Kalo ga sakit, maka seorang ibu yang gugur dalam perjuangan melahirkan tidak akan dimasukkan dalam golongan syahid.
| Buku yg dibeli pas trisem 3 (telat yaaaa...) |
Para praktisi gentlebirth meyakini bahwa kehamilan dan kelahiran bukan sekedar proses fisik seorang wanita mengeluarkan seorang anak dari tubuhnya, namun lebih dari itu, hal tesebut sebuah perjalanan spiritual yang memiliki nilai agung.
Tentu, di masyarakat kita hal tersebut masih sangat asing. Bukan hal yang mudah jika kemudian kita kemudian mencoba metode ini. Saya sendiri masih menutupi rencana kelahiran ini dari orang tua dan pihak2 yang berpotensi masih memegang konsep medik. Bukannya menolak tindakan medik, dalam gentle birth, tindakan medik tetap diperlukan sesuai dengan kebutuhan dan keperluannya. Dengan kata lain, klo memang benar2 terpaksa diambil tindakan medik, yach memang gapapa. Tapi pada praktiknya, tindakan medik sekarang ini cenderung jadi hal yang biasa dan enteng dilakukan bahkan kepada mereka dengan risiko melahirkan kecil.
Saya juga ga mau ngotot2an soal ini, yang jelas, perencanaan kelahiran dengan gentlebirth ini saya dan suami niatkan untuk memberi yang terbaik bagi buah hati kami. Saya sadar betul potensi stres pada diri saya cenderung besar. Hal tersebut tercermin pada perilaku saya sebelum mempelajari hipnobirthing. Grusah grusuh, panik, negatif thingking, traumatis, dan lainya. Setelah saya telusuri, ternyata saya memiliki sejarah kelahiran yang menyakitkan ibu saya. Beliau yang baru 17bulan melahirkan kakak saya harus berjuang kembali melahirkan saya. Tentu bukan hal yg mudah, terlebih jauh dari saudara. Setelah persalinan, beliau mungkin mengalami sedikit trauma dan babyblues dengan kehadiran saya, dimana kakak saya juga masih sangat membutuhkan banyak perhatian beliau. And soon, saya kemudian dibesarkan oleh kakaknya. Hal tersebut tentu berpengaruh pada saya, dimana saya kecil cenderung rewel, begitu kata ibu yang membesarkan saya. Dan saya masih mengingatnya. Im not a nice person anyway, jadi saya sadari betul bahwa saya harus melahirkan buah hati saya dengan penuh cinta. Untunglah, kini, semakin mendekati masa kelahiran saya tidak pernah merasa panik tentang rasa sakit yang akan saya hadapi. Bisa dibilang bahkan saya menantikannya. Setidaknya itu hasil yang saya pelajari selama ini. Percaya pada tubuh dan bayi dalam kandungan kita menjadi kunci kesuksesan hipnobirthing.
Minggu 31
Next post mungkin masih cerita seputar hipnobirthing , gentle birth hingga persalinan. Doakan semua lancar ya.... see ya :)
Kamis, Mei 09, 2013
Indahnya Trisemester Kedua
Nak, ini cerita umi saat kamu berusia 12 hingga 20minggu dalam kandungan umi.
Pada pemeriksaan pertama di usiamu yang memasuki trisemester kedua ini, bu dokter uda nanyain ke umi apa umi sudah bisa merasakan tendanganmu. Saat itu umi bingung, karna belum bisa dan biasa membedakan tendangan mungilmu dan gerakan usus di perut umi. Maaf ya, sayang... kan kamu masih kecil, jadi umi takut kege-er an, jangan2 kamu lagi diem tapi umi ngerasa ditendang, padahal laper... hehehe...
Setelah pemeriksaan itu, umi makin penasaran pengen ngerasain saat kamu bergerak di dalam perut umi. Kadang, kalo pas relaksasi, umi ketuk2 perut dan memintamu menendang. Tapi ga kerasa juga, mungkin karna perut umi yang lemaknya tebel kali ya, soalnya nafsu makan umi kan uda mulai kembali saat itu.
Namun, lama kelamaan, perkembanganmu juga cukup pesat, sayang... Mungkin kamu makin gede, dan umi mulai bisa merasakan tendangan2 kecilmu di perut umi... Hwaaaa....rasanya excited banget. Nah, makin sering deh umi ngajak kamu ngobrol tentang apapun yang terjadi setiap saat. Gapapa ya, sayang, resiko punya umi cerewet... hihihi...
Momen trisemester ini kata orang adalah momen kehamilan yang paling indah. Kalo di trisemester pertama, ibu hamil kerap di hadapkan pada penyesuaian tubuh terhadap calon buah hati, pada momen ini, tubuh sudah memasuki masa 'selesai beradaptasi' pada perubahannya.Yup, itu juga yang umi rasakan. Menyenangkan karna pada akhirnya umi tidak merasa bersalah saat setelah makan harus memuntahkannya kembali, atau susahnya tidur di malam hari karna masih belum terbiasa. Kali ini, umi makin nyaman beraktivitas, bahkan sudah kembali bekerja walaupun cuma sebentar2.
Nah, tapi saking enaknya ini, kadang umi jadi lupa terlalu terlena sama kerjaan, trus kcapean. Maaf ya, sayang.... kalo uda kaya gitu, kamu mulai protes dan perut umi terasa agak kenceng. Jadilah umi ngerasa bersalah. Sampe abi ikut2an capek demi bantuin kerjaan umi yang sampe sore belum kelar. Padahal abi juga baru pulang kerja.
Kamu tau sayang, kamu punya abi yang super duper deh pokoknya.... ^^. Apalagi setelah umi cerita kamu mulai bisa memberi respon, bukan cuma umi yang kegirangan, abi yang sejak awal sering ngajak kamu ngobrol, mulai makin intens memancing responmu. Sekalipun kadang kamu cuekin, abi tetep kekeuh lho ngajak kamu bercandaan.
Terimakasih terus makin sehat di dalam perut umi, sayang...
Pada pemeriksaan pertama di usiamu yang memasuki trisemester kedua ini, bu dokter uda nanyain ke umi apa umi sudah bisa merasakan tendanganmu. Saat itu umi bingung, karna belum bisa dan biasa membedakan tendangan mungilmu dan gerakan usus di perut umi. Maaf ya, sayang... kan kamu masih kecil, jadi umi takut kege-er an, jangan2 kamu lagi diem tapi umi ngerasa ditendang, padahal laper... hehehe...
Setelah pemeriksaan itu, umi makin penasaran pengen ngerasain saat kamu bergerak di dalam perut umi. Kadang, kalo pas relaksasi, umi ketuk2 perut dan memintamu menendang. Tapi ga kerasa juga, mungkin karna perut umi yang lemaknya tebel kali ya, soalnya nafsu makan umi kan uda mulai kembali saat itu.
Namun, lama kelamaan, perkembanganmu juga cukup pesat, sayang... Mungkin kamu makin gede, dan umi mulai bisa merasakan tendangan2 kecilmu di perut umi... Hwaaaa....rasanya excited banget. Nah, makin sering deh umi ngajak kamu ngobrol tentang apapun yang terjadi setiap saat. Gapapa ya, sayang, resiko punya umi cerewet... hihihi...
Momen trisemester ini kata orang adalah momen kehamilan yang paling indah. Kalo di trisemester pertama, ibu hamil kerap di hadapkan pada penyesuaian tubuh terhadap calon buah hati, pada momen ini, tubuh sudah memasuki masa 'selesai beradaptasi' pada perubahannya.Yup, itu juga yang umi rasakan. Menyenangkan karna pada akhirnya umi tidak merasa bersalah saat setelah makan harus memuntahkannya kembali, atau susahnya tidur di malam hari karna masih belum terbiasa. Kali ini, umi makin nyaman beraktivitas, bahkan sudah kembali bekerja walaupun cuma sebentar2.
Nah, tapi saking enaknya ini, kadang umi jadi lupa terlalu terlena sama kerjaan, trus kcapean. Maaf ya, sayang.... kalo uda kaya gitu, kamu mulai protes dan perut umi terasa agak kenceng. Jadilah umi ngerasa bersalah. Sampe abi ikut2an capek demi bantuin kerjaan umi yang sampe sore belum kelar. Padahal abi juga baru pulang kerja.
Kamu tau sayang, kamu punya abi yang super duper deh pokoknya.... ^^. Apalagi setelah umi cerita kamu mulai bisa memberi respon, bukan cuma umi yang kegirangan, abi yang sejak awal sering ngajak kamu ngobrol, mulai makin intens memancing responmu. Sekalipun kadang kamu cuekin, abi tetep kekeuh lho ngajak kamu bercandaan.
Terimakasih terus makin sehat di dalam perut umi, sayang...
Jumat, Mei 03, 2013
GEJOLAK TRISEMESTER PERTAMA
Judulnya uda drama banget ya ? Hehe, habis judul ini uda kepikiran lama siy ya..jadi mo ganti judul lagi males mikir XD
Kali ini saya hanya ingin berbagi cerita tentang pengalaman saya menjalani trisemester pertama. Penting siy engga, tapi semoga bisa diambil makna dan hikmahnya.
REJEKIMU, NAK...
Kalo uda baca postingan sebelumnya pasti ngerti banget kalo awal kehamilan saya ini diliputi dengan suka cita membahana tiada tara. Begitu ketauan via testpack tapi masih diragukan sm dokter pertama *sigh*, saya mendapatkan resep penguat kandungan (duphasthon) dan folavit. Dengan riwayat kehamilan yang cukup lama, dokter memang sering mengambil langkah ini sekalipun belum pernah mengetahui (atau lupa) pada kondisi rahim pasien. Istilahnya untuk 'ngawekani' aka menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Nah, masalahnya pas waktu itu ga tau kalo tuh obat harganya mahal, ibuk2. Krn rumah sakit deket, jadilah cuma bawa duit 200an ribu. Itu aja rencana buat jajan setelahnya. Krn berdasar pengalaman temen yang juga periksa ri klinik dan dokter yang sama, totalnya 100an aja. Baiklah, setelah mendapat pernyataan dokter pertama yang ga mengenakan (read: posting To be Mom story 1), melajulah kami ke kasir pembayaran. Dan totalnya 685rb..
DANG!!
He??? Saya diem, suami juga...Mahal kakaaaaakkkkk... *gigit meja kassa* engga juga ^^
Untunglah, kami terselamatkan dengan atm yang deket. Dan yang untungnya bawa atm juga...
Maka, mulailah saya berfikir menambahkan 1 post pengeluaran dalam rumah tangga kami, dan terpaksa mengrangi post2 yang dirasa ga penting *jiwa akunting*. Karna well, bulan selanjutnya pasti akan lebih, karna obatnya juga lbh banyak.
Pulang dr klinik kita berdua ketawa ketiwi sendiri...antara gondok dan ga nyangka. But, blessed for my hubby yang kemudian nyeletuk "Baru 6 minggu, subhanallah rejekimu, nak...Makasih ya, sayang." *sambil ngelus perut saya yang belum kliatan hamil sama sekali.
*krik*
Wakkkk...terimakasih Allah sdh menghadirkan 2 malaikat buat buat saya.. *diem-diem haru*
WELCOME TO THE 'SELO'WORLD
Selo berarti sepi, luang, ga ada kerjaan, dll. Maka dimulailah episode saya menjalani dunia yang 'selo' ini.
Sebelumnya, saya juga ga begitu banyak kegiatan, paling kalo pagi kerjaannya nganter suami dan wisata sarapan bareng, biasanya kalo pas jam 9an ada janji. Nunggu jam 9an, cari masjid terdekat dg tempat janjian dg patner, customer, atau mentor kerjaan. Dhuha dlu sambil baca2, klo uda ntar ketemuan dg yang bersangkutan. Biasanya bahas kerjaan, atau sekedar silaturahim dan belajar bisnis. Siangan biasanya lanjut cari bahan baku, ke toko2 kain, trus ke tempat si tacik langganan saya cari perlengkapan jahit menjahit, ke tukang jahit, and soon...sampe rumah kerjain kerjaan rumah. DONE.
Tapi sejak dinyatakan positif oleh suami, saya sama sekali ga boleh kluar rumah. Padahal waktu itu juga saya belum ngerasa morning sickness, cuma rada pegal aja di punggung bawah.
Alhasil, selama 2 minggu hidup 'selo' banget.
Tapi, terus terang saya menikmati... Walopun kemudian saya harus menolak beberapa order, saya pikir, gapapalah, apapun demi si buah hati, toh 2 minggu lagi ke dokter berbeda, pasti uda dibolehin kerja, pikir saya.
2 minggu berlalu, dan kami mendatangi dokter yang berbeda, di rumah sakit yang beda juga, jauh tapi kata sodara dokter ini recomended bgt, pro normal, pro IMD, pro asi, sabar, cewek lagi. Yach, dari pada harus loncat2 dokter demi menemukan kecocokan, saya langsung coba dokter ini. Dari pertemuan pertama itulah saya sudah mulai cocok dengannya. Benar saja, beliau cukup sabar dan ngerti. USG pertama hanya terlihat kantung bebi aja, tapi kata beliau ga usah khawatir, toh sebulan lagi sudah kliatan ko. Melalui rekap medis, beliau tau bahwa kami pernah menjalani usg transV di rumahsakit tsb dg dokter berbeda. Beliau langsung menanyakan sdh brp lama menanti buah hati (bukan usia pernikahan, krn itu tidak menjamin pasutri menanti buah hati meski telah lama menikah). Beliau sempat menanyakan juga apa saya pekerja dll. Begitu saya jawab sy ibu rumah tangga yang 'nyambi' wiraswasta, beliau langsung menyarankan untuk tidak dulu bepergian kecuali terpaksa, misalnya checkup.
NAH!!
*suami nyengir* (kayanya merasa dapet dukungan total tak terbantahkan)
Selain itu, beliau jg menyarankan untuk tidak melakukan hubungan suami istri selama JANGKA WAKTU YG BELUM DITENTUKAN. "Berhubung ini adalah hasil penantian yang cukup lama, kita antisipasi saja ya, bu...Mengurangi resiko2 yang tidak dikehendaki...'Puasa' dulu ya,pak?"kata bu dokter ramah.
*kali ini saya yang nyengir ke suami saya*
Awal mula berada di dunia yang 'selo' ini sungguh membosankan, sangat malah. Tapi berhubung saya mulai menyadari bahwa sekarang ini sudah ada yang bersemayam di rahim, mengeluhpun ditahan habis2an.Kadang kalo ga tahan, nyeplos juga sama suami... Suami akhirnya kasian juga dan sesekali ngajak kluar, sekedar nonton sesekali.
Tapi, saya menyadari bahwa menjalani waktu yang ga produktif sama sekali. Ditambah hormon mulai melonjak-lonjak dan gejala2 awal kehamilan mulai terasa, kondisi mood jadi sering drop. Maka mulailah saya mengisi kekosongan dengan 'belajar', selain mengerjakan pkerjaan rumah lebih sering tentunya.
Dari prosses belajar dengan buku dan internet itulah, hati saya tertancap pada satu tema: Hypnobirthing, yang kemudian membuat saya lebih tenang menghadapi masa ini.
DARI MORNING SICKNESS SAMPAI PISAH RANJANG
Tidak seperti kebanyakan wanita hamil, awalnya saya pikir saya tidak akan mengalami mual dan muntah seperti kebanyakan. Karna pada kenyataannya, pada minggu ke8, saya masih merasa normal2 saja. Makan apa saja masih ok, hanya lebih menyukai daging ayam dibanding sebelumnya. Tapi, setelah memasuki minggu ke9, smuanya berubah. Diawali dengan penciuman saya yang mendadak bak anjing pelacak. Sungguh. Saya mencium aroma air sirih yang dibuat bapak di dapur padahal saya belum masuk dapur sama sekali. Dan inilah awal pertama 'kitchenfreak' saya. Hhehe, ini istilah untuk ketakutan memasuki dapur. Bau bumbu2 yang menyengat bisa langsung membuat lambung saya bereaksi. Padahal dlu, sekalipun masuk angin, saya ga pernah muntah. Terakhir kali muntah saat SMP, pulang dari studitour di bali, setidaknya itu yang saya ingat.
Tapi kali ini berbeda, saya jadi benar2 merasa berada dalam berbagai teori kehamilan yang selama ini saya baca. Mual, muntah, pusing, cepat lelah, susah tidur, susah BAB dan sebagainya.
Saya kembali mengingat kata salah seorang temen saya saat saya belum hamil dan dia sudah: " Mungkin kamu memang diberi kalo sudah benar2 siap nantinya". Saat itu kalimat itu enteng aja terdengar di telinganya saya. Bahkan saya sempat membatin bahwa saya pasti kuat. Well, kenyataanya memang bukan hal yang mudah untuk dihadapi.
Usaha saya paling mentok adalah sugesti diri. Syukurlah, dalam kurun waktu 4 mingguan, gejala ini mulai membaik, dan membaik. Dukungan dari suami, ortu sampe mertua yang tiap kali telpon sangat mendukung. Dan saya merasa lebih beruntung dibanding beberapa teman seperjuangan yang 3 bulan pertamanya ga bisa makan nasi dan hanya makan pisang. Bahkan salah 2 customer saya yang sedang hamil sampai harus dirawat di rumah sakit karna dehidrasi dan kurang asupan gizi.
Cerita seru lain adalah pisah ranjang antara saya dan suami. Eiiits, jangan salah, ini bukan karna kami sedang bertengkar..tapi karna ketidaktahanan saya pada bau badan suami. Hahaha, sabarnyasuamikuuuuwh....Usut punya usut, tyt kasus spt ini tak jarang terjadi. Beberapa temen pernah bersaksi hal serupa. Jadi, ini ga salah dong ya... #ngeles.
KENAPA BURU-BURU HYPNOBIRTHING ???
Awalnya saya juga sempat berpikir untuk nanti2 saja mempelajari tentang apa yang disebut hypnobirthing. Tapi seketika saya juga menyadari diri bahwa saya adalah tipikal orang yang panikan, 'kemrungsung' dan kadang tidak terkontrol. Teknik2 hipnosis mungkin harus lebih lama saya pelajari ketimbang orang lain dengan karakter tenang dan legowo.. #ngaku.
Maka, sejak saya awal pertama kehamilan, saya langsung minta copy cd relaksasi kehamilan nyaman pada teman saya, saya juga langsung nitip buku hypnobirthing pada kakak ipar saya yang sering ke gramed. Maka dari situlah saya mulai mencoba melakukan latihan relaksasi, yang saya rasa lumayan berhasil menakhlukan keluhan morning sickness dan gejala lain.
Terus terang saja, sampai sekarang saya masih terus berusaha belajar untuk memasuki alam bawah sadar lewat relaksasi tersebut...bukan hal yang mudah dan remeh ternyata. Namun, dengan belajar, setidaknya kita bisa lebih paham dan tenang, itu kesaksian saya. Membiasakan diri berpikir positif juga merupakan rangkaian dari relaksasi tersebut. And its work for me. Setidaknya, saya lebih mudah legowo di kala pada situsi yang sama di saat sebelumnya saya panik tidak terkontrol.
Jadi, saya pikir, ini keputusan yang benar untuk mempelajarinya sejak awal. Bahkan kalo tau gini, dlu sbelum hamil skalian. Tidak ada ruginya belajar sesuatu yang benar ko, pada akhirnya akan bermanfaat langsung maupun tidak langsung. #mendadakserius
Ini pengalaman trisemester pertama saya. Kamu boleh sharing juga :) terimakasih
semoga manfaat ^^
Kali ini saya hanya ingin berbagi cerita tentang pengalaman saya menjalani trisemester pertama. Penting siy engga, tapi semoga bisa diambil makna dan hikmahnya.
REJEKIMU, NAK...
Kalo uda baca postingan sebelumnya pasti ngerti banget kalo awal kehamilan saya ini diliputi dengan suka cita membahana tiada tara. Begitu ketauan via testpack tapi masih diragukan sm dokter pertama *sigh*, saya mendapatkan resep penguat kandungan (duphasthon) dan folavit. Dengan riwayat kehamilan yang cukup lama, dokter memang sering mengambil langkah ini sekalipun belum pernah mengetahui (atau lupa) pada kondisi rahim pasien. Istilahnya untuk 'ngawekani' aka menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Nah, masalahnya pas waktu itu ga tau kalo tuh obat harganya mahal, ibuk2. Krn rumah sakit deket, jadilah cuma bawa duit 200an ribu. Itu aja rencana buat jajan setelahnya. Krn berdasar pengalaman temen yang juga periksa ri klinik dan dokter yang sama, totalnya 100an aja. Baiklah, setelah mendapat pernyataan dokter pertama yang ga mengenakan (read: posting To be Mom story 1), melajulah kami ke kasir pembayaran. Dan totalnya 685rb..
DANG!!
He??? Saya diem, suami juga...Mahal kakaaaaakkkkk... *gigit meja kassa* engga juga ^^
Untunglah, kami terselamatkan dengan atm yang deket. Dan yang untungnya bawa atm juga...
Maka, mulailah saya berfikir menambahkan 1 post pengeluaran dalam rumah tangga kami, dan terpaksa mengrangi post2 yang dirasa ga penting *jiwa akunting*. Karna well, bulan selanjutnya pasti akan lebih, karna obatnya juga lbh banyak.
Pulang dr klinik kita berdua ketawa ketiwi sendiri...antara gondok dan ga nyangka. But, blessed for my hubby yang kemudian nyeletuk "Baru 6 minggu, subhanallah rejekimu, nak...Makasih ya, sayang." *sambil ngelus perut saya yang belum kliatan hamil sama sekali.
*krik*
Wakkkk...terimakasih Allah sdh menghadirkan 2 malaikat buat buat saya.. *diem-diem haru*
WELCOME TO THE 'SELO'WORLD
Selo berarti sepi, luang, ga ada kerjaan, dll. Maka dimulailah episode saya menjalani dunia yang 'selo' ini.
Sebelumnya, saya juga ga begitu banyak kegiatan, paling kalo pagi kerjaannya nganter suami dan wisata sarapan bareng, biasanya kalo pas jam 9an ada janji. Nunggu jam 9an, cari masjid terdekat dg tempat janjian dg patner, customer, atau mentor kerjaan. Dhuha dlu sambil baca2, klo uda ntar ketemuan dg yang bersangkutan. Biasanya bahas kerjaan, atau sekedar silaturahim dan belajar bisnis. Siangan biasanya lanjut cari bahan baku, ke toko2 kain, trus ke tempat si tacik langganan saya cari perlengkapan jahit menjahit, ke tukang jahit, and soon...sampe rumah kerjain kerjaan rumah. DONE.
Tapi sejak dinyatakan positif oleh suami, saya sama sekali ga boleh kluar rumah. Padahal waktu itu juga saya belum ngerasa morning sickness, cuma rada pegal aja di punggung bawah.
Alhasil, selama 2 minggu hidup 'selo' banget.
Tapi, terus terang saya menikmati... Walopun kemudian saya harus menolak beberapa order, saya pikir, gapapalah, apapun demi si buah hati, toh 2 minggu lagi ke dokter berbeda, pasti uda dibolehin kerja, pikir saya.
2 minggu berlalu, dan kami mendatangi dokter yang berbeda, di rumah sakit yang beda juga, jauh tapi kata sodara dokter ini recomended bgt, pro normal, pro IMD, pro asi, sabar, cewek lagi. Yach, dari pada harus loncat2 dokter demi menemukan kecocokan, saya langsung coba dokter ini. Dari pertemuan pertama itulah saya sudah mulai cocok dengannya. Benar saja, beliau cukup sabar dan ngerti. USG pertama hanya terlihat kantung bebi aja, tapi kata beliau ga usah khawatir, toh sebulan lagi sudah kliatan ko. Melalui rekap medis, beliau tau bahwa kami pernah menjalani usg transV di rumahsakit tsb dg dokter berbeda. Beliau langsung menanyakan sdh brp lama menanti buah hati (bukan usia pernikahan, krn itu tidak menjamin pasutri menanti buah hati meski telah lama menikah). Beliau sempat menanyakan juga apa saya pekerja dll. Begitu saya jawab sy ibu rumah tangga yang 'nyambi' wiraswasta, beliau langsung menyarankan untuk tidak dulu bepergian kecuali terpaksa, misalnya checkup.
NAH!!
*suami nyengir* (kayanya merasa dapet dukungan total tak terbantahkan)
Selain itu, beliau jg menyarankan untuk tidak melakukan hubungan suami istri selama JANGKA WAKTU YG BELUM DITENTUKAN. "Berhubung ini adalah hasil penantian yang cukup lama, kita antisipasi saja ya, bu...Mengurangi resiko2 yang tidak dikehendaki...'Puasa' dulu ya,pak?"kata bu dokter ramah.
*kali ini saya yang nyengir ke suami saya*
Awal mula berada di dunia yang 'selo' ini sungguh membosankan, sangat malah. Tapi berhubung saya mulai menyadari bahwa sekarang ini sudah ada yang bersemayam di rahim, mengeluhpun ditahan habis2an.Kadang kalo ga tahan, nyeplos juga sama suami... Suami akhirnya kasian juga dan sesekali ngajak kluar, sekedar nonton sesekali.
Tapi, saya menyadari bahwa menjalani waktu yang ga produktif sama sekali. Ditambah hormon mulai melonjak-lonjak dan gejala2 awal kehamilan mulai terasa, kondisi mood jadi sering drop. Maka mulailah saya mengisi kekosongan dengan 'belajar', selain mengerjakan pkerjaan rumah lebih sering tentunya.
Dari prosses belajar dengan buku dan internet itulah, hati saya tertancap pada satu tema: Hypnobirthing, yang kemudian membuat saya lebih tenang menghadapi masa ini.
DARI MORNING SICKNESS SAMPAI PISAH RANJANG
Tidak seperti kebanyakan wanita hamil, awalnya saya pikir saya tidak akan mengalami mual dan muntah seperti kebanyakan. Karna pada kenyataannya, pada minggu ke8, saya masih merasa normal2 saja. Makan apa saja masih ok, hanya lebih menyukai daging ayam dibanding sebelumnya. Tapi, setelah memasuki minggu ke9, smuanya berubah. Diawali dengan penciuman saya yang mendadak bak anjing pelacak. Sungguh. Saya mencium aroma air sirih yang dibuat bapak di dapur padahal saya belum masuk dapur sama sekali. Dan inilah awal pertama 'kitchenfreak' saya. Hhehe, ini istilah untuk ketakutan memasuki dapur. Bau bumbu2 yang menyengat bisa langsung membuat lambung saya bereaksi. Padahal dlu, sekalipun masuk angin, saya ga pernah muntah. Terakhir kali muntah saat SMP, pulang dari studitour di bali, setidaknya itu yang saya ingat.
Tapi kali ini berbeda, saya jadi benar2 merasa berada dalam berbagai teori kehamilan yang selama ini saya baca. Mual, muntah, pusing, cepat lelah, susah tidur, susah BAB dan sebagainya.
Saya kembali mengingat kata salah seorang temen saya saat saya belum hamil dan dia sudah: " Mungkin kamu memang diberi kalo sudah benar2 siap nantinya". Saat itu kalimat itu enteng aja terdengar di telinganya saya. Bahkan saya sempat membatin bahwa saya pasti kuat. Well, kenyataanya memang bukan hal yang mudah untuk dihadapi.
Usaha saya paling mentok adalah sugesti diri. Syukurlah, dalam kurun waktu 4 mingguan, gejala ini mulai membaik, dan membaik. Dukungan dari suami, ortu sampe mertua yang tiap kali telpon sangat mendukung. Dan saya merasa lebih beruntung dibanding beberapa teman seperjuangan yang 3 bulan pertamanya ga bisa makan nasi dan hanya makan pisang. Bahkan salah 2 customer saya yang sedang hamil sampai harus dirawat di rumah sakit karna dehidrasi dan kurang asupan gizi.
Cerita seru lain adalah pisah ranjang antara saya dan suami. Eiiits, jangan salah, ini bukan karna kami sedang bertengkar..tapi karna ketidaktahanan saya pada bau badan suami. Hahaha, sabarnyasuamikuuuuwh....Usut punya usut, tyt kasus spt ini tak jarang terjadi. Beberapa temen pernah bersaksi hal serupa. Jadi, ini ga salah dong ya... #ngeles.
KENAPA BURU-BURU HYPNOBIRTHING ???
Awalnya saya juga sempat berpikir untuk nanti2 saja mempelajari tentang apa yang disebut hypnobirthing. Tapi seketika saya juga menyadari diri bahwa saya adalah tipikal orang yang panikan, 'kemrungsung' dan kadang tidak terkontrol. Teknik2 hipnosis mungkin harus lebih lama saya pelajari ketimbang orang lain dengan karakter tenang dan legowo.. #ngaku.
Maka, sejak saya awal pertama kehamilan, saya langsung minta copy cd relaksasi kehamilan nyaman pada teman saya, saya juga langsung nitip buku hypnobirthing pada kakak ipar saya yang sering ke gramed. Maka dari situlah saya mulai mencoba melakukan latihan relaksasi, yang saya rasa lumayan berhasil menakhlukan keluhan morning sickness dan gejala lain.
Terus terang saja, sampai sekarang saya masih terus berusaha belajar untuk memasuki alam bawah sadar lewat relaksasi tersebut...bukan hal yang mudah dan remeh ternyata. Namun, dengan belajar, setidaknya kita bisa lebih paham dan tenang, itu kesaksian saya. Membiasakan diri berpikir positif juga merupakan rangkaian dari relaksasi tersebut. And its work for me. Setidaknya, saya lebih mudah legowo di kala pada situsi yang sama di saat sebelumnya saya panik tidak terkontrol.
Jadi, saya pikir, ini keputusan yang benar untuk mempelajarinya sejak awal. Bahkan kalo tau gini, dlu sbelum hamil skalian. Tidak ada ruginya belajar sesuatu yang benar ko, pada akhirnya akan bermanfaat langsung maupun tidak langsung. #mendadakserius
Ini pengalaman trisemester pertama saya. Kamu boleh sharing juga :) terimakasih
semoga manfaat ^^
Senin, Januari 28, 2013
To be Mom Story 2
Selamat pagi, selamat hari senin, dan selamat memulai aktifitas mingguan ^^ (kebanyakan selamat keknya )
Pagi2, mumpung lagi mood banget buat ngeblog, hari ini saya mo posting beberapa hal yang masih berkaitan sama posting sebelumnya : Be a Mom story.
GA nyangka sama sekali, setelah postingan itu, beberapa temen dan sodara mulai menanyakan obat atau makanan yang pernah saya konsumsi. Saya mau ngasih resep2 itu...yang sebenernya ga pernah saya telateni semuanya. Tapi di next post ya.... Karna cuma 1 resep yang saya telateni sejak awal pernikahan hingga kini yaitu doa.
Kehamilan, terus terang saja bisa menjadi suatu bahasan yang sangat sensitif bagi saya yang wanita lain yang kala itu sedang menunggu buah hati yang tak kunjung datang. Mendengar kabar gembira kehamilan seorang teman bisa jadi seperti sebuah angin ribut yang memporakporandakan perasaan dan mood. Saya pernah mengalaminya, beberapa kali. Di saat pernikahan sudah memasuki tahun ke-2 dan yang dinanti belum datang juga, berita kehamilan teman, terutama yang baru nikah bisa bikin saya nangis sampe mata bengkak. Secara psikologis, hal tersebut cukup menekan yang sebenernya bisa berimbas ke tingkat stres kita dan akan berakibat buruk pula pada kesehatan organ kita, termasuk orga reproduksi. (wesssdaaah, uda kaya paparan ilmiah gw).
Syukurlah, suami selalu memberi dukungan dan kesabaran yang luar biasa. Ketika kegalauan seperti itu muncul, peran suami sangat besar dalam memberi semangat pada sang istri. Dan hal tersebut yang suami saya tunjukkan. Dia akan dengan penuh cinta memeluk saya dan mendengar segala keluhan saya kemudian menyemangati saya bahwa saya mampu dan kelak juga bisa. Bahkan tak jarang, kita juga akan menangis bersama, kemudian lama sekali menenggelamkan diri dalam sujud. Dan pada akhirnya saya sangat bersyukur meski kami belum menjadi perempuan sempurna, saya memiliki suami dengan cinta yang begitu sempurna...ibarat pak habibie ke bu ainun, ehmmm...
Resep lainnya, saya coba sering praktekin tuh kata Ust. Yusuf Mansyur. Ketika liat orang hamil, mo dijalan, atau di tv skalipun saat iklan, saya sholawati sambil saya bisikkan dalam hati :" Ya Allah ijinkan saya menjadi seorang ibu..". Bahkan kalo ketemu dan kenal, saya akan pegang perutnya dan melakukan hal yang sama. Begitu pula ketika melihat anak2, saya mencoba menanamkan keyakinan saya bahwa kelak pun akan menggendong anak saya sendiri.
Di sujud terakhir ketika sholat, baik wajib atau sunat, doa nabi Zakaria, Ibrahim dan doa saya sendiri untuk memiliki momongan juga saya usahakan tak pernah terlewat. Terlebih setelah dzikir dan sholawat ketika usai sholat. Saya tuturkan pada Sang Maha Mencipta bahwa saya yakin, sudah dipersiapkanNya buah hati kami, hanya saja belum saatnya diturunkan ke rahim saya. Ketika sampai pada doa itu biasanya saya akan menangis, bukan karna sedih dengan doa yang belum kunjung dikabulkan, tapi dengan ketidaksiapan saya sendiri menjadi seorang ibu. Setiap doa pasti dikabulkan dalam waktu yang tepat, dan saya sadar bahwa hal tersebut juga dipengaruhi pada sikap kita juga.
Lalu, bagaimana yang menjadi ibu karena perzinahan?
Wallahu'alam. Bagi saya, karna saya selalu meminta anak yang sholeh, maka saya juga butuh untuk menempa diri sehingga Allah pantaskan saya menyandang gelar sebagai seorang ibu dari anak yang sholeh. Aamiin.
Doa bukan saja sarana saya mengkomunikasikan permintaan saya dengan Yang Maha Pencipta, tapi juga dengan anak saya. Bagaimana? Ini dia, kadang saya memvisualisasikan anak2 yang masih bermain di syurgaNya. Menunggu giliran untuk diturunkan di rahim ibunya. Dan saya yakin, bahwa diantara mereka ada anak saya. Maka saya akan menuturkan dalam hati, bahwa kami sedang menunggunya sambil mempersiapkan diri menjadi pengasuh terbaik untuk mereka. Dan Allah Maha Tahu kapan kami akan bertemu dengan mereka kelak.
Keyakinan dan khusnudhzon itu yang sebenarnya pada kahirnya memotivasi saya dan suami untuk terus berikhtiar. Tapi, terus terang, hal tersebut ga mudah. Perasaan galau kadang mendominasi, jadi suami istri harus saling mengingatkankan satu sama lainnya.
Klise sekali ya...tapi hal tersebut yang selalu kami yakini.
Satu hal lagi, orang tua juga merupakan kunci terkabulnya doa. Saya beruntung selalu punya orang tua dan mertua yang menyuport (atau mensuport, ya tulisannya, ah mana aja deh), kami berdua. Saya sering melihat kebahagiaan ibu ketika bersama anak tetangga yang masih kecil...pasti beliau lebih bahagia kalo menggendong cucunya. Maka setelah Allahhummagfirli..dst..saya selalu mohonkan agar orang tua kami senantiasa diberi keberkahan, kesehatan dan panjang umur sehingga kelak kami mampu menghadiahkan cucu2 yang sholeh kepada mereka, yang bisa diajak jamaah ke Masjid, yang lancar belajar alif, ba, ta, dan yang tidak segan2 mencium sayang kakek neneknya sesering mungkin.^^
Suatu hari, saya pernah bertemu dengan salah seorang guru saya. Kabar yang pernah saya dengar,beliau juga lebih dari 9 tahun menunggu buah hati, alhamdulillah, kala itu istrinya tengah hamil. Maka ketika bertemu di warung mie ayam kala itu, saya segera menyalami dan memberi selamat. Kami tidak banyak mengobrol karna saya hrs segera pulang, pesannya kala itu, "shodaqoh din...shodaqoh aja pokoknya...insya Allah cepet dikaruniai momongan".
Bukan hanya sekali itu, the power of sedekah juga sering banget kan kita denger ceritanya. Saya cukup lama memikirkannya. Bukannya tidak pernah melakukanya, setiap bulan, insya Allah 10% dari total yang ada di tangan pasti kami keluarkan. Hanya, mungkin apa memang kurang ya, saya pikir... Saya coba membicarakan dengan suami, dan suami menanggapinya dengan tenang. " Yang wajib dan yang sunat kan sudah, kalau ada kesempatan lain untuk kita bisa membagi lebih, insya Allah pasti harus ikhlas juga..."
Saya belum begitu paham maksd suami saya, tapi saya mencoba selalu memahami keloyalannya pada keluarga. Demi orang tua dan kluarga, dia tidak akan segan2 menguras tabungan cadangan kami. Dan saya sebagai istri sekaligus manajer keuangan harus bisa mendukungnya. Dan segalanya akan berbuah manis pada akhirnya...
Ketika kehamilan ini benar2 saya alami, tanpa bermaksud sedikitpun riya' dan hanya ingin berbagi, terus terang saya kembali memutar memori saya. Strip 2 yang terpampang di testpack kala itu buat kami bukan karna obat dari dokter, bukan karna jamu atau makanan apapun, tapi karna pada akhirnya doa kami sekeluarga terkabul. Selebihnya mungkin hanya bernilai 10%. Allah perlu menilai keseriusan kita, sama halnya ketika kita meminta gaji lebih pada atasan, maka kita harus menunjukkan bahwa kinerja kita juga di atas rata2. Keseriusan itu juga bisa kita ikrarkan lewat nadzar. Nadzar yang baik, yang kita anggap itu juga bukan hal yang terlalu mudah untuk dilakukan.
Saya bernadzar untuk tidak pernah absen lagi membaca Al-Qur'an tiap hari. Hehehe, ini siy memang seharusnya, tapi memang ngaji ini banyak godaan, bisa baru seminggu sekali. Nah, makanya saya bernadzar untuk ngaji tiap hari, sebisa mungkin khatam saat masih mengandung, dan mengulaginya dari awal. Dan saya memulai sebelum kehamilan terjadi, dan meyakini bahwa sebentar lagi akan terjadi.
Menjadi ibu adalah sebuah tanggungjawab besar. Beberapa teman memberitahu saya, bahwa ini adalah sebuah permulaan kehidupan yang baru, bukan sebuah pencapaian. Saya sendiri masih merasa banyak sekali kekurangan untuk menjadi seorang ibu. Tetapi saya akan mengasuh anak saya, mencintainya, menjadi ibu terbaik baginya...Karna itu yang pernah saya janjikan pada Penciptanya ketika saya memintanya...
Semoga bermanfaat walopun banyak typo di sana sini :)
Kamis, Januari 03, 2013
To be MOM story
Bagi sebagian wanita, menikah kemudian hamil itu adalah keniscayaan. Sebagian besar mereka yang beruntung akan berpikir seperti itu. Tapi bagi gw dan beberapa wanita, hamil isn't easy as flipping ur hand. Dan ini cerita perjalanan itu:
Menikah di bulan April 2009, gw cuma beberapa minggu bisa bersama suami dan kluarga. Dua mingguanlah. Setelah itu, kami harus terpisah jarak. Tugas gw di Kepulauan Riau, sumatera, sedangkan suami tetap ada di Jogja. Setelah pemikiran yang matang disertai istikharah panjang, maka keputusan resign gw pun terlaksana. Balik Jogja dan kembali ke samping suami kala itu Juli 2011.
Begitu istirahat sebulan dua bulan, kami memutuskan untuk mengikuti program hamil. Dimulai dengan dokter Widad SpOg, kala itu janjian sama temen yang juga promil. Pemeriksaan pertama konsultasi, dan diminta datang saat masa subur, yaitu antara hari ke 11 atau 12 siklus untuk diperiksa dengan USG transvaginal. Mulanya ngeri, sempet ga mau lanjut...apalagi ini dokter cowok. Yes, lengkap sudah kegalauan! Tapi untunglah gw ga sendiri, bersama Mance sahabat gw yang juga senasib seperjuangan. Dan mulailah kami saling menyemangati satu sama lain.
Hari itu pun tiba. Dan dapet no antrian paling bontot, jam 11 malem tepatnya... (gigit jari). Karna uda capek juga nunggunya, yasudah, di ruanganpun pasrah. Ternyata ga sakit, cuma sedikit mual. Hasil usg transV menyatakan kalo sel telur gw kecil2 alias telat matengnya. Itu yang bikin siklus menstruasi ga teratur dan berantakan. Pada kasus ini, masa subur susah ditentukan dan otomatis hubungan suami istri pun tdk bs dijadwalkan dg baik. Well, akhirnya pak dokter memberi beberapa pil penyubur dan menyarankan untuk berolahraga. (Mungkin agak kegendutan juga waktu itu).
Mulai saat itu, gw jadi 'agak' rajin olahraga. Mulai dari aerobik sendiri maupun di sanggar, dan berenang tentu saja. Masalah berenang ini ga cuma benerin badan dan otot, tapi refreshing juga. Selain indoor dan khusus wanita, kolam renang yang nyaman bisa menghilangkan stres pekerjaan. Mungkin ini intinya kali ya...menghilangkan stres.
Di bulan berikutnya, ketika di usg lagi, uda mulai ada kemajuan, seltelur uda tampak membesar walopun belum memenuhi kriteria mateng untuk bisa dibuahi. Dan lagi-lagi harus pake penyubur. Urusan sama si dokter cukup sekian, ga lagi lanjut. Selain katanya ga bagus tiap siklus harus pake penyubur, dari segi harga lumayan juga, tapi dari hasil ga begitu dirasa di badan.
Akhirnya gw kembali ke bisnis, mencoba rileks dan masa bodoh dengan pertanyaan2 orang yang menganggu pikiran dan hati...hhfftt... Tapi yang namanya manusia, ga bisa toh mo hidup sendiri, pasti harus bersosialisasi. Nah,dari bisikan tetangga yang sebenernya udah sejak lama nyaranin untuk terapi pijat di Pak Dal, tetangga kampung sebelah.berangkatlah gw dan suami untuk mencoba alternatif ini. Beberapa tetangga memang berhasil katanya. Tadinya ogah2an, sampai akhirnya coba aja, biar ga banyak lagi pertanyaan kalo ketemu ntar. Yes, dan kami pun ke sana. Bagian gw, cuma pijit2 telapak kaki doang, itupun ga ada 10 menit. Nah, begitu giliran suami agak lama dan mijitnya dari kaki sampai punggung. Tp menurut gw, pointnya bukan dipijitannya, tapi di resepnya. Setelah itu, beliau dg bahasa jawa halus ngomongin ttg resep jamu dll. Suami gw, jelas ga ngerti apa yang diomongin, jadi berasa penerjemah bahasa jawa. Pada step ini, terus terang gw dan suami susah tersugesti, makanya setelah dapet resep, kita langsung googling aja manfaat sebenernya.
Kita diminta untuk minum simbar menjangan atau tanduk rusa yang di tumbuk kemudian diperas airnya, setiap sore. Dari hasil gugling, tanduk rusa berfungsi untuk mencegah peradangan yang terjadi di rahim. Oke, gapapa, kami berdua mencobanya. Rasanya? ga ada rasa, ya anyir2 daun gitu.
Kemudian, suami diminta makan daging kelinci atau kerang sebelum masa subur istri. Nah, karna kerang ga suka, maka kami cari penjual daging kelinci. Alhamdulillah, ada warung daging kelinci yang menjamin kehalalan proses penyembelihan hingga hidangan yang tanpa MSG. Dari pedagangnya juga kami tau kalo daging kelinci selain mampu meningkatkan stamina #uhuk. Tapi, tambahan dari pedagangnya yang uda berpengalaman ngeladenin permintaan dari pasutri yang pengen dapet momongan seperti kami, bukan cuma suami yang mengkonsumsi tp istri juga. Nah, bagian istri makan otaknya, kalo yang suami bagian (maaf) testisnya, dan cara memasaknya pun tanpa minyak. Tadinya, gw pikir suami bakal nolak, tp Ya Alloh, suami gw emg pengen bgt punya keturunan, sampai mau donk makan 'anu'nya si kelinci. Gw tadinya yang boro2 kelinci, otak ayam aja ga doyan jadi termotivasi juga, "baik kita makan bersama, beib... ".
Bagian itu kami pasrah sama si penjual tiap 2 hr sekali menjelang masa subur, selanjutnya kami memesan daging mentah untuk diolah setiap hari.
Ga berhenti di situ, suami jg harus minum jamu yang diramu dengan temulawak, pinang kering, akar alang2 basah, dan gula batu. Gw cari bahannya di pasar beringharjo, untuk akar alang2 ternyata super*ndo ada. Iyuuuh, dari penampakannya aja uda kliatan klo pait, nah suami harus minum itu segelas sehari tiap sore menjelang masa suburku juga. Thanks God, suami gw doyan apa aja demi si buah hati.
Dan begitulah, perjalanan daun paku, si kelinci dan jamu ini juga sempet terhenti. Saya yang ga telaten, sodara2....
Pada masa 'ketidaktelatenan' itu, gw dapet info dari Mance tentang terapi totok di sebuah salon. Well, dari infonya siy temennya temen kita berhasil. Nah, info inilah yang bikin kita coba2 ikutan juga tanpa make sure dulu mengenai info itu. Dan berangkatlah kita mencari salon tsb. Dari pertama dateng agak ga yakin, tapi berhubung Mance rela duluan, gw gapapa deh jadi penonton. Tapi tetep, selanjutnya gw yang nyoba. Dan begini hasilnya:
#Terapi pertama : agak sakit, sebagian badan dipijit dg kekuatan 'super'.
#Terapi kedua : sakit banget, sampe bagian yang ditotok biru2
#Terapi ketiga : enak, dipijitin santai, tapiiiiiiii....kok pake 'aneh2' ya
#Terapi keempat : absen *kabur*. Ga percaya lagi
Kalo diinget ini memalukan banget. Dua orang yang uda ngelarin gelar kesarjanaannya tiba2 dateng ke tempat yang blm teruji keahliannya dan logikanya. "Sudah sampai seputus-asakah itu, kita??" -___-"
Urusan terapi ini gw backstreetan sm ibuk dan suami. Soalnya pas pertama dulu pernah cerita mereka uda ga respek, uda ngerasa ga bener. Tapi dasar gw bandel.
Setelah itu, gw capek...sudah cukup dulu deh. Melarutkan diri pada pekerjaan dan mesin jahit. Sampai akhirnya seorang temen, eh guru pada tepatnya, guru bisnis, Mb Ena, maen ke rumah di bulan September lalu. Beliau cerita tentang adiknya di Kupang yang sudah hampir 5 tahun belum memiliki keturunan, dan kemaren nitip dibelikan obat cina untuk kesuburan wanita. Nah, adiknya ini belum berhasil, tapi si teman adiknya ini katanya berhasil. Nama obatnya Wuchipaifengwan. Ini bukan iklan lho ya....info saja.
Setelah mba Ena pulang, gw iseng gugling aja, soalnya kayak pernah denger. Dan bener, di grup AIH (Aku Ingin Hamil), ada juga yang manjur pake ini obat. Maka, stelah oktober awal begitu siklus dimulai, maka gw juga iseng minum ini obat. Dan mulai membuatkan jamu lagi untuk suami. Di bulan ini sebenernya cukup capek secara fisik, cuma emg lagi 'selo' ga mikir apa2. Mulai dari bolak balik Jogja-Sumenep demi nganter mertua haji, bolak balik kotagede-jakal kerumah ipar yang lagi ditinggal ke belanda...capek fisiknya, tapi terus terang ga begitu dikejar order, santai aja...
Mumpung deh musim haji, kalo mertua jelas uda ngedoain, uda ngelus2 perut sebelum berangkat, giliran kerabat yang lain dititipin doa. ^^
Dan selama itu, well, gw menikmati kebersamaan dengan suami. saling memberi energi positif, kadang bertingkah kayak masih pacaran. #yeah.
Dan ini dia, ceritanya dimulai dari sini (nah dari tadi ngapain??), 3 hari menjelang kepulangan keluarga ipar gw dr belanda, tidur uda ga enak banget. Tiap malem kebangun, perut rasanya begah. Antara magh atau kembung, entahlah. Dan hal itu terus berlangsung...
Tanda kedua, ga biasanya punggung bawah rasanya suakit banget, padahal cuma naek motor aja gitu jarak kotagede-jakal. Biasanya juga gapapa. Hari itu, kakak ipar sekeluarga uda dateng, langsung disaranin jgn di koyo, jangan dipijit, siapa tau isi. Amiin...
Uda tanggal 7 November, suami uda siap2 mo trip kilat ke sumenep buat jemput mertua yang besok balik.
Pagi itu, gw galau. Secara tiap ngerasa ada yang aneh kita selalu cerita, Mance mendesak untuk ngetes pagi itu juga. Dan gw galau setengah mati. Takut banget kalo hasilnya sama kaya kemaren2, kecewa...nangis.hiks. Rencana baru besok pagi mo cek.
Tapi dasar galau, jam 9 pagi waktu itu, mumpung ada persediaan testpack murah meriah 3ribuan, gw nekatin deh. Toh kalo negatif bsok cek lagi, belum telat ini. Setengah hati ngeceknya, ga berani langsung ngeliat. Begitu uda 2 menitan, gw pelan2 nengok ke testpack di tangan kiri gw...dan hasilnya...2 STRIPS!!!! Rasanya mo loncat2 teriak kegirangan, tapi yg kluar malah air mata. Langsung gw kluar dr kamar mandi.
Bingung mo ngasih tau siapa dulu, Babe yang uda siap mo kluar pintu gw peluk dan nangis. Ya, babe gw jaim habis, tp care-nya g bs ditutupi, mungkin terbawa suasana, beliau jg berkaca2. Masih belum percaya, gw liat2 lagi itu testpack.
Langsung telpon suami. Hiks, kedengeran juga kalo dia terharu. Sejam kemudian malah pulang ke rumah. huaaa..kami ga bisa mengungkap dengan kata. Saat itu rasanya haru banget. Bahkan katanya sebelum pulang tadi, stelah gw telpon, suami sempet nangis dan tiba2 meluk temen kerja sebelahnya (laki lho ya)..Temennya malah kebingungan..yaeyalaaah...
Sorenya kita langsung ke dokter Widad. Karna masih belum telat dan siklus yang berantakan, si dokter ga mau ambil kesimpulan gw hamil. *hiks, jahat. Katanya biar yakin bener, suruh tes lab. Tapi beliau ttp ngasih resep vitamin dan penguat. Klo hasil lab betaHCG positif berarti memang positif. Hiks, hancur hatiku :( Tapi, resep tetep kita tebus dan gw putuskan untuk ga tes lab. Biar deh, kita membangun pikiran positif aja kalo ini uda bener.
Tanggal 9, pas di posisi hitungan siklus baru, gw cb tes lagi. Kali ini ngetesnya sengaja sore, pake di*ectetst. Dan ini hasilnya
Baik, saya sudah positif, itu pikiran gw.... Mencoba menanamkan positive mind dlu.
2 minggu kemudian kami ke dokter lagi. Kali ini beda dokter. Dokter cewek, lebih nyamaan... ^^
Sekarang usianya 12 minggu. Masih harus dijaga aktivitasnya, meski uda ga pake penguat lagi. Ga sabar menunggunya membesar ^^
Well, gw mungkin merupakan salah satu yang menganggap hamil itu membutuhkan banyak doa dan usaha. Bahkan sodara gw sampai harus memeriksakan sampel darahnya ke Jerman. Tapi sampai saat ini kalo ditanya gimana akhirnya berhasil, mungkin usahanya mmg obat2 dan jamu, tapi tetap, gw adalah satu yang beruntung karna memiliki orang tua, mertua, saudara dan kerabat yang juga mendoakan setiap usaha kami. Allah punya cara dan waktunya sendiri. Pada akhirnya, kalo kita yakin padaNya, maka keyakinan itu yang akan menjadi kenyataan di depan kita.
Kita wanita, dan kita pasti bisa jika kita yakin kita bisa. Bahkan seorang Maryam bisa hamil tanpa laki2, atau istri Nabi Zakaria yang bisa juga memiliki keturunan walaupun usianya telah renta, dari situlah gw belajar meyakini bahwa gw juga pasti bisa.
Doakan ya, semoga si baby tetep sehat dan lahir dengan lancar dan mudah... Amiin ^^
Menikah di bulan April 2009, gw cuma beberapa minggu bisa bersama suami dan kluarga. Dua mingguanlah. Setelah itu, kami harus terpisah jarak. Tugas gw di Kepulauan Riau, sumatera, sedangkan suami tetap ada di Jogja. Setelah pemikiran yang matang disertai istikharah panjang, maka keputusan resign gw pun terlaksana. Balik Jogja dan kembali ke samping suami kala itu Juli 2011.
Begitu istirahat sebulan dua bulan, kami memutuskan untuk mengikuti program hamil. Dimulai dengan dokter Widad SpOg, kala itu janjian sama temen yang juga promil. Pemeriksaan pertama konsultasi, dan diminta datang saat masa subur, yaitu antara hari ke 11 atau 12 siklus untuk diperiksa dengan USG transvaginal. Mulanya ngeri, sempet ga mau lanjut...apalagi ini dokter cowok. Yes, lengkap sudah kegalauan! Tapi untunglah gw ga sendiri, bersama Mance sahabat gw yang juga senasib seperjuangan. Dan mulailah kami saling menyemangati satu sama lain.
Hari itu pun tiba. Dan dapet no antrian paling bontot, jam 11 malem tepatnya... (gigit jari). Karna uda capek juga nunggunya, yasudah, di ruanganpun pasrah. Ternyata ga sakit, cuma sedikit mual. Hasil usg transV menyatakan kalo sel telur gw kecil2 alias telat matengnya. Itu yang bikin siklus menstruasi ga teratur dan berantakan. Pada kasus ini, masa subur susah ditentukan dan otomatis hubungan suami istri pun tdk bs dijadwalkan dg baik. Well, akhirnya pak dokter memberi beberapa pil penyubur dan menyarankan untuk berolahraga. (Mungkin agak kegendutan juga waktu itu).
Mulai saat itu, gw jadi 'agak' rajin olahraga. Mulai dari aerobik sendiri maupun di sanggar, dan berenang tentu saja. Masalah berenang ini ga cuma benerin badan dan otot, tapi refreshing juga. Selain indoor dan khusus wanita, kolam renang yang nyaman bisa menghilangkan stres pekerjaan. Mungkin ini intinya kali ya...menghilangkan stres.
Di bulan berikutnya, ketika di usg lagi, uda mulai ada kemajuan, seltelur uda tampak membesar walopun belum memenuhi kriteria mateng untuk bisa dibuahi. Dan lagi-lagi harus pake penyubur. Urusan sama si dokter cukup sekian, ga lagi lanjut. Selain katanya ga bagus tiap siklus harus pake penyubur, dari segi harga lumayan juga, tapi dari hasil ga begitu dirasa di badan.
Akhirnya gw kembali ke bisnis, mencoba rileks dan masa bodoh dengan pertanyaan2 orang yang menganggu pikiran dan hati...hhfftt... Tapi yang namanya manusia, ga bisa toh mo hidup sendiri, pasti harus bersosialisasi. Nah,dari bisikan tetangga yang sebenernya udah sejak lama nyaranin untuk terapi pijat di Pak Dal, tetangga kampung sebelah.berangkatlah gw dan suami untuk mencoba alternatif ini. Beberapa tetangga memang berhasil katanya. Tadinya ogah2an, sampai akhirnya coba aja, biar ga banyak lagi pertanyaan kalo ketemu ntar. Yes, dan kami pun ke sana. Bagian gw, cuma pijit2 telapak kaki doang, itupun ga ada 10 menit. Nah, begitu giliran suami agak lama dan mijitnya dari kaki sampai punggung. Tp menurut gw, pointnya bukan dipijitannya, tapi di resepnya. Setelah itu, beliau dg bahasa jawa halus ngomongin ttg resep jamu dll. Suami gw, jelas ga ngerti apa yang diomongin, jadi berasa penerjemah bahasa jawa. Pada step ini, terus terang gw dan suami susah tersugesti, makanya setelah dapet resep, kita langsung googling aja manfaat sebenernya.
Kita diminta untuk minum simbar menjangan atau tanduk rusa yang di tumbuk kemudian diperas airnya, setiap sore. Dari hasil gugling, tanduk rusa berfungsi untuk mencegah peradangan yang terjadi di rahim. Oke, gapapa, kami berdua mencobanya. Rasanya? ga ada rasa, ya anyir2 daun gitu.
Kemudian, suami diminta makan daging kelinci atau kerang sebelum masa subur istri. Nah, karna kerang ga suka, maka kami cari penjual daging kelinci. Alhamdulillah, ada warung daging kelinci yang menjamin kehalalan proses penyembelihan hingga hidangan yang tanpa MSG. Dari pedagangnya juga kami tau kalo daging kelinci selain mampu meningkatkan stamina #uhuk. Tapi, tambahan dari pedagangnya yang uda berpengalaman ngeladenin permintaan dari pasutri yang pengen dapet momongan seperti kami, bukan cuma suami yang mengkonsumsi tp istri juga. Nah, bagian istri makan otaknya, kalo yang suami bagian (maaf) testisnya, dan cara memasaknya pun tanpa minyak. Tadinya, gw pikir suami bakal nolak, tp Ya Alloh, suami gw emg pengen bgt punya keturunan, sampai mau donk makan 'anu'nya si kelinci. Gw tadinya yang boro2 kelinci, otak ayam aja ga doyan jadi termotivasi juga, "baik kita makan bersama, beib... ".
Bagian itu kami pasrah sama si penjual tiap 2 hr sekali menjelang masa subur, selanjutnya kami memesan daging mentah untuk diolah setiap hari.
Ga berhenti di situ, suami jg harus minum jamu yang diramu dengan temulawak, pinang kering, akar alang2 basah, dan gula batu. Gw cari bahannya di pasar beringharjo, untuk akar alang2 ternyata super*ndo ada. Iyuuuh, dari penampakannya aja uda kliatan klo pait, nah suami harus minum itu segelas sehari tiap sore menjelang masa suburku juga. Thanks God, suami gw doyan apa aja demi si buah hati.
Dan begitulah, perjalanan daun paku, si kelinci dan jamu ini juga sempet terhenti. Saya yang ga telaten, sodara2....
Pada masa 'ketidaktelatenan' itu, gw dapet info dari Mance tentang terapi totok di sebuah salon. Well, dari infonya siy temennya temen kita berhasil. Nah, info inilah yang bikin kita coba2 ikutan juga tanpa make sure dulu mengenai info itu. Dan berangkatlah kita mencari salon tsb. Dari pertama dateng agak ga yakin, tapi berhubung Mance rela duluan, gw gapapa deh jadi penonton. Tapi tetep, selanjutnya gw yang nyoba. Dan begini hasilnya:
#Terapi pertama : agak sakit, sebagian badan dipijit dg kekuatan 'super'.
#Terapi kedua : sakit banget, sampe bagian yang ditotok biru2
#Terapi ketiga : enak, dipijitin santai, tapiiiiiiii....kok pake 'aneh2' ya
#Terapi keempat : absen *kabur*. Ga percaya lagi
Kalo diinget ini memalukan banget. Dua orang yang uda ngelarin gelar kesarjanaannya tiba2 dateng ke tempat yang blm teruji keahliannya dan logikanya. "Sudah sampai seputus-asakah itu, kita??" -___-"
Urusan terapi ini gw backstreetan sm ibuk dan suami. Soalnya pas pertama dulu pernah cerita mereka uda ga respek, uda ngerasa ga bener. Tapi dasar gw bandel.
Setelah itu, gw capek...sudah cukup dulu deh. Melarutkan diri pada pekerjaan dan mesin jahit. Sampai akhirnya seorang temen, eh guru pada tepatnya, guru bisnis, Mb Ena, maen ke rumah di bulan September lalu. Beliau cerita tentang adiknya di Kupang yang sudah hampir 5 tahun belum memiliki keturunan, dan kemaren nitip dibelikan obat cina untuk kesuburan wanita. Nah, adiknya ini belum berhasil, tapi si teman adiknya ini katanya berhasil. Nama obatnya Wuchipaifengwan. Ini bukan iklan lho ya....info saja.
Setelah mba Ena pulang, gw iseng gugling aja, soalnya kayak pernah denger. Dan bener, di grup AIH (Aku Ingin Hamil), ada juga yang manjur pake ini obat. Maka, stelah oktober awal begitu siklus dimulai, maka gw juga iseng minum ini obat. Dan mulai membuatkan jamu lagi untuk suami. Di bulan ini sebenernya cukup capek secara fisik, cuma emg lagi 'selo' ga mikir apa2. Mulai dari bolak balik Jogja-Sumenep demi nganter mertua haji, bolak balik kotagede-jakal kerumah ipar yang lagi ditinggal ke belanda...capek fisiknya, tapi terus terang ga begitu dikejar order, santai aja...
Mumpung deh musim haji, kalo mertua jelas uda ngedoain, uda ngelus2 perut sebelum berangkat, giliran kerabat yang lain dititipin doa. ^^
Dan selama itu, well, gw menikmati kebersamaan dengan suami. saling memberi energi positif, kadang bertingkah kayak masih pacaran. #yeah.
Dan ini dia, ceritanya dimulai dari sini (nah dari tadi ngapain??), 3 hari menjelang kepulangan keluarga ipar gw dr belanda, tidur uda ga enak banget. Tiap malem kebangun, perut rasanya begah. Antara magh atau kembung, entahlah. Dan hal itu terus berlangsung...
Tanda kedua, ga biasanya punggung bawah rasanya suakit banget, padahal cuma naek motor aja gitu jarak kotagede-jakal. Biasanya juga gapapa. Hari itu, kakak ipar sekeluarga uda dateng, langsung disaranin jgn di koyo, jangan dipijit, siapa tau isi. Amiin...
Uda tanggal 7 November, suami uda siap2 mo trip kilat ke sumenep buat jemput mertua yang besok balik.
Pagi itu, gw galau. Secara tiap ngerasa ada yang aneh kita selalu cerita, Mance mendesak untuk ngetes pagi itu juga. Dan gw galau setengah mati. Takut banget kalo hasilnya sama kaya kemaren2, kecewa...nangis.hiks. Rencana baru besok pagi mo cek.
Tapi dasar galau, jam 9 pagi waktu itu, mumpung ada persediaan testpack murah meriah 3ribuan, gw nekatin deh. Toh kalo negatif bsok cek lagi, belum telat ini. Setengah hati ngeceknya, ga berani langsung ngeliat. Begitu uda 2 menitan, gw pelan2 nengok ke testpack di tangan kiri gw...dan hasilnya...2 STRIPS!!!! Rasanya mo loncat2 teriak kegirangan, tapi yg kluar malah air mata. Langsung gw kluar dr kamar mandi.
Bingung mo ngasih tau siapa dulu, Babe yang uda siap mo kluar pintu gw peluk dan nangis. Ya, babe gw jaim habis, tp care-nya g bs ditutupi, mungkin terbawa suasana, beliau jg berkaca2. Masih belum percaya, gw liat2 lagi itu testpack.
![]() |
| Testpack 1 : 7 Nov 2012 |
Sorenya kita langsung ke dokter Widad. Karna masih belum telat dan siklus yang berantakan, si dokter ga mau ambil kesimpulan gw hamil. *hiks, jahat. Katanya biar yakin bener, suruh tes lab. Tapi beliau ttp ngasih resep vitamin dan penguat. Klo hasil lab betaHCG positif berarti memang positif. Hiks, hancur hatiku :( Tapi, resep tetep kita tebus dan gw putuskan untuk ga tes lab. Biar deh, kita membangun pikiran positif aja kalo ini uda bener.
Tanggal 9, pas di posisi hitungan siklus baru, gw cb tes lagi. Kali ini ngetesnya sengaja sore, pake di*ectetst. Dan ini hasilnya
![]() |
| Tes tanggal 7 dan 9 Nov |
2 minggu kemudian kami ke dokter lagi. Kali ini beda dokter. Dokter cewek, lebih nyamaan... ^^
![]() |
| 26/11/12 Usg pertama. Baru kliatan kantungnya, tapi detaknya uda ada ^^ |
![]() |
| 27/12/12. Melihatnya pertama kali... Subhanallah |
Well, gw mungkin merupakan salah satu yang menganggap hamil itu membutuhkan banyak doa dan usaha. Bahkan sodara gw sampai harus memeriksakan sampel darahnya ke Jerman. Tapi sampai saat ini kalo ditanya gimana akhirnya berhasil, mungkin usahanya mmg obat2 dan jamu, tapi tetap, gw adalah satu yang beruntung karna memiliki orang tua, mertua, saudara dan kerabat yang juga mendoakan setiap usaha kami. Allah punya cara dan waktunya sendiri. Pada akhirnya, kalo kita yakin padaNya, maka keyakinan itu yang akan menjadi kenyataan di depan kita.
Kita wanita, dan kita pasti bisa jika kita yakin kita bisa. Bahkan seorang Maryam bisa hamil tanpa laki2, atau istri Nabi Zakaria yang bisa juga memiliki keturunan walaupun usianya telah renta, dari situlah gw belajar meyakini bahwa gw juga pasti bisa.
Doakan ya, semoga si baby tetep sehat dan lahir dengan lancar dan mudah... Amiin ^^
Senin, Mei 21, 2012
Happy long loooong weekend
Tanggal 17 kemaren, tepatnya hari kamis, tanggal merah yang sangat strategis untuk menetapkan cuti dan menikmati liburan. Buktinya, dimulai sabtu tanggal 12 uda ada laporan teman yang mudik dan memutuskan untuk cuti 3 hari di senin, slasa, rabo. Jadilah seminggu lebih mereka bisa menikmati kehidupan dengan keluarga. Nah, yang uda pada ngambil cuti di depan, hari ini statusnya absurd semua. Mulai dari yang bilang liburan berasa cepet banget dan pgn balik ke kamis lagi, sampai yang masih dalam status ngantuk.
Beda lagi untuk yang ngambil cuti di hari belakangnya. Kemaren malah ada temen yang ngambil cuti 5 hari. Hari ini sampai jumat dihitung cuti, tapi dia uda balik sejak kamis lalu. Ini lebih girang kayanya...hahaha, secara lama banget bok di rumah. Kebayang deh gimana 'hula-hula'nya hati mereka.
Buat saya sendiri, long weekend ini sangat berbeda. Kalo status masih jauh di rumah, pastinya momen ini sayang diabaikan. Sikat tabungan deh demi libur panjang... (hayo ngakuuuuh). Buuuut, uda sejak kamis, undangan nikah uda ngantre untuk dihadiri. Mulai dari sodara, tetangga, temen SMP, SMA, temen di mantan kantor, sampe temen SD booook..... Yohoho, i've lot friends who care of me. Baeklah, akhirnya long weekend kemaren memang habis untuk kondangan dan ups, sempet nengok baby juga. How awesome live...
Jangan salah, ini seru juga. Kalo tiba-tiba dapet undangan dari temen yang uda biasa nongkrong bareng sich ga kaget ya...Nah ini, temen yang lama yang jangankan di dunia nyata, di dunia maya aja uda berapa taon ga ketemu. Dan, menyenangkan bisa menjadi salah satu saksi dimulainya suatu kehidupan baru seorang teman. ^^.
Sekianlah ya.... happy long long weekend..... Yang ngga sempet mudik kehabisan tiket, atau jadwal piket kantor, gapapa... Masih ada esok hari untuk cuti. Yang mudik dan bertemu keluarga, selamaaat...
Yang ga libur juga tapi berasa ga libur... gapapa, tetep disyukuri ya...
Semoga seninmu seninku senin kita menyenangkan, dan menular di hari-hari berikutnya. Amiin.
selamat ngopiii... ^^
Beda lagi untuk yang ngambil cuti di hari belakangnya. Kemaren malah ada temen yang ngambil cuti 5 hari. Hari ini sampai jumat dihitung cuti, tapi dia uda balik sejak kamis lalu. Ini lebih girang kayanya...hahaha, secara lama banget bok di rumah. Kebayang deh gimana 'hula-hula'nya hati mereka.
Buat saya sendiri, long weekend ini sangat berbeda. Kalo status masih jauh di rumah, pastinya momen ini sayang diabaikan. Sikat tabungan deh demi libur panjang... (hayo ngakuuuuh). Buuuut, uda sejak kamis, undangan nikah uda ngantre untuk dihadiri. Mulai dari sodara, tetangga, temen SMP, SMA, temen di mantan kantor, sampe temen SD booook..... Yohoho, i've lot friends who care of me. Baeklah, akhirnya long weekend kemaren memang habis untuk kondangan dan ups, sempet nengok baby juga. How awesome live...
Jangan salah, ini seru juga. Kalo tiba-tiba dapet undangan dari temen yang uda biasa nongkrong bareng sich ga kaget ya...Nah ini, temen yang lama yang jangankan di dunia nyata, di dunia maya aja uda berapa taon ga ketemu. Dan, menyenangkan bisa menjadi salah satu saksi dimulainya suatu kehidupan baru seorang teman. ^^.
Sekianlah ya.... happy long long weekend..... Yang ngga sempet mudik kehabisan tiket, atau jadwal piket kantor, gapapa... Masih ada esok hari untuk cuti. Yang mudik dan bertemu keluarga, selamaaat...
Yang ga libur juga tapi berasa ga libur... gapapa, tetep disyukuri ya...
Semoga seninmu seninku senin kita menyenangkan, dan menular di hari-hari berikutnya. Amiin.
Rabu, Mei 16, 2012
Ingin Menulis Diary lagi....
Sejenak menengok blog dan mendapati komen di postingan sebelumnya. Tengkyu, emil atas komennya.
Ngomongin tentang fokus bagi para entrepreneur yang masih 'ijo' bisa panjang banget. Secara pengalaman belum banyak, apalagi modal, ditambah belum tahan banting terhadap godaan-godaan emang sering menghantui fokus usaha yang sedang dibangun.
Sebenernya, itu juga yang sedang terjadi. Kegalauan akibat ketidakfokusan dalam usaha. hiks...
Dan di saat2 seperti inilah, jadi pengen nulis keluhan-keluhan lewat diary. Hahaha, rodo jadul yak.
Tapi bener lho, tiap perasaan ga menentu gini kadang kepikiran diary untuk curhat. Mo curhat ke suami kadang kasian juga, udah seharian dia dipusingkan dengan kerjaan kantor, masa' iya pulang2 mo ditumpahin perasaan campur aduk. Kalo jaman ababil dulu sering juga nulis di status (ahahak, ngaku
). Sekarang malu booook mo nulis2 galau gitu. Masih sich kadang2, tapi dalam batas yang dapat dimaklumi sebagai wanita yang butuh pelampiasan secara verbal. hohoho..ngeles.
Jadi pengen cerita tentang betapa diary itu sangat membangun hidup sy. Sy mulai menulis diary sejak kelas 4SD. Masih anak2 ya anyway... Dan apa yang ditulis? muacem2, dari mulai hari ini main apa sampai kejadian2 di sekolah. Karna tidak ada tempat curhat kala itu, maka diary yang menemani sampai kira-kira kelas 3 sma sebelum disibukan dengan les2 penunjang ujian akhir.
Diary itu dulu seperti teman sejati. Kalo lagi seneng tulisannya dibagus-bagusin, kalo pas bete ato marah, tinta merah semua, acak-acakan ga karuan. Tapi dia diem aja gitu, nrima aja gitu mo diapain juga sama kita. Kadang klo dulu ga sempet nyisihin duit buat beli buku diary yang cantik, saya sering menggunakan sisa buku di kelas sebelumnya.
cukup ngenes ya, pemirsah... Ha haha, secara jaman dulu diary adalah hal paling rahasia dalam hidup, jadi kalo mo minta uang buat beli diary takut ktauan juga kalo punya diary.
Apapun akan dibikin buku diary deh asal kertas kosong. Biasanya potongan2 kertas sisa itu kujadikan satu dan kusulam dengan benang wool milik ibu jaman masih suka bikin kerajinan kristik.
Dan hasilnya cukup memuaskan, karna aku mengulanginya lagi. Pernah juga bikin sampul dari kertas kado biar kliatan colorfull, trus dikasih kunci dengan metode simpul yangasal rumit, berharap cuma sy yang mampu membukanya. 
Klo masih ada pasti uda saya pampang tuh sekardus diary lecek penuh momen. Tapi sayangnya beberapa bulan lalu sy merelakan mereka semua dimusnakan bersama barang2 lain yang ada di gudang. Jadi merasa bersalah (Maaph ya diary2kuuuuh... )
Nah, sekarang gini kalo pas lagi dalam keadaan penuh kegalauan pasti inget pengen nulis gitu. Nulis di blog ga mungkin dong ya...Sudah deh, dulu aja. Sekarang pengen nulis2 yang bener deh krn yang baca kan ga cuma kita sendiri.
Untuk kamu sesama pecinta diary, keep writing ya, gals... Terkadang setiap pribadi memang butuh teman berbagi yang tak memberi komentar, tapi sekedar menampung isi hati. So, selamat menulis diary, semoga esok menjadi lebih indah dan baik setelah mengurai galau lewat jajaran kata. #mendadakpuitis
Panas, jadi ga pas kalo ngopi. Selamat ng'es campur deh ^^
Ngomongin tentang fokus bagi para entrepreneur yang masih 'ijo' bisa panjang banget. Secara pengalaman belum banyak, apalagi modal, ditambah belum tahan banting terhadap godaan-godaan emang sering menghantui fokus usaha yang sedang dibangun.
Sebenernya, itu juga yang sedang terjadi. Kegalauan akibat ketidakfokusan dalam usaha. hiks...
Dan di saat2 seperti inilah, jadi pengen nulis keluhan-keluhan lewat diary. Hahaha, rodo jadul yak.
Tapi bener lho, tiap perasaan ga menentu gini kadang kepikiran diary untuk curhat. Mo curhat ke suami kadang kasian juga, udah seharian dia dipusingkan dengan kerjaan kantor, masa' iya pulang2 mo ditumpahin perasaan campur aduk. Kalo jaman ababil dulu sering juga nulis di status (ahahak, ngaku
Jadi pengen cerita tentang betapa diary itu sangat membangun hidup sy. Sy mulai menulis diary sejak kelas 4SD. Masih anak2 ya anyway... Dan apa yang ditulis? muacem2, dari mulai hari ini main apa sampai kejadian2 di sekolah. Karna tidak ada tempat curhat kala itu, maka diary yang menemani sampai kira-kira kelas 3 sma sebelum disibukan dengan les2 penunjang ujian akhir.
Diary itu dulu seperti teman sejati. Kalo lagi seneng tulisannya dibagus-bagusin, kalo pas bete ato marah, tinta merah semua, acak-acakan ga karuan. Tapi dia diem aja gitu, nrima aja gitu mo diapain juga sama kita. Kadang klo dulu ga sempet nyisihin duit buat beli buku diary yang cantik, saya sering menggunakan sisa buku di kelas sebelumnya.
Apapun akan dibikin buku diary deh asal kertas kosong. Biasanya potongan2 kertas sisa itu kujadikan satu dan kusulam dengan benang wool milik ibu jaman masih suka bikin kerajinan kristik.
Dan hasilnya cukup memuaskan, karna aku mengulanginya lagi. Pernah juga bikin sampul dari kertas kado biar kliatan colorfull, trus dikasih kunci dengan metode simpul yang
Klo masih ada pasti uda saya pampang tuh sekardus diary lecek penuh momen. Tapi sayangnya beberapa bulan lalu sy merelakan mereka semua dimusnakan bersama barang2 lain yang ada di gudang. Jadi merasa bersalah (Maaph ya diary2kuuuuh... )
Nah, sekarang gini kalo pas lagi dalam keadaan penuh kegalauan pasti inget pengen nulis gitu. Nulis di blog ga mungkin dong ya...Sudah deh, dulu aja. Sekarang pengen nulis2 yang bener deh krn yang baca kan ga cuma kita sendiri.
Untuk kamu sesama pecinta diary, keep writing ya, gals... Terkadang setiap pribadi memang butuh teman berbagi yang tak memberi komentar, tapi sekedar menampung isi hati. So, selamat menulis diary, semoga esok menjadi lebih indah dan baik setelah mengurai galau lewat jajaran kata. #mendadakpuitis
Panas, jadi ga pas kalo ngopi. Selamat ng'es campur deh ^^
Jumat, Mei 11, 2012
Untitle #bingung
Pagi ini matahari nggak sembunyi, tapi angin sedikit menurunkan suhunya. Beberapa hari ini pagi memang terasa sedikit dingin. Saya ga mo ngobrolin tentang cuaca. Cuma sekedar prolog. Karna sampai pada huruf terakhir yang saya ketik ini masih bingung mo ngeblog apa. #mandeg
#benerbenermandeg
krik..krik..krikk
Buntu sudah!!
Baiklah, akan sy akui teman temin... Hari ini ceritanya lagi galau, deg-degan dan agak minder. Campur baur menjadi satu kesatuan dalam hatiku
#sssshhaaah... Well, sebenernya sejak kemaren, kalo liat komunitas para pengusaha di kotaku ini rasanya (sumpah) minder banget. Mupeng sebenernya ikut gabung ke komunitas itu. Ikut kopdar dan agenda lainnya. Buuuut, as u know, usaha saya masih seumur jagung. (si Jagung berapa siy umurnya?)
Fokus pada usaha yang baru bulan November aka yang baru 5 bulan ini membuat sy merasa kecil. Ga berjiwa pede gitu rasanya. Bolak balik nyari kepedean dalam diri ternyata ga ketemu juga. Akhirnya cuma pasang tampang mupeng.
Nah, in other side, saya juga lagi deg2an dan super gencar ngoyak-ngoyak para tukang untuk menyelesaikan beberapa produksi tas. Ceritanya besok hari Minggu saya dan tentunya bersama dengan Mbakyu (is my sister, my patner also) akan menggelar lapak di SunMor aka SUNDAY MORNING UGM. Dan ini pertama kalinya kami akan memperkenalkan produk kami secara offline.
Well gaaaals...sumpah ya, ini berasa mo pendadaran gitu (lebay). Deg-deg'an dengan berbagai kemungkinan yang terjadi. Ini masih coba-coba dan belajar, lapak aja numpang punya temen, secara kantor 'manajemen sunmor' itu udah tutup. So, terimakasih Allah yang mempertemukanku dengan mbak Betty yang bersedia berbagi lapak dan rejeki.
Karna baru kepikiran kemaren untuk nyobain sunmor, sampel-sampel barang lumayan ga kekejar produksinya. Doakan ya, semoga selanjutnya sudah mulai lebih banyak.
Buat kamu yang cantik dan ganteng yang ada di Jogja, monggo mampir ke lapak kami besok hari Minggu di UGM ya... Lav ya !! #sun
cu there!
#benerbenermandeg
Buntu sudah!!
Baiklah, akan sy akui teman temin... Hari ini ceritanya lagi galau, deg-degan dan agak minder. Campur baur menjadi satu kesatuan dalam hatiku
Fokus pada usaha yang baru bulan November aka yang baru 5 bulan ini membuat sy merasa kecil. Ga berjiwa pede gitu rasanya. Bolak balik nyari kepedean dalam diri ternyata ga ketemu juga. Akhirnya cuma pasang tampang mupeng.
Nah, in other side, saya juga lagi deg2an dan super gencar ngoyak-ngoyak para tukang untuk menyelesaikan beberapa produksi tas. Ceritanya besok hari Minggu saya dan tentunya bersama dengan Mbakyu (is my sister, my patner also) akan menggelar lapak di SunMor aka SUNDAY MORNING UGM. Dan ini pertama kalinya kami akan memperkenalkan produk kami secara offline.
Well gaaaals...sumpah ya, ini berasa mo pendadaran gitu (lebay). Deg-deg'an dengan berbagai kemungkinan yang terjadi. Ini masih coba-coba dan belajar, lapak aja numpang punya temen, secara kantor 'manajemen sunmor' itu udah tutup. So, terimakasih Allah yang mempertemukanku dengan mbak Betty yang bersedia berbagi lapak dan rejeki.
Karna baru kepikiran kemaren untuk nyobain sunmor, sampel-sampel barang lumayan ga kekejar produksinya. Doakan ya, semoga selanjutnya sudah mulai lebih banyak.
Buat kamu yang cantik dan ganteng yang ada di Jogja, monggo mampir ke lapak kami besok hari Minggu di UGM ya... Lav ya !! #sun
Rabu, Mei 09, 2012
Simbah Penjual Bensin
Ssslllrruuuuuuppp...ahh
Minum kopi dulu pagi ini. Wohoho, finnaly, ternyata ngepost sepagi ini memang terasa minum kopi.Tentunya setelah menyiapkan keperluan suami sampai berangkat ngantor.
Masih bingung mo nulis apa hari ini, buka2 twitter, ga nemu ide, buka2 fesbuk apalagi. Sampai akhirnya buka2 hape dan nemu foto ini:: tadaaaa...
Minum kopi dulu pagi ini. Wohoho, finnaly, ternyata ngepost sepagi ini memang terasa minum kopi.Tentunya setelah menyiapkan keperluan suami sampai berangkat ngantor.
Masih bingung mo nulis apa hari ini, buka2 twitter, ga nemu ide, buka2 fesbuk apalagi. Sampai akhirnya buka2 hape dan nemu foto ini:: tadaaaa...
Guess who is it!!
Ini adalah simbah2 penjual bensin di timur SGM. Yang orang jogja, kalo lewat situ, pernah g perhatiin simbah ini? Haha, mungkin jawaban kamu, buat apa, toh sodara bukan, tetangga bukan. Yup, dulu sy jg tdk pernah menyadari si embah ini, walopun kemana2 lewat jalan itu. Tapi, tidak untuk suami sy.
Beberapa waktu setelah kepulangan ke jogja dan melewati jalan itu, suami menunjuk simbah yg lagi menunggu pelanggannya sambil terkantuk-kantuk. Ternyata selama ini suami selalu memperhatikan simbah itu." Tidak lagi beli bensin di pom, tp di simbah", katanya.
Tidak peduli seperti apa simbah itu ketika muda, entah bagaimana caranya beliau mendorong gerobak bensinya yang berisi belasan liter bensin itu di jalan menanjak di sebelah timur SGM dg tubuh rentanya. Daya juangnya yang kami kagumi dari beliau, maka sebisa mungkin kami ikut menambah laba penjualannya meski 500 rupiah. Isu naiknya BBM kemaren juga mendaratkan ingatan kami tentang beliau dan semua yang berprofesi sama dengannya. Ini bukan alay (tapi agak), bisa jadi kan wong sepuh seperti beliau ini sangat mengandalkan harga BBM yg stabil.
Ini bukan wacana, tapi benar2 fakta. Ahh, rasanya cukup lama sy tidak peka dengan keadaan sekitar. Beberapa waktu lalu hanya berkutat dengan tugas, dinas dan hiburan. Hanya mampu sekedar menyisihkan beberapa rupiah tanpa melihat bahkan bertindak langsung. Syukur sekarang aku dikembalikan lagi.
Dan sekarang, sy sangat belum merasa bermanfaat untuk orang lain. Iri rasanya kalo baca twit ada yang menggelar sedekah bareng, membantu orang tdk mampu di RS, bahkan membayar hutang seseorang agar tdk diusir. (Dem, iri bgt gw). Pagi ini, saya mulai lagi menyusun harapan, merangkai doa, dan menyiapkan rencana. Sebuah pagi yang diawali dengan niat baik semoga... Yuk, saya, kamu dan kita bukan hanya sibuk dengan kepentingan kita saja, tapi juga memperhatikan simbah2, dan saudara2 di sekitar kita.
Saya sumpahin kalo kamu jadi penuh barakah!!!! ^^
Sekian dan trimakasih. Semoga bermanfaat
Salam ngopi_ngeteh_nge'susu dsb 
Rabu, April 25, 2012
25 April 2012
Akhirnya ngeblog juga. Berhubung hari ini pegen curhat ^_^. Banyak yang dilalui tanpa cerita. Ga tau nich, ternyata menulis (red:ngeblog) juga butuh tekad bulat. Karna berbagai aktivitas lain, ngeblog jadi dilupakan. Hiks..maaphkan blog ku..
Well, karna hari ini 2nd anniv pernikahan aku dan suamih, bawaannya pengen cerita2. Hahaha...inilah sisa2 sifat ababil yang masih melekat erat dalam diri.
Uda 2 tahun aja nich nikah, tapi rasanya emang baru kemaren. #uhuk, secara emang belum lama ini barengannya. 1,5 tahun dijalani dengan PJJ aka Pernikahan Jarak Jauh, menjadikan kami memang seperti belajar dari awal lagi ketika umur pernikahan menginjak bulan ke 19. Bahasa singkatnya memulai lagi seperti penganten baru. FYI ya, aku pernah menjalani proses belajar hidup jauh dulu sejak awal pernikahan kami.
Tidak semudah yang dibayangkan dan tidak seindah yang diharapkan. Tapi, trust me, semuanya begitu membahagiakan.
2 tahun ini kami masih berdua. 2 tahun pernikahan dan belum diamanahkan momongan itu 'sesuatuh' di hidup kami. Pertanyaan sekitar mulai mengganggu pada awalnya. Tapi menjadi sangat biasa setelahnya. Toh itu wajar kok..kalo belon lulus, pasti ditanyain "kapan lulusnya?", klo uda lulus: "Kerja dimana?", kalo uda kerja: "kapan nikah?', giliran dah nikah: "Kapan hamil?": begitu uda punya anak: "Kapan mo nambah momongan", daaaaaaaaaaaaaaaaaan seterusnya sampai tua. Kaaan, pasti juga semua orang bakal mengalami pertanyaan2 spt itu saat ini atau nanti pada waktunya. Bukan kemuadian cuek, tapi kami menjalaninya dengan santai, tetap positif thinking...itu kalo kata suami. Kalo para istri, tetep ya pasti ada 'kemrungsung'nya juga. Kalo engga kenapa ada AIH (Aku Ingin Hamil), sebuah komunitas ibu2 seindonesia yang mendampakan buah hati.
Menjalani kehidupan (sebenarnya) sejak beberapa bulan pernikahan ini terus memacu adrenalinku dalam berwirausaha. Sejak mengundurkan diri dari perusahaan sebelumnya, rasanya ga mau lagi untuk masuk di kawasan perkantoran. Cukup kapok, sodara2. Sempat dapat tawaran dan rekomedasi di beberapa perusahaan lokal, bahkan banyak sodara yang gencar menginfokan lowongan di perusahaan2 nasional. Tapi tetep dasar ngeyel, aku lebih memilih berdagang.
Dengan 'pembenaran' bahwa berdagang itu membuka 9 pintu rejeki dan merupakan salah satu sunah, maka pada akhirnya pilihanku bisa diterima banyak pihak. Terimakasih by the way ^_^. Tapi, back to reality, merintis usaha memang tak semudah bikin telor dadar. Dari mulai rugi sampai hampir menyerah pasti dialami oleh para pengusaha di dunia ini. Tapi itulah hidup bagiku. Selama beberapa waktu ini, setiap hari berpacu dengan waktu dan kreativitas. Cukup melelahkan, sempat sakit, tapi overall fun!!
Terimakasihku pada suami yang begitu sabar mendampingi setiap usahaku meraih tangga kesuksesan. Masih meraih ya, belum menaiki. Karna masih sangat jauh dari itu. Mas Mono, Ippho, Rangga Lela Lele, Yusuf Masur, dan banyak pengusaha lain yang dulunya harus berjuang mati2an untuk mendapatkan apa yang sekarang mereka nikamati. Aku belum apa2...masih sangat hijau dan bodoh. Untungnya punya laki yang sabar luar biasa :*
Bingung sebenenrnya mo nulis apa lagi. Mentok nich...maaf, ini sekedar curcol hari ini. Selamat hari kartini, selamat hari bumi, dan selamat hari pernikahan... #ngasihselamatsendiri ,,^_^,,
Well, karna hari ini 2nd anniv pernikahan aku dan suamih, bawaannya pengen cerita2. Hahaha...inilah sisa2 sifat ababil yang masih melekat erat dalam diri.
Uda 2 tahun aja nich nikah, tapi rasanya emang baru kemaren. #uhuk, secara emang belum lama ini barengannya. 1,5 tahun dijalani dengan PJJ aka Pernikahan Jarak Jauh, menjadikan kami memang seperti belajar dari awal lagi ketika umur pernikahan menginjak bulan ke 19. Bahasa singkatnya memulai lagi seperti penganten baru. FYI ya, aku pernah menjalani proses belajar hidup jauh dulu sejak awal pernikahan kami.
Tidak semudah yang dibayangkan dan tidak seindah yang diharapkan. Tapi, trust me, semuanya begitu membahagiakan.
2 tahun ini kami masih berdua. 2 tahun pernikahan dan belum diamanahkan momongan itu 'sesuatuh' di hidup kami. Pertanyaan sekitar mulai mengganggu pada awalnya. Tapi menjadi sangat biasa setelahnya. Toh itu wajar kok..kalo belon lulus, pasti ditanyain "kapan lulusnya?", klo uda lulus: "Kerja dimana?", kalo uda kerja: "kapan nikah?', giliran dah nikah: "Kapan hamil?": begitu uda punya anak: "Kapan mo nambah momongan", daaaaaaaaaaaaaaaaaan seterusnya sampai tua. Kaaan, pasti juga semua orang bakal mengalami pertanyaan2 spt itu saat ini atau nanti pada waktunya. Bukan kemuadian cuek, tapi kami menjalaninya dengan santai, tetap positif thinking...itu kalo kata suami. Kalo para istri, tetep ya pasti ada 'kemrungsung'nya juga. Kalo engga kenapa ada AIH (Aku Ingin Hamil), sebuah komunitas ibu2 seindonesia yang mendampakan buah hati.
Menjalani kehidupan (sebenarnya) sejak beberapa bulan pernikahan ini terus memacu adrenalinku dalam berwirausaha. Sejak mengundurkan diri dari perusahaan sebelumnya, rasanya ga mau lagi untuk masuk di kawasan perkantoran. Cukup kapok, sodara2. Sempat dapat tawaran dan rekomedasi di beberapa perusahaan lokal, bahkan banyak sodara yang gencar menginfokan lowongan di perusahaan2 nasional. Tapi tetep dasar ngeyel, aku lebih memilih berdagang.
Dengan 'pembenaran' bahwa berdagang itu membuka 9 pintu rejeki dan merupakan salah satu sunah, maka pada akhirnya pilihanku bisa diterima banyak pihak. Terimakasih by the way ^_^. Tapi, back to reality, merintis usaha memang tak semudah bikin telor dadar. Dari mulai rugi sampai hampir menyerah pasti dialami oleh para pengusaha di dunia ini. Tapi itulah hidup bagiku. Selama beberapa waktu ini, setiap hari berpacu dengan waktu dan kreativitas. Cukup melelahkan, sempat sakit, tapi overall fun!!
Terimakasihku pada suami yang begitu sabar mendampingi setiap usahaku meraih tangga kesuksesan. Masih meraih ya, belum menaiki. Karna masih sangat jauh dari itu. Mas Mono, Ippho, Rangga Lela Lele, Yusuf Masur, dan banyak pengusaha lain yang dulunya harus berjuang mati2an untuk mendapatkan apa yang sekarang mereka nikamati. Aku belum apa2...masih sangat hijau dan bodoh. Untungnya punya laki yang sabar luar biasa :*
Bingung sebenenrnya mo nulis apa lagi. Mentok nich...maaf, ini sekedar curcol hari ini. Selamat hari kartini, selamat hari bumi, dan selamat hari pernikahan... #ngasihselamatsendiri ,,^_^,,
Senin, Januari 02, 2012
Resolusi 2012
Tiap tahun baru selalu ditanya, "Apa resolusimu?" atau dengan kalimat lain "Apa harapan pencapaianmu?". Tahun memang selalu identik dengan titik nol suatu gagasan2 baru dalam hidup manusia. Entah sejak kapan, tapi tahun baru masehi memang menjadi sebuah titik awal perubahan suatu tren yang kemudian pelahan tetapi pasti akan menjadi ciri untuk tahun tersebut.
Secara pribadi, aku bukan penganut sistem tahun baru dengan 'kehebohan' malam menjelang detik2 pergantiannya. Sama dengan malam lainnya. Tapiiiiii, berbicara tentang pencapaian akan harapan, mungkin memang lumayan latah. Sebuah 'awal' yang diakui secara internasional, ga mungkin donk aku tetap dalam tempurungku. Aku coba evaluasi ulang hidupku di tahun sebelumnya dan bersiap menjemput tahun berikutnya yang (seharusnya) di kelas yang lebih tinggi.
Perjalanan 2011 bagiku adalah sebuah perjalanan yang penuh pertualangan. Seperti impian kecilku dulu, menjadi petualang. Yak, 2011 adalah tahun dimana aku berada pada puncak impian sebagai seorang freshgraduate minim pengalaman. Rekan2 setaraku masih berusaha kesana-kemari dengan ijazah dan surat lamaran, sedangkan aku awal tahun 2011 sudah diangkat utk duduk di kursi sebuah perusahaan raksasa nasional. Sebuah impian seorang sarjana yang terwujud, bukan? Tadinya, ya, tadinya memang kupikir demikian. Karir gemilang kupikir akan membuatku bahagia dan hidup 'sepenuhnya'. Dan ternyata, memang benar, manusia hanya mampu berencana...
Perjalanan demi perjalanan akhirnya membuatku memutuskan untuk berhenti menikmati pertualangan dan kembali pulang. Banyak yang menyayangkan, tidak sedikit pula yang memberi dukungan. Sebuah keputusan terbesar bagiku di tahun itu. Tahun 2011 banyak sekali pengalaman yang menjadi sumber pembelajaran masa depan bagiku. Banyak saudara yang kemudian sangat terasa keterikatannya.
Ga kerasa, sekarang uda 2012 aja. Saatnya menata impian dan harapan yg belum terlaksana, dan menuliskan proposal hidup yg baru untuk tahun ini. Perjalanan ke depan semoga 'naik kelas', walaupun memang harus dihadapi dengan perjuangan yang lebih berat.
Syukurku atas limpahan umur dan kesempatan hingga di tahun ini aku masih terus hidup, bahagia, sehat, dan dikelilingi oleh orang2 yang penuh kasih sayang.
Dan lagi, kali ini setelah aku memiliki toko online, silaturahmi dapat terus berkembang, lebih banyak sahabat, lebih banyak ilmu. Resolusi 2012, semoga menjadi manusia yang lebih bermanfaat dan bermartabat dunia akherat... aminn...
Jadi, apa harapan 2012 mu?
--semoga bermanfaat, ya.... ^_^
Secara pribadi, aku bukan penganut sistem tahun baru dengan 'kehebohan' malam menjelang detik2 pergantiannya. Sama dengan malam lainnya. Tapiiiiii, berbicara tentang pencapaian akan harapan, mungkin memang lumayan latah. Sebuah 'awal' yang diakui secara internasional, ga mungkin donk aku tetap dalam tempurungku. Aku coba evaluasi ulang hidupku di tahun sebelumnya dan bersiap menjemput tahun berikutnya yang (seharusnya) di kelas yang lebih tinggi.
Perjalanan 2011 bagiku adalah sebuah perjalanan yang penuh pertualangan. Seperti impian kecilku dulu, menjadi petualang. Yak, 2011 adalah tahun dimana aku berada pada puncak impian sebagai seorang freshgraduate minim pengalaman. Rekan2 setaraku masih berusaha kesana-kemari dengan ijazah dan surat lamaran, sedangkan aku awal tahun 2011 sudah diangkat utk duduk di kursi sebuah perusahaan raksasa nasional. Sebuah impian seorang sarjana yang terwujud, bukan? Tadinya, ya, tadinya memang kupikir demikian. Karir gemilang kupikir akan membuatku bahagia dan hidup 'sepenuhnya'. Dan ternyata, memang benar, manusia hanya mampu berencana...
Perjalanan demi perjalanan akhirnya membuatku memutuskan untuk berhenti menikmati pertualangan dan kembali pulang. Banyak yang menyayangkan, tidak sedikit pula yang memberi dukungan. Sebuah keputusan terbesar bagiku di tahun itu. Tahun 2011 banyak sekali pengalaman yang menjadi sumber pembelajaran masa depan bagiku. Banyak saudara yang kemudian sangat terasa keterikatannya.
Ga kerasa, sekarang uda 2012 aja. Saatnya menata impian dan harapan yg belum terlaksana, dan menuliskan proposal hidup yg baru untuk tahun ini. Perjalanan ke depan semoga 'naik kelas', walaupun memang harus dihadapi dengan perjuangan yang lebih berat.
Syukurku atas limpahan umur dan kesempatan hingga di tahun ini aku masih terus hidup, bahagia, sehat, dan dikelilingi oleh orang2 yang penuh kasih sayang.
Dan lagi, kali ini setelah aku memiliki toko online, silaturahmi dapat terus berkembang, lebih banyak sahabat, lebih banyak ilmu. Resolusi 2012, semoga menjadi manusia yang lebih bermanfaat dan bermartabat dunia akherat... aminn...
Jadi, apa harapan 2012 mu?
--semoga bermanfaat, ya.... ^_^
Selasa, November 15, 2011
Harta yang berharga
Seorang professor berdiri di depan kelas filsafat.
Saat kelas dimulai, dia mengambil toples kosong dan mengisi dengan bola2 golf.
Kemudian berkata kepada murid2nya, apakah toples sudah penuh...?
Mereka setuju !!!!
Kemudian dia menuangkan batu koral ke dalam toples, mengguncang dengan ringan.
Batu2 koral mengisi tempat yg kosong di antara bola2 golf.
Kemudian dia bertanya kepada murid2nya, apakah toples sudah penuh??
Mereka setuju !!!
Selanjutnya dia menabur pasir ke dlm toples..
Tentu saja pasir menutupi semuanya.
Profesor sekali lagi bertanya apakah toples sudah penuh..??
Para murid berkata, "Yes"...!!
Kemudian dia menuangkan dua cangkir kopi ke dalam toples, dan secara efektif mengisi ruangan kosong di antara pasir.
Para murid tertawa...
"Sekarang.. saya ingin kalian memahami bahwa toples ini mewakili kehidupanmu."
"Bola2 golf adalah hal yang penting; Tuhan, keluarga, anak2, kesehatan, teman2."
"Jika yang lain hilang dan hanya tinggal mereka, maka hidupmu masih tetap penuh."
"Batu2 koral adalah hal2 lain, seperti pekerjaanmu, rumah dan mobil."
"Pasir adalah hal2 yang sepele."
"Jika kalian pertama kali memasukkan pasir ke dalam toples, maka tidak akan tersisa ruangan untuk batu2 koral ataupun untuk bola2 golf..
Hal yang sama akan terjadi dalam hidupmu."
"Jika kalian menghabiskan energi untuk hal2 yang sepele, kalian tidak akan mempunyai ruang untuk hal2 yang penting buat kalian."
"Jadi sediakan perhatian untuk hal2 yang penting untuk kebahagiaanmu."
"Bermainlah dengan anak2mu."
"Luangkan waktu untuk check up kesehatan."
"Ajak pasanganmu untuk keluar makan malam."
"Berikan perhatian terlebih dahulu kepada bola2 golf."
Hal2 yang benar2 penting. Atur prioritasmu.
Baru yang terakhir, urus pasirnya.
"Salah satu murid mengangkat tangan dan bertanya, "Kopi mewakili apa?"
Profesor tersenyum, "Saya senang kamu bertanya."
"Itu untuk menunjukkan kepada kalian, sekalipun hidupmu tampak sudah sangat penuh, tetap selalu tersedia tempat untuk secangkir kopi bersama sahabat".;)
sumber: geandra_uk@yahoo.com (milis pembaca asmanadia)
Kamis, Oktober 27, 2011
Blogging itu "sesuatu"
He?? Ini HARI BLOGGER?!?! Yach, begitulah saya, blogger
kuper sepanjang jaman. Hari ini setauku hari listrik nasional, aka hari
ultahnya perusahaan listrik Negara ke 66. Eh ternyata, hari ini juga hari
blogger. Kebangeten memang, aku baru tau setelah gembar gembor di twiterland
mulai rame ngomongin blogger.
Sebagai blogger juga, (ehem, #benerinkacamata) rasanya ga
‘afdhol’ dan pelit kalo hari ini ga nulis apa2 di blog. Setelah tadi sempat
keluar mencari inspirasi, akhirnya nihil, masih bingung mo nulis apa hari ini.
Secara tadi cuma ke toko kain dan mempir rumah temen aja..hehe, bahkan kain
yang dicari juga belom nemu, alhasil yang didapet segelas es syrup dan obrolan,
^^ love it!
Mungkin ngomongin pengalaman ngeblog aja kali ya. Ini bukan
contoh yang baik untuk ditiru, karna yach seperti yang kalian lihat, ini bukan
blog professional dengan update’an post yang rutin. Fokus tulisannya pun bias,
sama lah kaya penulisnya. (ngaku kok, ga usah disuruh)
Sedikit flashback yach, aku punya kebiasaan nulis sejak kelas
4SD. Yep, nulis diary. Jaman itu, buku diary biasa digunakan untuk menulis
biodata temen2, ya aku juga punya, tapi aku punya satu buku lagi di rumah,
khusus untukku dan Cuma boleh dibaca olehku. Apapun yang terjadi di sekolah
atau dimanapun pasti kutulis. Sampe sekarang masih ada lho…hehehe, lucu kalo
dibaca lagi. Malu2in tepatnya.
Kebiasaan itu berlanjut sampai lulus di sekolah dasar.
Memasuki dunia sekolah menengah pertama, aku makin sering menulis. Jarang ada
absen hari di diaryku. Bahkan, karna kehabisan buku, sebagian aku tulis di
kertas sisa buku lamaku kemudian kujilid sendiri (ini baru kasian namanya).
Saking banyaknya, aq membuat no pada masing2 diaryku agar kelak saat aku ingin
membacanya, aku tau urutannya, pikirku dulu. Memasuki SMA, nah di masa2 paling
indah (kata orang) ini, aq masih sering curhat di diary. Sampai kelas 3, karena
persiapan ujian, aku mulai jarang menulis. Hampir tidak pernah. Waktu itu,
friendster lagi jaya2nya, pernah beberapa kali ngeblog di friendster tapi ga
berhasil. Aku merasa tulisanku basa-basi dan kaku tanpa bisa blak-blakan
seperti di diary.
Aku mulai mengenal blog lagi setelah kuliah, tahun 2005
tepatnya. Sempet juga bikin di blogspot, tapi karna ga rutin ngeblog dan harus
ke warnet, aku lupa passwordnya, dan hilang…ya sudah. Sempet mencoba bikin
voice diary. Semacam kita merekam suara kita dan ngomong apa yang pengen
diomongin. Berhasil dengan 3 kaset diary dengan logat medok-ku..(ok, tengkyu
itu saja).
Sibuk dengan aktifitas kuliah, semester pendek, kejar target
lulus cepet, skripsi, dan ujian pendadaran, blog mulai kutinggalkan sedikit
demi sedikit,dan hilang. Aku mulai menyadarinya tahun 2010, ketika kegalauan
super melandaku. Hihihi, kebiasaan kalo galau curhat pake nulis kalo ga nulis
kaya ada yang kurang. Yach, akhirnya munculah WIFESHOPES ini. Wife’s hopes,
harapan seorang istri yang ingin pulang ke suami dan keluarganya. Sangat galau
dan klasik aku memulai blog ini. Awalnya aku belum cukup punya nyali untuk
nulis lagi. Berantakan dan membingungkan, itu kesan pertamaku saat menulis post
pertama di blog ini sebelum di publish. Setelah ngendap di draft beberapa
minggu lebih beberapa hari plus banyak perbaikan, akhirnya aku beranikan untuk
mempublish. Nah setelah itu, aku mulai menulis kembali. Alhamdulillah, tanggapannya
cukup positif walo kadang Cuma ngasih opini pada artikel copas, hihihi…
Yach, setelah itu aku sadar bahwa menulis itu adalah bagian
dari hidupku sejak lama. Aku bukan penulis, bahkan jauh dari itu. Tapi dengan
menulis dan dibaca, ada rasa tersendiri. Bahkan jika itu hanya satu dari sekian
ribu orang yang membaca. Menulis mengajarkanku jujur pada apa yang kulihat,
kudengar dan kurasa. Menulis itu proses belajar, seperti saat guru meyuruh kita
merangkum suatu ceramah atau penjelasan di depan kelas. Menulis adalah
merangkum fenomena kehidupan yang kita alami, atau yang dialami oleh orang
lain, atau merangkum apapun yang diterima indra kita kemudian menuangkannya
lewat tulisan dengan bahasa kita sendiri.
Kalau sekarang banyak orang yang bisa berpenghasilan lewat
menulis blog, yach tentu aku juga mau, suatu hari, insya Allah, tapi setidaknya
sekarang ini aku sedang belajar terus memperbaiki tulisanku, mengasahnya,
membuatnya jadi manfaat dan semoga kelak menjadi bernilai.
Selamat menulis teman-temin… Kalaupun tidak di blog, di
kertas juga bisa, atau di software writing
di computer kamu juga ok. Menulis membuatku bahagia dan (semoga)
bermanfaat, semoga kamu juga. Selamat Hari Blogger, readers.. ^^
Langganan:
Postingan (Atom)














