Tampilkan postingan dengan label Cerita MASHKA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita MASHKA. Tampilkan semua postingan

Senin, Juli 06, 2015

Selamat milad kedua, le...



Saat raga memang tak mampu lagi bersua..
Biar lirih kata yang terangkai dalam doa
yang jadi penggantinya...

Ayah ibu mana yang tak rindu..
saat buah hati harus pergi terlebih dahulu..
Ayah ibu mana yang mampu menepis air mata..
saat buah cinta harus menjadi satu dari penghuni surgaNya..
Dan, ayah ibu mana yang tak bahagia,
kala menyadari Allah tak pernah ingkari janjiNya...

Maka, meski kesedihan pernah merenggut rasa,
kesepian pernah hampir meminta binasa saja,
Allah tak pernah cabut karunia.
Hadirmu mungkin memberi bahagia,
tapi pergimu penyampai hikmah dan hidayah yg mencahaya...

Kini pendar iman menyelimuti jiwa,
rumah dan seisinya...
Jannah jadi tujuan utama,
dan dunia menjadi terasa hina..
Amanah baru segera hadir,
adikmu pembawa bahagia sebentar lagi lahir.
Tapi ia tak pernah menggantikan,
tapi melengkapi puzzle dalam rangkaian.

Dua tahun lalu..
ketika bulan penuh di ramadhan..
Engkau hadir..
Kemudian pergi begitu cepat.
Tak pernah terbersit, bahwa itulah wujud cinta Rabb kita..
Yang mencabut kufur lagi futur dalam diri orangtuamu..mencabut cintanya pada dunia..
mencabut cinta kami padamu yg hanya fana.

Dan rencana terbaiknya..
menarikmu di sisiNya..
dan menghinakan dunia di mata ..
menarikmu ke sisiNya
dan menjadikan rindu surga dalam dada..

Selamat milad, anakku..
Terimakasih telah menjadi simpanan bagi kami.
Kebaikan telah meliputimu kini..
dalam syurga nan didamba.
Tak ada doa selain agar kami pantas
membersamaimu kelak.
Biar rindu jadi cambuk iman ...
Biar rindu jadi ketertundukan yg semakin dalam pada Rabb kita.
Biar rindu jadi pengobar semangat juang meraih syurga...

-ummumashka- (15 ramadhan 1436h)

Rabu, Juli 23, 2014

23 Juli 2014

Tanggal ini di tahun ini tepat kamu lahir, dan pulang kembali pada Allah.
23 juli, 15 ramadhan.

Apa kabar kesayangan umi? :,)
Umi kesepian taraweh sendiri...ga kaya tahun lalu masih ada kamu di rahim ummi.

Tapi umi seneng...skr kamu maah sdh deket dg Allah...

Umi cuma pgn bilang..

Umi kangen, kak....sampaikan pada Allah ya, biar kita bisa bertemu dalam mimpi…♥♥♥

Jogokariyan
23072014

Kamis, Mei 01, 2014

Kaukah itu, Nak?

Aku duduk di sebuah bangku taman yang terbuat dr kayu dan besi. Biasa saja, tak ada yang istimewa. Di samping kanan bangku terdapat sebuah pohon, entah pohon apa, daunya yang lebat membuat tempat yang kuberada tak terkena sinar matahari yang panas.
Sebelah kiri bangku terdapat sebuah pohon semak. Duh, apa ya istilahnya, seperti pohon '''tetean'' kalo orang jawa bilang. Tanaman yang biasa ditanam di taman-taman dan terkadang bisa dibuat berbagai macam bentuk dengan cara memangkasnya.

Slide bergerak begitu cepat, entah apa yg kulakukan, dimana aku, aku tak sempat berpikir. Hingga datanglah seorang anak laki-laki. Umurnya mungkin sekitar delapan hingga sepuluh tahun. Perawakannya tak gemuk, tak juga kurus. Bajunya putih, dengan model seperti baju koko, tanpa peci di kepalanya. Rambutnya lurus, terlihat agak tipis-tipis, dan klimis.
Semua terlihat, kecuali wajahnya. Iya wajahnya! Dengan cepat ia mendatangiku, menarik tanganku, seolah ingin mengajakku ke suatu tempat. Tangannya dingin.
Aku mengikuti saja di belakangnya dengan setia, tanpa bisa mengungkapkan pertanyaan yang ada di kepalaku. Siapa dia? Kemana dia membawaku? Kenapa aku?

Aku menurut saja, seperti ibu yang diajak anaknyake suatu tempat kesukaanya. Tiba-tiba kami sudah berada di depan tanah lapang, dengan bunga penuh warna dan pohon yang tumbuh menyebar membentuk taman yang menghipnotis mata.
Sejenak badanku seolah melayang, merinding saat kutengok kembali anak itu di sebelahku.
Mashka?
Kaukah itu, Nak?

•••
Aku terbangun. Usai tilawah tadi ternyata aku tertidur. Mimpiku berlalu begitu saja, dan baru teringat saat asar.
Apapun itu, semoga Allah berikan barakahNya dg mimpi baik dan  jauhkan kita dari mimpi tipu daya syaitan. Aamiin.

Rabu, Februari 19, 2014

Sedang apa kau di sana, Nak?

Di saat anak-anak seusiamu mulai bisa berinteraksi dg orang dewasa,
sedang apa kau di sana, nak?
Di saat anak-anak seusiamu mulai berjingkrak seolah ingin bangun dari pangkuan,
sedang apa kau di sana, nak?
Di saat anak-anak seusiamu mulai belajar makan,
sedang apa kau di sana, nak?
Di saat anak-anak seusiamu mulai mengucapkan kata tak jelas,
sedang apa kau di sana, nak?
Di saat anak-anak seusiamu berguling, merangkak dan menggapai semua barang di dekatnya,
sedang apa kau di sana, nak?

Di saat semua orang tua berjalan dan membanggakan anak mereka yg seusiamu,
umi abi di sini  jg sdg berbangga padamu, wahai prajurit syurga...
Di saat semua orang tua menggendong anak mereka yg seusiamu,
maka umi dan abi jg diam2 sedang membayangkanmu di pangkuan bapak para nabi, Ibrahim as.
Tapi di kala orang tua anak seusiamu mengeluh capek, tidak bagi umi dan abi, sayang...
Tak akan letih hati ini meski selalu terkejar rindu padamu,
Tak akan tumbang diri kami meski godaan hilang asa selalu di depan mata.

Sedang apapun kau di sana, sayang...
biarlah umi tetap merindukanmu dalam hati...
memelukmu dalam dekapan sayang yg hanya terasa di sanubari...




kerinduan pada sang prajurit syurga.
19/2/14

Senin, Januari 20, 2014

Mimpi Terindah



Aku menaiki sebuah tangga berlantai putih bersih. Sisinya terbuat dari kayunberwarna hijau lembut. Entah apa yang kulakukan di bangunan yang asing iru. Namu langkahku terus maju, melewati lorong berdinding putih, berlantai putih, dan bahkan langit2nya pun putih. Bersih, seolah tanpa cahayapun putihnya mampu menyinari. Aku terus berjalan, tiba2 kulihat seorang ibu, duduk di dekat sebuah box bayi. "Rumah sakitkah ini? Kenapa ibu itu seolah seperti saat aku menunggui Mashka di rumah sakit?'' batin hatiku.
Semakin dekat, wajah ibu itu semakin jelas, ya, aku mengenalnya. Kusapa beliau'
"Lho bu, putranya kenapa? kan dari kemari sehat2 saja to"
"Anak saya sakit, mbak..'' wajahnya sendu
Aku agak heran, karna setiap kali bertemu sapa, anaknya selalu terlihat sehat kok.
Yang lebih terasa aneh, kenapa ibu ini cuma seolah satu2nya pasien di bangunan yg kurasa seperti rumah sakit serba putih ini.
''Ibu yang sabar ya...Adek ga sakit ini. Sehat gini ko'', hiburku tulus, karna anaknya memang terlihat bugar.

Aku berbalik hendak pergi, tak sadar ternyata ada pintu di samping belakangku. Penasaran, kubuka pintu itu. Berbeda dengan suasana sebelumnya, kini aku berada di sebuah ruangan penuh warna pastel yg lembut. Wallpaper2 lucu khas ruang anak menghiasi dinding di ruangan itu. Terdapat banyak box bayi di situ, samping liri dan kanan juga ada 1 di bagian tengah, tepat didepan tempatku berdiri. Box bayi yang terlihat begitu nyaman dan empuk. Di dekat box paling belankang sebelah kanan ada pintu belakang, dan ehh, aku kaget karna kulihat lagi 2 orang yang kukenal.
''Kemana saja kamu din...kok lama banget'' tanyanta seolah telah menungguku.
Aku berjalan mendekatinya, ada bayi di box itu. Wajah itu...bayi itu mirip sekali dengan Mashka, namun mungkin usianya sudah hitungan bulan meski dalam bedong yg berwarna biru pastel. Pipinya berisi, agak kemerahan, aku menatapnya, ia membalasnya dan tersenyum padaku.
Tubuhku kaku, tak sadar mulutku berucap, ''Mashka...''
''Iya, ini Mashka, kok kamu malah diem'' ungkap wanita yg kukenal satu lagi.
"Mashka? Bener, mbak? Tapi Mashka kan...'' tenggorokanku tercekat tak berani melanjutkan kalimat.
''Heh, ya ini Mashka...''
Tak menunggu lama, segera kedekap bayi itu. Dalam gendonganku, kutatap kembali wajahnya, ya..ini Mashka...ini Mashka, hatiku berbunga.
Wajahnya bulat, pipinya berisi dan kemerahan..ia menyunggingkan tawa lucunya di dekapku sambil terus menatapku.
"Kamu ga sakit sayang...kamu sehat'' kataku..
"Iya ibu, Mashka tidak sakit, dia sehat sekali. Lihat saja, dia begitu sehat bukan? Dia hanya dirawat sebentar disini, sekarang boleh ibu bawa pulang..'' Suara itu datang dari seoeang wanita cantik keibuan yang baru datang dari pintu belakang. Pakaiannya putih bersih, sepertinya dia perawat. Nada bicaranya syahdu dan lembut. Juga tatapanya begitu menentramkan.
''Saya yang menjaganya selama ini...sekarang anda boleh membawanya pulang'' tambahnya dengan senyuman.

''Kita pulang ya, nak...Umi tak sabar bertilawah bersamamu lagi. Pasti Abi, uti dan kakung tak sabar juga bertemu denganmu...'' kataku sambil terus membawanya dalam gendongan seolang tak mau kulepaskan.
Wajah dalam gendonganku menatapku bersama tawa kecilnya...seolah dia sedang berkata padaku, ''Ummi, akhirnya kita bertemu...''

Ya, nak...Allah kabulkan doa umi...

=====================================

Kami menikmati sahur dengan haru usai kukabarkan aku baru saja bertemu sang buah hati. Aku tahu, rasa rindu yang sama besarnya juga Abinya rasakan. Air mata kami seolah bicara dalam diam sembari menikmati menu sahur.
Saat qiyamul lail, antara azan dan iqomah, usai tilawah, usai fardhu, usai dhuha, doa pertemuan dalam mimpi selalu kupanjatkan...Semoga ini jalan yg Allah beri, jawaban yg Allah beri. Ada kerinduan yang meluapn dan kesedihan kala terbangun, namun ada kebahagiaan tersendiri kala mengingat kembali ia begitu sehat dan lucu kini.
Semoga ini jauh dari hasutan syaitan, krn wudhu, syahadat,doa tidur, ayat kursyi, Al Fatihah, Al Ikhlas, Al Falaq dan An Nas yg selalu menemani sebelum lelapky. Allahumma amiin..

Kamis, Januari 09, 2014

Ini Kisah Hijabku...

''Sejak kapan kamu mulai pake jilbab?''
Begitu kurang lebih pertanyaan yang kerap kudengar dr teman/ kenalan yg mulai berhijab.

Jika ditanya kapan kadang masih bingung ngejawabnya. Karna dalam hidupku, ada proses panjang dalam urusan yang satu ini...HIJAB.

Perkenalanku dengan jilbab dimulai sejak memasuki bangku sekolah menengah pertama. Sejak Sd aku memang sudah pake jilbab, tp cm hari jumat sabtu saja, saat memakai pakaian seragam internal (aku bersekolah di swasta Islam).
Tapi sejak mendapati masa baligh di awal Smp, kakakku lsg agak memaksaku memilih seragam sekolah yg mengenakan jilbab. Awalnya masih ragu, namun kemudian mau juga.
Aku memang mengenakan jilbab di sekolah, tapi ketika keluar dari kewajiban berseragam, maka jilbab itu juga lepas dari kepala ku. Bahkan aku yg sempat agak tomboy kala itu, cenderung memilih topi dibanding jilbab.

Hingga suatu saat, pada tahun keduaku di smp, dipertemukanlah aku dengan seorang sahabat cantik yg menganggapku sbg kakak, meski kami setingkat. Masih ingat jelas percakapan kami di waktu istirahat kala itu:
AM : ''Mbak, aku boleh ngomong sesuatu nggak?'' tanyanya dg nada agak serius, berbeda dari biasanya.
Aku:''Tentu..kenapa''
AM: ''Tau nggak, mbak kayak BUNGLON deh, hihihi..." katanya sambil bercanda
Aku: ''Hee??? enak aja. Kok kaya bunglon siy?"
AM: Iya, soalnya mbak kadang pake jilbab kadang engga. Kalo di sekolah dipake jilbabnya, klo pas ga sekolah dilepas. Kan berubah2 kaya bunglon..hahaha''
Aku: "Eh..iya juga ya...awas kamu ya..''
AM: "Makanya, ga usah dilepas2 deh...kmn aja pake jilbabnya..kan makin cantik..."
Aku: ''Oooo...gitu ya...'' sambil mikir bener juga nih anak

Nah, dari situlah awal mulanya aku mulai belajar pake jilbab selain di sekolah. Eits, tapi tunggu, belum kelar ini ceritanya.
Meski sudah beridentitas muslimah berjilbab, jilbabnya juga pendek2, sesuai mode. Dari jaman bordir kartun sampai satin super tipis.(hiks, inget dosa lagi)
Nah, yg seperti ini lanjut dah sampe kuliah. Berjilbab tp tetep ikut gaya. Pas gaya pendek y pake pendek, pas ngetrend jilbab2 tipis, eh ikutan juga. Bajunya juga gitu...masih celanaan jins, pake rok kadang, tp baju masih kecil. Korban fashion banget pokoknya.

Sampai suatu ketika di semester pertengahan kuliah, aku sempat memutuskan ingin berhijab syari, kemana2 pake rok, gak jins lagi.Iya, sempet kok, tapi cuma bertahan beberapa minggu. Ini kali yg dibilang tobat tomat, ato esuk tempe sore dele. Penyebabnya karna ga tahan godaan masa muda utk selalu ngikut fashion, dandan, takut ga dibilang cantik (duuh, byk bgt ya dosanya). Saat itu mungkin krn masih ikut2an, bukan benar2 panggilan hati.

Semua itu berlangsung lama. Yup, terlebih saat musim fashion hijab. Sempet jualsn juga kok, dr pasmina ubel2, punuk onta, sampe makeup hijab. Semua berjalan seperti itu, bahkan hingga bbrp bulan lalu sbelum Mashka lahir. Dan kemudian lahirlah Mashka, semuanya berubah. Mashka adalah titik balik kehidupanku. Mashka adalah teguran untukku, rasanya seperti itu. Penciptaannya mungkin memang Allah tujukan untuk memberiku peringatan. Kerinduanku pada Mashka membawaku pada kerinduan syurga, kerinduan syurga membawaku kembali pada AlQur'an dan Sunah Rasulullah.

Maka sejak saat itu, hijab syar'ilah pilihanku. Hijab yg saat ini ramai dikampanyekan. Bukan, kali ini aku tak berhijrah krn ikut2an. Sebelum memutuskan untuk mengenakannya, hati ini sempat terombang ambing. Namun, yakin bahwa hidayah itu mahal, maka seluruh isi lemari yg tak bs kugunakan sesuai syar'i kuhibahkan. Tak peduli betapapun dulu aku menyukainya. Kepergian Mashka seolah membuka lebar mataku pada peristiwa setelah kehidupan.

Jangan salah sangka, dulupun aku ngerti kalo kiamat itu pasti, mati itu pasti, yaumil hisab itu pasti dan surga neraka itu ada. Aku tau. Namun, aku masih bs bersenda gurau, berpenampilan tak syari, dan melakukan pekerjaan sia2 (semoga Allah mengampuniku..aamiin). Rasa takut itu mungkin saja terkikis krn sifat2 yg secara tak sadar memang sudah mengotori hati.
Tentang berhijab syar'i, dulu pun sempat terpanggil, namun silau dunia masih menutup hati.
Tapi tidak setelah Allah memanggil Mashka kembali ke sisiNya. Dunia ini terasa begitu hina. Apapun yg sifatnya dunia sepertinya tak lagi penting. Aku tiba pada titik kehinaan sbg seorang hamba, seperti mualaf yang awalnya tak mengerti ajaran Islam yg memeluk Islam dengan hati...dan itulah akhirnya yg membuatku berhijab syari.

Jadi, mengejar syurga krn Mashka, bukan karna Allah?  Mungkin akan timbul pertanyaan seperti itu.
Mungkin akan terkesan seperti itu. Apapunlah. Tapi dibalik semua itu, rasa takut pd Allah semakin besar, rasa hina terhadap diri sendiri jg demikian. Hari perhitungan seolah akan terjadi esok hari, sementara dosa rasanya masih menumpuk.

Mungkin agak lebay siy ya...tapi seperti itu yg kurasakan. Terjemahan dan tafsir Qur'an dari dulu punya, namun tak pernah benar2 kubaca dan kuhayati maknanya. Tilawah tiap hari, tp cm spert formalitas, 'yg penting ngaji', tanpa ngerti maksudnya. Aku merasa masa laluku benar2 diliputi kebodohan dan sia2. Tapi syukurlah, Allah kirimkan Mashka untukku. Kembalinya  Mashka memberiku banyak pelajaran. Aku seperti dituntun pelahan mengenal orang2 baik dan menuntunku belajar bagaimana mjd muslim yang kaffah. (insyaAllah)

Komentar orang? Hmmm...jangan tanya,,
dari mulai " Kamu kedinginan? ko kerudungnya skr panjang amat, kaoskaian pula'' ''Kamu skr ikutan partai X?'' sampai ''Ga asik loe, ga dandan ky dulu lagi", dan banyak lagi. Menciutkah nyaliku seperti saat kuliah dulu? Tidak. Buat apa? karna dandanku hanya untuk suami, dan saat orang lain menghina, maka biarkan saja. Asal rapi, bersih, maka aku yakin ini hanya soal waktu.

Jadi apa sekarang sudah sempurna? Jauh dari itu. Dan entah bisa atau tidak, yang jelas aku masih harus banyak belajar, menuju Islam yang kaffah. Cukup...biar aku saja yg diperingati begini keras hingga menemukan cahayaNya, jangan kalian.
Hidayah begitu mahal,
ia hanya datang jika Allah sayang,
maka jangan sia2kan kala petunjukNya hadir menyapa hati.

''…  Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya).” (QS. asy-Syuraa: 13)

Semoga posting ini menjadi pelajaran dan silakan ambil hikmahnya. Semoga kita termasuk orang2 yg diberi petunjuk.

Jumat, Januari 03, 2014

Kerinduan di Masjid Kampus

Semalam aku mengikuti suatu majelis ilmu di Masjid ugm. Begitulah, selain mengerjakan tugas ibu rt, jahit menjahit, memburu majelis ilmu jd keasyikan tersendiri. Tak masalah, ketika mjd minoritas dlm penampilan krn sebagian besar akhwat2 mengenakan burqa (hijab penutup wajah), yg terpenting ilmunya dapet.

Semalam, bahasannya tentang jurus2 menjaga keharmonisan rumah tangga. Bagaimana kwajibang istri dan suami, bgmn saling memperlakukan satu sama lain, hakikat rumah tangga, dll.

Anak-anak kecil yg begitu banyak berlarian kesana kemari. Bahkan magribku sempat tak tuma'ninah karna mendengar tangisan bayi yg mungkin usianya masih hitungan 1-3 bulan. Di sekelilingku para ibu memangku anaknya, ada juga menggendong, menimang2 ananknya. Ada yg mengelus rambut anaknya saat anaknya mulai terlihat mengantuk..Ya, hal itu benar2 di sekelilingku. Di shaf depanku, disamping kanan kiri, di belakang, bahkan di luar shaf.

Ingatanku kembali pada april hingga juli lalu. Saat tiap selasa pagi aku membawa Mashka di perutku, kemudian menaiki tangga masjid ini...semakin hari semakin berat. Menunggu jam 9 untuk berangkat yoga hamil sembari dhuha dan menuntaskan target khatam sebelum kelahiran.
Mengelusnya lewat permukaan perut sembari mengajaknya berbicara...

"Nak, klo sudah lahir nanti, trus kamu uda bisa umi ajak jalan2, sering2 ke sini yuk ( maskam ugm). Habis umi ngiri tuh ibu2 itu bs ngajarin anaknya yg msih kecil ikutan dhuha sampai 6rakaat. Tumbuh jd anak sholeh ya, nak...Mencintai Allah dan RasulNya di atas segalanya."

Jika kemarin langgar dekat rumah, posting ini pun masih ttg kenangan Mashka di maskam ugm. Semalam sempat meneteskan airmata rindu yg tiba2 menyeruak di tengah kebisingan suara canda dan tangis anak2, serta suara al Ustadz yg sdg mengisi.

Tapi bagaimanapun jg, semalam pelajaran berharga juga kudapat. Pelajaran syukur dan intropeksi. Syukur akan visi rumah tangga yg kami bangun, syukur akan suami dan rumah yg menentramkan dan penuh kasih, intropeksi sbg istri, sbg ibu dan calon ibu, sebagai kaum yg sebagian bsr mjd bahan bakar jahanam bila kewajibannya sbg istri tak dipenuhi.

Terimakasi (lagi) ya Allah...

Selasa, Desember 31, 2013

Kerinduan di Penghujung Masehi 2013

Saat-saat usai jamaah di langgar memang saat yang paling membuat umi merindukanmu, nak...
Sejak tanda positif ada di testpack, entah ruhmu telah ditiup atau belum olehNya, saat itulah umi mulai bertekad tak akan bolong2 lagi jamaahnya. Meskipun pada prakteknya, umi absen juga.
Saat detak jantungmu mulai terekam oleh usg, saat itulah umi juga kerap berkomunikasi denganmu usai shalat. Meski secara fisik organmu belum terbentuk sempurna.

Dan alangkah bahagianya saat tendangan2 kecilmu mulai umi rasakan. Bahkan tak jarang umi memanggilmu...

Saat kamu mulai terasa berat, bahkan hingga hari2 menuju kelahiranmu, umi malah semakin semangat membawamu ke rumah Allah. Memang, umi mulai absen tarawih berjamaah saat usiamu beranjak 9 bulan dikandungan. Tapi awal2 ramadhan umi tekadkan untuk mengajakmu selalu tarawih berjamaah. Meski harus bawa minum dan diletakkan di samping sajadah, dan sapu tangan untuk mengelap keringat umi.

Ingatkah kau, anakku Mashka sayang...usai sholat kita akan memohon pada Allah agar dirimu tumbuh menjadi anak yg mencintai masjid dan memakmurkannya. "Robb, tumbuhkanlah anak dalam rahim hamba ini menjadi salah satu hambaMu yg mencintai masjid, yg mencintai jamaah spt kakung dan abinya''...Tak jarang kemudian kamu juga membalasnya dg gerakan.

Maka, kini, usai sholat selalu menjadi momen umi saaaaaangat merindukanmu, sayang. Tak disangka, ternyata Allah lebih mencintaimu dibanding umi, Dia juga sayang umi, buktinya kini kita dipisahkan sementara agar engkau, wahai anakku Mashka, dapat menikmati rumah langitNya.

ujung 2013
kamar timur langgar

Selasa, November 19, 2013

Rindu pada Prajurit Surga

Umi masih membaca AlMulk.
Airmatanya mengalir, diantara diam... tangan kami yg menggenggam seolah jadi alat komunikasi tersendiri yg hanya dimengerti kami berdua.

"Bi, mungkinkah kita bisa meminta agar kakak bisa bertemu idola kita, Rasulullah di firdaus?"

"Insya Allah...."

"Tp entah knapa umi selalu berdoa demikian lho abi... saat rasa rindu ini tak terbendung, maka yg umi minta ke Allah y spt itu. Soalnya surga kan di luar logika, umi g bisa ngebayangin. terus umi ngebayangin aja klo kakak sdg bertemu dg Rasulullah, kluarga, dan sahabatnya. Dg begitu umi lega...Krn Allah sdg menjamu kakak brsama manusia yg paliiiiing mulia."

Air mata kami trs menerus tumpah, meski tanpa isak...
Sampai akhirnya istighfar dan serangkaian surah membuat kami lelap untuk menyambut waktu bermesra dg Maha Pemilik Semesta untuk mengadu...

#rindusangprajuritsyurgamashka

181113

Senin, Oktober 14, 2013

Ied Adha "Pertama"

Sekian kali merasakan hari raya iedul adha, kupikir meyakan hari raya berjauhan dengan keluarga adalah ujian terberat yang pernah kujalani, namun sepertinya aku (lagi2) salah. 
Kini aku harus dihadapkan pada hari raya tanpa buah hati yang sebelumnya telah menjadi harapan indah. Inilah aku, manusia hina yang hanya memiliki kekuatan untuk berencana, karna masa depan adalah ghaib, dan Dia Yang Maha Menentukan yang berhak memutuskan.

Beberapa kali kejadian setaun lalu terbersit kembali. Bulan ini, di tahun sebelumnya, ketika mertua menunaikan ibadah haji, keyakinan bahwa setiap doa mereka akan diijabah Allah begitu terasa di hati. Harapan bahwa kali itu Allah pasti memberi keturunan untukku dan suami seolah benar2 terasa dekat. Dan benar saja, sepulang mertua beribadah haji, Allah menitipkan Mashka di rahimku. Ya, masih sangat jelas diingatan. Dan sejak itu, hingga ramadhan lalu, hidup terasa begitu indah, tanpa cela kesedihan yang berarti.
Harapan bahwa hari raya-hari raya setelahnya akan ada senyum bahagia dari sang  buah hati tergambar. Dan sekali lagi, masa depan adalah hal paling ghaib, kini ketika takbir hari raya menggema, ternyata tangisan buah hati belum memenuhi rumah ini.
Tapi, alhamdulillah, tahun ini aku masih diberi kesempatan untuk memohon masa depan yang bahagia, terutama masa depan akherat, saat dimana aku bertemu Mashka kembali, Insya Allah... ^_^
Sudah galaunya,hari ini disunahkan untuk bersuka cita. Dan semoga Allah melindungiku dari kesedihan selama hari raya ini, karna suka cita jauh lebih dianjurkan di hari-hari ini...Aamiin..

===========
Kembali pada makna hari raya ini, ketika Ibrahim.as menerima perintah Allah untuk menyembelih sang putra kesayangan, Ismail.as. Tak bisa kubayangkan betapa kala itu Ibrahim.as dilanda kegalauan yang amat sangat. Godaan dari syetanpun tak henti2nya mrerayu. Tapi bukanlah Ibrahim.as bila tak mampu melawan segala godaan dan rela hati mengorbankan sang buah hati demi ketaatan mutlaknya pada Illahi. Karna ketaatan itu pulalah Allah yang Maha Rahman mengganti Ismail.as -yang pisau tajam sudah begitu dekat dengan lehernya- dengan seekor domba. Tak bisa pula kubayangkan betapa bahagianya Ibrahim.as kala itu.

Sungguh sebuah titik tertinggi ketaatan seorang hamba pada Rabbnya. Itulah mengapa hari suci ini Allah berbangga pada manusia. Karna manusia memiliki nafsu tapi menahannya, dan memiliki ego namun melepaskannya. Inilah yang membuat manusia berbeda dan mampu menjadi makhluk paling mulia. Bahkan malaikatpun iri ada ketaatannya.

Namun, tak dipungkiri, manusiapun mampu menjadi makhluk paling hina. Sebagaimana dalam Al-Qur'an, bahwa sesungguhnya semua makhluk mendapat petunjuk. Namun sebagian dari mereka berpaling darinya, sehingga Allah pun memalingkan hatinya dari petunjuk itu. Semoga kita, di hari ini mendapat ampunan atas segala dosa yang melekat dalam tubuh dan jiwa kita, dan qurban kita menjadi bentuk ketaatan kita pada Rabb yang Maha Agung. Aamiin.

 Semoga bermanfaat...
Selamat berqurban..

Sabtu, September 28, 2013

Untitled

pagi ini, saat orang2 masih menikmati sejuknya udara
di tempat tidur mereka,
aku, untuk pertama kalinya
menemuimu, anakku...
Kali ini bukan dirahim, di rumahsakit,
atau di tempat tidur baru kita
Tapi di sebuah gundukan tanah
yang ragamu di dalamnya...

Serangkaian doa kupersiapkan
serangkaian kalimat kutata
Namun begitu sampai di dekatmu,
kerongkonganku seolah tercekat.
Sekuat tenaga kucegah air mataku keluar,
menepati janji pd abimu utk ttp kuat.

Otakku tak mampu mengingat kalimat
yg ingin kusampaikan pdmu
Hanya AlFatihah yg terus keluar dr mulutku
hanya itu.
Badanku kaku, air mataku akhirnya tumpah...
Ingin saja kugali gundukan tanah kecil didepanku
dan kubawa kau pulang bersamaku...
Ingin sekali kutampar diriku,
dan berharap tersadar dr mimpi selama ini...

Tapi tidak,
segera kuistighfarkan dalam hati..
dan kubayangkan senyum menghiasi wajah lucumu..
lalu kupikirkan tentang tempat indahmu di jannahNya..
Aku tak kehilanganmu, nak..
karna akupun dititipi..
Maka siapa lagi yg paling baik memeliharamu selain Pemilikmu?
Diri inipun kelak akan kembali padaNya..
dan bila saat itu tiba,
selalu kumohonkan kepadaNya kita berkumpul lagi
Di sebaik-baiknya tempat kembali...

Jumat, September 06, 2013

Jumat Pagi

Pagi ini kudengar isak kala membuka mata
Lengan kokohmu memeluk lenganku
Sejenak kulihat bahumu terguncang tertahan
Bantal kita basah, oleh air mata

Ah, Jumat pagi,
hari dimana buah hati kembali
menemui Pemiliknya yang Maha Hakiki
Dan kau, aku, kita hanya berusaha mengikhlaskan diri

Sahabatku yang selalu menguatkan,
kali ini aku tak akan ikut terisak
meski harus menahannya spenuh jiwa
Ini waktu kita untuk menukar peran
sebagai penguat dan pengingat

Lenganku tak sekokoh milikmu
tapi aku masih mampu memelukmu
bahuku tak sekuat milikmu
tapi aku akan jadi sandaranmu

Sahabatku yang selalu menyabarkan
Tenanglah, sang buah hati ada di istanaNya
dia juga tak'kan kesepian,
dia punya banyak teman bermain

Sahabat yang syurgaku ada di hatimu,
Aku mungkin ingin mengasuhnya,
seperti juga engkau,
tapi tenang saja,
bukankah kita semakin dekat setiap detiknya?
Bukankah kitapun akan pulang ke kampung akhirat?

Jangan cemas, sahabatku,
rinduku padanya pun menggelegah
Sabarlah
kelak kita akan mengasuhnya lagi
aku akan berlelah-lelah menyusui dan merawatnya
kita akan mengajarinya berjalan dan mengucap kata

Namun sebelum itu, sayang
mari kita berdiri tegak,
kuatkan langkah kita, memupuk modal dengan amal
menyegarkan semangat
menyambut adik-adiknya yang masih harus kita perjuangkan
hingga kelak engkau, aku, dan saudara2nya diijinkan
berkumpul dengannya di Jannah

Sahabatku, suamiku

Kuatlah, untukku dan untuk calon2 buah hatimu
masih banyak yang harus kita lalui
masih rendah amal dan ilmu kita
kuatlah untuk menjadi imam dunia akhirat kami.


Jumat 06.09.13
Untuk suamiku tercinta @fajar_it
Rencana Allah pasti yang terbaik untuk kita

Selasa, September 03, 2013

Ketika Cinta Ditunjukkan Lewat Ujian

Ragaku tetiba kaku, merinding dan kelu, saat membaca satu pesan yang tenyata dikirim semalam:

"Mbak, gendukq nututi mashka"

Datar, tanpa titik tanpa ekspresi. Namun sebuah gemetar jari kurasakan dalam ekspresi datar tulisannya.

Gendhuk adalah panggilan kesayangan Mbak Yulie pada putrinya (baca: posting sebelumnya) . Tepat dua bulan hari ini Gendhuk masuk RS. Usianya dua bulan lebih satu hari. Terpaut 20 hari dengan Mashka. Dari mbak Yulie juga aku tau kalau Reni juga kehilangan putranya sabtu lalu. Putra Reni juga salah satu sahabat Mashka di NICU. 

"Allah, mengapa kematian terus mengintariku?"

Beberapa waktu lalu, salah seorang sahabat yang kukenal di seminar prenatal bersilaturahim ke rumah. Mba Titi. Kami memang mulai akrab karna dia yang mengajakku ikut yoga, bahkan kami sempat menjadi patner komunikasi dengan janin kala itu. Jadi, meski tak sempat bertemu Mashka, mba Titi  sempat merasakan gerakan Mashka dalam perutku.

Bersama dengan suami, mba Titi menghadiahkan tiga buku yang lagi2 membuat saya lebih 'melek' atas hikmah yang ingin Allah sampaikan lewat Mashka. La Tahzan, My Life as  Writer, dan Happiness Inside. (Hihihi, mkasih banget ya, mba Titi). La Tahzan, meski bukunya sudah kukenal lama, dan suka baca, buku tebal ini dulunya bukan tipe bacaanku. Tapi ternyata, buku ini yang kemudian membuatku seperti sedang dihadapkan pada nasihat seorang ulama yang begitu mengena.

Membaca bab demi bab buku ini menyadarkanku dan terus menguatkan hatiku. Buku ini seperti angin segar bagi orang2 yang hidupnya terasa sempit, sesak dan lumpuh. Buku ini bagai tisu penyeka air mata. Ehh, salah fokus, kok malah ngomongin bukunya.

Ada satu kalimat yang saya ingat ketika kesedihan dan kedukaan kembali menyapa,

"Barang siapa yang oleh Allah dikehendaki menjadi baik maka ia akan diuji oleh-Nya" (Al-Hadits)

Dan ada kalimat lain yang akan selalu menjadi jawaban saya ketika pertanyaan dari dalam diri maupun orang lain menghakimi,

"Allah telah menakdirkan, dan apa yang Dia kehendaki akan Dia lakukan." (Al-Hadits)


Bukan karena hirsprung, sepsis, premature, cardiovascular, hidrysepalus, atau apapun setiap nyawa diambil. Tapi karena TAKDIR. Dan takdir itu juga berlaku pada yang ditinggalkannya, yaitu UJIAN. Hidup tak selamanya indah. Bukankah keindahan kekal itu hanya di sisi-Nya? Hidup juga tak selamanya susah. Bukankah kesusahan kekal juga hanya ada di nerakaNya?

Dari Mashka saya belajar banyak dan semakin banyak. Dari Mashka aku dikenalkan dengan orang2 hebat penerima amanah ujian dariNya. Dari Mashka Allah kirimkan perhatianNya. Dan lewat Mashka, Gendhuk, Reni's, dan anak2 syurga lainnya Allah tunjukkan cinta-Nya pada saya, mba Yulie, Reni, dan orang tua lain yang anaknya harus berpulang 'lebih cepat'.

"Terimakasih, le..."

Rabu, Agustus 28, 2013

Kadar Kesabaran

Bohong jika aku bilang sudah diuji dengan begitu berat. Kisah2 Mesir yang kubaca kemarin malam membuatku tersadar bahwa ujianku kehilangan seorang putra masih belum apa2 dibanding mereka yang kehilangan suami, anak, adik dan keluarganya yang lain karena kekejaman junta militer. Dan setelahnya mereka masih harus terus menghadapi teror. Belum lagi kisah Syuriah, Palestina, dan berbagai area konflik lainnya.

Seorang ayah yang kehilangan putrinya dan seorang kakak yang kehilangan adiknya yang cantik karena tembakan snipper di dadanya. Seorang wanita yang kehilangan pria, yang belum lama menjadi suaminya, yang tertembak di dagu hingga menembus lehernya. Betapa mereka kuat.

Sehari lalu seorang tetangga ke sini. Kami mengobrol banyak. Salah satunya tentang Mashka.
"Ah, din sempat terpikir ga jadi olehku pas syawalan itu datang kemari untuk ngepasin bajumu." beberapa waktu lalu aku memang memesan baju darinya.

"Tapi begitu ketemu, malah aku yang heran kamu masih bisa tertawa. Sampai aku sempat ngomong sama suami, kalau saja aku yang kehilangan, mungkin aku uda gendong2 guling kemana2 karna stres. Kamu dipilih karna kamu yang kuat menjalani ini." ungkapnya yang membuatku menerawang sejenak.

"Ah, kalau saja kamu tau bahwa akupun masih terus berjuang agar selalu kuat, rin..."

Lalu meluncurlah ceritaku tentang rumah sakit dimana Mashka pernah dirawat. Dimana aku bertemu dengan ibu2 yang begitu tegar dan sabar. Pada awalnya, tentu aku tak bisa berhenti menangis, meratap dan meratap. Tapi sekarang aku tau, sebelum semua ini, Allah melatih dengan pertemukanku dengan mereka agar aku mampu kuat dan memahami makna.

Pada hari pertama Mashka dirawat, saat mataku masih bengkak dan sembab setelah menangis dari pagi, sorenya aku bergabung dengan ibu2 lain di ruang memeras ASI. Karena ASI ku yang belum banyak keluar dan belum mengerti tekniknya juga, hampir 2 jam aku diruangan itu. Dan selama itu pula berganti2 teman yang datang dan pergi.
Salah seorang memberi tahu tentang jaminan yang seharusnya kami urus. Bahkan dia memberi kami contoh data2 yang harus kami persiapkan.
"Kita ga tau mbak kapan anak kita di sini, jadi lebih baik pergunakan apa yang bisa meringankan" Ah, terimakasih mba Yulie...dari situ aku berkenalan dengannya.

Saat melihat mataku, seolah sudah terbaca bahwa aku baru di situ. Keingiintahuanku menggelitik untuk bertanya, walopun belum ada yang kukenal di ruangan itu.
"Ibu2, maaf ya...kok ibu2 di sini begitu kuat dan sabar?" tanyaku.

Seorang ibu tertawa, aku makin penasaran.

"Hoalah mbak, kalo di sini kita stres, gimana anak kita yang di dalem sana", ungkapnya.

"Bener, mbak. Anak kita kan sedang berjuang mempertahankan hidupnya. Untuk siapa? Ya untuk kita, untuk ketemu sama kita orang tuanya. Kalo kita nangis, kasihan mereka. Kita harus kuat mbak." jawab ibu yang lain

"Kita harus semangat, mbak. Biar anak kita merasakan semangat kita dan diapun makin semangat berjuang." celetuk yang lain

"Tuhan ga akan mungkin ngasih kita ujian kalau kita ga mampu menanggungnya, mbak...Sabar...sabar itu kunci pokoknya."

"Jangan sekali-sekali nangis di depan anaknya ya, mbak. Kalo mo dibilang, ga ada seorangpun yang mau di sini seperti kita. Kita juga ga minta akan seperti ini. Tapi kita harus sabar. Kita yang terpilih menjalani ini, berarti kita lebih kuat dari ibu2 yang lain yang anaknya sehat. Sabar ya mbak, di sini kita ikhtiar" yang lain menasehati.

Hati ini mendadak seperti dibangunkan benteng kokoh dan diam2 berbisik dalam hati, "Ya, saya harus kuat demi Mashka yang sedang berjuang".

Yach, meskipun kami tau, apapun bisa terjadi di ruangan itu. APAPUN. Keajaiban atau kehilangan. Semua menyadari itu. Tapi demi hormon oksitosin yang merangsang air susu kami keluar, kami harus bahagia. Demi buah hati kami yang meski menderita tapi terus berjuang untuk bersua dengan kami para orang tuanya.

Saat kami harus berhadapan dengan mereka, ibu2 yang baru saja kehilangan buah hatinya, kami tau dan sadar bahwa bukan tak mungkin kami pun akan berada pada posisinya. Kemudian kami akan saling mendoakan. Begitupun denganku, saat ternyata aku harus berada pada posisi itu. Sepenuh hati akupun berdoa agar mereka yang masih tegar menunggui anaknya tetap diberi kekuatan, kesabaran dan yang terbaik. Kala itupun mereka akan bergantian memeluk, bahkan beberapa sampai menyusul di ruang jenazah untuk mengantar Mashka dan menguatkanku seperti saat aku pertama kali di sana. 

Pembicaraan kematian bukan hal yang baru. Kami tau, kami harus berdamai dengan cobaan ini. Oksigen, ventilator, selang irigasi, selang residu, bukan lagi jadi pembicaraan yang asing, apalagi infus. Terimakasih Allah, pernah mempertemukanku dengan mereka. Dari merekalah aku belajar untuk tetap tegar. Allah melatihku, sebelum aku harus berpisah dengan jagoanku. Dia Yang Maha Mengetahui pasti telah memperhitungkan segalanya. SEMUANYA, tanpa cela. Mungkin jika aku tidak diperkenalkan dengan ibu2 ini, aku tak kuat menjalani ini semua. Betapa Dia telah mengatur semuanya begitu detil.

Kemarin (dengan mengerahkan segala kekuatan hati), aku dan suami pergi ke RS dimana Mashka dirawat. Niat awalnya jenguk salah seorang guruku yang dirawat karena stroke. Namun setelahnya, kita memutuskan untuk bersilaturahim kepada orang-tua2 temen Mashka. Begitu sampai di lantai yang dituju, terlihatlah tikar2 karet/ plastik sudah digelar. Ya, sudah bada magrib, emperan ruang tunggu sudah disulap jadi tempat tidur para orang tua yang menunggui buah hati mereka. Tidak seramai saat aku masih di sana. Dalam hati aku bersyukur, semoga yang tidak lagi aku temui adalah mereka yang sudah bisa kembali ke rumah dengan sukacita.

Ada mbak Yulie, kenalan pertamaku di sana. Kami bersahabat layaknya anak kami yang memiliki nasib serupa. Hanya saja Mashka bertahan selama satu minggu, dan Gendhuk (panggilan utk anak mba Yulie) terus berjuang selama hampir dua bulan. Ibu yang luar biasa sabar ini menceritakan perkembangan anaknya. Masuk ke ruang isolasi karena adanya kuman baru, saturasi udara yang naik turun sampai biru, dan tentang dokter yang ketus dan tidak peduli. Dan apakah sahabatku ini menceritakannya dengan menangis? TIDAK! Bahkan dia tersenyum, juga suaminya. Meski aku dan suami tau betul, sisa kepanikan dan kelelahan tergambar jelas di wajah mereka.

Ingatanku tiba2 menangkap Mashka ketika biru. Sambil berusaha tetap tenang berusaha memancing refleknya. Ya, menahan kepanikan ketika anak kita mungkin telah ditunggu sang Izroil, itulah tugas kami. Dan hal itu juga yang mbak Yulie dan ibu lain lakukan demi terus kuat berada di samping buah hati tercintanya.

Cerita lainnya mengalir. Beberapa kasus prematur sudah pulang. Beberapa yang sudah menjalani operasi juga sudah pulang, walaupun ada operasi lanjutan ketika sang bayi sudah memiliki berat cukup. Beberapa ada yang menyusul Mashka. Ada yang sudah pulang, namun ketika kontrol harus masuk lagi karena kondisi yang masih butuh perawatan. Bahkan ada yang pulang paksa. Prosedur ini digunakan untuk keluarga yang sudah 'menolak' tindakan medis lanjutan dan membawa pasien pulang. Tak henti2nya saya menyebut Allah dalam hati.

"Jangan nangis, din. Kamu di sini untuk menguatkan, bukan menangis dan kembali meratap", tak henti2nya ucapan itu terlontar dalam hati.

Pelukan dan genggaman erat sambil diam2 berdoa saya berikan  pada mba Yulie dan mba reni yang kebetulan cuma mereka yang sempat saya temui. Yang lain, mungkin masih menunggu di dalam. Sepenuh hati saya berdoa semoga Allah berikan yang terbaik bagi sang buah hati dan orang tua mereka yang begitu sabar.

Allah menguji kita sesuai pada kadarnya. Dan ketika ujian itu mampu dilalui, itu berarti kita telah melompati satu tangga menuju tingkatan atasanya. La Tahzan...karena Allah bersama saya dan siapapun anda yang sedang menghadapi ujianNya. Dia hanya sedang mengungkapkan betapa cinta dan perhatianNya begitu besar pada kita. Maha Mengetahui Allah yang mengetahui kekuatan kita untuk menghadapi ujianNya. La Tahzan...

Dan Allah Maha Menepati Janji, maka ketika saya kembali merindukan Mashka, inilah yang saya ucapkan, doa yang sama ketika Ummu Salamah kehilangan Abu Salamah di medan jihad dan Allah mengganti Rasulullah menjadi suaminya.

“Inna lillahi wa inna ilaihi rooji’un. Allahumma’jurnii fii mushibatii wa akhlif lii khoiron minhaa [Segala sesuatu adalah milik Allah dan akan kembali pada-Nya. Ya Allah, berilah ganjaran terhadap musibah yang menimpaku dan berilah ganti dengan yang lebih baik]”,



Maka nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan? Semoga saya, dan anda bisa mengambil hikmah dari apa yang menimpa orang2 di sekitar kita.

Minggu, Agustus 25, 2013

AIR MATA INI, UNTUK SIAPA?



Ku bertanya pada diri
Saat buah hati yang dicinta
berpulang padaNya:
Air mataku yg tumpah itu
Untuk siapa sebenarnya?
Untuk dia yang pulang?
Atau untuk diriku yang ditinggalkan?
Masgul kujawab jujur:
untuk diriku
rasa rinduku
kehilanganku

(dan begitulah kurasa
Orang2 menangis saat ada yang meninggal,
bukan menangisi si mayit,
tapi menangisi dirinya sendiri, sambil bertanya:
Siapa lagi yang akan menemaniku?
Bagaimana kalau aku rindu denganmu?
Siapa yang akan mengajakku tertawa lagi?
Dst, dst)

Lalu, saat ksatria mungilku itu
kini berpulang
dengan tidur panjang yang sangat nyaman
dalam belaian dan dekapNya
Pantaskah masih ada air mata?
Mungkin, pantas
Air mata untuk menangisi diri (lagi)
tentang nasib diri yang belum pasti
akan seperti apa nanti
saat maut menghampiri

Wahai ksatria kecilku.
dari jauh tempatmu di situ
Doakan ummi ya naaak
agar dapat berpulang dengan nyaman
seperti pulangmu
dan memelukmu penuh rindu
suatu hari nanti….

#####--#####

Lagi-lagi bunda Mukti mengingatkanku dengan tulisannya. Kali ini cukup membuatku speechless dan lemes. Ya, selama ini siapa yang aku tangisi jika bukan aku sendiri? Menangisi rasa rindu yang aku rasakan sendiri. Padahal bukankah pada hakekatnya setiap detik yang kita lalui justru mendekatkan pada kesempatan untuk bertemu pada mereka lagi yang telah dipanggil?
Aku mulai bangkit kembali dengan tulisan ini. Mencoba mengorek2 hikmah yang ada atas semua kejadian ini. Memompa motivasi yang sempat kempes. Dan dia yang Maha Memberi Petunjuk membuatku yang secara tidak sengaja mendapati tulisan tentang penyakit yang sempat diderita Mashka. Dia mengalami satu dari 5000 kejadian kelahiran berdasarkan sebuah tulisan ilmiah yang sempat kubaca. Tanpa komplikasi apapun selama kehamilan. Bahkan belum bisa terdeteksi dengan alat secanggih apapun selama kehamilan. Sempat ada pertanyaan ratapan: "Kenapa anakku?", yang kemudian kuikuti dengan berulangkali istighfar. Memohon ampun karena sejenak menggugat putusanNya.

Aku kembali menekuri, mencari-cari hikmah. "Bukankah ini adalah pilihanNya? Mashka, dan kami, dan seluruh keluarga kami, dipilihNya, dari 5000 bayi lahir di 5000 keluarga lainnya. Ya, karna ajal tak bisa dimundurkan atau dimajukan. Jadi bukankah ajal tak perlu dipertanyakan? Bahkan bukankah panglima Khalid bin Walid yang gagah berani justru meninggal di atas tempat tidurnya sendiri? Cukup keyakinan bahwa inilah waktunya untuk berpulang dan mensyukuri karna Sang Pemilik pernah meminjamkannya sejenak.

Mashka adalah bentuk kasih sayangNya padaku, suamiku dan kluargaku. Banyak pesan yang tertambat saat kehadiran, terlebih ketika kepulangannya. Ya, inilah bukti cintaNya. Bukti cinta Sang Pencipta kepada hambaNya.
"Lalu apalagi yang kucemaskan?", perntanyaan itu kuajukan sendiri pada diriku. "Apalagi yang kau tangisi, Din?". CintaNya karna menjemput putramu yang masih suci untuk menikmati surgaNya kembali? CintaNya karna masih mengingatkan betapa ujian adalah bentuk perhatianNya kepada kalian yang ditinggalkan? Atau cintaNya yang memilih kalian untuk menerima diskon surga dengan jalan kesabaran? 

Kali ini aku menangis, tapi bukan lagi kesedihan, bukan lagi ratapan, tapi rasa malu. Rasa malu atas dosa2 tergambar kala sujud. Dan tangisan syukur karna dengan dosa2 yang begitu banyaknya Dia masih memberi segala ampunan dan kemurahanNya menjadikan kami terpilih menerima ujian menuju tingkatan iman selanjutnya. Tuntun kami ya Allah...Bimbing kami ya Allah...hingga kami layak berkumpul kembali di tempat terpuji.



Dalam rindu penuh syukur 25.8.13

Inspirasi: rumah kain kasa bunda

Jumat, Agustus 23, 2013

Selamat Pagi, Le...

Selamat pagi, cah bagus...
Tanggal yang sama sebulan lalu...
Allah tunjukkan sebuah keajaiban penciptaan makhluknya...
Ya, sebulan lalu kamu lahir, sayang...
Di kala matahari masih malu...
Saat daun2 berucap syukur atas terciptanya embun..
Selamat pagi, wahai prajurit syurga..
Hanya ini yang mampu umi dan abi persembahkan...
Sujud panjang pd Sang Pemilik Segala..
Memohon jubah jubah terbaik utkmu...
Meminta air susu ternikmat yg mengalir di surgaNya..
Memohon kehangatan kasihNya untukmu...

Ahh, Le...
Sbenarnya umi pun paham
bahwa tak perlu memohon padaNya begitu...
Apapun yang kau butuhkan pasti ada
Apapun yang kau minta pasti dikabulkanNya,bukan?
Ya, karna Dia Yang Maha Menjaga terus menjagamu di surgaNya...
Dan bukankah sebaik2 tempat kembali adalah surga?

Dia pasti maklum,
karna hanya ini yang mampu kuberi untukmu, anakku yg sholeh..
Seuntai doa, rangkaian dzikir...
Berharap air mata yg mengalir bersamanya menjelma embun penyegarmu...
Mashka, prajurit surga umi dan abi...
Nyenyakkan tidur panjangmu, sayang...
Bermainlah di taman surga yg indah...
Peluk cium rindu dari umi dan abi...
Jumat pagi.23.8.13

Kamis, Agustus 22, 2013

Semburat Kasih Ibu pada Purnama

Kupandangi bulan malam ini..
Indah...namun mengabur seiring rasa rindu yg semakin membuncah...
Saraf otakku mengirim sinyal ingatan...
Pada posisi bulan yang sama, diputaran yang lalu..
Aku bertahan dengan apa yg orang sebut gelombang rahim..
Aku berjuang menahan sakitnya...
Kau berjuang menemui kami...

Semburat bayangan bulan..
Tergambar seorang ibu menggendong anaknya...
Semburat bayangan yang ada ketika aku dan kau berjuang di medan syahid...
Sungguh kala itu aku rela melepas nafas untuknya...
Hingga fajar tiba dan menuai keajaiban kehadiran prajurit surga...

Ah,sayang...
maafkan jika malam ini umi masih menggugu merindumu...
Lihat, alangkah indahnya bila ibu dan anak di bulan itu adalah kita...
Yang mengisi kesunyian malam dengan kehangatan pelukan...
dengan kesunyian hati yg melantunkan lagu kasih...
Sungguh umi sangat merindukanmu,duhai prajurit syurgaku...
Di sini sepi tanpamu,sayang...
Tidurlah di pangkuan umi sejenak lewat mimpi...
Umi akan minta ijin kepada Pemilikmu...
Seperti malam2 sebelumnya, setelah doa tidur, ayat kursy, dan alfatihah...

Ya Rabbi...
Berilah kesempatan pada ibu ini rasa bahagia bertemu sang buah hati ..
walaupun hanya di  alam mimpi...
Allah...iman ini masihlah dangkal...
tapi ijinkan Ya Rabbi...Dzat Yang menguasai seluruh hati...
Yang Memegang seluruh jiwa...
Obatilah jiwa yg merindu ini lewat mimpi...
Seperti kuasanya Engkau menggambarkan kasih ibu dan anaknya pada semburat di purnama...
Maka gambarkanlah kasih kami lewat mimpi malam ini...

Sepi. 22.8.13

Puisi Penghibur Duka

kemari anakku,
kita berbincang tentang langit malam
disana..nun di balik pekat cakarawala...
do'a-do'a setiap kita tertambatkan
merapat bersama tasbih bintang-bintang
milikmu, adakah disana?

tentu anakku
engkau mesti menjaga-Nya
hingga Ia yang Maha penyayang
berkenan melindungimu
bukankah Ia memberi jika engkau meminta?
maka berdo'a lah,sematkan ia di sana
di sisi takbir mahluk-mahluk langit

tak ada yang bisa kuwariskan anakku sayang
hanya bisa aku kabarkan
sabda suci dari sang Nabi
tentang keagungan Tuhan nya
Rabb kita....
Tuhanku juga Tuhanmu

Kemuliaan Nya disana nak,
Bersemayam di atas Arsy yang maha suci
dan demi umurku!
Ia sedekat ini
serapat buluh-buluh nadi
maka masihkah engkau merasa sepi?

hanya ini anakku
ini saja yang aku punya....
*hiawata*

 ----- 888 -----

Bermimpilah yang indah, anakku
saat kucium keningmu dengan mata basah
disini ada ayah dan ibu yang selalu mengirim doa untukmu nak
Airmata kami insya Allah
akan menjelma seumpama titian pelangi
membawamu kesana, ke haribaanNya
yang kekal
bersama doa-doa yang kami lantunkan
setiap saat, setiap kali,

Bermimpilah yang indah, anakku
Kamu tak akan sendiri
Kami selalu hadir untukmu, disampingmu
menyenandungkan tembang-tembang syahdu
Kami selalu ada bagimu
bersama lirih dzikir dan takbir penuh tawadhu’

Bermimpilah yang indah,anakku
dalam lelap tidur panjang, kasih ayah ibu menemanimu.


Sumber : rumah kain kasa bunda


Melerai Duka, Melarung Lara

Ijinkanlah aku untuk menulis.

Bukan untuk menggugat keputusanNya, tetapi untuk melerai duka, melarung lara.

Semoga dengan menulis ini tidak mengurangi nilai kesabaran dan keikhlasan, karena aku tetap ingin digolongkan orang2 yang sabar dan ikhlas saat ditiimpa musibah.


Secuil kalimat pembuka bunda Mukti, yang kemarin sempat saya cantumkan puisi dari blognya. Dan mungkin akan saya copy juga beberapa posting penghibur lainnya.

Ya, biarkan aku juga menulis untuk melerai duka, melarung lara.

Ketika seperti pagi ini, juga pagi2 sebelumnya aku harus terbangun dengan kenyataan yang harus kuhadapi, tanpa Mashka di sampingku, tanpa Mashka di rahimku...
Ketika siang menjemput, dan tak ada kesibukan mengganti popok, menyusui, atau menimangnya sampai terlelap...
Ketika bayangan akan harapan yang telah sembilan bulan lebih begitu saja hancur, membuat satu lobang menganga di sudut hati...

Sungguh hatiku belum sepenuhnya mampu. Menerima kenyataan ini. Hati ini kadang masih gamang ketika ternyata kini harus berdiri di tempat yang sama, tanpa dia. Astagfirullah...ampuni hamba Ya Robb. Semoga ini bukan bentuk ketidakikhlasan atau gugatan pada KuasaMu. Karena sisi kemanusiawian semata.

Ya Rahim...betapa aku begitu lemah pada perasaan yang terkadang mendengar bisikan godaan2. Sesungguhnya aku hanya berlindung kepadaMu atas bisikan itu. Bukakan mata dengan pertolonganMu, Ya Allah... Karna sesungguhnya pertolonganmu begitu dekat, sedekat urat2 nadi di tubuh ini.

Jika ajal sudah terukir di lauhul mahfudz sana, sungguh maha besar Allah yang mengilhamkanku untuk bersamamu 42 minggu ditambah 10 hari penuh menjelang pergimu, bahkan hingga detik2 terakhirmu. Menggendongmu kemanapun, kapanpun. Dan ketika di rumah sakit, hanya aku yang bisa berada di sampingmu, menjagamu. Bagaimana jika tidak, pastilah aku menyesal tak selalu ada untukmu, sayang.

Jika ajal sudah ditetapkan untukmu tanpa bisa ditangguhkan atau dimajukan, Sungguh Allah Maha besar yang telah membuat skenario agar berpulang setelah abi bisa bertemu denganmu saat berjuang memompa detak jantungmu, hingga Dia memanggilMu, tepat di hari Jumat, di bulan Ramadhan. Dimana beberapa kali abimu sering membisikkan untuk mengajakmu sholat Jumat saat masih di rahim umi.  Dimana saat hari Jumatlah kamu banyak mendengar alunan murotal, bahkan kadang sepanjang hari, ya, saat masih di rahim umi. Itu hari favoritmu, Nak... Hari favorit Allah, untuk lebih banyak menebar rizki, untuk memanggil kekasih2Nya untuk diundang di syurgaNya, seperti saat Dia memanggilmu.

Jika ajal tak mengenal usia, sungguh Maha sayang Allah yang mentaqdirkanmu masih memiliki sepuluh hari bersamaku. Bahkan di menit-menit terakhir, kau yang sudah kehilangan kesadaran masih menunjukkan degub jantung yang kuat hingga tak lama kemudian, kami yang menalqilkanmu, di antara sedu sedanku.


Dan kemudian aku menekuri diri, bukankah semua telah diatur begitu rapi olehNya. Bukankah Dia Yang Maha Segala begitu mencintai Mashka, hingga mengganti rasa sakit dengan kenyamanan dan keindahan abadi. Bukankah Dia Yang Maha Sayang juga mencintai kami dengan meperhatikan kami lewat ujianNya. Oh, Rabbi...
Dia yang pernah datang, tak pernah benar2 pergi. Justru smakin dekat, karena ia ada dalam kenangan yg selalu kubawa, kemana pun ku pergi
*ajarkan aku utk IKHLAS
Dan pagi ini saya kembali membuka blog bunda Mukti, membaca kalimat2 penghibur lara, penyampai kabar gembira akan janjiNya kepada ibu manapun yang kehilangan putra putri terkasihnya.

"aku tahu mbak rasa kehilangan ....berdamailah dengan rasa itu...serahkan pada yang Sang Maha Empunya...biarkan isak itu tumpah seperti kekasihNya menggugu dikala Ibrahim sang permata hati diminta Sang Pemilik..biar rasa itu mengkhaliskan seluruh rasa...biarkan rasa itu menuntun pada asa sakinah istana indah di sisiNya. amiin"

Ya, bahkan Rasulullah SAW menangis menggugu di kala Ibrahim sang putra kembali ke Pemiliknya kala usia sang putra masih begitu belia, begitu pula Yaqub As yang dirudung kesedihan tatkala kehilangan Yusuf As, meskipun kemudian mereka dipertemukan kembali. 


Mbak, Akan tiba suatu masa, ketika kau menyadari bahwa riak bening di telaga Kautsar adalah muara air mata kesabaranmu di dunia, langit yang menopang keberadaanmu di sisi-Nya adalah rajutan ketegaranmu, dan sinar yang memancar dari setiap sudut istana abadimu adalah senyum keikhlasanmu.

Karena itu, bertahanlah. Jangan biarkan sungai ujian ini menghanyutkanmu, bahkan merenggut akarmu yang tersisa. Sampaikan rindu untuknya, lihatlah ia akan memelukmu dan membisikkan ke hatimu, “semuanya akan baik-baik saja ibu... ayah…”


Semua yang hidup pada akhirnya akan mati. Tapi tak pernah aku bayangkan sesakit ini rasanya saat Dia mengambil buah hatiku. Jika saja rasa ini benda, ingin sekali rasanya memasukannya dalam peti dan menguncinya rapat2, membuangnya di sudut tak terlihat. Tapi rasa ini hampa, tak kasat mata. Yang mampu aku lakukan adalah mencoba berdamai dengannya. Membiarkannya pelahan terkikis waktu. Karena seperti kata orang, waktu adalah obat terbaik. Time is the best medicine. Obat duka terbaik.

Wahai jiwa yang berduka,
yang berjalan menunduk
dan nafas beratnya bertanya,
mengapakah goresan tinta takdir ini
tak berlaku ramah?

Sungguh kesedihanmu
tengah menyiapkan rongga besar di hatimu,
sebagai penampung kebesaran jiwamu
nanti...


Terimakasih, Nak...
Terimakasih telah mengajarkan umi begitu banyak pelajaran berharga....
Tenanglah dalam tidurmu, jangan terganggu pada tangisan pilu umi dan abimu...
Karna kami hanya merindumu, merindu berkumpul denganmu kelak...
karna kami menangisi ketakutan amal kami yang masih kurang untuk menyusulmu...
Tunggu kami, Nak... Tunggu kami di peraduan indah jannahNya...

Dan begitulah, menulislah yang kadang mampu melerai duka melarung lara yang masih menggaruk menciptakan rongga di hati.

Ijinkan aku menuliskan doaku pagi ini,
semoga Allah kuatkan dan besarkan jiwa kami, juga semua orang tua yang Dia ambil putra putrinya...
Semoga Allah satukan kami, juga semua orang tua dengan anak-anak syurgaNya...
Semoga Allah berikan berlipat pahala pada kebesaran jiwa yang kami dan orang tua lainnya perjuangkan tatkala harus menghadapi duka yang meyayat kalbu karna kerinduan kami pada putra putri terkasih yang telah berpulang kepadaNya...
Semoga janji nikmat itu segera terkecap bagi siapapun yang dilanda kesempitan, kesedihan, dan ujian lain dariNya...
Semoga bulir2 kesabaran yang terpupuk menghapus setiap dosa dan menghadirkan nikmat iman dan pahala bagi setiap pejuang kesabaran di bumi ini...
 Mesir, Suriah, Palestine, Rohingnya, di manapun semoga Allah limpahkan kekuatanNya untuk mereka yang tertindas dan teraniaya...
Aamiin..aamiin Ya Rabbi..

220813
Ketika pagi terasa masih gamang dan sepi
Beberapa catatan dari rumah kain kasa bunda

Rabu, Agustus 21, 2013

Muhammad Mashka Rayshiva Tsaqif

Sebuah puisi yang dari blog seorang ibu sabar yang saya temui di dunia maya beberapa saat lalu. Seorang ibu yang beberapa tahun lalu juga kehilangan putri tercintanya.
Membacanya, seolah puisi ini juga dipersembahkan untuk saya. Sebuah puisi yang semoga makin mengingatkan saya bahwa tak ada yang benar2 kita miliki, sehingga tak pantas merasa terlalu kehilangan...




Ya Allah,
Alam semesta raya ini adalah milik-Mu
Segala isinya adalah milik-Mu
Engkau yang menciptakannya,
Engkau Pemiliknya
Engkau Yang Maha kuasa atas semuanya

Termasuk orang-orang yang kucintai
Bahkan diriku,
raga dan jiwaku
rohku...
ada dalam Genggaman-Mu,
dalam Kekuasaan-Mu

Ya Allah,
Syukur dan terimakasih,
Engkau telah menitipkan milik-Mu
kepada kami
Muhammad Mashka Rayshiva Tsaqif

Engkau Maha mengetahui
betapa kami sangat menyayanginya
Tetapi ia milik-Mu
dan Engkau Yang Maha berhak mengambilnya,
memintanya kembali...

Ya Allah,
rasanya sangat sebentar kami bersama-sama
Tetapi banyak kenangan manis di antara kami
Suka dan duka
Bahagia dan kendala
telah kami lalui saat raganya masih di rahim maupun ketika sudah lahir

Kami telah ikhlas, Ya Allah
Karena kami mengetahui
ia sekarang merasa lebih nyaman
berada di sisi-Mu
Tidak ada lagi rasa sakit
yang mendera tubuh mungilnya

Ia sekarang leluasa bermain
di taman syorga-Mu
Sambil tak henti-hentinya bertasbih
mengagungkan Nama-Mu

Muhammad Mashka Rayshiva Tsaqif
memang milik-Mu
tetapi ia telah Engkau takdirkan menjadi anak kami
Tolong ya Allah,
Berilah kekuatan kepada kami untuk menjalani perpisahan ini

Kami tahu...
Ia pun rindu kami,
Abi Ummi..
dan Kakung Utinya..
Kelak apabila kami menyusul dia,
kembali kepada-Mu
Ia akan menunggu dan menyambut kami
di taman syorga-Mu......
Dengan tawanya yang renyah
dan mata yang indah

Muhammad Mashka Rayshiva Tsaqif
akan memeluk kami satu-persatu,
penuh rindu

Allahhumma,
Jurni fii mushibati
Khairum minha
Amiin Ya Rabbal 'alamiin


Sumber: rumah kain kasa bunda
dengan beberapa gubahan