Ku bertanya pada diri
Saat buah hati yang dicinta
berpulang padaNya:
Air mataku yg tumpah itu
Untuk siapa sebenarnya?
Untuk dia yang pulang?
Atau untuk diriku yang ditinggalkan?
Masgul kujawab jujur:
rasa rinduku
kehilanganku
(dan begitulah kurasa
Orang2 menangis saat ada yang meninggal,
bukan menangisi si mayit,
tapi menangisi dirinya sendiri, sambil bertanya:
Siapa lagi yang akan menemaniku?
Bagaimana kalau aku rindu denganmu?
Siapa yang akan mengajakku tertawa lagi?
Dst, dst)
Lalu, saat ksatria mungilku itu
kini berpulang
dengan tidur panjang yang sangat nyaman
dalam belaian dan dekapNya
Pantaskah masih ada air mata?
Mungkin, pantas
Air mata untuk menangisi diri (lagi)
tentang nasib diri yang belum pasti
akan seperti apa nanti
saat maut menghampiri
Wahai ksatria kecilku.
dari jauh tempatmu di situ
Doakan ummi ya naaak
agar dapat berpulang dengan nyaman
seperti pulangmu
dan memelukmu penuh rindu
suatu hari nanti….
#####--#####
Lagi-lagi bunda Mukti mengingatkanku dengan tulisannya. Kali ini cukup membuatku speechless dan lemes. Ya, selama ini siapa yang aku tangisi jika bukan aku sendiri? Menangisi rasa rindu yang aku rasakan sendiri. Padahal bukankah pada hakekatnya setiap detik yang kita lalui justru mendekatkan pada kesempatan untuk bertemu pada mereka lagi yang telah dipanggil?
Aku mulai bangkit kembali dengan tulisan ini. Mencoba mengorek2 hikmah yang ada atas semua kejadian ini. Memompa motivasi yang sempat kempes. Dan dia yang Maha Memberi Petunjuk membuatku yang secara tidak sengaja mendapati tulisan tentang penyakit yang sempat diderita Mashka. Dia mengalami satu dari 5000 kejadian kelahiran berdasarkan sebuah tulisan ilmiah yang sempat kubaca. Tanpa komplikasi apapun selama kehamilan. Bahkan belum bisa terdeteksi dengan alat secanggih apapun selama kehamilan. Sempat ada pertanyaan ratapan: "Kenapa anakku?", yang kemudian kuikuti dengan berulangkali istighfar. Memohon ampun karena sejenak menggugat putusanNya.
Aku kembali menekuri, mencari-cari hikmah. "Bukankah ini adalah pilihanNya? Mashka, dan kami, dan seluruh keluarga kami, dipilihNya, dari 5000 bayi lahir di 5000 keluarga lainnya. Ya, karna ajal tak bisa dimundurkan atau dimajukan. Jadi bukankah ajal tak perlu dipertanyakan? Bahkan bukankah panglima Khalid bin Walid yang gagah berani justru meninggal di atas tempat tidurnya sendiri? Cukup keyakinan bahwa inilah waktunya untuk berpulang dan mensyukuri karna Sang Pemilik pernah meminjamkannya sejenak.
Mashka adalah bentuk kasih sayangNya padaku, suamiku dan kluargaku. Banyak pesan yang tertambat saat kehadiran, terlebih ketika kepulangannya. Ya, inilah bukti cintaNya. Bukti cinta Sang Pencipta kepada hambaNya.
"Lalu apalagi yang kucemaskan?", perntanyaan itu kuajukan sendiri pada diriku. "Apalagi yang kau tangisi, Din?". CintaNya karna menjemput putramu yang masih suci untuk menikmati surgaNya kembali? CintaNya karna masih mengingatkan betapa ujian adalah bentuk perhatianNya kepada kalian yang ditinggalkan? Atau cintaNya yang memilih kalian untuk menerima diskon surga dengan jalan kesabaran?
Kali ini aku menangis, tapi bukan lagi kesedihan, bukan lagi ratapan, tapi rasa malu. Rasa malu atas dosa2 tergambar kala sujud. Dan tangisan syukur karna dengan dosa2 yang begitu banyaknya Dia masih memberi segala ampunan dan kemurahanNya menjadikan kami terpilih menerima ujian menuju tingkatan iman selanjutnya. Tuntun kami ya Allah...Bimbing kami ya Allah...hingga kami layak berkumpul kembali di tempat terpuji.
Dalam rindu penuh syukur 25.8.13
Inspirasi: rumah kain kasa bunda

Tidak ada komentar:
Posting Komentar