Bukan untuk menggugat keputusanNya, tetapi untuk melerai duka, melarung lara.
Semoga dengan menulis ini tidak mengurangi nilai kesabaran dan keikhlasan, karena aku tetap ingin digolongkan orang2 yang sabar dan ikhlas saat ditiimpa musibah.
Secuil kalimat pembuka bunda Mukti, yang kemarin sempat saya cantumkan puisi dari blognya. Dan mungkin akan saya copy juga beberapa posting penghibur lainnya.
Ya, biarkan aku juga menulis untuk melerai duka, melarung lara.
Ketika seperti pagi ini, juga pagi2 sebelumnya aku harus terbangun dengan kenyataan yang harus kuhadapi, tanpa Mashka di sampingku, tanpa Mashka di rahimku...
Ketika siang menjemput, dan tak ada kesibukan mengganti popok, menyusui, atau menimangnya sampai terlelap...
Ketika bayangan akan harapan yang telah sembilan bulan lebih begitu saja hancur, membuat satu lobang menganga di sudut hati...
Sungguh hatiku belum sepenuhnya mampu. Menerima kenyataan ini. Hati ini kadang masih gamang ketika ternyata kini harus berdiri di tempat yang sama, tanpa dia. Astagfirullah...ampuni hamba Ya Robb. Semoga ini bukan bentuk ketidakikhlasan atau gugatan pada KuasaMu. Karena sisi kemanusiawian semata.
Ya Rahim...betapa aku begitu lemah pada perasaan yang terkadang mendengar bisikan godaan2. Sesungguhnya aku hanya berlindung kepadaMu atas bisikan itu. Bukakan mata dengan pertolonganMu, Ya Allah... Karna sesungguhnya pertolonganmu begitu dekat, sedekat urat2 nadi di tubuh ini.
Jika ajal sudah terukir di lauhul mahfudz sana, sungguh maha besar Allah yang mengilhamkanku untuk bersamamu 42 minggu ditambah 10 hari penuh menjelang pergimu, bahkan hingga detik2 terakhirmu. Menggendongmu kemanapun, kapanpun. Dan ketika di rumah sakit, hanya aku yang bisa berada di sampingmu, menjagamu. Bagaimana jika tidak, pastilah aku menyesal tak selalu ada untukmu, sayang.
Jika ajal sudah ditetapkan untukmu tanpa bisa ditangguhkan atau dimajukan, Sungguh Allah Maha besar yang telah membuat skenario agar berpulang setelah abi bisa bertemu denganmu saat berjuang memompa detak jantungmu, hingga Dia memanggilMu, tepat di hari Jumat, di bulan Ramadhan. Dimana beberapa kali abimu sering membisikkan untuk mengajakmu sholat Jumat saat masih di rahim umi. Dimana saat hari Jumatlah kamu banyak mendengar alunan murotal, bahkan kadang sepanjang hari, ya, saat masih di rahim umi. Itu hari favoritmu, Nak... Hari favorit Allah, untuk lebih banyak menebar rizki, untuk memanggil kekasih2Nya untuk diundang di syurgaNya, seperti saat Dia memanggilmu.
Jika ajal tak mengenal usia, sungguh Maha sayang Allah yang mentaqdirkanmu masih memiliki sepuluh hari bersamaku. Bahkan di menit-menit terakhir, kau yang sudah kehilangan kesadaran masih menunjukkan degub jantung yang kuat hingga tak lama kemudian, kami yang menalqilkanmu, di antara sedu sedanku.
Dan kemudian aku menekuri diri, bukankah semua telah diatur begitu rapi olehNya. Bukankah Dia Yang Maha Segala begitu mencintai Mashka, hingga mengganti rasa sakit dengan kenyamanan dan keindahan abadi. Bukankah Dia Yang Maha Sayang juga mencintai kami dengan meperhatikan kami lewat ujianNya. Oh, Rabbi...
Dia yang pernah datang, tak pernah benar2 pergi. Justru smakin dekat, karena ia ada dalam kenangan yg selalu kubawa, kemana pun ku pergiDan pagi ini saya kembali membuka blog bunda Mukti, membaca kalimat2 penghibur lara, penyampai kabar gembira akan janjiNya kepada ibu manapun yang kehilangan putra putri terkasihnya.
*ajarkan aku utk IKHLAS
"aku tahu mbak rasa kehilangan ....berdamailah dengan rasa itu...serahkan pada yang Sang Maha Empunya...biarkan isak itu tumpah seperti kekasihNya menggugu dikala Ibrahim sang permata hati diminta Sang Pemilik..biar rasa itu mengkhaliskan seluruh rasa...biarkan rasa itu menuntun pada asa sakinah istana indah di sisiNya. amiin"
Ya, bahkan Rasulullah SAW menangis menggugu di kala Ibrahim sang putra kembali ke Pemiliknya kala usia sang putra masih begitu belia, begitu pula Yaqub As yang dirudung kesedihan tatkala kehilangan Yusuf As, meskipun kemudian mereka dipertemukan kembali.
Mbak, Akan tiba suatu masa, ketika kau menyadari bahwa riak bening di telaga Kautsar adalah muara air mata kesabaranmu di dunia, langit yang menopang keberadaanmu di sisi-Nya adalah rajutan ketegaranmu, dan sinar yang memancar dari setiap sudut istana abadimu adalah senyum keikhlasanmu.
Karena itu, bertahanlah. Jangan biarkan sungai ujian ini menghanyutkanmu, bahkan merenggut akarmu yang tersisa. Sampaikan rindu untuknya, lihatlah ia akan memelukmu dan membisikkan ke hatimu, “semuanya akan baik-baik saja ibu... ayah…”
Semua yang hidup pada akhirnya akan mati. Tapi tak pernah aku bayangkan sesakit ini rasanya saat Dia mengambil buah hatiku. Jika saja rasa ini benda, ingin sekali rasanya memasukannya dalam peti dan menguncinya rapat2, membuangnya di sudut tak terlihat. Tapi rasa ini hampa, tak kasat mata. Yang mampu aku lakukan adalah mencoba berdamai dengannya. Membiarkannya pelahan terkikis waktu. Karena seperti kata orang, waktu adalah obat terbaik. Time is the best medicine. Obat duka terbaik.
Wahai jiwa yang berduka,
yang berjalan menunduk
dan nafas beratnya bertanya,
mengapakah goresan tinta takdir ini
tak berlaku ramah?
Sungguh kesedihanmu
tengah menyiapkan rongga besar di hatimu,
sebagai penampung kebesaran jiwamu
nanti...
Terimakasih, Nak...
Terimakasih telah mengajarkan umi begitu banyak pelajaran berharga....
Tenanglah dalam tidurmu, jangan terganggu pada tangisan pilu umi dan abimu...
Karna kami hanya merindumu, merindu berkumpul denganmu kelak...
karna kami menangisi ketakutan amal kami yang masih kurang untuk menyusulmu...
Tunggu kami, Nak... Tunggu kami di peraduan indah jannahNya...
Dan begitulah, menulislah yang kadang mampu melerai duka melarung lara yang masih menggaruk menciptakan rongga di hati.
Ijinkan aku menuliskan doaku pagi ini,
semoga Allah kuatkan dan besarkan jiwa kami, juga semua orang tua yang Dia ambil putra putrinya...
Semoga Allah satukan kami, juga semua orang tua dengan anak-anak syurgaNya...
Semoga Allah berikan berlipat pahala pada kebesaran jiwa yang kami dan orang tua lainnya perjuangkan tatkala harus menghadapi duka yang meyayat kalbu karna kerinduan kami pada putra putri terkasih yang telah berpulang kepadaNya...
Semoga janji nikmat itu segera terkecap bagi siapapun yang dilanda kesempitan, kesedihan, dan ujian lain dariNya...
Semoga bulir2 kesabaran yang terpupuk menghapus setiap dosa dan menghadirkan nikmat iman dan pahala bagi setiap pejuang kesabaran di bumi ini...
Mesir, Suriah, Palestine, Rohingnya, di manapun semoga Allah limpahkan kekuatanNya untuk mereka yang tertindas dan teraniaya...
Aamiin..aamiin Ya Rabbi..
220813
Ketika pagi terasa masih gamang dan sepi
Beberapa catatan dari rumah kain kasa bunda
Tidak ada komentar:
Posting Komentar