Sekian kali merasakan hari raya iedul adha, kupikir meyakan hari raya berjauhan dengan keluarga adalah ujian terberat yang pernah kujalani, namun sepertinya aku (lagi2) salah.
Kini aku harus dihadapkan pada hari raya tanpa buah hati yang sebelumnya telah menjadi harapan indah. Inilah aku, manusia hina yang hanya memiliki kekuatan untuk berencana, karna masa depan adalah ghaib, dan Dia Yang Maha Menentukan yang berhak memutuskan.
Beberapa kali kejadian setaun lalu terbersit kembali. Bulan ini, di tahun sebelumnya, ketika mertua menunaikan ibadah haji, keyakinan bahwa setiap doa mereka akan diijabah Allah begitu terasa di hati. Harapan bahwa kali itu Allah pasti memberi keturunan untukku dan suami seolah benar2 terasa dekat. Dan benar saja, sepulang mertua beribadah haji, Allah menitipkan Mashka di rahimku. Ya, masih sangat jelas diingatan. Dan sejak itu, hingga ramadhan lalu, hidup terasa begitu indah, tanpa cela kesedihan yang berarti.
Harapan bahwa hari raya-hari raya setelahnya akan ada senyum bahagia dari sang buah hati tergambar. Dan sekali lagi, masa depan adalah hal paling ghaib, kini ketika takbir hari raya menggema, ternyata tangisan buah hati belum memenuhi rumah ini.
Tapi, alhamdulillah, tahun ini aku masih diberi kesempatan untuk memohon masa depan yang bahagia, terutama masa depan akherat, saat dimana aku bertemu Mashka kembali, Insya Allah... ^_^
Sudah galaunya,hari ini disunahkan untuk bersuka cita. Dan semoga Allah melindungiku dari kesedihan selama hari raya ini, karna suka cita jauh lebih dianjurkan di hari-hari ini...Aamiin..
===========
Kembali pada makna hari raya ini, ketika Ibrahim.as menerima perintah Allah untuk menyembelih sang putra kesayangan, Ismail.as. Tak bisa kubayangkan betapa kala itu Ibrahim.as dilanda kegalauan yang amat sangat. Godaan dari syetanpun tak henti2nya mrerayu. Tapi bukanlah Ibrahim.as bila tak mampu melawan segala godaan dan rela hati mengorbankan sang buah hati demi ketaatan mutlaknya pada Illahi. Karna ketaatan itu pulalah Allah yang Maha Rahman mengganti Ismail.as -yang pisau tajam sudah begitu dekat dengan lehernya- dengan seekor domba. Tak bisa pula kubayangkan betapa bahagianya Ibrahim.as kala itu.
Sungguh sebuah titik tertinggi ketaatan seorang hamba pada Rabbnya. Itulah mengapa hari suci ini Allah berbangga pada manusia. Karna manusia memiliki nafsu tapi menahannya, dan memiliki ego namun melepaskannya. Inilah yang membuat manusia berbeda dan mampu menjadi makhluk paling mulia. Bahkan malaikatpun iri ada ketaatannya.
Namun, tak dipungkiri, manusiapun mampu menjadi makhluk paling hina. Sebagaimana dalam Al-Qur'an, bahwa sesungguhnya semua makhluk mendapat petunjuk. Namun sebagian dari mereka berpaling darinya, sehingga Allah pun memalingkan hatinya dari petunjuk itu. Semoga kita, di hari ini mendapat ampunan atas segala dosa yang melekat dalam tubuh dan jiwa kita, dan qurban kita menjadi bentuk ketaatan kita pada Rabb yang Maha Agung. Aamiin.
Semoga bermanfaat...
Selamat berqurban..
waqaala innii dzaahibun ilaa rabbii sayahdiini, rabbi hab lii mina alshshaalihiina Ash-Shaaffat Ayat : 99-100
BalasHapus