Semalam, malam Jumat, seperti biasanya aku dan suami melakukan "wisata masjid". Belum lama jadi kebiasaan, kami sengaja shalat isya' di Masjid yang belum pernah kami kunjungi. Dari yang di pinggir jalan sampai yang 'blusukan'. Hehe, agak aneh ya kebiasaanya. Tapi dari sini biasanya kami dapat ilmu baru, syukur2 dapat saudara baru, atau mungkin dapat pelajaran baru.
Seperti tadi malam, tapi kali ini pelajaran yang kuambil bukan ketika menunaikan Isya' di masjid, tapi ketika dalam perjalanan seusainya. Berduaan boncengan motor sambil sesekali melirik jajanan makanan pinggir jalan yang tidak ada satupun menarik selera meski perut mulai protes..hihiihi. Yang ada malah keinget sayur di rumah, kayanya lebih seger dan sehat dibanding jajan. Kadang, wisata masjid ini memang dilanjutkan dengan wisata kuliner. Tapi kalo lagi pengen, nah kalo pas kaya tadi malem, akhirnya memutuskan untuk pulang dan menikmati makan malam berdua di rumah saja.
Saat perjalanan pulang inilah mataku menangkap sosok di pinggir jalan. Ibu dan kedua anaknya, duduk di trotoar, di samping gerobak yang berisi barang bekas dan mmm mungkin sampah. Aku langsung 'njawil' suami. Tapi ga langsung berhenti, dan baru berhenti setelah kurang lebih 100 meter. Saat itu juga aku langsung nagih dompet suami,,,haha, ini juga kebiasaan. Dan minta ijin tentunya :D.
Singkatnya, setelah menyisakan untuk keperluan bensin esok hari dan beberapa rupiah, kami berbelok arah menemui ibu tadi.
Aku turun dan medekati mereka. Sejenak mataku tertakjub pada kebahagiaan yang ada di depanku. Satu episode kebahagiaan yang tidak kulihat di kecukupan harta, keteduhan atap dan kehangatan tempat. Ibu, yang sepertinya usianya lebih muda dariku beberapa tahun, bersama kedua putranya. Yang pertama mungkin sekitar 2 tahunan, dan yang berada dipangkuannya mungkin baru enam atau tujuh bulanan.
Sang Ibu sedang menggelitik perut anaknya yang bungsu, si sulung dan bungsu ikut tertawa geli.
Aku berjongkok, menemui mereka yang duduk di trotoar. Kuberikan niatku, dan kulihat wajah sang ibu yang malu-malu. Aku sempat memberi canda pada si kecil, yang terlihat sangat dekil namun sehat. Namun hanya sekejab, aku segera kembali membonceng suamiku keburu air mata haru yang menetes terlihat oleh mereka.
Malam itu, uang yang ada di genggaman mereka lebih besar dibanding yang ada di dompetku, berharap setidaknya malam itu mereka merasakan kelapangan yang selalu kurasakan setiap malam, dan berharap kebahagiaan bermain dengan para buah hati segera menghampiri malam-malamku.
Malam itu lagi-lagi Allah menunjukkan kemahaanNya padaku. Ya, Maha Berkehendak atas segala sesuatu. Maha Adil, Maha Kuasa dan Maha Memilki. Malam itu seorang ibu pemulung dengan kedua putranya memberiku ilmu, jauh lebih berharga dari apapun...
Wallahu'alam...semoga bermanfaat
Tidak ada komentar:
Posting Komentar