Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan

Kamis, Oktober 31, 2013

'Orientasi atau Kebutuhan' versi Nyata

Masih inget tentang posting beberapa waktu lalu tentang orientasi dan kebutuhan, kan? Subhanallah, setelah mempublish posting tersebut, aku langsung dapet ujian. Masih tentang orientasi atau kebutuhan hidup, namun dalam konteks yang agak berbeda. Ternyata benar, ya... Kita bukan hanya harus jago 'omong' atau nulis tentang cara pandang kita, tapi harus dibuktikan juga. Dan benar saja, Allah langsung menguji konsistensiku terhadap apa yang pernah kutulis di posting tersebut.
Beberapa hari lalu, aku mendapat tawaran pekerjaan di sebuah bank syariah. Sebagai admin (micro back office ) dan lokasi kantornya hanya membutuhkan 10 menit perjalanan via sepeda motor. Yang terlintas langsung di pikaranku saat mendapat tawaran itu adalah : perkerjaan yang tidak memakan pikiran dan waktu serta lokasi yang sangat dekat. Memang masih outsourch, tapi hal itu tidak terlalu mengusikku, walaupun pada akhirnya temanku yang memberi tawaran tersebut menjelaskan panjang lebar mengenai banyaknya kesempatan berkarir menjadi pegawai tetap, belum lagi soal honor, THR dan bonus yang setara dengan pegawai tetap.

Di saat yang bersamaan, aku dan suami memang memerlukan biaya tambahan untuk segera merealisasikan rencana-rencana kami. Baiklah, kuakui saja, tawaran ini memang hampir menyilaukan. Masuk tanpa tes, kesempatan berkarir luas, kerjaan mudah dan lokasi deket. Betapa impian para pekerja banget... :D. Suami juga menyambut baik tawaran tersebut.

Namun, Alhamdulillah-nya, aku mendalami keuangan syariah kala kuliah dulu, bahkan pernah magang di suatu instansi syariah, meskipun masih standar kecil. Dan jelas sudah, meski berlabel syariah, aku masih meragukan beberapa praktek di lapangan. Inilah yang kemudian memancingku dan suami untuk bermuhasabah, beristikharah dan berusaha bertanya kepada orang yang ilmu agama maupun akademiknya lebih luas.

Aku mulai bertanya kepada salah seorang Ustadz, sebut saja ustadz 1. Dari awal beliau tidak mengatakan riba. Bahkan beliau menjelaskan akad apa saja yang terdapat di bank yang bukan merupakan praktek riba. Namun setelah aku menjelaskan tentang calon posisiku, beliau menjelaskan bahwa meskipun tidak berhubungan langsung, namun termasuk 'subhat', atau mendekati haram, dan jika ada yang lain sebaiknya ambil yang lain.

Yak, dapat satu jawaban. Pertanyaan yang sama kuajukan juga pada saudara sepupuku. Mas sepupuku ini memang terkenal dapat dipercaya dan InsyaAllah ilmu akademik dan agamanya juga luas. Dan hasilnya, beliau menyarankan hal serupa dengan Ustadz 1. 
Masih belum puas, aku menanyakannya kepada teman sekaligus Ustadzah bagiku. Mencoba menilik dari sisi lain. Dan hasilnya, ya, tetap sama. Hukumnya Subhat. Jadi apalagi yang akan diperdebatkan? Kebutuhan kami untuk segera pindah rumah? Keperluan berobat? Modal Usaha? 
Satu kalimat yang disampaikan ketika aku menanyakan hal ini dari teman 'ustadzah'ku itu :
"Din, meninggalkan sesuatu karena Allah, akan diganti dengan yang jauh lebih baik. Yang Subhat, tinggalkanlah."

Bukan hal yang mudah, terlebih memang harapan di depan mata mulai terlihat dekat jika aku mengambil kesempatan ini. Tapi Allah telah memperkenalkan diriNya padaku lewat Mashka, maka kini prioritas terbesar dalam hidupku hanya pulang ke kampung akherat dengan tenang dan diterima di surga hijauNya, bertemu dengan putra pertamaku, memeluknya dan membersamainya dalam kekekalan. 

Terlintas dalam pikirku tafsir yang sering kubaca atas ijin Allah, bahwa sebenarnya semua makhluk hidup yang ada di alam ini mendapat petunjuk dan hidayah. Namun sebagian dari mereka memalingkan dirinya dari kebenaran, dan seketika itu juga Allah palingkan hati mereka dari petunjukNya.
Na'udzubillah...
Dan kali ini Allah sudah jelas memberiku petunjuk, kalo aku terima juga, maka aku dengan sengaja membelok dari aturanNya yang sangat jelas. 
Dan setelah berdiskusi dengan suami, kami memutuskan untuk tidak menerimanya dengan keyakinan Allahlah yang akan menjamin kami. 

Bukan bermaksud menggurui, aku hanya belajar dari apa yang menimpaku selama ini, dan bermaksud berbagi. Sudah jelas, hukum Allah tak perlu dipertanyakan, terlebih ditawar... Ikuti saja, toh hidup ini kan tujuannya untuk mendapat pahala. (Ehm, kalimat ini sebenernya baru kedapet tadi pagi dari hasil pengajian).

Jadi, sekali lagi...coba tanyakan pada diri, apakah orientasimu sekarang?

Jumat, Oktober 25, 2013

Pelajaran dari Ibu Pemulung

Semalam, malam Jumat, seperti biasanya aku dan suami melakukan "wisata masjid". Belum lama jadi kebiasaan, kami sengaja shalat isya' di Masjid yang belum pernah kami kunjungi. Dari yang di pinggir jalan sampai yang 'blusukan'. Hehe, agak aneh ya kebiasaanya. Tapi dari sini biasanya kami dapat ilmu baru, syukur2 dapat saudara baru, atau mungkin dapat pelajaran baru.

Seperti tadi malam, tapi kali ini pelajaran yang kuambil bukan ketika menunaikan Isya' di masjid, tapi ketika dalam perjalanan seusainya. Berduaan boncengan motor sambil sesekali melirik jajanan makanan pinggir jalan yang tidak ada satupun menarik selera meski perut mulai protes..hihiihi. Yang ada malah keinget sayur di rumah, kayanya lebih seger dan sehat dibanding jajan. Kadang, wisata masjid ini memang dilanjutkan dengan wisata kuliner. Tapi kalo lagi pengen, nah kalo pas kaya tadi malem, akhirnya memutuskan untuk pulang dan menikmati makan malam berdua di rumah saja.

Saat perjalanan pulang inilah mataku menangkap sosok di pinggir jalan. Ibu dan kedua anaknya, duduk di trotoar, di samping gerobak yang berisi barang bekas dan mmm mungkin sampah. Aku langsung 'njawil' suami. Tapi ga langsung berhenti, dan baru berhenti setelah kurang lebih 100 meter. Saat itu juga aku langsung nagih dompet suami,,,haha, ini juga kebiasaan. Dan minta ijin tentunya :D.
Singkatnya, setelah menyisakan untuk keperluan bensin esok hari dan beberapa rupiah, kami berbelok arah menemui ibu tadi.

Aku turun dan medekati mereka. Sejenak mataku tertakjub pada kebahagiaan yang ada di depanku. Satu episode kebahagiaan yang tidak kulihat di kecukupan harta, keteduhan atap dan kehangatan tempat. Ibu, yang sepertinya usianya lebih muda dariku beberapa tahun, bersama kedua putranya. Yang pertama mungkin sekitar 2 tahunan, dan yang berada dipangkuannya mungkin baru enam atau tujuh bulanan.
Sang Ibu sedang menggelitik perut anaknya yang bungsu, si sulung dan bungsu ikut tertawa geli.
Aku berjongkok, menemui mereka yang duduk di trotoar. Kuberikan niatku, dan kulihat wajah sang ibu yang malu-malu. Aku sempat memberi canda pada si kecil, yang terlihat sangat dekil namun sehat. Namun hanya sekejab, aku segera kembali membonceng suamiku keburu air mata haru yang menetes terlihat oleh mereka.

Malam itu, uang yang ada di genggaman mereka lebih besar dibanding yang ada di dompetku, berharap setidaknya malam itu mereka merasakan kelapangan yang selalu kurasakan setiap malam, dan berharap kebahagiaan bermain dengan para buah hati segera menghampiri malam-malamku.

Malam itu lagi-lagi Allah menunjukkan kemahaanNya padaku. Ya, Maha Berkehendak atas segala sesuatu. Maha Adil, Maha Kuasa dan Maha Memilki. Malam itu seorang ibu pemulung dengan kedua putranya memberiku ilmu, jauh lebih berharga dari apapun...


Wallahu'alam...semoga bermanfaat

Selasa, September 10, 2013

Pelajaran Hari Ini : Kepastian Yang PASTI Dihadapi

Ini hanya opini dari orang bodoh yang cetek ilmu apalagi amal.

-----
Siang kemarin saat bersilaturahmi ke rumah seorang teman, tetiba kami dapat kabar duka dari ujung telepon temanku itu. Kabar disampaikan bapaknya dari ujung telepon itu tak hanya untuknya, tapi juga untukku. Ya, karena kami sebenarnya bertetangga sejak kecil, hanya kemudian temanku ini pindah setelah berkeluarga.

Kabar duka tentang 'simbah' (sebut saja begitu), yang setiap senin malam tak pernah absen mengaji di teras rumah, sejak jaman pengajian itu diadakan oleh Uti (Eyang putri), sampai kini diteruskan oleh Ibu, meski rumahnya yang paling jauh diantara jamaah lain. Simbah yang minggu lalu masih mendoakan agar kesehatanku segera pulih dan lekas diberi momongan lagi sambil berkaca-kaca. Simbah yang bahkan subuhnya sebelum meninggalkan dunia masih ke masjid dengan langkah terseoknya, seperti biasa. Simbah yang pagi hari masih mengiyakan ketika salah satu pegawai ibu 'ngutang' rokok dan bensin.

Tanpa ada tanda apapun, simbah hanya mengeluh sakit gigi yang amat sangat dan bahkan masih berniat turun dari ranjangnya. Masih mampu meminta tolong sang anak karna kesakitan. Dan kemudian melemas, hanya seperti tertidur. Nafasnya masih, denyutnya terasa, begitu ucap Ibu ketika saat itu langsung dipanggil sang anak sambil menangis. Tapi, ibu mengaku, saat itupun ibu juga ragu, apakah simbah masih 'disitu'. Sampai akhirnya beberapa menit, dan denyut benar2 tidak lagi terasa oleh sekelilingnya. Innalillahi wa innailaihi roji'un.. 

Tangis pecah, diantara keharuan dan kesedihan. Diantara keterkerkejutan orang2 yang ditinggalkan. Diantara kekagetan para ibu2 yang paginya masih bertemu sapa dan bersalam di masjid usai subuh. Bahkan aku dan temanku, yang ada sekitar dua kilometer, masih belum percaya. Kami mentaqilkannya, diantara kekaguman dan keharuan.

Terlalu mudah untuk bilang sabar pada keluarganya ketika hari ini berta'ziah, sebab akupun sadar, peristiwa kehilangan belahan jiwa meskipun -Insya Allah- khusnul khotimah (karna banyak omongan dari ta'ziah tentang kaebaikannya, bahkan ada yang mengatakan bahwa jalan yang biasa dilaluinya ketika hendak ke masjid tercium wewangian bunga), tetap saja kehilangan membuat lobang tersendiri di hati yang ditinggalkannya. Ya, sebab akupun belum lama mengalami, dan meski masih terasa hati tak seutuh sebelumnya, yakin bahwa usaha menambalnya dengan ikhlas, dan iman tak akan pernah menjadi sia-sia di mataNya. Meski , tetap saja, kehilangan tetaplah menyisakan kedukaan.

Ah, orang yang masih dangkal ilmu ini terkadang sok ya...Maaf, tapi tulisan ini selalu akan kutujukan kepada diri sendiri sebelum terbaca oleh kacamata lain.
Tidak ada cita-cita yang lebih tinggi di dunia ini selain khusnul khotimah. Beberapa kali berita duka selalu mengintari kita. Namun, berapa kali juga kita lupa. Mashka membuatku bercermin dan mengubah cita, mungkin karna dulu aku masih sering lupa bahwa  dunia ini benar2 tempat yang sementara. Semoga tak harus sepertiku, agar peringatanNya terdengar di telinga, dan teresap di hati. Menebalkan iman dan mengikis cinta dunia. 

Tinta pena telah mengering, lembaran-lembaran catatan ketentuan telah disimpan, setiap perkara telah diputuskan dan takdir telah ditetapkan. Maka,

Katakanlah: "Sekali-kali tidak akan menimpa kami, melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami" (QS At Taubah :51)

Dan, ketetapanNya yang paling pasti:

Tiap-tiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati" (QS. Ali 'Imran : 185)

Ya, ketetapanNya yang paling pasti pada kita yang dapat kita duga hanya satu, yaitu kematian. Semoga saya, anda dan siapapun yang membaca, Allah golongkan dalam golongan Khusnul Khotimah. Aamiin ya Robb.

----
Sekali lagi ya, ini cuma tulisan orang bodoh yang masih dangkal ilmu apalagi amal. Semoga bermanfaat ^^

Rabu, Juni 27, 2012

Short Story. : Old (best) Friend

Perempuan itu terhenyak kaget. Beberapa waktu lalu ia menjelajahi dunia maya, seperti biasanya. Memeriksa lingkungan sosial media ciptaan Mark Zuckerberg yang memang jarang ia perhatikan lagi akhir-akhir ini. Sebuah foto bayi mungil terpampang di profil sahabat lamanya. "Wah...subhanallah, selamat sahabatku", bisik batinnya.
Pikirannya berpendar, sebagian lari ke ingatan masa lalunya, sebagian lagi tetap menjelajahi halaman milik sahabatnya.

"Mbak ga malu ya?", tiba-tiba saja dia sudah dihadapanku dengan kalimat pertanyaan yang menggantung.
"Malu kenapa?", tanyaku balik
"Tuh", katanya sambil melirik kepalaku.
"Heh?" aku makin penasaran.
"Mbak sekarang ke sekolah pake jilbab, ntar kalo sampe rumah trus kemana-mana jilbabnya di copot. Huh, kaya bunglon tuh", ucapnya dengan nada santai namun berhasil menohok hatiku.
"Eh..ah..itu..aku..", aku gelagapan. Bener juga katanya. Ih, aku bunglon donk.
"Makanya, dipake aja terus jilbabnya. Mbak cantik kok kalo jilbabnya dipake", ucapnya tulus.
"Hehehe, iya deh iyaaa....biar ga jadi bunglon. Ajari mbak ya, dek" balasku. Kali ini aku tulus, aku benar-benar mau belajar.

Perempuan itu kembali pada kenyataan. Percakapan 12 tahun lalu itu masih terekam dalam otaknya yang biasanya punya memori lemah.
Dia kembali memandangi foto demi foto di depannya. Perempuan cantik dan seksi di foto itu... dia hampir tak mengenalinya. Tapi, dia masih mengenali masa lalunya. Bahkan keluarganya pun di masa lalu. "Kemana jilbabku, dek?", bisiknya pada layar 10 inch di depannya.

Begitu banyak pertanyaan di benak perempuan itu. Tapi tak sedikitpun bisa terlontar. Dia mungkin kecewa, namun dia sadar, bahwa kehidupan berputar. Dia terus menghujani hatinya dengan prasangka-prasangka baik.
Azan berkumandang. Ia kembali terhenyak, namun kali ini ia lanjutkan dengan senyum tipis di wajahnya. "Selamat sahabatku. Doaku akan menyertaimu, dan keluargamu. Bahwa pernah menjadi sahabatmu adalah hidayahNya.", bisiknya.

Ia matikan layar di depannya dan segera mengambil air wudhu.


Rabu, Mei 09, 2012

Simbah Penjual Bensin

Ssslllrruuuuuuppp...ahh
Minum kopi dulu pagi ini. Wohoho, finnaly, ternyata ngepost sepagi ini memang terasa minum kopi.Tentunya setelah menyiapkan keperluan suami sampai berangkat ngantor.
Masih bingung mo nulis apa hari ini, buka2 twitter, ga nemu ide, buka2 fesbuk apalagi. Sampai akhirnya buka2 hape dan nemu foto ini:: tadaaaa...

Guess who is it!!

Ini adalah simbah2 penjual bensin di timur SGM. Yang orang jogja, kalo lewat situ, pernah g perhatiin simbah ini? Haha, mungkin jawaban kamu, buat apa, toh sodara bukan, tetangga bukan. Yup, dulu sy jg tdk pernah menyadari si embah ini, walopun kemana2 lewat jalan itu. Tapi, tidak untuk suami sy.

Beberapa waktu setelah kepulangan ke jogja dan melewati jalan itu, suami menunjuk simbah yg lagi menunggu pelanggannya sambil terkantuk-kantuk. Ternyata selama ini suami selalu memperhatikan simbah itu." Tidak lagi beli bensin di pom, tp di simbah", katanya. 

Tidak peduli seperti apa simbah itu ketika muda, entah bagaimana caranya beliau mendorong gerobak bensinya yang berisi belasan liter bensin itu di jalan menanjak di sebelah timur SGM dg tubuh rentanya. Daya juangnya yang kami kagumi dari beliau, maka sebisa mungkin kami ikut menambah laba penjualannya meski 500 rupiah. Isu naiknya BBM kemaren juga mendaratkan ingatan kami tentang beliau dan semua yang berprofesi sama dengannya. Ini bukan alay (tapi agak), bisa jadi kan wong sepuh seperti beliau ini sangat mengandalkan harga BBM yg stabil.

Ini bukan wacana, tapi benar2 fakta. Ahh, rasanya cukup lama sy tidak peka dengan keadaan sekitar. Beberapa waktu lalu hanya berkutat dengan tugas, dinas dan hiburan. Hanya mampu sekedar menyisihkan beberapa rupiah tanpa melihat bahkan bertindak langsung. Syukur sekarang aku dikembalikan lagi.

Dan sekarang, sy sangat belum merasa bermanfaat untuk orang lain. Iri rasanya kalo baca twit ada yang menggelar sedekah bareng, membantu orang tdk mampu di RS, bahkan membayar hutang seseorang agar tdk diusir. (Dem, iri bgt gw). Pagi ini, saya mulai lagi menyusun harapan, merangkai doa, dan menyiapkan rencana. Sebuah pagi yang diawali dengan niat baik semoga... Yuk, saya, kamu dan kita bukan hanya sibuk dengan kepentingan kita saja, tapi juga memperhatikan simbah2, dan saudara2 di sekitar kita. 
Saya sumpahin kalo kamu jadi penuh barakah!!!! ^^

Sekian dan trimakasih. Semoga bermanfaat
Salam ngopi_ngeteh_nge'susu dsb MSN Onion Emoticons

Rabu, November 09, 2011

Selamat Iedul Adha *radatelat*


IED ADHA di kampung...

Haru menyeruak ketika takbir berkumandang bada sholat magrib di langgar 5 November kemarin. Rasanya lama sekali aku tak mendengar takbir dari langgar tua di samping rumah. Sekejap ingatanku meluncur pada peristiwa tahun lalu ketika aku menghabiskan hari raya Iedul Qurban di tanah perantauan, bersama sahabat dan suamiku yang berkunjung. Syukurku kembali berbisik….

Qurban, sebuah peristiwa yang dipelopori oleh kisah Ibrahim as untuk mengorbankan putranya Ismail as. Pengorbanan yang kemudian diganti oleh Allah dengan seekor domba itu bukan sekedar pengorbanan biasa. Ismail adalah adalah anak yang sejak lama didambakan. Bukan hal yang ringan ketika Allah memerintahkan beliau untuk menyembelih anaknya. YA, menyembelih!!! Coba kalo jaman sekarang… ??? Dikira gila kali kalo ada orang yang ngaku mimpi suruh nyembelih anaknya.

Idul Qurban kali ini aku justru belajar dari seorang tua tetanggaku. Meski dengan nominal yang sama denganku, embah ini memiliki semangat yang luar biasa untuk berkorban. Belakang aku jadi tau tentang kisah hidupnya yang penuh dengan keikhlasan. Embah ini tinggal bersama cucu, menantu cucu dan buyutnya yang hidup pas-pasan juga. Mudanya, ia mengijabqobulkan suaminya. Ya, embah ini menikahkan suaminya dengan wanita lain dan merelakan dirinya dimadu daripada melihat suaminya selingkuh. What a wondering wife!!!(Aku takjub pada keikhlasannya lho ya...bukan mo niru juga). Beliau muda pelahan menua, tanpa pekerjaan. Lalu, darimana uangnya untuk berkurban? Tabungan! Mbah yang pernah menangis haru saat tau aku kembali ke kampung ini merelakan kebutuhan hariannya ditekan sedemikian rupa hingga ianya mampu menabung setiap harinya satu tahun ini. Entah,mungkin juga sebagian diberi cucunya. Tapi dengan tubuh bongkoknya dan langkah yang tak lagi lebar, beliau sampai di rumah pagi2 benar, menemui Bapak yang biasa ditunjuk sebagai pengurus hewan qurban. Pagi itu aku belajar darinya tentang pengorbanan demi menunaikan perintah Allah, demi memantaskan diri sebagai hamba . Aku sempat mencandainya kala itu, raut ikhlas dalam tawa itu tergurat jelas di wajahnya.

Malu rasanya jika kita yang lebih sehat, lebih muda dan lebih mampu tapi tak lebih berkurban dan ikhlas dari beliau. Tidak harus menunggu hari raya Qurban untuk membahagiakan sekitar kita. Aku mengintropeksi diriku kembali, merenungi nilaiku yang masih sangat kecil. Semoga masih ada kesempatan bagiku untuk menjadi manfaat.

Postingnya emang telat, tapi semoga bermanfaat ya...suwun.. ^_^

Rabu, Oktober 19, 2011

Selamat milad, suamiku.. ^_^


Kubuka kembali postingan tahun lalu, tepat ditanggal yang sama tahun lalu. Yang kutulis dengan perasaan bersalah dan sedih…
Yach, setaun lalu, tidak seperti hari ini, ketika dia kembali bertemu dengan tanggal kelahirannya. Beberapa hari sebelumnya, aku sibuk menghitung hari dan menerka kemungkinan apakah ijin pulang dan bertemu dengannya bisa kudapatkan. Saat itu hari selasa, dan kemungkinan yang kuhitung mendapati angka 0%, mustahil! Setahun sebelumnya, atau dua tahun dari sekarang, di saat yang sama, aku belum diperkenankan untuk bertemu dengannya. Dan bayangkan betapa merasa bersalahnya aku ketika kemudian saat itu aku yang telah berjanji mendampinginya justru berada jauh darinya. Sepanjang hari tahun lalu aku diliputi ‘kegalauan’ dan rasa bersalah meski dia sedikitpun tidak mempermasalahkan hal itu. Bisa saja aku mengirimkan hadiah mahal lewat paket, tapi jika aku melakukannya, kebodohanku bisa dikuadaratkan seketika!! Ini bukan tentang hadiah, bukan tentang kado atau apapun yang selama ini menyimbolkan hari kelahiran. Bagiku, ini lebih pada kebersamaan, kebersyukuran dan intropeksi yang dapat dilakukan bersama.

Tapi tidak lagi di tahun ini! Cukup moment tahun pertama kami yang hilang. Kini aku sudah kembali padanya. Meski mungkin tidak lagi membelikan kado mahal dengan kualitas impor, tapi lebih dari itu. Kami mampu bangun bersama saat azan shubuh berkumandang, kami meikamati sarapan buatanku bersama, bahkan hari ini aku mengantarnya bekerja. Dan malam nanti, kami menyiapkan syukuran kecil untuk keluarga dan bapak2 yang biasa tadarus di rumah. Bukan sesuatu yang besar apalagi mewah. Bukan, tapi ini jadi momen pertama kami kembali, meski di tahun kedua. Biar saja momen pertama di tahun pertama kami hilang, setidaknya kami mampu belajar. Dan cukup, kami mulai membangun kembali penyangga rumah kami di tahun kedua ini.

SELAMAT MILAD, suamiku tersayang… Semoga usia yang tersisa menjadi barokah dan manfaat dunia dan akherat. Semoga kesabaran dan keshalehan yang selama ini membimbingku yang masih kurang ini tak berkurang sedikitpun dan senantiasa bertambah. Dan, semoga kasih sayang diantara kita, keluarga kita, hingga anak cucu kita senantiasa terjaga hingga pertemuan di jannah-Nya. Amien.

Jumat, Februari 25, 2011

tampil beda

kali ini mengganti tema,warna dan segalanya ...

wifeshopes kayanya terlalu melo, dan absolutelly jadi inget si blog ketika melo saja. Alias jadi tempat curcol..

Nah, pengennya tema baru ini lebih memberi manfaat. Tapi tetep, judulnya jadi lebih ekstrim:
'HOME MISSER'
adalah kata untuk membentuk kata 'perindu rumah'. Haha, entah sakin sangat gilanya jauh dari rumah, sekarang jadi mulai terobsesi dengan yang bernama 'rumah'. Berharap blog ini bisa mengisi kesuntukan tiada tara ketika ada di luar rumah. Tumpah ruah tentang segala hal yang ingin dibagi.

Kenapa big big big dream: yak, masih nyangkut dg kemaren yang digambarkan dg kata 'hope' yaitu PENGEN BALIK.

Jadi pada intinya, blog ini lebih terinspirasi dengan keadaan, kondisi atau apapun yg sekarang ini sedang terjadi. Dan menuju mimpi itu, akan ada banyak cerita...



mari lebih realistis tapi tetap khusnudhon.... Saya berani bermimpi....dan saya akan mewujudkannya...!!!

Selasa, Februari 22, 2011

Suamiku, aku ingin berbakti padamu...

Bismillah..  Semoga bisa diambil manfaatnya oleh saudari-saudari muslimahku..  

(KISAH)     

Sore itu,, menunggu kedatangan teman yang akan menjemputku di masjid ini seusai ashar.. seorang akhwat datang, tersenyum dan duduk disampingku, mengucapkan salam, sambil berkenalan dan sampai pula pada pertanyaan itu. “anty sudah menikah?”. “Belum mbak”, jawabku. Kemudian akhwat itu .bertanya lagi “kenapa?” hanya bisa ku jawab dengan senyuman.. ingin ku jawab karena masih kuliah, tapi rasanya itu bukan alasan.
 “mbak menunggu siapa?” aku mencoba bertanya. “nunggu suami” jawabnya. Aku melihat kesamping kirinya, sebuah tas laptop dan sebuah tas besar lagi yang tak bisa kutebak apa isinya. Dalam hati bertanya-tanya, dari mana mbak ini? Sepertinya wanita karir. Akhirnya kuberanikan juga untuk bertanya  “mbak kerja dimana?”, ntahlah keyakinan apa yg meyakiniku bahwa mbak ini seorang pekerja, padahal setahu ku, akhwat2 seperti ini kebanyakan hanya mengabdi sebagai ibu rumah tangga.  “Alhamdulillah 2 jam yang lalu saya resmi tidak bekerja lagi” , jawabnya dengan wajah yang aneh menurutku, wajah yang bersinar dengan ketulusan hati.  “kenapa?” tanyaku lagi.

Dia hanya tersenyum dan menjawab “karena inilah cara satu cara yang bisa membuat saya lebih hormat pada suami” jawabnya tegas.

Aku berfikir sejenak, apa hubungannya? Heran. Lagi-lagi dia hanya trsenyum.  Ukhty, boleh saya cerita sedikit? Dan saya berharap ini bisa menjadi pelajaran berharga buat kita para wanita yang Insya Allah akan didatangi oleh ikhwan yang sangat mencintai akhirat.  “saya bekerja di kantor, mungkin tak perlu saya sebutkan nama kantornya. Gaji saya 7juta/bulan. Suami saya bekerja sebagai penjual roti bakar di pagi hari, es cendol di siang hari. Kami menikah baru 3 bulan, dan kemarinlah untuk pertama kalinya saya menangis karena merasa durhaka padanya.   Waktu itu jam 7 malam, suami baru menjemput saya dari kantor, hari ini lembur, biasanya sore jam 3 sudah pulang.
Saya capek sekali ukhty. Saat itu juga suami masuk angin dan kepalanya pusing.  Dan parahnya saya juga lagi pusing .  Suami minta diambilkan air minum, tapi saya malah berkata, “abi,umi pusing nih, ambil sendiri lah”.  Pusing membuat saya tertidur hingga lupa sholat isya. Jam 23.30 saya terbangun dan cepat-cepat  sholat, Alhamdulillah pusing pun telah hilang.
Beranjak dari sajadah, saya melihat suami saya tidur dengan pulasnya. Menuju ke dapur, saya liat semua piring sudah bersih tercuci. Siapa lagi yang bukan mencucinya kalo bukan suami saya? Terlihat lagi semua baju kotor telah di cuci. Astagfirullah, kenapa abi mengerjakan semua ini? Bukankah abi juga pusing tadi malam? Saya segera masuk lagi ke kamar, berharap abi sadar dan mau menjelaskannya, tapi rasanya abi terlalu lelah, hingga tak sadar juga. Rasa iba mulai memenuhi jiwa saya, saya pegang wajah suami saya itu, ya Allah panas sekali pipinya, keningnya, Masya Allah, abi deman, tinggi sekali panasnya. Saya teringat atas perkataan terakhir saya pada suami tadi. Hanya disuruh mengambilkan air minum saja, saya membantahnya. Air mata ini menetes, betapa selama ini saya terlalu sibuk diluar rumah, tidak memperhatikan hak suami saya.”

Subhanallah, aku melihat mbak ini cerita dengan semangatnya, membuta hati ini merinding. Dan kulihat juga ada tetesan air mata yg di usapnya.  “anty tau berapa gaji suami saya? Sangat berbeda jauh dengan gaji saya. Sekitar  600-700rb/bulan. 10x lipat dari gaji saya. Dan malam itu saya benar-benar merasa durhaka pada suami saya. Dengan gaji yang saya miliki, saya merasa tak perlu meminta nafkah pada suami, meskipun suami selalu memberikan hasil jualannya itu pada saya, dan setiap kali memberikan hasil jualannya , ia selalu berkata “umi,,ini ada titipan rezeki dari Allah. Di ambil ya. Buat keperluan kita. Dan tidak banyak jumlahnya, mudah2an umi ridho”, begitu katanya.  Kenapa baru sekarang saya merasakan dalamnya kata-kata itu. Betapa harta ini membuat saya sombong pada nafkah yang diberikan suami saya”, lanjutnya  “Alhamdulillah saya sekarang memutuskan untuk berhenti bekerja, mudah-mudahan dengan jalan ini, saya lebih bisa menghargai nafkah yang diberikan suami. Wanita itu begitu susah menjaga harta, dan karena harta juga wanita sering lupa kodratnya, dan gampang menyepelehkan suami.” Lantutnya lagi, tak memberikan kesempatan bagiku untuk berbicara. 

“beberapa hari yang lalu, saya berkunjung ke rumah orang tua, dan menceritakan niat saya ini. Saya sedih, karena orang tua, dan saudara-saudara saya tidak ada yang mendukung niat saya untuk berhenti berkerja . Malah mereka membanding-bandingkan pekerjaan suami saya dengan orang lain.”  
Aku masih terdiam, bisu, mendengar keluh kesahnya. Subhanallah,,apa aku bisa seperti dia? Menerima sosok pangeran apa adanya, bahkan rela meninggalkan pekerjaan.  “kak, kita itu harus memikirkan masa depan. 

"Kita kerja juga untuk anak-anak kita kak. Biaya hidup sekarang ini besar.  Begitu banyak orang yang butuh pekerjaan. Nah kakak malah pengen berhenti kerja. Suami kakak pun penghasilannya kurang. Mending kalo suami kakak pengusaha kaya, bolehlah kita santai-santai aja di rumah. Salah kakak juga sih, kalo ma jadi ibu rumah tangga, seharusnya nikah sama yang kaya. Sama dokter muda itu yang berniat melamar kakak duluan sebelum sama yang ini. Tapi kakak lebih milih nikah sama orang yang belum jelas pekerjaannya. Dari 4 orang anak bapak, Cuma suami kakak yang tidak punya penghasilan tetap dan yang paling buat kami kesal, sepertinya suami kakak itu lebih suka hidup seperti ini, ditawarin kerja di bank oleh saudara sendiri yang ingin membantupun tak mau, sampai heran aku, apa maunya suami kakak itu”. Ceritanya kembali, menceritakan ucapan adik perempuannya saat dimintai pendapat.  

“anty tau, saya hanya bisa nangis saat itu. Saya menangis bukan Karena apa yang dikatakan adik saya itu benar, bukan karena itu. Tapi saya menangis karena imam saya dipandang rendah olehnya.

Bagaimana mungkin dia maremehkan setiap tetes keringat suami saya, padahal dengan tetesan keringat itu, Allah memandangnya mulia. 
Bagaimana mungkin dia menghina orang yang senantiasa membanguni saya untuk sujud dimalam hari.
Bagaimana  mungkin dia menghina orang yang dengan kata-kata lembutnya selalu menenangkan hati saya.
Bagaimana mungkin dia menghina orang yang berani datang pada orang tua saya untuk melamar saya, padahal saat itu orang tersebut belum mempunyai pekerjaan.
Bagaimana mungkin seseorang yang begitu saya muliakan, ternyata begitu rendah dihadapnnya hanya karena sebuah pekerjaaan. 
Saya memutuskan berhenti bekerja, karena tak ingin melihat orang membanding-bandingkan gaji saya dengan gaji suami saya. Saya memutuskan berhenti bekerja juga untuk menghargai nafkah yang diberikan suami saya. Saya juga memutuskan berhenti bekerja untuk memenuhi hak-hak suami saya. Semoga saya tak lagi membantah perintah suami. Semoga saya juga ridho atas besarnya nafkah itu.
Saya bangga ukhti dengan pekerjaan suami saya, sangat bangga, bahkan begitu menghormati pekerjaannya, karena tak semua orang punya keberanian dengan pekerjaan itu. Kebanyakan orang lebih memilih jadi pengangguran dari pada melakukan pekerjaan yang seperti itu. Tapi lihatlah suami saya, tak ada rasa malu baginya untuk menafkahi istri dengan nafkah yang halal. Itulah yang membuat saya begitu bangga pada suami saya. Semoga jika anty mendapatkan suami seperti saya, anty tak perlu malu untuk menceritakannya pekerjaan suami anty pada orang lain.

Bukan masalah pekerjaannya ukhty, tapi masalah halalnya, berkahnya, dan kita memohon pada Allah, semoga Allah menjauhkan suami kita dari rizki yang haram”. Ucapnya terakhir, sambil tersenyum manis padaku. Mengambil tas laptonya,, bergegas ingin meninggalkannku. Kulihat dari kejauhan seorang ikhwan dengan menggunakan sepeda motor butut mendekat ke arah kami, wajahnya ditutupi kaca helm, meskipun tak ada niatku menatap mukanya. Sambil mengucapkan salam, meninggalkannku. Wajah itu tenang sekali, wajah seorang istri yang begitu ridho.

Ya Allah….  Sekarang giliran aku yang menangis. Hari ini aku dapat pelajaran paling baik dalam hidupku.  Pelajaran yang membuatu  menghapus sosok pangeran kaya yang ada dalam benakku..

Subhanallah..

semoga,,pekerjaan,, harta  tak pernah menghalangimu untuk tidak menerima pinangan dari laki-laki yang baik agamanya.

(Repost dr tetangganya temen...)  

-semoga manfaat-

Jumat, Desember 31, 2010

mengintip sejenak 2011

Tidak seharusnya ini disebut tahun baru bagi kita, bukan? Tahun baru seharusnya memang sudah 7 desember kemarin jika di'masehi'kan..?

Tapi memang tidak dipungkiri, secara global, besoklah tahun baru bagi dunia.Yasudla, jika itu memang bisa menjadikan kita merefleksi diri pada sejarah yang menjadikan kita sampai pada hari sekarang..

Tahun baru, sebuah momen untuk memulai rencana dan harapan baru tentunya. Bagi yang belum menikah dan sudah waktunya, pasti berharap tahun ini dia akan segera menemukan petner hidupnya dan memulai lembaran baru di atas panggung yang kita sebut: PERNIKAHAN.

Yang belom lulus dan sudah memasuki akhir semester kuliah, pasti berharap tahun 2011 merubah setatusnya menjadi SARJANA

Atau yang sedang hamil, 2011 adalah kehidupan baru dengan kelahiran rizki yang ditunggu2 kedatangannya.

Dan masih banyak mimpi lainnya...

Pribadi, 2010 adalah masa penuh kejutan dan di luar rencana..
Setelah gelar sarjana menempel di 'dahi' ku pada Okt 09, 2010 menjadi tahun penuh rencana karir. Berbagai strategi tersusun menjadi tangga untuk mengharumkan nama bangsa *ok, ini terlalu alay...* nama kluarga maksudnya..

Tapi, siapa yang sangka jika kemudian Allah memberi petunjuk dengan menolehkanku pada rencana pernikahan. Dan "ta-daaa.." setelah mantap untuk berhijrah ke jalan 'relationship' yang halal, aq dipertemukan dg makhluk sholehNya. Maka dengan modal niat ibadah dan tawakal, jadilah hak atasku berada di tangannya pada 25 April 2010.

Dan tepat malamnya, masih di 25 April 2010, sebuah pengumuman kelolosanku pada uji memasuki gerbang pintu rizki. Esoknya, uji akhirku kulalui dg restu suami. 
Hingga lebih kurang 3 minggu, munculah pengumumannya bahwa Allah membukakan pintu rejeki yang dijanjikanNYA. Ya, dan itu tidak gratis, sodara2... Karena setelahnya, kehidupanku berubah DRASTIS!

Singkatnya, ternyata setelah itu aq harus hidup terpisah dari keluargaku, dan suamiku...Singkat sekali kemanisan pasangan baru yang aku alami, ya itu benar..Bahkan aq belum sempat mengunjungi keluarga suamiku di madura. Hmm, aq belum pernah bertandang ke rumah mertua pada tepatnya.
'Pilihan belajar mandiri' pikirku saat itu yang masih mengira aku hanya meninggalkan mereka tidak lebih dari 4 x 30 hari.

2 minggu pertama di akhir bulan mei, aq habiskan hariku di diklat kesamamptaan Batujajar, JAwa Barat. Tempatnya latihan komando pasukan khusus ato sering disebut Kopassus. Disitu, aq dan teman2 dilatih berbagai 'seni' militer. Dari mental sampe fisik. Bahkan dipisahkan dari dunia luar. Mengingatnya kadang membuatku tak percaya bahwa aq pernah mengalaminya.
2 minggu setelahnya, otak yang kemudian dilatih agar 'sinkron' dengan perusahaan, dibumbui dg terapi kejut 'info gaji' dan semacamnya juga utk menguatkan. Dua kata ketika mengingatnya: Terlihat Bodoh..

Besyukur pada akhirnya kami dikembalikan ke rumah.... :,( Hiks, 4 hari, karna setelahnya, aq seperti pasukan khusus yang segera diterbangkan ke kawasan tugas...

Pekanbaru, tanjungpinang, sebentar di padang, dan sejenak sempat lewat batam. 
2010 adalah pertualangan..Itu keputusanku..

Maka doaku 2011 adalah KEMBALI KE RUMAH dan memeluk semuanya. . .

Allah, terimakasih...

lanjut dan edit selanjutnya...




Kamis, Desember 09, 2010

Posting : before landing..bored on de plane..

5 jam bosan, akhirnya setelah 2x pengumuman keterlambatan, akhirnya pesawat dari maskapai sriwi*a*a (ga ngaruh juga sensoranya yak..haha) itu terbang juga membawaku menuju tanjungpinang, tampat rejekiku saat ini berada..

Krna perjalanan kira2 bakal terlampaui selama 2 jam kurang 10 menit,huh, pasti akan mati bosan lagi kaloga tidur. Dan nasib oh nasib yang membawaku pada bangku B, yang berarti ada di tengah. Yak, dan disampingku ada bapak2, alhasil ga tidur deh.

Lagi2, karna tau buku mbak asma belum kucoret coret, makan mulailah sedikit menuliskan sesuatu, sambil dengan perasaan sedih tentunya saat take off meninggalkan pulau jawa...

"on de plane to tanjunpinang
between 2 oldman

Buku ini (red:catatan hati seorang istri, asma nadia) telah tamat kubaca 1 hari setelah membelinya. Entah, tadi saat berangkat, buku ini kembali kubawa, "lumayan utk pegangan." pikirku, meski akhirnya aku membeli buku lagi, seperti biasanya..

Membaca bukuku berjalan mundur ketika masih berada dalam angan satu ini kembali membuat pertimbangan sebelum memasuki babak yang disebut pernikahan'. Sebuah buku yang menggambarkan realita2 sekitar (red: tragis) yang tdk mungkin dipungkiri.
Tapi ketika akhirnya sudah benar2 ada di arena pernikahan, tema yang kemudian kuambil adalah SYUKUR. Syukur karna akhirnya aku bersuamikan seorang shaleh dan jauh dari kemungkinan buruk itu, seperti hal2  buruk yang diceritakan di buku ini.
Meski tak dipungkiri juga, Allah tetap memberiku rejeki cobaan u/ jauh darinya. Jauh. . . .
BErmil-mil jauh suami membuatku merasa bersalah terkadang. Entah bagaimana menggambarkannya, tapi seolah aq yang bersalah di atas semua keadaan ini. Dan suamiku ikut terbebani karenanya. Terlebih lagi saat melihat seorang ibu yang menggendong bayinya.
Berkali-kali kabr gembira menyapa tentang keadaan 'positif' kawan-kawanku, bahkan mereka yang pernikahannya setelahku. lagi2 aq merasa berdosa..

Hanya kemudian aq berdoa, semoga ini tak akan lama, dan Allah menunjukan hikmahnya.
Aku mungkin terpilih untuk menjalani ini dan sengaja Allah memilihku dan keluargaku untuk diangkat derajadnya dihadapanNYA. Amin"

on sriw*j*y*
071210




Cukup singkat menulis karna space uda ga cukup lagi. Mencoba tidur, tetep ga bisa. Paling cuma ngelamun sambil melihat si ibu dengan anak lucunya itu...

bosan..Bapak gendut disebelah kiriku yang menebar aroma khas minyak wangi bapak2 habis umroh sudah terlelap sejak tadi, maka kubuka pembicaraan dengan bapak di sebelah kananku..
"Asli Tanjungpinang, pak?"
"Oh bukan...mbaknya dari tgpinang ya"
"Bukan pak, saya kerja di sana..."
"Ohh, trus dari jawa juga ya? bapak juga kerja disana"

DAn mengalirlah cerita dari bapak itu. BApak itu berkerja di KPP, pajak. Memiliki 3 anak, ce, co, ce. Anak pertamanya, yang kuliah di akuntansi dulunya dan mengaku itu adalah kehendak orang tuanya setelah lulus, meski ya, nilainya cumlaude.
Pada suatu saat, si anak berjalan2 di mall dan singgah di foodcourt dg ibunya. Dan saat itu, terucaplah bahwa dia ingin pinya kios juice spt yang ada di salah satu kios foodcourt tsb.
Sampai di rumah, sang bapak mendapati istrinya menangis karna sang anak pertamanya itu.. Dengan bijak, bapak itu menjelaskan pada sang anak secara halus untuk tidak terlalu tergesa-gesa mengambil keputusan karna butuh modal. BAhkan sang bapak memberi ide untuk join agar suatu hari dapat mendirikan RM keluarga khas jawa timur.

Dari situlah, kemudian, sang anak diam2 mencari kerja dan diterima di LAPAN dan sekarang gajinya melebihi orang tuanya. Ada raut bangga terpancar dari bapak yang bernama pak Edy yang ku tau setelah hampir landing di tanjungpinang. Masih banyak lagi yang bapak itu ceritakan, dan saat itu, selama lebih dari 1 jam aq lebih memilih banyak mendengar dan sedikit berkomentar atau bertanya sampai akhirnya tibalah kami di tanah perantauan, tanjungpinang.

Sampai di akhir bapak itu memberi doa,
"Nah, mbak nanti kalo ada apa2 di tjpinang, hub bapak aja..sama2 orang jawalah kita, sudah seperti saudara. Bapak doakan semoga nanti cepet deket ya dg suaminya.."
Pertemuan kami kuakhiri dg amin atas doanya dan terimakasih utk penawarannya..

Singkat memang, tapi banyak pelajaran yang hari itu kuambil hingga akhirnya kini harus menjalani lagi jalan hidup. Terkadang aq masih menggerutu dg nasib seperti ini, hidup yang selama 5 bulan ini hanya kulalui dengan mati rasa. Maka kali ini beribu syukur kupanjatkan karena diberi kesempatan utk merasakan 'hidup' lagi selama 68 jam...

Tidak ada yang tak mungkin bagiNYA...meski banyak yang bilang aq terlalu bermimpi utk kembali dengan suami dan orang tua-orang tuaku, kunci syurgaku, tapi tidak utkku..karna aq pnya doa, aq punya Allah Maha Berkehendak dan Menepati Janji...




Posting : On delay . . .

Hasrat ngeblog terpendam akhirnya keluar juga setelah sebelumnya berhari-hari nahan sakit perut pengen ngeblog..*alay...
Dan di saat2 dibutuhkan, lepiku justru tak kubawa, akhirnya bukunya 'mbak nadia asma' yg kubawa dari rumah dan bukunya 'mbak malahayati' yang baru kubeli dari sukarnohata jadi korban tempat corat-coret sepenggal cerita kala menunggu delay yang hampir membuatku pingsan karna bosan.

So, just want to post it, yak....
Bandara yang membosankan, soekarno hatta karna delay 2 jam setelah turun dari pesawat sebelumnya 3 jam yang lalu...

Hhhggrrr, sendiri menunggu adalah pekerjaan paling membuatku mati kutu, mati gaya dsb. 2 buku ukuran sedang sudah tertelan dan ga tau mo ngapain lagi. Teringat sang lepi di kontrakan yang sengaja kutinggalkan karna tak sekalipun terpikir akan 5 jam kaku dalam bandara. Oh, tiba2 merindukannya, dan pastinya bisa kubunuh waktu setelahnya dengan berjelajah fesbuk, milist, dan blogging ofcourse.

Untung bawa pulpen, walopun kalo boleh jujur, pulpen yang aku bawa ga enak bgt buat nulis. Tapi dari pada tidak, kutulis juga apapun yg ingin kutulis, ya di satu2nya media menulisku kala itu, yang sengaja kubeli dari badara.."99 bisnis ibu rumah tangga" *ga usah dibahas tentang judulnya ya?"..

Dari dalam gate B7 yang sangat ramai dengan percampuran bahasa dan beragam ekspresi, aq berpindah keluar gate dan membeli beberapa snack, kripik kentang dan air mineral jadi pilihan. Nah, tinggal cari tempat duduk yang ga jauh dari b7. Dan kebetulan, saat2 seperti ini memang sangat cocok dapet satu deret bangku kosong. Duduk di deret paling pojok kiri dan mulailah. Membaca kembali lembar2 yang sudah terbaca sebelumnya sambil makan kripiknya. Haha, kalo digambarkan dalam film ftv uda kek keren banget lah posisiku waktu itu. hohoho...traveler woman in de airport...yeah!!

Bosan membaca bacaan yg hampir kuhapal, akhirnya aq mulai menulis. Niatnya ngeblog kalo memang bawa lepi, tp lagi2 apalah daya. DAn seperti yang tetangga blogerku pernah bilang, kalo cew ngeblog biasanya curhat. dan memang benar... Dalam keadaan yang mendramatisir karna lagi2 harus meninggalkan rumah tercinta dengan suami, orang tua serta saudara2 terkasih, dimulailah blog (tulisan)ku kala itu.

"19.02
07 dec 2010
on delay until 19.55
Hhhhfffftt...why i have to pass this way..
I've no space to write,so decide to write here, in the last page book that i just bought.

Delay pesawat sempat membuat frustasi mengatasi bosan. 2 jam memang, tapi terasa sangat lama. Beda dibanding dua-tiga hari, bahkan tadi pagi. Saat masih bisa menatap keluarga dan suami di rumah. Bukan saja 2 jam, bahkan 2 hari terasa begitu singkat u/ku. Sangat singkat.
Dan inilah, lagi2 harus kembali ke jalan ini lagi. Jauh, sendiri, bosan. Merevisi hidup kembali kenapa seperti ini rasanya kufur nikmat skali. Begitu banyak yang Allah limpahkan padaku sejauh ini. Bahkan dengan ujian yang sampai saat ini harus djalani. Bukan saja untukku, tapi juga keluargaku.

'sabar' kata yang kerap didengungkan di telingaku oleh banyak orang yang mengetahui nasibku. Tapi tak seberapa. Di depanku ada beberapa prajurit pembela neg ini yang aku yakun waktu kepulangannya pastin tak pasti 1x setaun.

Allah memang menyayangiku. Memberiku kesempatan untuk belajar menjadi pribadi saar dan mandiri sebelum akhirnya benar2 menjadi manfaat u/ keluargaku.

Fabiayaa irobbikuma tukadzibaan..
Lalu nikmat mana yang dapat kudustakan?

Bahkan lebih dari mereka, aq masih terus ingin menulis di waktu2 membosankanku. Tak terbayangkan apa yang dapat mereka lakukan saat bosan selain berbagi cerita dengan mitra senasibnya.

Semoga Allah terus membuatku bersyukur atas nikmatNYA, rejeki, karunia tak terbantahkan yang selama ini kadang kukeluhkan. Sorry my Greatest Allah..."

on delay
19.47

Selasa, November 23, 2010

Amazing five days!

 Jumat, 12 november 2010

Setelah sekian minggu kerinduanku terobati...Dia, yang sejak 7 bulan lalu resmi disebut 'suamiku',datang menemuiku,menepati janji2 yang dulu terdengar gombal bahwa dia akan selalu ada untukku (dan sampai hari ini,kegombalannya selalu dipenuhinya...)

Jam 21.10, my phone ringed...
yeah, dengan segala kesiapan yang sudah kulakukan (beres2 rumah, kamar, sampe sumur blakang) telah terlaksana. dan aq siap menyambutnya..
Dari jauh, ketika kujemput di gang depan, hampir tak percaya... Itu adalah laki2 yang sudah dua bulan tak kutemui dan tiap saat kurindukan...Yang untuk ada dihadapanku saat itu dia telah melakukan perjalanan sehari semalaman...
Membahasakan saat itu adalah terang, nyaman, aman, kuat...atau apa sajalah yang bisa mewakilkan perasaan sangat bahagia berada di samping seseorang yang sangat kita rindukan....seperti mimpi, benar2 seperti mimpi selama lima hari setelahnya berada di sampingnya. Mungkin kalo saja teman2 memberi kesaksian, hehe, kami hampir tidak pernah terlepas sendiri2 keculai klo pas ada sesi gosip di depan tipi. Hhhmm..untuk satu itu, suami sengaja kuungsikan dulu..
Belajar dari pengalaman kunjungan pertamanya ke sini yang tak begitu banyak sesi 'dolan bareng' pertengahan ramadhan lalu, membuatku dengan senang hati menanggapi ajakan dolan ke pantai
trikora pada esok paginya.
BErmodalkan mobil rental, pergilah 6 wanita dan 1 pria...haha, yeah, there just a man in that car,my hubby...

Sabtu,13 Nov 2010

Sampe pantai, we are all have fun..melepas smua beban kerjaan dan beban hidup selepas2nya...Dan kali pertama,seolah menjadi pengalaman jalan pertama dengan pacar...Totally fun! MEnggila walopun ada bapak supervisor beserta kluarga disitu juga, hahaha....



Ah, suamiku, aq sudah merindukannya lagi...


Sabtu,13 Nov 2010
Hari kedua, masih weekend, Minggu waktu itu, dan kami berdua masih menghabiskan waktu dirumah saja, mendekorasi ulang kamar ditemani panganan goreng dari ibu kos (sebutan ibu rumah yg kami kontrak...).
Ah, serasa kembali ke waktu enam bulan lalu, saat kami harus mengerjakan kamar kami yang enam bulan
lalu masih menjadi ruang dengan tumpukan kado...Malamnya siapa yang sangka, tenggorokanku tiba2 terasa berat, ga pengen makan, jangankan makan, minum aja uda berasa ada gergaji di leher tuh...

Hiks, goreng yang kebanyakan siang sebelumnya akhirnya memunculkan faringitis atau biasa yang disebut radang tenggorokanku. Dan ga cuma sampe disitu, malamnya, suamiku bilang badanku panas, meski rasanya luar biasa dingin dan pusing. Hah, dasar badan, kalo ada yang manjain malah sakit.. Dan kemudian menyadari sepenuhnya bahwa aq adalah wanita paling beruntung di dunia ini karena saat itu, rumah sakit dengan fasilitas terlengkap masih kalah kalo dibandingin 'pria'ku...hehehe..


Di tanjungpinang, lebaran yang diikuti adalah rabo, tgl 17. Yach, di kala orang2 di rumah sedang shalat ied di lapangan, kami beraktifitas seperti biasa. Danbetapa rind unya ketika pagi hari ibu menelpon di lapangan untuk membuatku sekedar mendengar alunan takbir yang belum bertebaran di tempat aq menginjakkan kakiku. Tapi pada senja harinya, badashalat magrib, suara takbir mulai terdengar dari berbagai penjuru. Entah perasaan apa yang kemudian membuat dadaku sesak dan air mata menumpah di mukena...

Saat itu, seperti biasa, aq menjadi makmum suami, dan cuma mampu bersandar di punggungnya dengan terisak...dan dibiarkannya aq terisak.. Baru setelah beberapa saat ditenangkan, aq menjadi lebih baik dan tiba2 teringat sesuatu, "Kalo yang mimpin takbir pertama gini biasanya kalo di langgar Pak Haiban, atau mbah Jonet", ucapku tiba2... dan dia hanya memelukku, isakku teredam...

Pagi juga akhirnya..
dan semua mata yang baru merasakan lebaran satu kali jauh dari keluarga terlihat bengkak meskipun mencoba berlomba dengan make up..Hehehe...Sholat ied kami laksanakan di masjid At Taqwa, kali ini, selain untuk pertama kalinya jauh dari saudara, ini pertama kalinya juga sholat hari raya di masjid...biasanya kan di lapangan, dan menikmati aroma koran di bawah sajadah kita...

Ini ne hasil kenarsisan kami sebelum shalat ied..

















Shalat ied usai, hal pertama yang ditunggu2 adalah satu : SARAPAN. Dah, hwaa..betapa beruntungnya kami yang kemudian diundang oleh keluarga Dian untuk sarapan di rumahnya...dan dilanjutkan dengan undangan makan di rumah ibu kos yang dengan senang hati kami terima dengan perut cadangan...(*oh God,,,)


Ah, idul adha...akhirnya kulalui denganmu, suamiku...
Menjelang berganti hari, itu yang paling kubenci. Kalo kata2 romantisnya "ingin kuhentikan waktu, agar tetap denganmu..". Tapi seperti post sebelumnya, mo nangis sekencang apapun itu tak kan membuatku ikut denganmu atau membuatmu berhenti dan tinggal...


Satu kalimat yang selalu kuingat setiap saat mulut bawelku memintamu jangan pergi: "Abi ga pergi koq, cuma absen sebentar...Absen sama mas hananto, sama mas erwin, sama ibuk, sama bapak..Nha, cepet kan?"

Yeah, walopun itu kalimat yang pastinya anak kecil pun tau kalo dibohongi, aku tetap senang mendengarnya...Bahwa suamiku akan kembali padaku..,secepatnya..



Terimakasih, atas 5 hari yang bahagia, abi..
terimakasih telah membuatku kembali menjadi diriku dalam 5 hari itu..
terimakasih atas segala keajaiban2 kecil di 5 hari itu..

Biar, abi ga perlu kesini, umi koq yang lagi ngabsen kekantor, sebentar lagi umi pulang.. Sampaikan pada orangtua2 kita, aq akan pulang segera...sampaikan pada ibu untuk jangan menangis lagi saat menceritakanku...tak sabar melihat ibu tersenyum...

Senin, November 08, 2010

Hati kami (red:perantauan) juga bergetar: "Kami ingin pulang menemani keluarga"

Kebangeten kalo sampe ada yang ga tau kabar yang santer sekarang ini. Yak, merapi. Di media dalam bentuk apapun, di kantor, bahkan di majelis2, tema bencana letusan gunung berapi yang terletak di Daerah Istimewa Yogyakarta ini menepati rangking pertama. Tanggal 26 Oktober lalu tepatnya, merapi, sebuah gunung berapi yang terletak di perbatasan DIY dan Jateng ini tiba2 terbatuk mengeluarkan isi perutnya. Tanpa adanya sangkaan sebelumnya, wedhus gembel mulai memenuhi langit. Setidaknya itu yang kudengar saat pertama kali menonton beritanya setelah pagi harinya sempet dikasih tau abi..

Sudah menjadi hal yang biasa si merapi memuntahkan wedhus gembelnya, itu sangkaanku.. Tapi ternyata salah, tidak untuk kali ini, merapi tak mau berhenti terbatuk dan terus mengeluarkan muatan di dalamnya. YA, gunung yang sejak lama tertidur itu telah dibangunkan olehNYA, Sang Penciptanya...
Kaget ketika setelahnya mendengar kata 'evakuasi' di lontarkan. Itu berarti, ini benar2 bencana, dan segera merinding setelahnya.

MEski jauh dari pusat gunung, kecemasan mulai mengerubungiku.. segera kuhubungi semua keluarga.. Alhamdulillah, semua baik2 saja, meskipun ya, hujan abu katanya memang meluas. Hujan abu? Selama 23 tahun menjadi warga jogja, hujan abu tak pernah sekalipun kurasakan,itulah kenapa ledakan kali ini membuatku panik.

dan benar, esoknya, berbagai status temen, saudara, tetangga di facebook bertema sama: Merapi dan hujan abu. Seketika ingatan langsung ke ponakan yang punya sakit asma, berdoa dalam hati, semoga ia baik2 saja... Hhhff, ini dia, media mulai menciptakan berita yang 'lebay' dan membuat panik, just as ussually...



Makin lama, ketenangan makin terusik dengan berita2 banyaknya yang menjadi korban, sementara yang mengungsi mencapai puluhan ribu orang. Masyaallah, ada apa ini, pikirku... Bertubi2 bangsa ini terus dihujani bencana... Oia, sebelum merapi mulai ramai di bicarakan, sehari sebelumnya, tsunami datang menerjang mentawai, sebuah pulai di sumatera barat. Saat itu cukup terasa karna kebetulan sedang berada di udiklat padang. Alhamdulillah, padang baik2 saja...
Tapi tetap saja, sebuah pemikiran terus mengerubutiku, bagaimana bencana2 ini terus menerus menerpa negeri ini? Sudah tak adakah lagi orang2 yang memperjuangkan agama Allah di negeri ini?? Innalillahi...

Ok, back to topik..
Bukan menjadi alasan untuk tenang karna jauh dari bencana sepertiku ini. Justru jika boleh jujur, ingin sekali berada di rumah pada saat2 seperti saat itu. Ingatanku kembali membawaku saat gempa jogja 2006 lalu.. Dimana2 kepanikan terjadi...bangunan2 tetangga roboh, tangis meruah.. Yang saat itu dirasakan hanya ingin memohon ampun seampun2nya..Memberi sebanyak2nya dan membantu sekuatnya...
MAsyaallah, bagaimana dengan sekarang, sering berpikir aq cuma bisa ikut sedih ketika menonton di stasiun tivi atau di news update dari internet, tapi tak mampu melakukan apapun, minimal untuk keluarga dan saudara yang terkena dampaknya. 

Dan akhirnya, kemampuanku hanya bersujud dan memohon Allah untuk menahan merapi kembali, menjadikannya bersahabat kembali, dan mengampuni bangsa ini. Ada sebuah rasa ketakutan tersendiri bagi kami yang meninggalkan keluarga.. Karna saat ini bencana bukan lagi hal asing di negri kita, entah kenapa rasanya ingin berada di tengah2 mereka untuk tetap menjaga, setidaknya mampu memberikan dua tangan ini untuk memeluk dan saling menguatkan...
Kami ingin pulang.... Jika kami boleh mengungkapnya...Kami ingin bersama keluarga menghadapi ini semua...


Masih berkaitan dengan bencana ini, alhamdulillah jumat lalu sempet dapat ilmu ketika kajian.
Dulu ketika pada jaman sepeninggal Rasulullah SAW dan Abu Bakar, klo ga salah inget pas jaman kekhalifahan Umar bin Khatab, bencana gempa bumi sempat menegur umat Islam. Saat itulah Khalifah Umar mencari apa yang menjadikan Allah memberi guncangan itu dan menyuruh rakyatnya untuk bertaubat.

Masyaallah, dibanding dengan sekarang, Allah beri tsunami, gempa berkali2, banjir, angin ribut dan sekarang gunung meletus, tapi kenapa kemaksiatan tetap terjadi di depan mata? BEncana2 itu seolah cuma iklan yang terlihat lalu terabaikan... Tak cukupkah semua itu membuka hati?
AStagfirullah, semoga Allah tak menutup hati kita dari setiap pelajaran yang menjadikan kita menyadari dunia seisinya ini yang tak abadi.



Finally,
semoga merapi tak lagi terbatuk,,,
Semoga Allah berikan kita kesabaran dan ketabahan..
Semoga Allah karuniakan hati yang senantiasa belajar
Semoga bangsa kita mampu belajar dari semua ini, termasuk kita..


Robb, maafkan kelalaian kami, cukupkan teguranmu dan ampunilah kami... \




--semoga bermanfaat--
maaf klo ada salah2..

kantor, dalam keakutan ngantuk..

Senin, November 01, 2010

Dreamin'. . . .

20.12

Oke, aq mulai berantakan dalam berpikir, dan inilah, menulis..menulis..menulis adalah proses ajaib yang dapat memulihkan lagi kesadaranku yang hampir retak karna sejak tadi berhadapan dengan 'hotepook'dan hnya mendapat beberapa kalimat inspirasi untuk menambahkan beberapa kalimat dalam TS.

Theres no conectionon my hotepook of course, dan ternyata bukan karnanya jika pada akhirnya aq pun menulis dan menulis untuk bermaksud mempublikasikannya besok.

post sebelumnya entah sambaran apa yg tiba2 menggerakan jariku mengetik sebuah poem amburadul tanpa berpikir. Mengalir... dan feel awesome sometimes....

Yeah, writing..sebuah kebiasaan yang tak selayaknya dimiliki olehku yang dari kacamata publik akan mengatakan mayoritas menggunakan otak kiri utk berpikir dan menghitung angka2 di layar...

But, its me, yang entah sejak kapan mulai mencintai menulis bebas, mengekspresikan pola pikir, pandangan, ideologi, kepercayaan, pearasaan dan segalanya lewat tulisan.

Writer..Far from me, absolutely...sebuah mimpi bisa dibilang begitu...Menekuni ilmu komunikatif atau mungkin psikologi yang biasanya akan memiliki kebiasaan ini, not accounting.
Jika mampu membalikkan waktu, mungkin aq akan jadi pemberontak seperti aq biasanya utk memutuskan masa depanku yang kuanggap 'aq'.

But anyway, pada akhirnya aq bersyukur atas para pencipta media menulis ini. Blogspot, wordpress, even note...Meski bukan sebuah buku, my dream's reached, menjadi penulis bagi diri sendiri yang kemudian dibaca adalah 'indah'..




TErimakasih, saudara, teman, kekasih, yang sejak beberapa waktu lalu sempat menyempatkan membuka wifeshopes.blogspot dan membaca tulisan dengan beberapa aturan bebas ngawur ini...

^_^
thanks 4 being my readers...

Terimakasih telah menjadikan mimpi seorang 'aq' dalam semua judul blog ini menjadi harapan... Luv lot 4u all..

'hati' - hati

Yang tidak dapat dipungkiri dari sebuah hati adalah rasa..

Yang tidak mungkin diceritakan tentang rasa adalah rahasia..

Entah ingin menulis demikian,
karna terkadang hati memilih sebuah rahasia untuk dirinya,
pemiliknya
dan Penciptanya..

Dengan begitu, hati yang tak dapat sekalipun berbisik..
walau ingin..
menjadi satu2nya saksi tak terbantahkan untuk pemiliknya..

Nyali yang ciut, benci yang membakar, bahagia yang melonjak, atau bahkan sedih yang mengiris mampu disimpan oleh hati walau pemiliknya tak sekalipun berekspresi..


Maka, menutupnya adalah sebuah pengorbanan.
Karna bahkan tidak sedetikpun hati tak ada untuk sang pemilik.
Rasa yang meski hampir tak pernah diingat lagi oleh memori sang otak
dan tak lagi diungkap oleh sepasang bibir,
akan tetap ada, meski kecil,bahkan tersudut di sisi luar...

===================================================








Attention:
This post is 'read only'
Please dont ask what this post mean...







Kamar kontrakan 20.01
dalam TS revisi yg memilukan..dan godaan HBO yg menggiurkan... >_<

Rabu, Oktober 20, 2010

Blog request'an.. Just write, yg sensitif jangan baca!!

Ini masih jam 10, sebutlah selamat pagi, karna belum lebih dr 2 jam kita duduk di depan layar komputer/ laptop kita di kantor...

Ini memang hari yang berat...
Sepertiga malam terakhir ini 'curhatanku' agak berantakan karna  ngantuk luar biasa. Ada sesuatu yang ganjil tentang keyakinanku yang tiap esok itu aq bangun sekuat hati. Bahwa Allah tidak akan membuatku jauh lebih 'berkorban' dari saat ini.

Berkorban untuk jauh dari suami dan orang tua...

Astagfirullah, segera kucoba sadarkan diri untuk tetap membangun tembok2 keyakinanku kembali, atau aq hanya akan terpuruk pada su'udhon pada Robb-ku, yang pertolonganNYA sangat dekat dari urat nadi kita...


Mungkin firasat,mungkin kebetulan...pagi ini akhirnya aq dihadapkan pada sebuah berita tentang nasibku selanjutnya....PErtolongan Allah kah itu? atau ujian yang lebih utk menigkatkan derajad iman??
Ya, pagi ini tiba2 ada satu pembicaraan *yang mungkin sebenarnya itu tidak disengaja* tentang kami, anak2 ojt akuntansi (red: aq, tiwi, riska) bahwa akan ada pendistribusian calon pegawai ke ranting...
Pembicaraan yang berlangsung sejauh tiga meter dari kami itu mau tak mau menarik kuping kami untuk mendengarkannya...
Dan its gonna shock us tentunya... KAmi mendiami sebuah unit cabang yang ranting2nya ada di pulau terpisah... memang, sejauh yang kami dengar, ranting2 yang dimaksud memang masih pada pulau yang sama, tapi jangan bayangkan itu seperti antara ranting bantul dan wates yang sepanjang jalan kami dapat menemui rumah, gedung , dan sekolah...tidak.. Jika lewat tepi, kami akan menemui laut di pinggir jalan, jika lewat dalam, ada kalanya yang kami temui adalah hutan...

Suddenly, salah satu dari kami langsung menuju toilet dan crying...Ya,wajarlah....membayangkan itu semua terjadi memang bukan hal yang pantas kami tertawakan bersama, dan menangis itu kuanggap sangat wajar. Dan yang kulakukan adalah menenangkan, meskipun sekujur tubuh melemas (mungkin krn blm sarapan)...



Sekilas itulah yang sering mematahkan hati kami untuk lebih loyal..
Okay, beberapa waktu lalu ada seoarang kawan yang merequest blog tentang kaitan komitmen, loyalitas, dan imigrasi *paksa* a.k.a penempatan secara rantauan.
Mungkin saat ini yang paling tepat kukabulkan harapannya.. Secara mood lagi pas banget...

Mungkin tidak semua kasus sama..tapi sepanjang perjalanan dari awal langkah menampakkan kaki ke karir yang sekarang kujalani, rata-rata itulah yang terjadi. Sangat lama membentuk sebuah loyalitas pada perantau, terutama wanita... 
Menjadi sebuah keniscayaan pelamar sebuah perusahaan negara akan bersinggungan dengannkata ini: merantau... Itulah kenapa disamping CV selalu ada surat pernyataan siap ditempatkan di mana saja di seluruh indonesia. Dan tentunya kami semua menandatangani dengan tetap berpositif thingking...

Meskipun kemudian kami akan tetap menjalaninya,,,kalo orang jawa bilang "nrimo"...

*Menghela nafas sejenak*
Sebuah fakta yang kemudian mencuat adalah loyalitas dan komitmen yang mengendur... (Mungkin bisa jadi bahan SDM bikin TS suatu hari)... Bukan, bukan karna merantau membuat kami para perantauan jadi tak mau mengerjakan pekerjaan, bukan. Pekerjaan yang seharusnya dikerjakan dengan hati dan penuh rasa tanggungjawab tidak akan sebesar yang dimiliki oleh putra2 daerah atau rantauan naik gunung..
Ok, let me explain: 
rantauan naik gunung adalah sebutan bagi rantauan yang besal dari daerah yang sudah berkembangke daerah yang perkembangannya kurang (gunung diistilahkan ketertinggalan)
Dan rantauan turun gunung:    -sebaliknya tentu saja-

Entahlah, ini teori yang begitu saja menjadi bahan pembicaraan kami para perantau. Ini mungkin juga karena perkembangan negri kita yang tidak merata, di satu sisi ada daerah yang begitu berkembang, namun di sisi yang lain, lihat, betapa banyak daerah yang tak tersentuh perkembangan... Lalu salah pemerintahkah? TAk ada yang salah...

Berkaca pada frame takdir, "mungkin memang jalannya..."
Atau mungkin membaca dari sisi religi, "Allah punya jalan rizki tak terduga..Apa2 yang menurut kita baik belum tentu baik utk kita"..*Just like my husband said when i m cried our destiny"

Dan realita jelas menjelaskan bahwa terlalu jauh dari orang2 yang menyayangi kita itu.....menyedihkan.....
Jika mau, mungkin setiap malam menangis bisa menjadi hal biasa.

Komitmen,integritas,loyalitas....atau gaji????
Coba uji itu pada ketiga jenis pegawai (putra/i daerah, rantauan naik gunung dan rantauan turun gunung) terhadap kunci spiritual kinerja tersebut....Dan bandingkan hasilnya..


Akhirnya, ini hanya sekedar tulisan...Tidak butuh apreciate dari siapapun...
Karna mencurahkan hati itu masih bebas, lewat lisan, gambar atau tulisan... Dan tulisan menjadi alternatif yang kupilih..

Semoga mampu memberi manfaat... Aq lebih memilih membaca dari kacamata religi dan relita yang selama ini terus menerus didengungkan oleh ibu dan suamiku...Yang terkadang kudengar bersamaan dengan nada tangis yang tertahan....


Allah Maha Tau, sayank...Dia yang mengetahui apa2 yang baik untk hambaNYA...

Teman2ku...
Semoga kita tetap mampu membangun keyakinan itu di hati kita masing2...
Mari kuat, mari menjadi pribadi yang tak hanya dapat dibanggakan karna pekerjaan kita, tapi lebih karna kita menjadi pribadi yang lebih kuat dan sabar mungkin dibandingkan teman2 kita yang lain yang mungkin tak sekuat kita...Bismillah....



Maaf. . .
-Semoga bermanfaat-

Senin, Oktober 18, 2010

Home New Home...

Sugeng enjang sedoyo...

Sudah satu bulan semenjak posting terakhir..Ummm, rasanya malas kemaren2 nak nulis... So many stories actually, tapi kemalasan dan mood tak mendukung apalah daya...

Nah,mumpung siang ini *tengah bulan siy, jadi data blom pada masuk..*, mood kluar, makanya aq putusin utk posting walopun cuma dikit...

So,judul posting ini adalah PINDAHAN RUMAH..!!

Yes, sekarang ga ngekos lagi tapi ngontrak rumah. Keberuntungan kami berempat (aq, tiwi, mba ria, dan kak rin) yang menemukan rumah dengan 4 kamar tapi secara finansial mampu menghemat...hohoho,,,yeahh... Thats why kami pindah...

Resminya, satu bulan setelah balik dari mudik, kami menikmati kamar kami di rumah baru setelah siangnya ngosh2'an angkat beban dari mulai sendok dapur sampe kasur...Rumah yang terletak di kampung jawa, deket surau namun dipinggit GOT ini memiliki 4 ruang tidur, 1 ruang tamu, 1 ruang makan, dapur, garasi cukup utk 3 motor dipepet dan (parahnya) 1 kamar mandi. 

3 kebudayaan dalam satu rumah its ok for us so far...TApi ternyata oh ternyata, dapur adalah tempat keramat kami untuk beradu. Padang, kak rin, si pecinta pedas dan tak pernah mau ada setitik gulapun yang masuk ke lauk. Si palembang, tiwi, ok, so far dia masih sekubu denganku yang manis.. eh yang seneng masakan manis2 pedes, setidaknya dia masih menggunakan gula dalam masakan..yeah... Mbak ria, selama ini masih catering, jadi tidak terlibat dalam mengadu gula dan cabe.. Jadilah dapur selalu menjadi arena bertarung hingga babk belurMSN Onion Emoticons hahaha....ga segitunya kaleeee.....

Tapi pada kenyataanya, masakan paling top yang pernah dibuat adalah teri pedas plus kangkung yang bikin seantero rumah kalap...(secara uda bosan akut sm masakan padang)...

Yach, sekarang qt uda ngrasain 2 minggu perjalanan kami dengan itu rumah. Singkat cerita, ternyata dari perbedaan suku tidak lagi menjadi perbedaan berarti dengan kesamaan MALAS KALO UDA MASUK RUMAH yang serupa...hahaha...*malas dan bangga....wanita2 macam apa ini*Onion Icons 
Yach, kecuali mba ria, kami adalah 3 orang uda paling males kluar klo uda sampe rumah... Dan di rumah bukan hal yang seru juga siy, paling kerjaan kami cuma nonton, dan masak...Skalinya kluar paling pas jamaah aja di surau...(weeeeeeeeeeeeeeeeeeeeew.....MSN Onion Iconsuhuuuhhuui...cethok cethok...jelas sekali boongnya)..hehe..
 Secara pribadi, memang blm bs rutin jamaah d surau, padahal uda excited banget bisa kek drumah coz deket rumah ada surau. Tapi, ah apalah daya...bukan apa2 siy, perbedaanya ada pada budaya stelah sholat. Dari qunud sampai dzikir dg suara lantang sebenarnya tidak begitu cocok. Tp so far, menikmati juga karna surau bisa jadi space habluminannas, tempat berhubungan dengan sesama di lingkungan baru itu...(red: jamaahnya mbah2 semua)MSN Onion Emoticon 

Back to new home,
Sebagai satu2nya yang telah bersuami, kamarku ada di paling belakang. Ok,kamar itu memang luas, bahkan terdiri dari 2 ruang, dan ya, kamar itu seolah terpisah dari peradaban. Alasan kedatangan suami jadi alasan utama kawan2 serumahku itu menendangku ke belakang....(awas kalian)...
Jujur kukatakan di sini, meski berlagak berani di malam pertama kali menempati kamar itu, terus terang aq merindiing bgt! Takut kalo2 ada yang moenalan dg kami para penghuni baru Onion Emoticon Set Hwaaaaa.....no way...berkat dongeng dari suami di ujung gagang telepon, malam itupun terlalui dg lancar. Dan sekarang, no more afraid, mo segelap apapun, go a head lah..!! *haaattchiii...bau apaan neh? bau orang sombong*

Yup..yup..yup..itulah sekilas cerita tentang rumah di balik penjara..yang ditinggali 4 orang wanita cantik,,, (tapi cm 3 yg masih available..).. ^_^




v^____^v mugi2 manfangat...