IED ADHA di kampung...
Haru menyeruak ketika takbir berkumandang bada sholat magrib
di langgar 5 November kemarin. Rasanya lama sekali aku tak mendengar takbir
dari langgar tua di samping rumah. Sekejap ingatanku meluncur pada peristiwa
tahun lalu ketika aku menghabiskan hari raya Iedul Qurban di tanah perantauan,
bersama sahabat dan suamiku yang berkunjung. Syukurku kembali berbisik….
Qurban, sebuah peristiwa yang dipelopori oleh kisah Ibrahim
as untuk mengorbankan putranya Ismail as. Pengorbanan yang kemudian diganti
oleh Allah dengan seekor domba itu bukan sekedar pengorbanan biasa. Ismail
adalah adalah anak yang sejak lama didambakan. Bukan hal yang ringan ketika
Allah memerintahkan beliau untuk menyembelih anaknya. YA, menyembelih!!! Coba
kalo jaman sekarang… ??? Dikira gila kali kalo ada orang yang ngaku mimpi suruh nyembelih anaknya.
Idul Qurban kali ini aku justru belajar dari seorang tua
tetanggaku. Meski dengan nominal yang sama denganku, embah ini memiliki
semangat yang luar biasa untuk berkorban. Belakang aku jadi tau tentang kisah
hidupnya yang penuh dengan keikhlasan. Embah ini tinggal bersama cucu, menantu
cucu dan buyutnya yang hidup pas-pasan juga. Mudanya, ia mengijabqobulkan
suaminya. Ya, embah ini menikahkan suaminya dengan wanita lain dan merelakan
dirinya dimadu daripada melihat suaminya selingkuh. What a wondering wife!!!(Aku takjub pada keikhlasannya lho ya...bukan mo niru juga). Beliau muda pelahan menua, tanpa pekerjaan.
Lalu, darimana uangnya untuk berkurban? Tabungan! Mbah yang pernah menangis
haru saat tau aku kembali ke kampung ini merelakan kebutuhan hariannya ditekan
sedemikian rupa hingga ianya mampu menabung setiap harinya satu tahun ini.
Entah,mungkin juga sebagian diberi cucunya. Tapi dengan tubuh bongkoknya dan
langkah yang tak lagi lebar, beliau sampai di rumah pagi2 benar, menemui Bapak
yang biasa ditunjuk sebagai pengurus hewan qurban. Pagi itu aku belajar darinya
tentang pengorbanan demi menunaikan perintah Allah, demi memantaskan diri
sebagai hamba . Aku sempat mencandainya kala itu, raut ikhlas dalam tawa itu
tergurat jelas di wajahnya.
Malu rasanya jika kita yang lebih sehat, lebih muda dan
lebih mampu tapi tak lebih berkurban dan ikhlas dari beliau. Tidak harus
menunggu hari raya Qurban untuk membahagiakan sekitar kita. Aku mengintropeksi
diriku kembali, merenungi nilaiku yang masih sangat kecil. Semoga masih ada
kesempatan bagiku untuk menjadi manfaat.
Postingnya emang telat, tapi semoga bermanfaat ya...suwun.. ^_^
Tidak ada komentar:
Posting Komentar