Rabu, November 09, 2011

Selamat Iedul Adha *radatelat*


IED ADHA di kampung...

Haru menyeruak ketika takbir berkumandang bada sholat magrib di langgar 5 November kemarin. Rasanya lama sekali aku tak mendengar takbir dari langgar tua di samping rumah. Sekejap ingatanku meluncur pada peristiwa tahun lalu ketika aku menghabiskan hari raya Iedul Qurban di tanah perantauan, bersama sahabat dan suamiku yang berkunjung. Syukurku kembali berbisik….

Qurban, sebuah peristiwa yang dipelopori oleh kisah Ibrahim as untuk mengorbankan putranya Ismail as. Pengorbanan yang kemudian diganti oleh Allah dengan seekor domba itu bukan sekedar pengorbanan biasa. Ismail adalah adalah anak yang sejak lama didambakan. Bukan hal yang ringan ketika Allah memerintahkan beliau untuk menyembelih anaknya. YA, menyembelih!!! Coba kalo jaman sekarang… ??? Dikira gila kali kalo ada orang yang ngaku mimpi suruh nyembelih anaknya.

Idul Qurban kali ini aku justru belajar dari seorang tua tetanggaku. Meski dengan nominal yang sama denganku, embah ini memiliki semangat yang luar biasa untuk berkorban. Belakang aku jadi tau tentang kisah hidupnya yang penuh dengan keikhlasan. Embah ini tinggal bersama cucu, menantu cucu dan buyutnya yang hidup pas-pasan juga. Mudanya, ia mengijabqobulkan suaminya. Ya, embah ini menikahkan suaminya dengan wanita lain dan merelakan dirinya dimadu daripada melihat suaminya selingkuh. What a wondering wife!!!(Aku takjub pada keikhlasannya lho ya...bukan mo niru juga). Beliau muda pelahan menua, tanpa pekerjaan. Lalu, darimana uangnya untuk berkurban? Tabungan! Mbah yang pernah menangis haru saat tau aku kembali ke kampung ini merelakan kebutuhan hariannya ditekan sedemikian rupa hingga ianya mampu menabung setiap harinya satu tahun ini. Entah,mungkin juga sebagian diberi cucunya. Tapi dengan tubuh bongkoknya dan langkah yang tak lagi lebar, beliau sampai di rumah pagi2 benar, menemui Bapak yang biasa ditunjuk sebagai pengurus hewan qurban. Pagi itu aku belajar darinya tentang pengorbanan demi menunaikan perintah Allah, demi memantaskan diri sebagai hamba . Aku sempat mencandainya kala itu, raut ikhlas dalam tawa itu tergurat jelas di wajahnya.

Malu rasanya jika kita yang lebih sehat, lebih muda dan lebih mampu tapi tak lebih berkurban dan ikhlas dari beliau. Tidak harus menunggu hari raya Qurban untuk membahagiakan sekitar kita. Aku mengintropeksi diriku kembali, merenungi nilaiku yang masih sangat kecil. Semoga masih ada kesempatan bagiku untuk menjadi manfaat.

Postingnya emang telat, tapi semoga bermanfaat ya...suwun.. ^_^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar