Kubuka kembali postingan tahun lalu, tepat ditanggal yang
sama tahun lalu. Yang kutulis dengan perasaan bersalah dan sedih…
Yach, setaun lalu, tidak seperti hari ini, ketika dia
kembali bertemu dengan tanggal kelahirannya. Beberapa hari sebelumnya, aku
sibuk menghitung hari dan menerka kemungkinan apakah ijin pulang dan bertemu
dengannya bisa kudapatkan. Saat itu hari selasa, dan kemungkinan yang kuhitung
mendapati angka 0%, mustahil!
Setahun sebelumnya, atau dua tahun dari sekarang, di saat yang sama, aku belum
diperkenankan untuk bertemu dengannya. Dan bayangkan betapa merasa bersalahnya
aku ketika kemudian saat itu aku yang telah berjanji mendampinginya justru
berada jauh darinya. Sepanjang hari tahun lalu aku diliputi ‘kegalauan’ dan
rasa bersalah meski dia sedikitpun tidak mempermasalahkan hal itu. Bisa saja
aku mengirimkan hadiah mahal lewat paket, tapi jika aku melakukannya,
kebodohanku bisa dikuadaratkan seketika!! Ini bukan tentang hadiah, bukan
tentang kado atau apapun yang selama ini menyimbolkan hari kelahiran. Bagiku,
ini lebih pada kebersamaan, kebersyukuran dan intropeksi yang dapat dilakukan
bersama.
Tapi tidak lagi di tahun ini! Cukup moment tahun pertama
kami yang hilang. Kini aku sudah kembali padanya. Meski mungkin tidak lagi
membelikan kado mahal dengan kualitas impor, tapi lebih dari itu. Kami mampu
bangun bersama saat azan shubuh berkumandang, kami meikamati sarapan buatanku
bersama, bahkan hari ini aku mengantarnya bekerja. Dan malam nanti, kami
menyiapkan syukuran kecil untuk keluarga dan bapak2 yang biasa tadarus di
rumah. Bukan sesuatu yang besar apalagi mewah. Bukan, tapi ini jadi momen
pertama kami kembali, meski di tahun kedua. Biar saja momen pertama di tahun
pertama kami hilang, setidaknya kami mampu belajar. Dan cukup, kami mulai
membangun kembali penyangga rumah kami di tahun kedua ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar