Ini hanya opini dari orang bodoh yang cetek ilmu apalagi amal.
-----
Siang kemarin saat bersilaturahmi ke rumah seorang teman, tetiba kami dapat kabar duka dari ujung telepon temanku itu. Kabar disampaikan bapaknya dari ujung telepon itu tak hanya untuknya, tapi juga untukku. Ya, karena kami sebenarnya bertetangga sejak kecil, hanya kemudian temanku ini pindah setelah berkeluarga.
Kabar duka tentang 'simbah' (sebut saja begitu), yang setiap senin malam tak pernah absen mengaji di teras rumah, sejak jaman pengajian itu diadakan oleh Uti (Eyang putri), sampai kini diteruskan oleh Ibu, meski rumahnya yang paling jauh diantara jamaah lain. Simbah yang minggu lalu masih mendoakan agar kesehatanku segera pulih dan lekas diberi momongan lagi sambil berkaca-kaca. Simbah yang bahkan subuhnya sebelum meninggalkan dunia masih ke masjid dengan langkah terseoknya, seperti biasa. Simbah yang pagi hari masih mengiyakan ketika salah satu pegawai ibu 'ngutang' rokok dan bensin.
Tanpa ada tanda apapun, simbah hanya mengeluh sakit gigi yang amat sangat dan bahkan masih berniat turun dari ranjangnya. Masih mampu meminta tolong sang anak karna kesakitan. Dan kemudian melemas, hanya seperti tertidur. Nafasnya masih, denyutnya terasa, begitu ucap Ibu ketika saat itu langsung dipanggil sang anak sambil menangis. Tapi, ibu mengaku, saat itupun ibu juga ragu, apakah simbah masih 'disitu'. Sampai akhirnya beberapa menit, dan denyut benar2 tidak lagi terasa oleh sekelilingnya. Innalillahi wa innailaihi roji'un..
Tangis pecah, diantara keharuan dan kesedihan. Diantara keterkerkejutan orang2 yang ditinggalkan. Diantara kekagetan para ibu2 yang paginya masih bertemu sapa dan bersalam di masjid usai subuh. Bahkan aku dan temanku, yang ada sekitar dua kilometer, masih belum percaya. Kami mentaqilkannya, diantara kekaguman dan keharuan.
Terlalu mudah untuk bilang sabar pada keluarganya ketika hari ini berta'ziah, sebab akupun sadar, peristiwa kehilangan belahan jiwa meskipun -Insya Allah- khusnul khotimah (karna banyak omongan dari ta'ziah tentang kaebaikannya, bahkan ada yang mengatakan bahwa jalan yang biasa dilaluinya ketika hendak ke masjid tercium wewangian bunga), tetap saja kehilangan membuat lobang tersendiri di hati yang ditinggalkannya. Ya, sebab akupun belum lama mengalami, dan meski masih terasa hati tak seutuh sebelumnya, yakin bahwa usaha menambalnya dengan ikhlas, dan iman tak akan pernah menjadi sia-sia di mataNya. Meski , tetap saja, kehilangan tetaplah menyisakan kedukaan.
Terlalu mudah untuk bilang sabar pada keluarganya ketika hari ini berta'ziah, sebab akupun sadar, peristiwa kehilangan belahan jiwa meskipun -Insya Allah- khusnul khotimah (karna banyak omongan dari ta'ziah tentang kaebaikannya, bahkan ada yang mengatakan bahwa jalan yang biasa dilaluinya ketika hendak ke masjid tercium wewangian bunga), tetap saja kehilangan membuat lobang tersendiri di hati yang ditinggalkannya. Ya, sebab akupun belum lama mengalami, dan meski masih terasa hati tak seutuh sebelumnya, yakin bahwa usaha menambalnya dengan ikhlas, dan iman tak akan pernah menjadi sia-sia di mataNya. Meski , tetap saja, kehilangan tetaplah menyisakan kedukaan.
Ah, orang yang masih dangkal ilmu ini terkadang sok ya...Maaf, tapi tulisan ini selalu akan kutujukan kepada diri sendiri sebelum terbaca oleh kacamata lain.
Tidak ada cita-cita yang lebih tinggi di dunia ini selain khusnul khotimah. Beberapa kali berita duka selalu mengintari kita. Namun, berapa kali juga kita lupa. Mashka membuatku bercermin dan mengubah cita, mungkin karna dulu aku masih sering lupa bahwa dunia ini benar2 tempat yang sementara. Semoga tak harus sepertiku, agar peringatanNya terdengar di telinga, dan teresap di hati. Menebalkan iman dan mengikis cinta dunia.
Tinta pena telah mengering, lembaran-lembaran catatan ketentuan telah disimpan, setiap perkara telah diputuskan dan takdir telah ditetapkan. Maka,
Katakanlah: "Sekali-kali tidak akan menimpa kami, melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami" (QS At Taubah :51)
Dan, ketetapanNya yang paling pasti:
Tiap-tiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati" (QS. Ali 'Imran : 185)
Ya, ketetapanNya yang paling pasti pada kita yang dapat kita duga hanya satu, yaitu kematian. Semoga saya, anda dan siapapun yang membaca, Allah golongkan dalam golongan Khusnul Khotimah. Aamiin ya Robb.
----
Sekali lagi ya, ini cuma tulisan orang bodoh yang masih dangkal ilmu apalagi amal. Semoga bermanfaat ^^
Tidak ada komentar:
Posting Komentar