Habibie sempat mengalami depresi ketika Ainun, kekasih hatinya berpulang ke Rahmatullah. Dengan menulis beliau mulai berangsur membaik dan mulai mengikhlaskan segalanya.
Saya
bukan negarawan, hanya seorang ibu yang baru saja kehilangan puteranya yang
memiliki kegemaran sama, yaitu menulis. Tak dipungkiri, sampai saat saya
menulis kalimat ini, hati saya masih terasa sangat pedih dengan meninggalnya
putra tercinta saya. Buah hati yang telah ditunggu selama lebih dari tiga tahun
usia perkawinan. Ibu manapun akan merasa kehilangan semangat hidup ketika
putranya diambil oleh Yang Maha Memiliki dengan begitu cepat. Tapi, saya tahu,
saya masih memiliki orang tua yang harus saya rawat, dan suami yang masih harus
saya kasihi. Dengan menangis dan meratap tidak akan pernah membuat putra saya
kembali ke sisi saya, justru mungkin membuatnya sedih di syurga. Saya harus
kuat. Saya harus kuat. Saya harus kuat.
Maka,
saya akan mencoba menulis perjalanan 10 hari putra saya yang berjuang dengan begitu
hebat dan kuat demi kehidupannya. Meski kemudian Allah lebih menyayanginya,
saya dan abinya begitu bangga dengan kekuatannya dan kesabarannya.
MUHAMMAD
MASHKA RAYSHIVA TSAQIF
Mashka
berarti sabar. Rayshiva berarti pelindung. Tsaqif berarti cerdas. Nama itu kami
berikan padanya sejak beberapa bulan kehamilan saya. Abinya memberinya nama
Mashka yang berarti sabar karena dia adalah buah hati hasil kesabaran kami yang
telah menunggunya hampir 3 tahun pernikahan. Rayshiva dan Tsaqif ditambahkan
ketika umur kehamilan saya sudah 8 bulan. Rayshiva berarti pelindung, karna dia
anak pertama kami, berharap dia kelak mampu menjadi pelindung dan manfaat bagi
keluarga dan adik2nya. Tsaqif berarti cerdas, ini karena saya pengen ada bahasa
arab di namanya. Dan abinya memberi Tsaqif dibelakang namanya dan berharap
kelak ia tumbuh menjadi pribadi yang cerdas dan beriman.
Kakak,
kami selalu memanggilnya demikian. Karena dia anak pertama kami, dan berharap
dia akan memiliki beberapa adik kelak, aamiin. Kak Mashka adalah sosok yang
kami tunggu selama hampir 3 tahun pernikahan kami. Ya, dengan berbagai usaha
yang kami lakukan. Baik medis maupun alternatif. Buah hati yang selalu kami
pinta di setiap sujud dan doa seperti yang Nabi Zakaria lantunkan ketika
memohon keturunan. Selengkapnya bisa dibaca di “To be Mom story 1” dan “To beMom Story 2”. Ketika mengetahui saya hamil, semuanya berbahagia. Bahkan abinya
langsung pulang dari kantor hanya untuk memeluk saya dan mencium perut saya.
Ya, karna kehamilan ini benar2 seperti keajaiban bagi kami.
Begitu
menyadari telah hamil, saya tutup kegiatan bekerja saya, saya ganti dengan
kesibukan mempersiapkan diri menjadi seorang ibu. Dari trisemester demi
trisemester. Bahkan saya sharing di blog juga. Coba cek perjalanan trisemester demi
trisemester di posting2 sebelumnya I, II, III (1), III (2). Saya menyadari bahwa saya susah mengingat, dan tentu saja, posting2 itu adalah kebahagian yang selalu ingin saya ingat, maka saya menorehkannya pada sebuah tulisan, seperti kebiasaan sebelumnya. Saya begitu semangat menyambut si kakak
dalam rahim saya. Kami telah siapkan kamar baru yang dicat oleh abinya sendiri,
ditempel beberapa wallsticker lucu. Saya buat mainan untuknya dengan tangan
saya sendiri. Saya hias dinding dengan wallart yang saya buat sendiri (read here). Saya
bayangkan Ramadhan yang begitu indah dengan suara tangisnya,saya bayangkan
lebaran yang begitu seru dengan kehadirannya. Tapi manusia hanya mampu
berencana, Allahlah yang Maha Menentukan dan Menetapkan. “Allah…”
Hari
perkiraan lahir mashka 11 Juli 2013. Dan ketika itu, saya sama sekali tidak
merasakan kontraksi. Saya tetap menikmati gerakannya. 17 Juli 2013, saya masih
belum merasakan apapun. Bukaan 1, tapi saya belum merasakan gerakannya yang
ingin keluar dari Rahim. Jantungnya juga masih stabil. Saya sempat galau ketika
kakak ipar saya malah sudah melahirkan di umur kehamilan 37 minggu. Namun saya
tetap positif thingking dan diam2 menulis surat untuk anak saya yang masih saya
simpan dalam file note di laptop ini.
Selamat hari minggu ke 41, anakku sayang, mashka...
Sudah 41 minggu lho kamu ada di rahim ummi. Dan
sepertinya kamu masih betah ya, karna ummi belum merasakan tanda2 persalinan
yang berarti. Semuanya sudah bertanya2 tentang kelahiranmu lho, nak. Kakung uti
di madura dan kulon progo tiap hari uda telpon ummi dan abi. Kayanya mereka uda
pada kangen mo gendong mashka yaaak... ^^
Sayang, rasanya pasti enak berada di rahim ummi ya,nak.
Nyaman, tenang, dan hangat. Ga heran deh ummi kalo kamu betah banget berenang
sampai lebih dari 40 menurut perkiraan dokter. Asal kamu sehat, asal detak
jantung kamu minimal masih 120/menit, asal gerakan kamu minimal masih 10x
setiap 12jam,ummi akan terus jaga kamu di dalam, nak... ^^
Mungkin memang ummi dan abi mulai dilatih sabarnya lewat
kamu ya, nak... Seperti dulu ketika kami mendambamu, lebih dari 2 tahun
kesabaran kami diuji. Maka, kini kami juga tak mau begitu saja menyerah.
Kapanpun itu Allah kehendaki kamu keluar dari rahim ummi, kami akan usahakan
sepositif mungkin untukmu. Ummi akan merasa bersalah jika harus menginduksimu
dengan jalan pintas. Sampai saat ini ummi masih yakin Allah yang Maha Sempurna
telah menyiapkan proses persalinan dengan indah dan lembut untukmu. Dan
seberapapun besarnya rasa sakit yang harus ummi rasakan, ummi ikhlas, nak...
Muhammad Mashka Rayshiva Tsaqif... Abi sudah menyiapkan
nama indah untukmu, anakku...Nama yang juga doa dan harapan untukmu, agar kelak
kau menjadi pelindung yang sabar, toleran, dan cerdas seperti Rasulullah. Ah,
pasti kamu kelak jadi anak sholeh yang membanggakan ummi dan abi ya,
sayang...aamiin..
Sayang, kamu tau, bulan kelahiran kamu ini bulan istimewa
lho. Bulan yang paling ditunggu umat Islam, bulan dimana ibadah dilipatkan,
dosa2 diampuni dan bulan dimana malaikat2 Allah sibuk menebar rizki. Ummi
benar2 bahagia bisa bertemu bulan ini lagi, terlebih lagi tahun ini, karna ummi
akan bertemu denganmu, jagoan ummi yang sejak lama ummi rindukan.
Mashkaku sayang...
Makin sehat ya, nak...makin cerdas kamu di rahim
ummi..Sebentar lagi kamu lahir, nak. Ummi dan abi akan berikan tempat yang sama
nyamannya dengan rahim...ummi dan abi juga akan menjadi teman sehangat plasenta
yang selama 9 bulan ini menemanimu.
Lots of love for my lil'star in the womb...
22 Juli 2013, saya dan suami pergi ke pantai.
Menikmati sejam dua jam berjalan di atas pasir dan ngobrol dengan kakak. Kami
bilang padanya bahwa di luar sini ada air yang begitu indah juga. “Coba
dengar suaranya, sayang…Hampir sama kan kaya di dalem situ. Tapi kalo di sini
kakak bisa digendong abi juga. Kita bisa ajak uti dan kakung juga. Rame deh, ga
cuma sama plasenta dan digendong umi terus. Yuk kluar yuk sayang…ketemu abi dan
umi di luar yuk.”
Benar
saja, pukul 3 pagi hari berikutnya, setelah diinduksi alami oleh abinya, kakak
mulai bereaksi. Saat itu juga setelah sahur, kami berangkat ke klinik di
klaten. Saya merasakan kontraksi 5 menit sekali. Rasanya luar
biasa…Subhanallah…indah sekali. Bahagia sekali rasanya. Terlebih saat itu udara
masih sangat sejuk dan alunan azan subuh terdengar dimana2. Sampai klinik
ternyata masih buka 2. Ups, kirain sudah buka 9 aja. Nah, setelah itu, kisah
ajaib kelahiran Mashka pun bergulir. Coba baca postingan dari bidan kami.
Ya,
Mashka saya lahir dengan penuh keajaiban di dalamnya. Tak pernah kami duga
sedikitpun bahwa ia akan terlahir dengan tali pusat yang pendek, yaitu 36cm.
Ini yang kemudian baru saya pelajari dapat membuat fetal distress atau gawat
janin dan menyebabkan ketidakberfungsian beberapa syaraf pusat bahkan kematian.
Siapa yang menduga? Selama hamil yang saya komunikasikan dengannya adalah
lilitan tali pusat. Ya, karna inilah yang sering menjadi kasus dalam kelahiran
normal. Tapi ternyata Allah yang Maha Berkehendak menciptakan tali pusat yang
pendek. Tapi saya dan abinya begitu bangga dengannya. Meski diciptakan dengan
tali pusat yang pendek, ia mampu berjuang melewati jalan lahir. Meski hampir 7
jam saya berjibaku dengan kontraksi dan terus2an ‘ngeden’, Mashka juga terus
berjuang untuk keluar. Begitu keluarpun, kami sempat panic, Mashka tidak
bernafas, tubuhnya membiru. Bidan mengambil tindakan, saya dan abinya terus
berdzikir tiada henti. Subhanallah, setelah itu nafasnya kembali. Anak saya
begitu kuat.
Sehari
setelah kelahirannya, adalah hari terindah bagi saya. Tidur di sampingnya,
mencoba menyusukan asi, meski belum banyak keluar dan reflek menghisap Kakak
belum muncul. Satu hari yang indah bersamanya. Suara tangisnya begitu membuat
saya merinding. Saya seorang ibu sekarang. Terimakasih Allah.
Esok
paginya, hari kedua, pukul tiga pagi, suhu badan Mashka 38derajad, setelah
semalaman dia rewel. Karna bu bidan juga mo ke Jakarta dan Mashka belum BAB
sejak kemaren, bu bidan menyarankan untuk dirujuk ke sebuah rumah sakit besar
di Jogja (Baca: RSSjt). Terus terang, inilah yang menjadi penyesalan terbesar
saya. Saat itu rasanya lemas. Begitu masuk UGD, Mashka langsung dimasukkan ke
incubator dan tanpa kelembutan para dokter jaga memeriksanya. “Allah…Allah
lindungi anakku”, tak henti2nya saya terus memohon dalam hati. Saya dan
abinya blank, tidak tau harus berbuat apa. Saya lafadzkan beberapa ayat,
seperti alfatihah, ayat kurasi, dan surat pendek untuk menghiburnya. Ya, sejak
dalam kandungan saya biasakan diri mendengar murotal dan membaca beberapa surat
favorit, saya yakin, Mashka mengenal mengenal ayat demi ayatnya. Dan ayat2
inilah yang sampai beberapa hari jadi penenangnya hingga Allah menjemputnya
dalam ketenangan yang abadi.
Cukup
lama kami di UGD sampai akhirnya di bawa ke ruang intensif bayi, dimana abinya
ga bisa ikut masuk. Sampai di ruang intensif, saya melihat banyak bayi dengan
berbagai ‘selang’ di badan mereka. Allah,tulang saya seolah terlepas satu demi
satu dari tubuh, saya semakin lemas. Saya dan abinya bahkan sempat menjadi
tontonan orang2 sekitar, yang saya ketahui kemudian adalah para orang tua yang
menunggui ananknya juga, karena terduduk lemas dan menangis di depan gerbang
pintu ruang intensif. Tapi saya terus beristighfar, mencoba kuat demi Mashka.
Saya
masih lemas dan terus menangis, terlebih ketika melihat anak saya mulai
dipasang infus, dimasukkan selang dari mulutnya menuju lambung untuk menyedot
residu, dan selang irigasi di anusnya. Ditambah lagi saya dilarang memberinya
ASI agar residunya bisa segera bersih dan ditindaklanjuti. Saya lemas sekali…
Ilmu yang saya miliki tidak sampai, dan (bodohnya) saya manut saja.
Tidak
saya hiraukan kondisi fisik saya yang sejak saat itu selama seminggu harus
berada di RS. Kaki bengkakpun saya abaikan. Kontrol jahitan pasca persalinan
tidak pernah saya lakukan. Yang ada di pikiran saya adalah Mashka dan Mashka.
Begitu
pula dengan abinya. Bolak balik RS, kantor dan rumah dalam keadaan puasa.
Bahkan sering tidak sahur, atau sahur dengan minum air putih saja. Setiap pagi
terpaksa mandi di kantor, siangnya masih membawakan makan siang buat saya,
balik kantor terlambat, dan masih pulang ke rumah menyiapkan baju untuk saya
dan dia sendiri untuk ke kantor esok harinya. Badannya mulai mengurus, tapi
sungguh saya bersyukur karna Allah mengkaruniakan suami yang begitu sabar luar
biasa. Terimakasih, sayang…
Saya
sempat membuat catatan ketika di RSSjt itu. Ini beberapa catatan saya:
26 Juli 2013
Hari ini badan
Mashka ditimbang 2,7kg. Tambah disbanding kemaren. Mungkin krn semalem sempet
suntik gula diinfusnya.
Pagi ini setelah
mandi Mashka sempat sesak nafas. Nafasnya berat, bahkan sepertinya jadi sulit
nangis. Ada benjol kembung di tengah dada bawah, diantara diagfragma. Tetep
kuat ya, sayangku…
Siang ini, akhirnya umi untuk pertama kali bersihin pup Mashka dr awal
smpe akhir.
15.30
Pasang selang di pantat lagi setelah seharian engga. Phototherapy sampai
besok +1jam. Setelah itu bisa deh gendong2 Mashka lagi ̂ ̂
16.30
Mashka di cek
gula sama dokter triwi, dokter anak. Kasar. Ya, 2x tusuk dengan pencetan kasar
& menyisakan luka sehingg harus kubersihkan sendiri dengan kasa…
27 Juli 2013
Berada di dekat
Mashka dari jam 4-8, sangat menyenangkan ketika sebelumnya ada phototherapy,
skr bisa digendong2. Dan lagi, kini dia sepertinya lebih kuat. Terimakasih Allah.
14.00
Mashka ganti box.
Tinggi, susah mo ngesun. Ah sayang, Mashka harus phototherapy lagi. Tapi kini
berbeda, selang di mulutnya bukan lagi residu lambung, tapi semacam cairan
serum, yang kuduga cairan gula. Pup Mashka masih ada lewat selang di anusnya.
Kakinya masih kubedong, dingin, tapi suhu tubuhnya 36,6˚. Kulitnya terlihat keriput. Mungkin
karna suhu panas-dingin yang berubah ubah dari alat fisio dan ruangan.
15.30
Aneh, seperti
terus terngiang2 suara tangis Mashka, aku putuskan meihat kondisinya. Sempat
deg2an krn dia diam saja, bahkan saat kugerakan tangannya, dia masih diam.
Akhirnya kucoba ganti popoknya, gerakan dan suaranya seperti berat. Ingin
sekali mencopot alat2 yang terpasang dan membawanya pulang!
Alhamdulillah,
hari ini Mashka tes gula di sore hari, dan hasilnya111 !!! Subhanallah. AllahuAkbar. Spontal memeluk
dokter dan meneteskan air mata (baca: bukan si triw*). Allah terimakasih.
23.35
Innalillahi wa
innailaihi roji’un…malam mini ada2 kabar duka. 2 bayi pejuang gugur. Allah,
semoga itu menjadi jalan syurga bagi orang tuanya. Aamiin. Setelah mengucap
belasungkawa kpd orang tua sabar, aku temui Mashka. Membersihkan urine dan
fesesnya. Mashka mulai luce deh, tiap kali pempers dicopot, pasti langsung
kencing mancur lagi. Hihihi, ngerjain uminya. Badannya 36,4˚ dan kaki Alhamdulillah sdh hangat.
(Saya tidak pernah menduga akan mengalami apa yang dua orang ibu itu - mbak putri dan mbak sarjiah - rasakan, kehilangan buah hati terkasih )
28 Juli 2013
Pagi ini kangen
banget sama Mashka. Begitu bangun langsung ajak Mashka ngaji sambil digendong.
Siangnya, huft, males banget, ga ada kerjaan. Kangen sama Mashka. Tapi tiap
kali ke sana diusir perawat. Kasian juga ga tega karna pempersnya agak dibuka
dan kakinya dingin banget.
Ah, nak, umi
bener2 ga tega melihatmu. Tapi umi inget2 lagi, semoga dg begitu bilirubin kamu
turun. Kan nanti malam kita bisa kangen2an. Jam 20.00 selesai deh phototherapy.
Umi harus kuat demi kamu!
Inget2 lagi…
kemaren malem sempet ngintip catatan perawat, berat kamu 2,8kg lagi. Ah,
senengnya umi…luv luv u, my Mashka…
30 Juli 2013
Lewat satu hari
ga tercatat. Kemaren Mashka cukup aktif nangis dan rewel. Pas tidur malem, baru
nyenyak kalo dipangku uminya. Ah, sayang, kalo saja umi bisa terus memelukmu…
Semalam gula
darah Mashka masih rendah. Padahal sebelumnya uda ada laporan tes lab untuk
siap hirsprung. Pagi ini Mashka juga ga mau bobok kalo ga sama umi. Jadi uminya
selalu sama Mashka, sampai abinya ga sahur.
Yang bikin umi
sedih hari ini, tadi dokter bilang kalo ‘foto’ g bisa langsung dilakukan gitu
aja. Banyak prosedur. Nah, kalo difotonya aja belum pasti kapan, gimana
pengobatannya?
11.00
Umi ngantuk
banget sampai agak pusing. Tapi umi seneng. Mashka kliatan chubby lagi…
10 hari terakhir
di bulan ramadhan. Kangen I’tikaf, kangen bersujud. Kali ini umi kangen banget
agar bisa memohon sama Allah di sepertiga malam demi kesembuhan Mashka.
Allah…beri Mashka
keajaiban, bukan sekedar kesembuhan, tapi keajaiban…
4 Agustus 2013
Tulisan
ini menceritakan saat tanggal 2 Agustus 2013, pukul 03.00 yang saya tulis di
tanggal empatnya, setelah menguatkan diri.
Umi dan abi dipanggil perawat, katanya Mashka kritis.
Masyaallah…
Semalaman juga, kondisi Mashka memburuk. Padahal uda mo
ASI. Sorenya tanggal 1 itu umi kebetulan pas keluar. Begitu masuk, Mashka uda
mo dipindah NICU. Umi kaget. Padahal gelas ASIP Mashka uda di meja. Allah!
Allah!
Umi bingung, kakak Mashka malah dipasang ventilator. Ya
Robb, kakak sudah tak sadar!
Malam itu, ga tega umi nunggu kakak. Umi benar2 ga tega.
Sampai jam 12 tepat tengah malam, kakak harus transfusi darah dan jam 3 pagi
kritis.
Dari jam 3 itu umi dan abi mulai berganti nunggu kakak
yang berjuang. (Abi diperbolehkan masuk
karena kondisi Mashka yang sudah kritis).
Raga kakak tak bergerak, tapi jantung kakak terus
berjuang.
“Umi dan abi benar2 bangga sama kakak…”
Kakak begitu kuat dan gentle kalo kata abi. Ya, kakak
hebat!
Tapi umi dan abi sudah benar2 ikhlas. Ga tega rasanya
terus melihatnya seperti itu. (Saat itu
Mashka dipasang ventilator, bantuan pernafasan dengan memasukan selang oksigen
langsung ke trakheanya, dipasang selang kecil yang menyedot residu di lambung,
dan selang irigasi untuk mengeluarkan kotoran lewat anusnya). Jika Allah
ijinkan kakak sehat, maka keajaiban itu masih ada walau 0,1 persen, tapi jika
Allah ingin mengambil kakak, maka secepatnya, karana umi dan abi benar2 tidak
tega…
Dua agustus pukul delapan kurang…
Karena umi dan abi harus keluar, karna tugas perawat yang
mau memandikan, ya, kakak ga bisa ditunggu.
Sekitar sepuluh menit kemudian, perawat memanggil, dan
kakak kritis lagi. Kali ini kami disuruh tunggu di luar NICU.
Ramadhan, hari Jumat, ah kakak sayang, Allah benar2
menyayangimu, nak.
Umi dan abi sayang kakak Mashka, tapi ternyata Allah-lah
yang jauh menyayangimu. Engaku dipanggilnNya pagi itu…
Mashka bukan hanya sebuah arti nama ‘sabar’, tapi juga
menjadi pelatihan kesabaran umi dan abinya. Rayshiva, pelindung orang tuanya,
bukan hanya di dunia tapi juga di akherat. Menjadi tabungan umi dan abinya,
Insya Allah…
Rindu sekali dengannya…namun yang bisa terlantun hanya
doa dan istighfar. Umi sangat kangen sama kak Mashka, tapi umi harus kuat.
Seperti kuatnya perjuangan kakak, seperti kesabaran kakak.
Umi masih menangis sampai sekarang, nak..tapi umi akan
terus berusaha kuat, menata kembali kehidupan demi keluarga.
Umi tau, di sana kakak lebih bahagia, lebih sehat, dan
jauh lebih seneng. Maafkan umi dan abi selama merawatmu di sini ya, sayang…
Terimakasih atas segala pelajaran yang kakak beri kepada
kami. Sampaikan salam kami pada Allah yang sangat menyayangimu, sampaikan pula
salam kami pada teman2 syurgamu dan calon adik2mu yang masih di syurga ya,nak…
Allah benar2 menyayangimu, Nak…
Butuh
beberapa hari untuk menyalin kembali tulisan di buku itu. Ada kesesakan
tersendiri ketika membacanya, seolah saya kembali melihat penderitaan anak saya
dari hari ke hari. Dan ada penyesalan tersendiri ketika membaca kondisinya yang
sedang membaik, kenapa saat itu saya tak membawanya ke rumah sakit lain yang
dokternya lebih komunikatif dan tidak kasar, yang meskipun tak lebih besar,
namun anak saya benar2 diperhatikan. Ah, penyesalan itu saya takutkan menjadi
kesempatan syetan untuk membuat saya terlelap dalam duka dan mengingkari Dia
Yang Maha Penentu Umur.
Sejak
tulisan terakhir itu, kondisi makin memburuk. Kata dokter infeksinya sudah
menyebar. Dokter memberi tahu karena saya yang mendesaknya. Meskipun dengan
nada yang ketus, akhirnya saya tau. Nadinya sudah sulit ditemukan dan terpaksa
dipasang infus di kepala. Ibu mana yang kuat melihat darah dikepala anaknya
karena infus. Jika saya tidak ingat Mashka begitu kuat bertahan, mungkin saya
sudah roboh saat itu. Kepindahannya ke ruang NICU terus membuat kondisinya
melemah. 1 Agustus 2013, Mashka sudah dibilang tak lagi sadar. Tanganya
bergerak sesuai nafasnya yang makin melemah. Tapi ketika malam hari, bahkan ia
tak mampu menggerakkan jarinya. Hati saya benar2 terkoyak, optimisme untuk melihatnya
sehat seperti terhempas dari pikiran. Rasanya saya tidak kuat lagi melihatnya
terus menderita seperti itu.
Malam
itu, saya dan abinya pasrah sepasrah2nya. Jika sebelumnya saya selalu memohon
dalam hati agar anak saya diberi kesembuhan, kali ini berbeda. Kami mohonkan
apapun yang terbaik bagi anak kami. Jika
Allah akan memberinya kesehatan, maka keajaiban pasti ada meski itu 0,1% saja
kemungkinannya. Namun bila Allah berkehendak mengambilnya, saya berharap
secepatnya saja, karna saya benar2 tak mampu lagi terus melihatnya menderita.
Saya pasrah agar Allah segera melepaskan segala penderitaanya.
Jumat,
2 Agustus 2013 pukul tiga dini hari, kami dipanggil dokter untuk masuk. KOndisi
Mashka kritis. Kami di NICU, melihat anak kami dipompa jantungnya, berjuang
melihat dunia. Erat saya dan abinya saling berpegang tangan, mencoba untuk kuat
dan terus melafadzkan Alfatihah tanpa jeda. Saat itulh jantung Mashka kembali
menguat, saturasi udaranya mencapai 96, degubnya juga kencang. Allah Maha
Besar!
Sejak
itu, saya dan abinya bergantian menunggunya, meski kami tahu raga anak kami tak
lagi bergerak, namun jantungnya masih berdetak. Alfatihah dan Al Ikhlas terus
kami dengungkan di telinganya. Kami ikhlas jika Allah mengambil milikNya dari
kami. Kami hanya dititipi, maka ketentuan terbaikNya yang terus kami mohon.
Sampai
akhirnya pukul setengah delapanan, saatnya para perawat memandikan bayi2, kami
‘diusir’ dari ruangan. Saat itu jantung saya terus berdebar. Terakhir kali saya
meninggalkan Mashka dalam keadaan baik2 saja menjadi buruk ketika saya
meninggalkannya sekedar untuk ke kamar mandi. Bagaimana kali ini?
Benar
saja.
10
menit tidak berada di dekatnya, kami dipanggil kembali. Kondisinya memburuk.
Dokter meminta kami menunggu di luar NICU. Terus saya membaca Alfatihah dan Al
Ikhlas.
Kami
ikhlas, nak…apapun ketentuan terbaik dari Allah untukmu dan kami.
Kami
ikhlas…
Alfatihah
dan Al Ikhlas terus kami lantunkan.
Dokter
meminta kami untuk masuk
“Adek
sudah tidak ada, bu, pak. Kami sudah berusaha semampu kami”. Kalau saja
saya tidak ingat ini semua adalah ketetapanNya, ingin rasanya saya memarahi
semua dokter atau tepatnya residence yang ada di situ, termasuk perawat. Tapi
Allah masih memegang hati saya dan abinya, kami mengucapkan terimakasih dan
mereka memberi waktu kepada kami untuk bersama dengannya sebentar.
Saya
harus kuat.
Meski
kemanusiawian saya ingin sekali meraung menagis sekerasnya, tapi saya hanya
menangis secukupnya kemudian mengeringkannya. Saya ciumi jasad anak saya yang
kini ruhnya telah berpisah darinya. Saya
cium kening, pipi, hidung, bibir, tangan, perutnya yang kini tampak
pucat namun seperti tertidur damai. Saya bisikkan padanya bahwa kini ia tak sakit
lagi.
Bahagia
di syurga ya, Nak..
Kini
kamu telah sehat dan bahagia, hari Jumat ini pasti begitu banyak malaikat yang
ikut menjemputmu dan menyambutmu kembali di syurga.
Umi
dan Abi ikhlas, tunggu umi dan abi ya, nak… Tunggu umi dan abi..
Tunggu
umi dan abi..
Mba
ida, kakak saya yang sejak kondisi Mashka kritis sudah saya kabari dan langsung
menemui kami di RS menjadi tempat bersandar saya. Tapi entah, saya tidak
menangis begitu keras meski rasanya ingin. Ada perasaan lega tersendiri ketika
kemudian saya menyadari bahwa Allah telah memilih melepaskan penderitaan Mashka
dan menggantinya dengan kebahagiaan untuk menjadi penghuni surgaNya kembali,
seperti sebelum Ia menitipkannya di rahim saya selama 9bulan lebih. Yang
terbaik menurutNya, memang kadang bukan yang terbaik yang kita harapkan.
Setelah
dibersihkan, Mashka dibawa ke ruang jenazah. Kali ini budenya yang
menggendongnya. Air matanya bercucuran. Air mata saya sudah tak lagi keluar.
Yang ada hanya rasa lemas yang amat sangat. Saya merasa limbung, seolah berada
pada mimpi buruk yang tak kunjung usai. Tapi saya tahu, saya tidak boleh
runtuh, saya harus kuat mendampingi anak saya. Bahkan ketika abinya dan mas
Erwin, teman kantor abinya, memandikan Mashka, saya melihatnya dari dekat. Badannya
yang bersih benar2 seperti bayi yang sedang tertidur. Beberapa teman kantor abi
yang datang mengajak saya untuk keluar ruangan, tapi saya menolaknya. Saya
kuat, saya ingin melihat sampai anak saya selesai dikafani.
“Dia
tidur kok, lihat..” kata mas Erwin ketika mengkafaninya sambil sesekali menyeka
air matanya.
Wajah
bersihnya tak terlihat kesakitan lagi. Allah telah mencabut rasa sakitnya. Allah
lepaskan penderitaannya. Anakku kini begitu sehat dan damai.
Berurusan
dengan rumah sakit itu menyebalkan. Tadinya kami masih harus menunggu ambulance
untuk membawa Mashka pulang. Untunglah, lagi2 teman2 kerja abi langsung
mengkoordinir beberapa mobil kantor membawa Mashka pulang. Abi sendiri yang
membopong Mashka selama di mobil. Saya duduk di sampingnya. Melihat anak saya
yang kini berbalut kain putih di seluruh tubuhnya. 2 minggu lalu ia masih
bergerak begitu aktif di rahim saya, kini ia harus kembali ke sisi Allah. “Mimpikah
ini, Ya Robb?”
Begitu
sampai rumah, sudah ramai tetangga dan kerabat yang di sana. Bergantian semua
menyalami saya. Saya ingat sekali, beberapa dari mereka menjadi saksi semangat
saya ketika Mashka masih berada di Rahim. Beberapa orang tua yang sering saya
panggil simbah, bahkan terlihat bergetar menahan tangis. Ingatan saya tertuju
saat usai sholat berjamaah beliau yang paling sering mengucap doa untuk kami.
Yang
sabar ya.
Yang
tabah ya.
Ikut
berbelasungkawa.
Sabar
ya, nok.
Semua
menyalami dan mengucapkan belasungkawa serta menyabarkan. Saya bagai robot yang
terprogram menyalami dan menjawab mereka para pelayat. Sekuat tenaga tetap
menarik ujung kanan kiri bibir agar terlihat tabah meski hanya satu sentimeter.
Terimakasih.
Insya
Allah, iya terimakasih.
Iya,
matur nuwun.
Begitu
sampai di depan ibu, saya tidak kuat lagi, saya menubruknya, memeluknya. Saya
tumpahkan tangis saya di pelukan ibu. Sejenak saya terisak di pelukannya,
melepas kesedihan yang tertahan. Ibu mengelus punggung saya dan terus
menabahkan saya. Wajah lelahnya begitu terlihat karena baru pulang dari rumah
sakit dimana Bapak dirawat, saya tak tega, saya harus kuat.
Setelah
puas menangis di pelukan ibu saya, saya minum teh hangat yang telah disiapkan
untuk saya. Saya bertekad untuk tetap kuat di depan anak saya. Saya mandi, dan
keluar menemui para pelayat. Tidak saya pedulikan lagi apa pakaian saya cocok/
tidak warnanya. Raga saya linglung, seolah mati rasa. Pikiran saya menerawang,
senyum adalah usaha terberat bagi saya saat itu. Mencoba untuk tetap kuat,
tabah dan menerima bahwa semua ini bukan mimpi dan saya masih harus melanjutkan
hidup.
Mashka
terbujur kaku di dalam langgar. Saya sedang nifas, tentu tak bisa menyentuhnya
yang kini telah suci. Ketika jamaah kakung menunaikan shalat Jumat, saya
bersama ibu2 lainnya menemaninya di serambi langgar. Ah, anakku, karnamu umi
jadi selalu bersemangat jamaah di langgar, dan mengejar ayat demi ayat Al
Qur’an hingga khatam. Umi kejar simpati Allah agar kelak dijadikanNya kau
seorang anak sholeh dan cerdas. Umi kejar ridho Allah membuatmu menjadi anak
yang membahagiakan keluargamu dan sesama.
Ternyata
Allah justru lebih simpati dan ridho terhadapmu, hingga kau dipanngilNya untuk
menjadi pelindung umi dan abimu, sampai-sampai kau dipilihNya menjadi penghuni jannahNya
yang abadi. Kini jasadmu ada di langgar yang tiap saat umi selalu berdoa agar
kelak kau tumbuh menjadi pribadi yang mencintai jamaah, seperti abimu dan
kakung2mu. Bukan untuk sholat tapi disholatkan. Allah mencintaimu, nak. Ini
jugakah tanda cintaNya pada kami, umi dan abimu?
Abi
membopong sendiri tubuh Mashka ke peristirahatan terakhirnya. Suamiku, dia
begitu terlihat kuat, walaupun semuanya memberi saran agar kakak kami yang
membopongnya, abinya bersikeras membopongnya sampai ke liang lahat. Banyak
pelayat yang kagum pada keteguhannya. Saya begitu bangga padanya. Mashka pasti juga
sangat bangga padanya.
Usai
pemakaman, masih begitu banyak yang melayat. Rata2 menanyakan Mashka kenapa. Saya
sekuat tenaga terus menerus mengulang cerita, mendulang duka lagi dan lagi,
namun harus tetap kuat dan menyungging senyum. Senyum yang saya harap sebagai
bentuk keikhlasan saya pada ketetapanNya.
Begitu
malam menyelimuti, dan hanya tinggal saya dan suami, rasanya begitu sepi. Rindu
kami pada Mashka begitu membuncah. Air mata kami kerap kali tertumpah. Sungguh
di saat-saat seperti itu, saya begitu bersyukur pada Allah yang telah
menganugrahkan saya seorang suami yang begitu sabar dan penyayang. Selama satu
minggu saya memang tampak begitu kuat ketika di siang hari. Ini semua demi
orang tua kami, yang memang sedang sakit dan sempat di rawat di RS selama
beberapa hari sebelum Mashka menghadapNya.
Ya,
inilah jawaban bagi semua yang menanyakan Mashka kenapa. Bodohnya, saya baru
mendapat penjelasan dari seorang residence yang cukup komunikatif tidak lama
sebelum Mashka kritis. Diagnosis sakit yang diderita Mashka adalah megacolon/
dirsprung. Sebuah kelainan usus besar yang menyebabkan bayi susah BAB. Tapi
apakah Mashka meninggal karena ini? Jawabannya bukan. Selama dirawat, mashka
tidak diperbolehkan mengkonsumsi ASI dan hanya mendapat infus dan antibiotik.
Ya, sampai akhirnya dokter bilang darahnya telah terinfeksi dan infeksinya
menyerang ke pernafasan. Sampai di akhir hayatnya, perjuangan mashka justru
melawan infeksi itu. Saya merasa sangat bersalah ketika kemudian saya mendapat
penjelasan lewat artikel2 yang baru saya browsing setelah Mashka tiada.
Bodohnya
saya!!
Kemana
saja kamu, din???!!
Kenapa
baru sekarang mencari info??!?!?
Kenapa
kamu diam saja saat Mashka tidak diperbolehkan ASI?!
Kenapa
kamu ga nekat ngasih ASI, padahal kamu tau ASI itu antibody paling tinggi untuk
bayi?!
Saya
terus2an menyalahkan diri saya. Saya merasa linglung ketika Mashka sakit. Fisik
yang belum sempat istirahat setelah melahirkan, ditambah beban psikis yang begitu
berat membuat saya tidak mampu berpikir jernih lagi. Saya hanya manut dengan
prosedur RS yang tidak memberi kepastian. Bahkan dokter anaknya yang tak pernah
menyentuh pasiennya kecuali ketika menyuntikkan antibiotic melalui infus.
Kenapa
saya membawanya ke RS yang di dalamnya penuh residence yang anak saya seolah
hanya dipandangi dan dijadikan percobaan? Kenapa saya tidak mengalihkannya ke
RS lain saat kondisinya terlihat cukup membaik? Kenapa baru sekarang saya
mengetahui ada dokter bedah yang recommended dan dekat dari rumah? Kenapa saya
begitu panic, padahal megacolon short type bisa disembuhkan tanpa bedah? Kenapa
saat USG 4D tidak terlihat tali pusat yang begitu pendek sehingga saya bisa
memilih Caesar dan bukan normal? Kenapa saya tidak melakukan USG 4D dua kali
ketika tidak puas di dokter yang begitu ketus?
Kenapa
dan kenapa. Saya terus menyesali kejadian lalu yang tidak mungkin merubah
apapun. Dan lagi2 suami sayalah yang selalu menguatkan. Saya tahu dia sama
terpuruknya dengan saya, namun keegoisan saya menjawab bahwa sayalah yang
mengandungnya selama ini, bahkan di RS hanya saya yang diperbolehkan masuk
ruang intensif dan menyaksikan segala pengobatan yang menyakitkan itu.
Sejurus
kemudian, saya tersadar saat keponakan
saya mengatakan pada saya bahwa sekarang suami saya sering sekali melamun. Ya
Allah, ampuni saya… Begitu banyak teman yang datang mengunjungi saya hingga
beberapa hari sepeninggal Mashka. Mereka datang menghibur, memberi semangat dan
sebagainya. Tapi bagaimana dengan suami saya? Dia mungkin sedang sendiri bersedih,
itupun masih menyabarkan saya ketika saya masih sering menangis merindukan
Mashka. Betapa egoisnya saya.
Beberapa
waktu lalu saya dan suami menyempatkan untuk jalan2. Pesan orang tua kapada
kami justru sering2 refreshing dan jalan2. Kami sadar kami harus melangkah
walaupun berat. Saya berada di toko buku dan memilih beberapa buku. Bagi saya,
membacalah yang mampu membuat saya lebih termotivasi. Dan menulislah yang mampu
mengurai kesedihan menjadi titik2 hikmah untuk memperingatkan diri. Saya sampai
pad rak psikologi, dan menemukan buku terbaru Oki Setiana Dewi, “Dekapan
Kematian – Saat Belahan jiwa Pergi Meninggalkanmu”.
DEG!
Saya
rasa saya harus membacanya.
Lewat
buku itulah saya lagi2 tersadar. Lewat kisah Sepuluh Prajurit Syurga,
saya berusaha kembali bangkit. Seorang ibu yang dianugrahi Allah begitu cepat
hamil, namun begitu cepat pula anak2nya terenggut dari sisinya, ya, kesepuluh
anak2nya telah tiada, baik ketika masih di dalam maupun di luar rahimnya. Saya
belajar dari banyak peristiwa yang saya baca. Saya mulai mencari makna dari
semua kejadian ini. Saya mulai membaca buku2 motivasi kembali untuk menggugah
semangat saya, untuk mengembalikan lagi keikhlasan dan kepasrahan terhadap
jawaban atas segala doa yang terpanjat.
Allah
menganugrahi saya seorang suami yang kesabarannya tak pernah habis, begitu pula
keluarga yang tak kalah luar biasanya. Saya sadar saya masih ada di antara
mereka. Merekalah yang sekarang harus saya jaga. Mashka memang belahan jiwa,
buah hati yang selama ini dinantikan, tapi Allah telah berkehendak
mengambilnya. Jika saya tidak melakukan apa yang saya sesali di atas, apakah
Mashka masih bersama saya saat ini, tidak ada yang mampu menjamin, bukan? Allah
menuliskan setiap takdir di Lauhul Mahfudz, setiap jiwa yang memiliki
nyawa akan mati. Mashka dipilih Allah untuk menjalani sepuluh hari hidupnya,
umur saya pun telah tertulis di kitab yang sama.
Tiga
tahun ditambah sembilan bulan lebih menanti kehadiran buah hati dengan penuh
kesabaran rasanya belum cukup untuk Allah dalam pembuktian cinta kami padaNya.
Masih ada kesabaran lain yang harus diperjuangkan, masih ada ujian keikhlasan
yang harus dijalani. Dan berulang doa dari saudara, kerabat dan sahabat atas
‘kelulusan’ kami menghadapi ujian ini semoga menjadi doa yang diijabah Allah.
Dan sungguh, ini semua bukan hal yang mudah kami hadapi. Tapi Allah yang Maha
Memenuhi Janji tidak akan pernah ingkar bahwa setelah kesulitan pasti ada
kenikmatan. Pada akhirnya, kami bersyukur pada Allah yang telah menganugrahkan
kami seorang prajurit syurga, Mashka, yang bukan hanya sempat memberi kebahagiaan
di dunia, tapi janji kebahagiaan di akherat. Juga syukur kami karena Allah
memilih kami menjadi salah satu orang tua penerima ‘tabungan’ akherat. Aamiin.
Kepada
orang tua dan calon orang tua, termasuk saya, peluklah anak kalian, sayangilah
mereka. Beberapa kali saya menemui bayi yang begitu sehat namun disia-siakan
orang tuanya. Rasanya miris sekali. Semua anak kecil begitu sempurna di mata
saya. Mereka hanya makhluk murni, orang tuanyalah menjadikan seperti apa mereka
kelak. Mungkin Mashka akan lebih beruntung dibanding mereka yang sejak bayi
disewakan untuk mengemis, mereka yang ditelantarkan di pekarangan rumah orang
dan tumbuh di panti asuhan, mereka yang tak pernah diakui keberadaanya, atau
mereka yang hidupnya dipenuhi dengan hardikan dari orang tuanya. Karena sepenuh
jiwa saya dan abinya akan menyamankannya, membahagiakannya, mendidiknya penuh
kasih dan sayang… tapi kenapa Mashka justru diambilNya secepat ini? Ya, mungkin
karna memang Allah punya sesuatu yang ingin disampaikan melalui Mashka, untuk
kami orang tuanya, untuk keluarga kami, dan untuk siapapun yang membaca tulisan
ini.
Allah
yang memiliki semua jiwa di alam ini, dan sebaik-baiknya tempat kembali adalah
di sisiNya. Dan saya yakin, anak saya Mashka yang Allah panggil di hari Jumat
di bulan Ramadhan lalu adalah anak syurga yang telah disiapkan untuknya taman
syurga yang indah. Merindukannya, jelas…Ibu mana yang bisa berpisah dengan
anaknya yang begitu dinanti setelah sembilan bulan lebih berada dalam raga yang
sama. Tapi kerinduan ini harus saya dan abinya jaga agar tak menjadi jalan
syaitan untuk membuat kami durhaka pada ketetapanNya. Berat sekali rasanya,
bahkan saya merasa hampir gila menanggungnya. Terlebih ketika kami harus
menghadapi prasangka makhlukNya. Tidak dipungkiri juga, syaitan juga yang tak
pernah lelah menggoda. Kami terkadang masih goyah. Di pagi dan malam2 saat
berdua, kami saling menguatkan, saling mengingatkan. Semoga Allah menjaga hati
kami dari prasangka buruk terhadap qadarNya.
Bermainlah
di taman syurga bersama prajurit lainnya.
Tunggu
umi dan abi, seperti prajurit lain menunggu orang tua mereka.
Kelak
genggam tangan kami erat saat memasuki pintu syurga…tuntun langkah kami
memasuki Jannatuna’im..
Kami
bangga padamu, Nak…seperti bangganya orang tua yang melihat anaknya berjuang
hingga syahid.
Allah,
bahagiakan anak kami di syurgaMu, kuatkan kami menerima segala ketetapanMu.
Kuatkan kami menapaki kisah selanjutnya, dan berikanlah kami kesempatan kembali
untuk menimang buah hati yang lebih manfaat dan barokah. Aamiin.
Diantara
kerinduan dan keikhlasan, Agustus 2013.


Diriwayatkan dari Anas ra, dia
BalasHapusberkata : ”Rasulullah saw
bersabda, tidaklah seorang
muslim kematian tiga anaknya
yang belum baligh, kecuali,
Allah pasti akan
memasukkannya ke dalam surga
berkat kasih sayang-Nya kepada
anak-anakny tersebut, ”(HR
Bukhori muslim).
Adalah janji Allah dan Rasul-
Nya bahwa putra yg meninggal
sebelum baligh nantinya akan
ikut membuka jalan bg orang
tuanya ke surga.
INSYAALLAH akan selalu ada
rahasia ILLAHI yang berujung
pada hikmah atas semua yang
terjadi
‘“Lahaula Wala Quwata Illa Billah
Hil Aliyil ‘Azim.”
Masyaallah...g bisa komen mb.
BalasHapusLahaula waa quwwata illa billah.......Allah yang lebih tahu yang terbaik.
Aamiin ya Rabbal alamin. Salam kenal mba dina...
BalasHapusTerharu membaca kisah perjuangan keluarga kecil mba dina, terima kasih telah mengingatkan saya, yang mengalami hal serupa, pada banyak hal penting lewat tulisan ini.