Sabtu, September 28, 2013

Untitled

pagi ini, saat orang2 masih menikmati sejuknya udara
di tempat tidur mereka,
aku, untuk pertama kalinya
menemuimu, anakku...
Kali ini bukan dirahim, di rumahsakit,
atau di tempat tidur baru kita
Tapi di sebuah gundukan tanah
yang ragamu di dalamnya...

Serangkaian doa kupersiapkan
serangkaian kalimat kutata
Namun begitu sampai di dekatmu,
kerongkonganku seolah tercekat.
Sekuat tenaga kucegah air mataku keluar,
menepati janji pd abimu utk ttp kuat.

Otakku tak mampu mengingat kalimat
yg ingin kusampaikan pdmu
Hanya AlFatihah yg terus keluar dr mulutku
hanya itu.
Badanku kaku, air mataku akhirnya tumpah...
Ingin saja kugali gundukan tanah kecil didepanku
dan kubawa kau pulang bersamaku...
Ingin sekali kutampar diriku,
dan berharap tersadar dr mimpi selama ini...

Tapi tidak,
segera kuistighfarkan dalam hati..
dan kubayangkan senyum menghiasi wajah lucumu..
lalu kupikirkan tentang tempat indahmu di jannahNya..
Aku tak kehilanganmu, nak..
karna akupun dititipi..
Maka siapa lagi yg paling baik memeliharamu selain Pemilikmu?
Diri inipun kelak akan kembali padaNya..
dan bila saat itu tiba,
selalu kumohonkan kepadaNya kita berkumpul lagi
Di sebaik-baiknya tempat kembali...

Jumat, September 27, 2013

Maka Nikmat Tuhanmu manakah yang kamu Dustakan?

Bismillah...
Pagi ini jumat kesekian setelah kepergian Mashka yang masih sering mejadi episode dhuhaku terisak. Maka tak bisa dipungkiri kenapa Nabi Ya'qub as sampai buta lantaran kesedihannya sepeninggal Yusuf as. Dan satu-satunya cara membangkitkan semangatku kali ini masih sama, menyiapkan pesanan produk babymashka agar segera cair menjadi jalan sedekah. InsyaAllah.

Tapi pagi ini, lagi2 aku terpaku pada beberapa kisah dan foto. Dari buku LaTahzan pemberian seorang sahabat, salah satu tips untuk tidak larut dalam kesedihan dan kedukaan adalah dengan mengingat bahwa masa lalu tidak akan pernah kembali, semua adalah ketentuanNya dan mengingat bahwa semua orang di dunia ini telah memiliki kadar masing2 untuk menerima ujiannya.
Coba lihat gambar yang satu ini, kutemukan saat menjelajah dunia maya.


Aku terpaku sejenak menatap foto ini. Seperti ditampar dan diteriaki: "HEI, ujianmu itu belum seberapa, Din!!"
Semoga ini bukan hanya menjadi peringatan bagi saya terutama, namun juga siapapun yang sedang merasa terhadang musibah. Bagaimanapun, keterbatasan diri tak akan membatasi ketaatan seseorang, teerlebih kita yang masih dikaruniai kedua tangan untuk sempurna saat takbiratul ihram, dan kedua kaki yang masih mampu menopang kala rukuk dan sujud.
Maka Nikmat Tuhanmu manakah yang kamu Dustakan?

-Semoga bermanfaat-

Sabtu, September 21, 2013

Teruntuk Sahabatku, Ibu Seorang Prajurit Syurga

Kabar duka lagi-lagi menghampiriku. Siang kemarin, saat aku masih disibukkan dengan desain blog pesanan seorang teman. Kali ini dari seorang karib yang kutahu kini tinggal di pulau seberang. Seorang sahabat yang kutahu sedang menunggu kelahiran sang buah hati tercinta, setelah kehamilan yang merupakan hal 'ajaib' yang pernah terjadi dalam hidupnya....sepertiku.

Seketika badanku merinding, jariku melemas dan butuh beberapa waktu untuk bisa membalas kabar dari karib lain yang mengabarkan. "Allah....kenapa harus lagi?". Satu lagi seorang sahabat baik kehilangan buah hati setelah tujuh bulan dititipkan pada rahim ibunya. Bahkan ada saat kabar itu kudengar, sahabatku masih berhadapan dengan kondisi yang diinduksi untuk melahirkan buah hatinya... Aku membiarkan kabar itu terendap dulu, mendoakan sahabatku dalam sholat2ku setelahnya.

Esok paginya, baru aku mampu menyapanya lewat percakapan dalam pesan. Muhammad Fitrah, keponakanku dimakamkan pagi harinya, dan kini sang ibu sedang menjalani masa pemulihan di RS.

Lalu apa? Terbersit dalam benakku, apakah kami belum dipercaya untuk menjadi ibu? Kurasa ini bukan soal kepercayaan Tuhan pada kita. Ini soal 'paket ujian'. Coba tengok beberapa kasus yang sering kita lihat di televisi, betapa ada keluarga yang tak mampu tapi memiliki keturunan yang begitu banyak, hingga kemiskinan itu seperti terwarisi. Dan jika mereka bisa memilih, mungkin hanya satu aatau dua orang anak saja yang dititipkan. Jika kami paket ujian kami adalah perpisahan sementara dengan buah hati, maka paket ujian mereka adalah banyaknya anak dengan keterbatasan rejeki. Ini bukan soal kepercayaan, ini soal ujian, yang memang harus dihadapi bagi setiap hamba pilihanNya.

Teruntuk sahabatku,
Kuatlah, karna ini sementara
Sabarlah, seperti yang pernah kau sampaikan padaku
Muhammad Fitrah mungkin kini sedang bermain dengan Muhammad Mashka
Mereka hanya menunggu kita
Sebentar saja,
Sabar dan kembali ikhtiar,
karna ganti itu pasti dari Allah
Ini adalah kado, hanya bungkusnya saja bernama 'musibah'
Ini adalah jalan untuk menikmati manisnya buah ditengah duri
Doaku selalu untukmu, juga ibu2 para prajurit syurga lainnya. 
Agar lobang hati karna kedukaan dan kepedihan segera ditambal dengan keikhlasan dan keimanan


21.09.13
Dalam pelukan doa untuk para ibu pejuang