Selasa, September 10, 2013

Pelajaran Hari Ini : Kepastian Yang PASTI Dihadapi

Ini hanya opini dari orang bodoh yang cetek ilmu apalagi amal.

-----
Siang kemarin saat bersilaturahmi ke rumah seorang teman, tetiba kami dapat kabar duka dari ujung telepon temanku itu. Kabar disampaikan bapaknya dari ujung telepon itu tak hanya untuknya, tapi juga untukku. Ya, karena kami sebenarnya bertetangga sejak kecil, hanya kemudian temanku ini pindah setelah berkeluarga.

Kabar duka tentang 'simbah' (sebut saja begitu), yang setiap senin malam tak pernah absen mengaji di teras rumah, sejak jaman pengajian itu diadakan oleh Uti (Eyang putri), sampai kini diteruskan oleh Ibu, meski rumahnya yang paling jauh diantara jamaah lain. Simbah yang minggu lalu masih mendoakan agar kesehatanku segera pulih dan lekas diberi momongan lagi sambil berkaca-kaca. Simbah yang bahkan subuhnya sebelum meninggalkan dunia masih ke masjid dengan langkah terseoknya, seperti biasa. Simbah yang pagi hari masih mengiyakan ketika salah satu pegawai ibu 'ngutang' rokok dan bensin.

Tanpa ada tanda apapun, simbah hanya mengeluh sakit gigi yang amat sangat dan bahkan masih berniat turun dari ranjangnya. Masih mampu meminta tolong sang anak karna kesakitan. Dan kemudian melemas, hanya seperti tertidur. Nafasnya masih, denyutnya terasa, begitu ucap Ibu ketika saat itu langsung dipanggil sang anak sambil menangis. Tapi, ibu mengaku, saat itupun ibu juga ragu, apakah simbah masih 'disitu'. Sampai akhirnya beberapa menit, dan denyut benar2 tidak lagi terasa oleh sekelilingnya. Innalillahi wa innailaihi roji'un.. 

Tangis pecah, diantara keharuan dan kesedihan. Diantara keterkerkejutan orang2 yang ditinggalkan. Diantara kekagetan para ibu2 yang paginya masih bertemu sapa dan bersalam di masjid usai subuh. Bahkan aku dan temanku, yang ada sekitar dua kilometer, masih belum percaya. Kami mentaqilkannya, diantara kekaguman dan keharuan.

Terlalu mudah untuk bilang sabar pada keluarganya ketika hari ini berta'ziah, sebab akupun sadar, peristiwa kehilangan belahan jiwa meskipun -Insya Allah- khusnul khotimah (karna banyak omongan dari ta'ziah tentang kaebaikannya, bahkan ada yang mengatakan bahwa jalan yang biasa dilaluinya ketika hendak ke masjid tercium wewangian bunga), tetap saja kehilangan membuat lobang tersendiri di hati yang ditinggalkannya. Ya, sebab akupun belum lama mengalami, dan meski masih terasa hati tak seutuh sebelumnya, yakin bahwa usaha menambalnya dengan ikhlas, dan iman tak akan pernah menjadi sia-sia di mataNya. Meski , tetap saja, kehilangan tetaplah menyisakan kedukaan.

Ah, orang yang masih dangkal ilmu ini terkadang sok ya...Maaf, tapi tulisan ini selalu akan kutujukan kepada diri sendiri sebelum terbaca oleh kacamata lain.
Tidak ada cita-cita yang lebih tinggi di dunia ini selain khusnul khotimah. Beberapa kali berita duka selalu mengintari kita. Namun, berapa kali juga kita lupa. Mashka membuatku bercermin dan mengubah cita, mungkin karna dulu aku masih sering lupa bahwa  dunia ini benar2 tempat yang sementara. Semoga tak harus sepertiku, agar peringatanNya terdengar di telinga, dan teresap di hati. Menebalkan iman dan mengikis cinta dunia. 

Tinta pena telah mengering, lembaran-lembaran catatan ketentuan telah disimpan, setiap perkara telah diputuskan dan takdir telah ditetapkan. Maka,

Katakanlah: "Sekali-kali tidak akan menimpa kami, melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami" (QS At Taubah :51)

Dan, ketetapanNya yang paling pasti:

Tiap-tiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati" (QS. Ali 'Imran : 185)

Ya, ketetapanNya yang paling pasti pada kita yang dapat kita duga hanya satu, yaitu kematian. Semoga saya, anda dan siapapun yang membaca, Allah golongkan dalam golongan Khusnul Khotimah. Aamiin ya Robb.

----
Sekali lagi ya, ini cuma tulisan orang bodoh yang masih dangkal ilmu apalagi amal. Semoga bermanfaat ^^

Jumat, September 06, 2013

Template Baru Pengurai Duka

Seharian ini, setelah ngurusin keperluan rumah tangga dan pengiriman batik tentunya, mulai menyibukkan diri dengan corel. Ya, terlena pada kesedihan kehilangan Mashka harus selalu dilawan.
Setelah posting terakhir dengan 'nyawa' optimisme, malemnya banyak yang menghubungi. Entah itu via bbm, whatsapp atau media chat yang lain. Menanyakan kabar. Beberapa dari mereka mengaku habis baca blog. Mungkin kemaren2 masih sungkan untuk menanyakan kabar karna takut kalo2 aku masih dirudung kedukaan yang dalam ya?

Maaf, bukannya sudh tidak lagi berduka, tapi akupun harus tau diri. Lusa malam bahkan tangisku masih menggugu di pelukan suami. Tapi rasanya terlalu egois untuk sering berduka. Aku harus optimis menatap masa depan. Bagi Mashka, menunggu orang tuanya tak akan lama, karna dari beberapa artikel dan buku yang pernah kubaca, perbandingan hidup dunia-akherat itu 1:365000. Klo kata orang tua, hidup di dunia ini cuma sebentar. Nah, ketemu linknya..ini dia salah satu artikelnya.

Ini hari Jumat, hari dimana Mashka pulang kembali ke sisi PemilikNya. Tapi hari ini aku tak ingin menangis. Dan ternyata hari ini perhatianku mampu teralihkan oleh si corel. Dan ini dia tampilan blog terbaru sekaligus domain terbaru. Karna yang kemaren agak belibet ngebacanya. Semoga bermanfaat ya. Kalo ada yang mau dibikinin logo atau desain blog boleh koq hubungi langsung via inbok, skalian iklan... Siapa tau. Kan tarifnya ga segede profesional, lha wong ilmunya juga ilmu otodidak. ^^

Kali inipun postingnya agak sedikit diubah. Di akhir posting akan selalu saya coba selipkan doa sederhana. Agar dengan membaca blog ini, secara langsung maupun tidak kita saling mendoakan.

Semoga saya dan siapapun pembaca blog ini selalu diberi keberkahan hidup baik dunia maupun akherat. Terimakasih telah menjadi bagian dari pembaca blog (ecek-ecek) ini.

Salam Jumat manfaat ^^

Jumat Pagi

Pagi ini kudengar isak kala membuka mata
Lengan kokohmu memeluk lenganku
Sejenak kulihat bahumu terguncang tertahan
Bantal kita basah, oleh air mata

Ah, Jumat pagi,
hari dimana buah hati kembali
menemui Pemiliknya yang Maha Hakiki
Dan kau, aku, kita hanya berusaha mengikhlaskan diri

Sahabatku yang selalu menguatkan,
kali ini aku tak akan ikut terisak
meski harus menahannya spenuh jiwa
Ini waktu kita untuk menukar peran
sebagai penguat dan pengingat

Lenganku tak sekokoh milikmu
tapi aku masih mampu memelukmu
bahuku tak sekuat milikmu
tapi aku akan jadi sandaranmu

Sahabatku yang selalu menyabarkan
Tenanglah, sang buah hati ada di istanaNya
dia juga tak'kan kesepian,
dia punya banyak teman bermain

Sahabat yang syurgaku ada di hatimu,
Aku mungkin ingin mengasuhnya,
seperti juga engkau,
tapi tenang saja,
bukankah kita semakin dekat setiap detiknya?
Bukankah kitapun akan pulang ke kampung akhirat?

Jangan cemas, sahabatku,
rinduku padanya pun menggelegah
Sabarlah
kelak kita akan mengasuhnya lagi
aku akan berlelah-lelah menyusui dan merawatnya
kita akan mengajarinya berjalan dan mengucap kata

Namun sebelum itu, sayang
mari kita berdiri tegak,
kuatkan langkah kita, memupuk modal dengan amal
menyegarkan semangat
menyambut adik-adiknya yang masih harus kita perjuangkan
hingga kelak engkau, aku, dan saudara2nya diijinkan
berkumpul dengannya di Jannah

Sahabatku, suamiku

Kuatlah, untukku dan untuk calon2 buah hatimu
masih banyak yang harus kita lalui
masih rendah amal dan ilmu kita
kuatlah untuk menjadi imam dunia akhirat kami.


Jumat 06.09.13
Untuk suamiku tercinta @fajar_it
Rencana Allah pasti yang terbaik untuk kita