Minggu, Agustus 25, 2013

AIR MATA INI, UNTUK SIAPA?



Ku bertanya pada diri
Saat buah hati yang dicinta
berpulang padaNya:
Air mataku yg tumpah itu
Untuk siapa sebenarnya?
Untuk dia yang pulang?
Atau untuk diriku yang ditinggalkan?
Masgul kujawab jujur:
untuk diriku
rasa rinduku
kehilanganku

(dan begitulah kurasa
Orang2 menangis saat ada yang meninggal,
bukan menangisi si mayit,
tapi menangisi dirinya sendiri, sambil bertanya:
Siapa lagi yang akan menemaniku?
Bagaimana kalau aku rindu denganmu?
Siapa yang akan mengajakku tertawa lagi?
Dst, dst)

Lalu, saat ksatria mungilku itu
kini berpulang
dengan tidur panjang yang sangat nyaman
dalam belaian dan dekapNya
Pantaskah masih ada air mata?
Mungkin, pantas
Air mata untuk menangisi diri (lagi)
tentang nasib diri yang belum pasti
akan seperti apa nanti
saat maut menghampiri

Wahai ksatria kecilku.
dari jauh tempatmu di situ
Doakan ummi ya naaak
agar dapat berpulang dengan nyaman
seperti pulangmu
dan memelukmu penuh rindu
suatu hari nanti….

#####--#####

Lagi-lagi bunda Mukti mengingatkanku dengan tulisannya. Kali ini cukup membuatku speechless dan lemes. Ya, selama ini siapa yang aku tangisi jika bukan aku sendiri? Menangisi rasa rindu yang aku rasakan sendiri. Padahal bukankah pada hakekatnya setiap detik yang kita lalui justru mendekatkan pada kesempatan untuk bertemu pada mereka lagi yang telah dipanggil?
Aku mulai bangkit kembali dengan tulisan ini. Mencoba mengorek2 hikmah yang ada atas semua kejadian ini. Memompa motivasi yang sempat kempes. Dan dia yang Maha Memberi Petunjuk membuatku yang secara tidak sengaja mendapati tulisan tentang penyakit yang sempat diderita Mashka. Dia mengalami satu dari 5000 kejadian kelahiran berdasarkan sebuah tulisan ilmiah yang sempat kubaca. Tanpa komplikasi apapun selama kehamilan. Bahkan belum bisa terdeteksi dengan alat secanggih apapun selama kehamilan. Sempat ada pertanyaan ratapan: "Kenapa anakku?", yang kemudian kuikuti dengan berulangkali istighfar. Memohon ampun karena sejenak menggugat putusanNya.

Aku kembali menekuri, mencari-cari hikmah. "Bukankah ini adalah pilihanNya? Mashka, dan kami, dan seluruh keluarga kami, dipilihNya, dari 5000 bayi lahir di 5000 keluarga lainnya. Ya, karna ajal tak bisa dimundurkan atau dimajukan. Jadi bukankah ajal tak perlu dipertanyakan? Bahkan bukankah panglima Khalid bin Walid yang gagah berani justru meninggal di atas tempat tidurnya sendiri? Cukup keyakinan bahwa inilah waktunya untuk berpulang dan mensyukuri karna Sang Pemilik pernah meminjamkannya sejenak.

Mashka adalah bentuk kasih sayangNya padaku, suamiku dan kluargaku. Banyak pesan yang tertambat saat kehadiran, terlebih ketika kepulangannya. Ya, inilah bukti cintaNya. Bukti cinta Sang Pencipta kepada hambaNya.
"Lalu apalagi yang kucemaskan?", perntanyaan itu kuajukan sendiri pada diriku. "Apalagi yang kau tangisi, Din?". CintaNya karna menjemput putramu yang masih suci untuk menikmati surgaNya kembali? CintaNya karna masih mengingatkan betapa ujian adalah bentuk perhatianNya kepada kalian yang ditinggalkan? Atau cintaNya yang memilih kalian untuk menerima diskon surga dengan jalan kesabaran? 

Kali ini aku menangis, tapi bukan lagi kesedihan, bukan lagi ratapan, tapi rasa malu. Rasa malu atas dosa2 tergambar kala sujud. Dan tangisan syukur karna dengan dosa2 yang begitu banyaknya Dia masih memberi segala ampunan dan kemurahanNya menjadikan kami terpilih menerima ujian menuju tingkatan iman selanjutnya. Tuntun kami ya Allah...Bimbing kami ya Allah...hingga kami layak berkumpul kembali di tempat terpuji.



Dalam rindu penuh syukur 25.8.13

Inspirasi: rumah kain kasa bunda

Jumat, Agustus 23, 2013

Selamat Pagi, Le...

Selamat pagi, cah bagus...
Tanggal yang sama sebulan lalu...
Allah tunjukkan sebuah keajaiban penciptaan makhluknya...
Ya, sebulan lalu kamu lahir, sayang...
Di kala matahari masih malu...
Saat daun2 berucap syukur atas terciptanya embun..
Selamat pagi, wahai prajurit syurga..
Hanya ini yang mampu umi dan abi persembahkan...
Sujud panjang pd Sang Pemilik Segala..
Memohon jubah jubah terbaik utkmu...
Meminta air susu ternikmat yg mengalir di surgaNya..
Memohon kehangatan kasihNya untukmu...

Ahh, Le...
Sbenarnya umi pun paham
bahwa tak perlu memohon padaNya begitu...
Apapun yang kau butuhkan pasti ada
Apapun yang kau minta pasti dikabulkanNya,bukan?
Ya, karna Dia Yang Maha Menjaga terus menjagamu di surgaNya...
Dan bukankah sebaik2 tempat kembali adalah surga?

Dia pasti maklum,
karna hanya ini yang mampu kuberi untukmu, anakku yg sholeh..
Seuntai doa, rangkaian dzikir...
Berharap air mata yg mengalir bersamanya menjelma embun penyegarmu...
Mashka, prajurit surga umi dan abi...
Nyenyakkan tidur panjangmu, sayang...
Bermainlah di taman surga yg indah...
Peluk cium rindu dari umi dan abi...
Jumat pagi.23.8.13

Kamis, Agustus 22, 2013

Semburat Kasih Ibu pada Purnama

Kupandangi bulan malam ini..
Indah...namun mengabur seiring rasa rindu yg semakin membuncah...
Saraf otakku mengirim sinyal ingatan...
Pada posisi bulan yang sama, diputaran yang lalu..
Aku bertahan dengan apa yg orang sebut gelombang rahim..
Aku berjuang menahan sakitnya...
Kau berjuang menemui kami...

Semburat bayangan bulan..
Tergambar seorang ibu menggendong anaknya...
Semburat bayangan yang ada ketika aku dan kau berjuang di medan syahid...
Sungguh kala itu aku rela melepas nafas untuknya...
Hingga fajar tiba dan menuai keajaiban kehadiran prajurit surga...

Ah,sayang...
maafkan jika malam ini umi masih menggugu merindumu...
Lihat, alangkah indahnya bila ibu dan anak di bulan itu adalah kita...
Yang mengisi kesunyian malam dengan kehangatan pelukan...
dengan kesunyian hati yg melantunkan lagu kasih...
Sungguh umi sangat merindukanmu,duhai prajurit syurgaku...
Di sini sepi tanpamu,sayang...
Tidurlah di pangkuan umi sejenak lewat mimpi...
Umi akan minta ijin kepada Pemilikmu...
Seperti malam2 sebelumnya, setelah doa tidur, ayat kursy, dan alfatihah...

Ya Rabbi...
Berilah kesempatan pada ibu ini rasa bahagia bertemu sang buah hati ..
walaupun hanya di  alam mimpi...
Allah...iman ini masihlah dangkal...
tapi ijinkan Ya Rabbi...Dzat Yang menguasai seluruh hati...
Yang Memegang seluruh jiwa...
Obatilah jiwa yg merindu ini lewat mimpi...
Seperti kuasanya Engkau menggambarkan kasih ibu dan anaknya pada semburat di purnama...
Maka gambarkanlah kasih kami lewat mimpi malam ini...

Sepi. 22.8.13