Rabu, September 04, 2013

Meet the Obgyn

Sudah waktunya kontrol ke obgyn lagi seteah melahirkan Mashka. Well, dan semalem ga sia2 deh antri sampai jam setengah dua belas malem, akhirnya dapet jawaban optimis dari obgyn yang kabarnya memang komunikatif. Obgyn ini cukup komunikatif walaupun kayanya semalem uda kliatan banget dayanya tinggal 2 watt. Hehhe,soalnya uda 'kelap kelep' (bahasa abi) kalo dilihat dari matanya.

Seperti yang sudah kusiapkan sejak awal, kami harus dapat jawaban pasti dari obgyn daripada terus menerka2. Yap, kami ceritakan semuanya (secara singkat tentunya, keburu pagi siy). Dan tibalah aku menanyakan pertanyaan yang selama ini masih terus mengganjal.

"Dok, kira2 apa penyebab penyakit hirsprung yang diderita anak saya?"

"Tidak tau" datar banget nich dokter
"Ya, sampai sekarang tidak ada yang tau penyebab hirsprung itu sendiri"

"Lalu bagaimana dengan sepsisnya? Ada yang bilang bisa dari proses persalinannya, atau ketika sejak dalam kandungan?" kejarku

"Hmm...no. Kalo sepsis terjadi sejak dikandungan, tentu bayinya meninggal di kandungan kan?"
"Sepsis biasanya terjadi di luar, setelah dilahirkan"
Maksud dokter ini mungkin seperti yang aku baca. Bisa dari selang infus, ventilator, atau alat2 medik yang digunakan ketika di RS kurang steril.

"Kalo dari penjelasan dokter di RS (tiiittt), tempat anak kami di rawat, hal tersebut disebabkan karena ketidaksempurnaan pada saat pembentukan sel syaraf di trisemester pertama." suami mengimbuhi.

Nyengir. "Engga. Hirsprung ini tidak diketahui secara pasti penyebabnya. Toh itu masih diagnosis kan? Kalo di semester pertama, ah saya yakin, semua ibu akan berhati-hati ketika hamil. Lihat saja, banyak to ibu2 yang mungkin lebih ceroboh  bahkan yang di pinggir2 jalan itu ternyata bayinya ga kena hirsprung, justru sehat. Nah, jadi bukan karena itu." jawabnya. Tetap datar.

"Pada saat persalinan, istri saya ini durasinya lumayan lama dari pembukaan hingga kelahiran. Bahkan plasentanya juga pendek, 36cm saja. Gimana tuh dok?"

"Nah, nyatanya bisa lahir kan? Ya sudah. No problem" jawab si dokter dengan super santai.

"Begini analoginya, kita belanja di mirota dan dapet hadiah rumah. Why? Trus orang2 pada tanya, kenapa kok kita dapet hadiah rumah? No answer kan? Terus kalo kita belanja lagi, pasti ga kita dapet rumah lagi? No answer juga. Tapi pada intinya, kalo ga mau dapet hadiah ya JANGAN BELANJA. Dan gimana biar kita dapat rumah lagi? Just PRAY. Jadi apakah kehamilan ke depan bisa terjadi begini lagi, tentu bisa. Dan biar ga terjadi, ya itu tadi, JUST PRAY dan tentunya seperti biasa, didukung dengan pemberian nutrisi yang baik. Thats it."

"Lalu dok, ada saran apa untuk kami untuk selanjutnya?"

"Ga ada. Fun aja. Ikhlaskan saja. Enam bulan lagi bisa program. Kalo lancar, januari bisa hamil lagi."

Terus terang, ada kelegaan tersendiri. Rasa bersalah, kegelisahan, penasaran menguap. Bukan tidak percaya pada takdir, karena ini kuncinya. Tapi terjawab langsung dari profesionalnya makin memberi hawa optimisme kami kembali lagi. Terutama untuk kembali berikhtiar. Ini tentang takdir, ini tentang Qadha dan Qadhar. Bahwa sekuat apapun usaha yang telah kami lakukan untuk memberi yang terbaik, ternyata Allah lebih memilih Mashka untuk kembali kepadaNya. Ketakutan pada masa depan seperti terhempas, sepertinya kami baru saja melakukan healing trauma.

Tapi ga bagus semua kok. Dokter ini cukup teliti dan tegas.

"Kamu anemi ini. Pucat banget."

Baiklah, ya..aku menjelaskan bahwa memang Hb sebelum persalinan itu 9.9. Meski sudah berusaha dinaikkan dengan suplemen herbal dan daging (kadang kalo yang dagingnya), angkanya masih di 9.9.

"Untuk hamil, Hb kamu ga boleh rendah. Zat besi penting untuk janin, jadi jangan sampai rendah Hbnya. Saya akan beri suplemen. Dan usahakan cek darah bulan depan. Kalo sudah diberi suplemen masih rendah, hati2 kamu bisa talasemi." dataaarrrrr baget ngomongnya. Tapi kaya nampar rasanya. Suami yang ga tau apa itu talasemia malah ikut senyum. Plis deh abiii.

"Hmm..pucet banget", dokter itu seperti menguatkan diagnosisnya sambil nulis resep.

"Bukan karna ngantuk kali ya, dok?" tanyaku sekenanya.

"Yawes, karna ngantuk." Jawabnya sekenanya juga.

Lah,tapi bukankah dulu aku pernah di melakukan medical checkup untuk masuk PLN. Kalo Hb rendah pasti ga lulus ini. Lah, nyatanya sampe resign, soooo ini cuma anemi. Ngeyemyemi dewe (menenangkan diri sendiri).

So, saat ini yang jadi pe er-ku adalah menaikkan kadar hemoglobin. Harus mau makan daging dan sejenisnya. Dan darah inipun setiap cc-nya adalah milik Allah, maka kupasrahkan saja padaNya. Rejeki itu milikNya, pun hikmah yang selalu kupinta dari semua kejadian ini.

Ketika Mashka (sabar) kami belum cukup menurutNya, maka kali ini kami harus memulainya dari awal kembali. Doakan...doakan...siapapun yang membaca tulisan ini, semoga kami dan semua yang sedang mengikhtiarkan hajatnya diberi kelancaran dan segera diperkenankan olehNYA. Termasuk saya yang juga akan berdoa semoga apapun yang anda ikhtiarkan selalu diberikan yang terbaik.

Salam Sabar.... ^_^
Semoga manfaat.

Selasa, September 03, 2013

Ketika Cinta Ditunjukkan Lewat Ujian

Ragaku tetiba kaku, merinding dan kelu, saat membaca satu pesan yang tenyata dikirim semalam:

"Mbak, gendukq nututi mashka"

Datar, tanpa titik tanpa ekspresi. Namun sebuah gemetar jari kurasakan dalam ekspresi datar tulisannya.

Gendhuk adalah panggilan kesayangan Mbak Yulie pada putrinya (baca: posting sebelumnya) . Tepat dua bulan hari ini Gendhuk masuk RS. Usianya dua bulan lebih satu hari. Terpaut 20 hari dengan Mashka. Dari mbak Yulie juga aku tau kalau Reni juga kehilangan putranya sabtu lalu. Putra Reni juga salah satu sahabat Mashka di NICU. 

"Allah, mengapa kematian terus mengintariku?"

Beberapa waktu lalu, salah seorang sahabat yang kukenal di seminar prenatal bersilaturahim ke rumah. Mba Titi. Kami memang mulai akrab karna dia yang mengajakku ikut yoga, bahkan kami sempat menjadi patner komunikasi dengan janin kala itu. Jadi, meski tak sempat bertemu Mashka, mba Titi  sempat merasakan gerakan Mashka dalam perutku.

Bersama dengan suami, mba Titi menghadiahkan tiga buku yang lagi2 membuat saya lebih 'melek' atas hikmah yang ingin Allah sampaikan lewat Mashka. La Tahzan, My Life as  Writer, dan Happiness Inside. (Hihihi, mkasih banget ya, mba Titi). La Tahzan, meski bukunya sudah kukenal lama, dan suka baca, buku tebal ini dulunya bukan tipe bacaanku. Tapi ternyata, buku ini yang kemudian membuatku seperti sedang dihadapkan pada nasihat seorang ulama yang begitu mengena.

Membaca bab demi bab buku ini menyadarkanku dan terus menguatkan hatiku. Buku ini seperti angin segar bagi orang2 yang hidupnya terasa sempit, sesak dan lumpuh. Buku ini bagai tisu penyeka air mata. Ehh, salah fokus, kok malah ngomongin bukunya.

Ada satu kalimat yang saya ingat ketika kesedihan dan kedukaan kembali menyapa,

"Barang siapa yang oleh Allah dikehendaki menjadi baik maka ia akan diuji oleh-Nya" (Al-Hadits)

Dan ada kalimat lain yang akan selalu menjadi jawaban saya ketika pertanyaan dari dalam diri maupun orang lain menghakimi,

"Allah telah menakdirkan, dan apa yang Dia kehendaki akan Dia lakukan." (Al-Hadits)


Bukan karena hirsprung, sepsis, premature, cardiovascular, hidrysepalus, atau apapun setiap nyawa diambil. Tapi karena TAKDIR. Dan takdir itu juga berlaku pada yang ditinggalkannya, yaitu UJIAN. Hidup tak selamanya indah. Bukankah keindahan kekal itu hanya di sisi-Nya? Hidup juga tak selamanya susah. Bukankah kesusahan kekal juga hanya ada di nerakaNya?

Dari Mashka saya belajar banyak dan semakin banyak. Dari Mashka aku dikenalkan dengan orang2 hebat penerima amanah ujian dariNya. Dari Mashka Allah kirimkan perhatianNya. Dan lewat Mashka, Gendhuk, Reni's, dan anak2 syurga lainnya Allah tunjukkan cinta-Nya pada saya, mba Yulie, Reni, dan orang tua lain yang anaknya harus berpulang 'lebih cepat'.

"Terimakasih, le..."

Rabu, Agustus 28, 2013

Kadar Kesabaran

Bohong jika aku bilang sudah diuji dengan begitu berat. Kisah2 Mesir yang kubaca kemarin malam membuatku tersadar bahwa ujianku kehilangan seorang putra masih belum apa2 dibanding mereka yang kehilangan suami, anak, adik dan keluarganya yang lain karena kekejaman junta militer. Dan setelahnya mereka masih harus terus menghadapi teror. Belum lagi kisah Syuriah, Palestina, dan berbagai area konflik lainnya.

Seorang ayah yang kehilangan putrinya dan seorang kakak yang kehilangan adiknya yang cantik karena tembakan snipper di dadanya. Seorang wanita yang kehilangan pria, yang belum lama menjadi suaminya, yang tertembak di dagu hingga menembus lehernya. Betapa mereka kuat.

Sehari lalu seorang tetangga ke sini. Kami mengobrol banyak. Salah satunya tentang Mashka.
"Ah, din sempat terpikir ga jadi olehku pas syawalan itu datang kemari untuk ngepasin bajumu." beberapa waktu lalu aku memang memesan baju darinya.

"Tapi begitu ketemu, malah aku yang heran kamu masih bisa tertawa. Sampai aku sempat ngomong sama suami, kalau saja aku yang kehilangan, mungkin aku uda gendong2 guling kemana2 karna stres. Kamu dipilih karna kamu yang kuat menjalani ini." ungkapnya yang membuatku menerawang sejenak.

"Ah, kalau saja kamu tau bahwa akupun masih terus berjuang agar selalu kuat, rin..."

Lalu meluncurlah ceritaku tentang rumah sakit dimana Mashka pernah dirawat. Dimana aku bertemu dengan ibu2 yang begitu tegar dan sabar. Pada awalnya, tentu aku tak bisa berhenti menangis, meratap dan meratap. Tapi sekarang aku tau, sebelum semua ini, Allah melatih dengan pertemukanku dengan mereka agar aku mampu kuat dan memahami makna.

Pada hari pertama Mashka dirawat, saat mataku masih bengkak dan sembab setelah menangis dari pagi, sorenya aku bergabung dengan ibu2 lain di ruang memeras ASI. Karena ASI ku yang belum banyak keluar dan belum mengerti tekniknya juga, hampir 2 jam aku diruangan itu. Dan selama itu pula berganti2 teman yang datang dan pergi.
Salah seorang memberi tahu tentang jaminan yang seharusnya kami urus. Bahkan dia memberi kami contoh data2 yang harus kami persiapkan.
"Kita ga tau mbak kapan anak kita di sini, jadi lebih baik pergunakan apa yang bisa meringankan" Ah, terimakasih mba Yulie...dari situ aku berkenalan dengannya.

Saat melihat mataku, seolah sudah terbaca bahwa aku baru di situ. Keingiintahuanku menggelitik untuk bertanya, walopun belum ada yang kukenal di ruangan itu.
"Ibu2, maaf ya...kok ibu2 di sini begitu kuat dan sabar?" tanyaku.

Seorang ibu tertawa, aku makin penasaran.

"Hoalah mbak, kalo di sini kita stres, gimana anak kita yang di dalem sana", ungkapnya.

"Bener, mbak. Anak kita kan sedang berjuang mempertahankan hidupnya. Untuk siapa? Ya untuk kita, untuk ketemu sama kita orang tuanya. Kalo kita nangis, kasihan mereka. Kita harus kuat mbak." jawab ibu yang lain

"Kita harus semangat, mbak. Biar anak kita merasakan semangat kita dan diapun makin semangat berjuang." celetuk yang lain

"Tuhan ga akan mungkin ngasih kita ujian kalau kita ga mampu menanggungnya, mbak...Sabar...sabar itu kunci pokoknya."

"Jangan sekali-sekali nangis di depan anaknya ya, mbak. Kalo mo dibilang, ga ada seorangpun yang mau di sini seperti kita. Kita juga ga minta akan seperti ini. Tapi kita harus sabar. Kita yang terpilih menjalani ini, berarti kita lebih kuat dari ibu2 yang lain yang anaknya sehat. Sabar ya mbak, di sini kita ikhtiar" yang lain menasehati.

Hati ini mendadak seperti dibangunkan benteng kokoh dan diam2 berbisik dalam hati, "Ya, saya harus kuat demi Mashka yang sedang berjuang".

Yach, meskipun kami tau, apapun bisa terjadi di ruangan itu. APAPUN. Keajaiban atau kehilangan. Semua menyadari itu. Tapi demi hormon oksitosin yang merangsang air susu kami keluar, kami harus bahagia. Demi buah hati kami yang meski menderita tapi terus berjuang untuk bersua dengan kami para orang tuanya.

Saat kami harus berhadapan dengan mereka, ibu2 yang baru saja kehilangan buah hatinya, kami tau dan sadar bahwa bukan tak mungkin kami pun akan berada pada posisinya. Kemudian kami akan saling mendoakan. Begitupun denganku, saat ternyata aku harus berada pada posisi itu. Sepenuh hati akupun berdoa agar mereka yang masih tegar menunggui anaknya tetap diberi kekuatan, kesabaran dan yang terbaik. Kala itupun mereka akan bergantian memeluk, bahkan beberapa sampai menyusul di ruang jenazah untuk mengantar Mashka dan menguatkanku seperti saat aku pertama kali di sana. 

Pembicaraan kematian bukan hal yang baru. Kami tau, kami harus berdamai dengan cobaan ini. Oksigen, ventilator, selang irigasi, selang residu, bukan lagi jadi pembicaraan yang asing, apalagi infus. Terimakasih Allah, pernah mempertemukanku dengan mereka. Dari merekalah aku belajar untuk tetap tegar. Allah melatihku, sebelum aku harus berpisah dengan jagoanku. Dia Yang Maha Mengetahui pasti telah memperhitungkan segalanya. SEMUANYA, tanpa cela. Mungkin jika aku tidak diperkenalkan dengan ibu2 ini, aku tak kuat menjalani ini semua. Betapa Dia telah mengatur semuanya begitu detil.

Kemarin (dengan mengerahkan segala kekuatan hati), aku dan suami pergi ke RS dimana Mashka dirawat. Niat awalnya jenguk salah seorang guruku yang dirawat karena stroke. Namun setelahnya, kita memutuskan untuk bersilaturahim kepada orang-tua2 temen Mashka. Begitu sampai di lantai yang dituju, terlihatlah tikar2 karet/ plastik sudah digelar. Ya, sudah bada magrib, emperan ruang tunggu sudah disulap jadi tempat tidur para orang tua yang menunggui buah hati mereka. Tidak seramai saat aku masih di sana. Dalam hati aku bersyukur, semoga yang tidak lagi aku temui adalah mereka yang sudah bisa kembali ke rumah dengan sukacita.

Ada mbak Yulie, kenalan pertamaku di sana. Kami bersahabat layaknya anak kami yang memiliki nasib serupa. Hanya saja Mashka bertahan selama satu minggu, dan Gendhuk (panggilan utk anak mba Yulie) terus berjuang selama hampir dua bulan. Ibu yang luar biasa sabar ini menceritakan perkembangan anaknya. Masuk ke ruang isolasi karena adanya kuman baru, saturasi udara yang naik turun sampai biru, dan tentang dokter yang ketus dan tidak peduli. Dan apakah sahabatku ini menceritakannya dengan menangis? TIDAK! Bahkan dia tersenyum, juga suaminya. Meski aku dan suami tau betul, sisa kepanikan dan kelelahan tergambar jelas di wajah mereka.

Ingatanku tiba2 menangkap Mashka ketika biru. Sambil berusaha tetap tenang berusaha memancing refleknya. Ya, menahan kepanikan ketika anak kita mungkin telah ditunggu sang Izroil, itulah tugas kami. Dan hal itu juga yang mbak Yulie dan ibu lain lakukan demi terus kuat berada di samping buah hati tercintanya.

Cerita lainnya mengalir. Beberapa kasus prematur sudah pulang. Beberapa yang sudah menjalani operasi juga sudah pulang, walaupun ada operasi lanjutan ketika sang bayi sudah memiliki berat cukup. Beberapa ada yang menyusul Mashka. Ada yang sudah pulang, namun ketika kontrol harus masuk lagi karena kondisi yang masih butuh perawatan. Bahkan ada yang pulang paksa. Prosedur ini digunakan untuk keluarga yang sudah 'menolak' tindakan medis lanjutan dan membawa pasien pulang. Tak henti2nya saya menyebut Allah dalam hati.

"Jangan nangis, din. Kamu di sini untuk menguatkan, bukan menangis dan kembali meratap", tak henti2nya ucapan itu terlontar dalam hati.

Pelukan dan genggaman erat sambil diam2 berdoa saya berikan  pada mba Yulie dan mba reni yang kebetulan cuma mereka yang sempat saya temui. Yang lain, mungkin masih menunggu di dalam. Sepenuh hati saya berdoa semoga Allah berikan yang terbaik bagi sang buah hati dan orang tua mereka yang begitu sabar.

Allah menguji kita sesuai pada kadarnya. Dan ketika ujian itu mampu dilalui, itu berarti kita telah melompati satu tangga menuju tingkatan atasanya. La Tahzan...karena Allah bersama saya dan siapapun anda yang sedang menghadapi ujianNya. Dia hanya sedang mengungkapkan betapa cinta dan perhatianNya begitu besar pada kita. Maha Mengetahui Allah yang mengetahui kekuatan kita untuk menghadapi ujianNya. La Tahzan...

Dan Allah Maha Menepati Janji, maka ketika saya kembali merindukan Mashka, inilah yang saya ucapkan, doa yang sama ketika Ummu Salamah kehilangan Abu Salamah di medan jihad dan Allah mengganti Rasulullah menjadi suaminya.

“Inna lillahi wa inna ilaihi rooji’un. Allahumma’jurnii fii mushibatii wa akhlif lii khoiron minhaa [Segala sesuatu adalah milik Allah dan akan kembali pada-Nya. Ya Allah, berilah ganjaran terhadap musibah yang menimpaku dan berilah ganti dengan yang lebih baik]”,



Maka nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan? Semoga saya, dan anda bisa mengambil hikmah dari apa yang menimpa orang2 di sekitar kita.