Tampilkan postingan dengan label Try To Conceive (Again). Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Try To Conceive (Again). Tampilkan semua postingan

Selasa, Oktober 01, 2013

Meet the (2nd) Obgyn

Setelah awal bulan lalu sempet konsultasi ke obgyn (baca : posting "meet the obgyn"), beberapa hari lalu aku dan abi memutuskan untuk mencari 2nd opini ke obgyn lain, tapi di rumah sakit yang sama. 

Kali ini sebenernya niat utamanya adalah pemeriksaan organ genital yang memang sejak melahirkan belum kulakukan. Berhubung obgyn yang pertama itu laki2, walopun senior, tetep risih to yoo....
Nah, singkatnya, kami memang sudah lama mengetahui tentang obgyn kedua ini. Namun karna beberapa waktu sebelumnya ada temen yang cerita bahwa nich obgyn komunikatif banget dan 'ga kesusu' kalo konsultasi, maka kami pun memutuska untuk menemui obgyn perempuan ini.

Tadinya ga ada niat untuk konsultasi, cuma periksa tok, tapi karna saat masuk (saat itu jam stengah 10 malam), si obgyn sudah menyambut dg muka sangat ramah, maka sesi konsultasi ke spog berasa konsultasi ke psikiater. Lhoh ko bisa? Iya, stelah kami menceritakan tentang Mashka, dokter ini sepertinya menaruh simpati pada kami, terlihat dari gaya bicaranya. Atau mungkin karna sama2 perempuan ya, entahlah...yang jelas aku nyaman untuk berbagi.

Setelah pemeriksaan yang ternyata memang ada sedikit masalah, walopun ga menganggu dan beresiko, sesi konsul pun berlanjut.

O : "Saya tau banget pasti rasanya berat, terutama bagi ibunya ya.. Tapi mari diendapkan saja. Pikirkan hal positifnya, ini memang hasil dari seleksi alam. Jika anaknya memang bertahan, kemudian harus menjalani perawatan dalam jangka waktu yang panjang, itu pasti jadi beban tersendiri buat anda berdua selaku orang tuanya, terlebih pada anaknya. Dan lagi, perawatan luka kolostomi itu kan juga tidak mudah. 
Nah itu, anaknya Ibas, cucunya SBY kan juga mengalami hirsprung, ya walaupun selamat, perawatan jangka panjang harus terus dilakukan, sampai si anak tumbuh dewasa nanti. 
Sudah, pikirkan masa depan, jangan trauma ya....Malah biasanya kalo anak pertamanya terjadi hal2 yang tdk diinginkan, anak2 selanjutnya bisa sehat2. 
Memang, sampai saat ini penyebab hirsprung belum diketahui. Memang ada indikasi penyebab faktor lingkungan seperti pestisida, debu, makanan yang mengandung zat kimia, dan lain2, tapi kalopun demikian, itu hanya 1% kemungkinannya. Yang jelas, hisprung merupakan bawaan lahir. Sudah dari sononya kalo orang bilang.Saya paham sekali pasti berat, tapi harus berusaha tetap kuat.

Penjelasan panjang lebar ini dan nassehat2 itu diberikan dengan ramah oleh dokter ini. Yang lebih membuat kami lega, ternyata kami sudah bisa memulai program kehamilan selanjutnya.

Us: Jadi dok,kapan bisa program hamil lagi ya sebaiknya?
 O : Sekarang2 ini nich uda pas banget...3 bulan setelah melahirkan uda bs ko program lagi. Katanya sunah Nabi... (sambil nyengir). Yang penting harus tetap berpikir positif ya. Ga usah takut.
Us : Trus perlu periksa lab ga, dok?
O : Haiah, ga perlu. Tapi kalo mau gapapa. Ngabis2in duit. Itu tadi pasien saya ada yang periksa trus bawa hasil cekupnya ke saya. Hasilnya tak tunjukin ke dia, "Nich, hasilnya negatif semua to", nah kena 2,3juta. Hehe...Maksudnya bukan masalah uang, saya sich yakin uang bukan perkara penting, tapi untuk priksa2 lab gitu perlu alasan medis tersendiri. Kalo memang gapapa, cukup berpikiran positif saja.

Bliau juga memberi vitamin untuk kesuburan. Bahkan saat akan berpamitan beliau menyerahkan kartu namanya.

O: Ini kartu nama saya, kita kontak2an ya.. Semoga besok kesini lagi sudah hamil.
Aamiin...

Ahhh, ada yang melegakan meski ya, sebelumnya sempet konsul sama obgyn lain via email untuk checkup ke lab. Pada intinya memang pemlihan jiwa. Seperti pagi ini, aku uda whatsappan sama seorang sahabat yang senasib. Pada intinya, ibu satu ini masih sering keingetan sang buah hati. Apalagi saat nengok bayi, atau bahkan melihat anak kecil sekalipun. 

Tidak dipungkiri, kehilangan buah hati itu seperti kehilangan separuh nafas kehidupan. Dari cerita para 'senior' yang pernah bernasib sama, rata-rata ada yang frustasi dan harus terapi dengan psikiater. Kami beruntung masih bisa saling menguatkan. Berita bahagia kelahiran itu membahagiakan kami, jujur meski kami harus berjuang menahan tangis di dalam hati. Kami mungkin dianggap aneh karna masih mampu tertawa lepas dan bersenang-senang, tapi sungguh kami hanya tak ingin mendapati tatapan kasihan. Yang kami harap cuma doa...setulus2nya doa agar kebahagiaan itu enggan berlama-lama menyapa kami...

Selamat menyapa pagi dengan semangat ^^

Semoga bermanfaat..

Rabu, September 04, 2013

Meet the Obgyn

Sudah waktunya kontrol ke obgyn lagi seteah melahirkan Mashka. Well, dan semalem ga sia2 deh antri sampai jam setengah dua belas malem, akhirnya dapet jawaban optimis dari obgyn yang kabarnya memang komunikatif. Obgyn ini cukup komunikatif walaupun kayanya semalem uda kliatan banget dayanya tinggal 2 watt. Hehhe,soalnya uda 'kelap kelep' (bahasa abi) kalo dilihat dari matanya.

Seperti yang sudah kusiapkan sejak awal, kami harus dapat jawaban pasti dari obgyn daripada terus menerka2. Yap, kami ceritakan semuanya (secara singkat tentunya, keburu pagi siy). Dan tibalah aku menanyakan pertanyaan yang selama ini masih terus mengganjal.

"Dok, kira2 apa penyebab penyakit hirsprung yang diderita anak saya?"

"Tidak tau" datar banget nich dokter
"Ya, sampai sekarang tidak ada yang tau penyebab hirsprung itu sendiri"

"Lalu bagaimana dengan sepsisnya? Ada yang bilang bisa dari proses persalinannya, atau ketika sejak dalam kandungan?" kejarku

"Hmm...no. Kalo sepsis terjadi sejak dikandungan, tentu bayinya meninggal di kandungan kan?"
"Sepsis biasanya terjadi di luar, setelah dilahirkan"
Maksud dokter ini mungkin seperti yang aku baca. Bisa dari selang infus, ventilator, atau alat2 medik yang digunakan ketika di RS kurang steril.

"Kalo dari penjelasan dokter di RS (tiiittt), tempat anak kami di rawat, hal tersebut disebabkan karena ketidaksempurnaan pada saat pembentukan sel syaraf di trisemester pertama." suami mengimbuhi.

Nyengir. "Engga. Hirsprung ini tidak diketahui secara pasti penyebabnya. Toh itu masih diagnosis kan? Kalo di semester pertama, ah saya yakin, semua ibu akan berhati-hati ketika hamil. Lihat saja, banyak to ibu2 yang mungkin lebih ceroboh  bahkan yang di pinggir2 jalan itu ternyata bayinya ga kena hirsprung, justru sehat. Nah, jadi bukan karena itu." jawabnya. Tetap datar.

"Pada saat persalinan, istri saya ini durasinya lumayan lama dari pembukaan hingga kelahiran. Bahkan plasentanya juga pendek, 36cm saja. Gimana tuh dok?"

"Nah, nyatanya bisa lahir kan? Ya sudah. No problem" jawab si dokter dengan super santai.

"Begini analoginya, kita belanja di mirota dan dapet hadiah rumah. Why? Trus orang2 pada tanya, kenapa kok kita dapet hadiah rumah? No answer kan? Terus kalo kita belanja lagi, pasti ga kita dapet rumah lagi? No answer juga. Tapi pada intinya, kalo ga mau dapet hadiah ya JANGAN BELANJA. Dan gimana biar kita dapat rumah lagi? Just PRAY. Jadi apakah kehamilan ke depan bisa terjadi begini lagi, tentu bisa. Dan biar ga terjadi, ya itu tadi, JUST PRAY dan tentunya seperti biasa, didukung dengan pemberian nutrisi yang baik. Thats it."

"Lalu dok, ada saran apa untuk kami untuk selanjutnya?"

"Ga ada. Fun aja. Ikhlaskan saja. Enam bulan lagi bisa program. Kalo lancar, januari bisa hamil lagi."

Terus terang, ada kelegaan tersendiri. Rasa bersalah, kegelisahan, penasaran menguap. Bukan tidak percaya pada takdir, karena ini kuncinya. Tapi terjawab langsung dari profesionalnya makin memberi hawa optimisme kami kembali lagi. Terutama untuk kembali berikhtiar. Ini tentang takdir, ini tentang Qadha dan Qadhar. Bahwa sekuat apapun usaha yang telah kami lakukan untuk memberi yang terbaik, ternyata Allah lebih memilih Mashka untuk kembali kepadaNya. Ketakutan pada masa depan seperti terhempas, sepertinya kami baru saja melakukan healing trauma.

Tapi ga bagus semua kok. Dokter ini cukup teliti dan tegas.

"Kamu anemi ini. Pucat banget."

Baiklah, ya..aku menjelaskan bahwa memang Hb sebelum persalinan itu 9.9. Meski sudah berusaha dinaikkan dengan suplemen herbal dan daging (kadang kalo yang dagingnya), angkanya masih di 9.9.

"Untuk hamil, Hb kamu ga boleh rendah. Zat besi penting untuk janin, jadi jangan sampai rendah Hbnya. Saya akan beri suplemen. Dan usahakan cek darah bulan depan. Kalo sudah diberi suplemen masih rendah, hati2 kamu bisa talasemi." dataaarrrrr baget ngomongnya. Tapi kaya nampar rasanya. Suami yang ga tau apa itu talasemia malah ikut senyum. Plis deh abiii.

"Hmm..pucet banget", dokter itu seperti menguatkan diagnosisnya sambil nulis resep.

"Bukan karna ngantuk kali ya, dok?" tanyaku sekenanya.

"Yawes, karna ngantuk." Jawabnya sekenanya juga.

Lah,tapi bukankah dulu aku pernah di melakukan medical checkup untuk masuk PLN. Kalo Hb rendah pasti ga lulus ini. Lah, nyatanya sampe resign, soooo ini cuma anemi. Ngeyemyemi dewe (menenangkan diri sendiri).

So, saat ini yang jadi pe er-ku adalah menaikkan kadar hemoglobin. Harus mau makan daging dan sejenisnya. Dan darah inipun setiap cc-nya adalah milik Allah, maka kupasrahkan saja padaNya. Rejeki itu milikNya, pun hikmah yang selalu kupinta dari semua kejadian ini.

Ketika Mashka (sabar) kami belum cukup menurutNya, maka kali ini kami harus memulainya dari awal kembali. Doakan...doakan...siapapun yang membaca tulisan ini, semoga kami dan semua yang sedang mengikhtiarkan hajatnya diberi kelancaran dan segera diperkenankan olehNYA. Termasuk saya yang juga akan berdoa semoga apapun yang anda ikhtiarkan selalu diberikan yang terbaik.

Salam Sabar.... ^_^
Semoga manfaat.