Menanggapi pemikiran kawan yang 'ga terima' dengan analogi gambar kursi yang saya hadirkan di dekstop layar kerja saya (red: seperti gambar header blog ini).
Oke, begini kronologinya,
gambar ini saya dapat dari pencarian dengan keyword "retro" saat iseng-iseng mengisi waktu luang kala itu. Niatnya sich, nyari perpaduan warna yang bisa menjadikan komposisi 'retroisme' (LOL, wat kind of word ist). Haha, ga tau kenapa retro terlihat unik dan seksi di mata saya selama ini.
Back, saya melihat gambar 'si kursi' ini. Terlepas dari backgroundnya yang bernuansa orange-coklat favorit saya, bentuk kursi bulat itu terasa nyaman di pikiran saya. Dipadukan dengan lantai kayu dan pencahayaan senja dalam angan. Maka, deskripsi yang terangkat adalah "KENYAMANAN".
Di dalam gambaran saya, kursi itu ada di sebuah ruang kosong. tanpa pernik rumit. Bertujuan untuk menghabiskan penat dunia atau sekedar melahap koleksi buku dan menghindari kebisingan polusi suara.. maka deskripsi yang kemudian terangkat lagi adalah "KETENANGAN".
Berpegang pada prinsip saya: "BAITI JANNATI", lagi-lagi, saya unduh gambar itu dan mengeditnya dengan photoshop untuk menonjolkan unsurnya. Dengan efek grausian blur sedikit, disertai difuse glow sedang dan tulisan "home".
Nah, tulisan 'home' inilah yang kemudian diprotes seorang kawan, bahwa tulisan tersebut tidak sinkron dengan gambarnya. Saya biasanya punya hobi debat untuk memberi pengertian. Tapi kali ini tidak. Karna bagaimanapun memang tidak akan nyambung. Lha gimana nyambung kalo dia memberi deskripsi dengan otak kiri, sedangkan saya kanan. Jadi memang dia ndak salah. Tetap benar. Karna, pastilah anak TK juga akan mendeskripsikan gambar rumah dengan segitiga yang diletakkan di atas persegi. Right?
Saya jadi ingat dengan beberapa oleh-oleh suami setelah membaca bab-bab awal "7 keajaiban rejeki" karangan mas Ipho Santosa. Menurut sinopsis yang sempat saya baca, mas Ipho menuliskan hal-hal yang hampir tak mungkin terpikirkan oleh otak kiri kita untuk mencapai suatu harapan dan impian. Beliau memaparkan betapa dasyatnya otak kanan yang berpikir secara kreatif, penuh keyakinan dan landasan doa yang mengawali karir dan rumah tangganya. Dan benar saja, baru 2 bab yang suami saya ceritakan, sudah mampu membuat saya bertekad pagi ini untuk memperbaiki pola pikir otak kanan.
Mengasah otak kanan kita dengan kreatifitas dan segala hal berbau seni, memantapkannya dengan doa dan ilmu logis otak kiri kita. Maka, saya mulai sadar kenapa akhir-akhir ini, hasrat menulis dan menggambar, bahkan mengedit photo mulai menurun... hmmmm...mungkin karna setiap hari saya harus berhadapan dengan data-data berupa angka-angka dan angka. Hitungan dari 0, hingga bernilai trilyunan.
(ok, betewe, pembahasan mule meluber kemana-mana)
Ok, balik ke topik aja, next time akan kita bahas bagaimana kerja si otak kanan ini sehingga ia bisa membuat seorang Ipho Santosa, dan bahkan ponakanku dapat merubah nasibnya. Subhanallah bagi Allah yang menciptakan kita dengan segala kelebihan..
--semoga bermanfaat-- ^^

nice...bojoQ cen "wonderwomen" ... :)
BalasHapusmnrt abi ga` ad yg aneh dg karya umi tsb..malah kesannya sangat natural dan alami, untuk masalah kursi, wajar2 aj, tiap orang memiliki selera yg berbeda2 bahkan abi klah untuk masalah shotoshop am umi .. :) tp liat aj ntar karya abi ...
ad astu kata yg abi petik dari 2 bab pertama buku itu .. yaitu "KEYAKINAN" ..
Bismillah ... semoga ap yg pernah kita diskusikan bersama kmren senantiasa mendapat ridha dan rahmat - NYA .. Amien
amiin...amiin...makasih my beloved fan ever.... Allah with us...
BalasHapus