Belum ada 15 menit lalu kau tinggalkan tempat ini untuk kembali, bahkan baumu masih tercium di sini. . .
Ketegaran yang kubangun sejak semalam runtuh begitu mendapati kamar ini kosong kembali, dan aku kembali sendiri. . .
Sebelum pergi kau pesankan padaku sebuah kekuatan magis bernama ‘syukur’. .
Yang membuat kita tak lagi sesegukan seperti perpisahan sebelumnya. . .
Meski ya, kita sempat larut dalam tangis, sebentar saja. . .
Bukan karna aku kuat. . .
Belum. . .dan aku tak yakin akan. . .
Tapi karna tak ingin rasanya membuatmu berat ketika harus melangkah kembali ke kota dimana kita dipersatukan. . .
Dan rasanya percuma, karna meski tenaga kita habis untuk menangisi perpisahan kita, itu tak akan membuatmu kembali atau membuatku ikut denganmu. . .
Betapa kuatnya ya Siti Hajar. . .
Yang oleh Ibrahim as ditinggal tanpa bekal apapun selain iman, bahkan dengan putra mereka, Ismail as. . .
Lalu betapa beruntungnya aku yang masih mampu bertemu denganmu. . .meski satu bulan sekali. . .
Terimakasih telah membuat lima hariku ini sangat indah. . .
Terimakasih telah membuat lima ramadhanku ini luar biasa. . .
Meski masih haus rasanya berada di sampingmu. . .
Meski masih banyak ilmu yang ingin kutanyakan padamu. . .
Meski masih banyak canda yang ingin kubagi padamu. . .
Meski masih luas kemanjaan yang ingin kuberi untukmu. . .
Meski masih banyak bahan yang ingin kudiskusikan denganmu. . .
Meski masih banyak waktu yang sangat ingin kuhabiskan denganmu. . .
Terimakasih telah sabar menjadi pendamping seorang dina. . .
SUAMIKU. . .
Kita pupuk kerinduan ini. . .
Karna seperti katamu, Cinta. . .
Tidak semua pasangan mendapat nikmat rasa rindu dan indahnya kebersamaan seperti milik kita. . .
Maka nikmat mana yang mampu kita dustakan?
Iya kan, Sayang. . .
Sampaikan salamku untuk orang tua kita. . .
Sampaikan salamku untuk kakak2 kita. . .
Sampaikan salamku pada kota yang selalu menjadi kerinduanku. . .
Dan katakana padanya bahwa aku akan kembali . . .
Aku merindukanmu,
Terimakasih telah memberiku kebahagiaan sebesar ini, cinta...
asli nangis aku moco ikiy nduk...semoga tetap sabar ya...selalu ingat semua demi cita2 dan pengalaman hidup yang lebih luas..
BalasHapus... Segala sesuatunya terasa berat untuk pertama kalinya, santai aja. Keluar dari "kondisi nyaman" di tanah tumpah darah (Halah!) itu memerlukan mental baja dan penyerahan total kepada Yang Maha Kuasa ^_^
BalasHapus@ mba sinta:
BalasHapusIya,mbak...namanya juga tahap pendewasaan...untuk kehidupan yang lebih baik memang perlu pengorbanan...^_^
@maziwan:
Yup, buener,mas...pembangunan mental bajaku mungkin ga akan bisa dengan hanya diam di tempat. Harus ada yang dikorbankan untuk dapat memperoleh kesuksesan. Karna segala yang 'instan' itu ga enak dan ga sehat... ^_^
"Terimakasih telah memberiku kebahagiaan sebesar ini, cinta..."
BalasHapusYa Allah,
BalasHapusJadikanlan istriku
Istri yang sholehah yang selalu patuh pada semua perintah laranganmu
Istri yang bisa membantu ku lebih dekat kepadaMu
Istri yang bisa membantuku lebih mencintaiMu
istri yang selalu patuh kepadaku bila yang aku sampaikan itu benar
istri yang bisa membawa kedamaian dalam hidupku
Ya Allah,
Jadikanlah istriku istri yang selalu menjaga kehormatanku
Jadikanlah istriku istri yang selalu menjaga kehormatannya sendiri
Jadikanlah istriku ibu yang selalu menjaga kehormatan anak anakku
Ya Allah,
Jadikanlah dia Ibu yang baik bagi anak anakku
Mampu membimbing anak anakku di jalanMu
Bisa mengantarkan amanah yang Kau titipkan kepada kami
Ya Allah,
Dampingi istriku yg sholehah ini,
agar kemudian Engkau akan menguatkan hatinya,melapangkan dadanya.
Wahai Dzat Yang Maha Perkasa Kutitipan istriku kepadaMu,
Jagalah dia Ya Allah Seperti Engkau telah menjaga Ismail dan ibunya Di tengah gurun pasir tiada bertepi.
Amien ya robbal`alamin
Bismillah ....
BalasHapus"Sayangku, sujud pertama rokaat terakhirku adalah doa untuk orangtua-orangtua kita, dan sujud kedua rokaat terakhirku adalah doa untukmu dan anak keturunan kita."