Jumat, Januari 03, 2014

Kerinduan di Masjid Kampus

Semalam aku mengikuti suatu majelis ilmu di Masjid ugm. Begitulah, selain mengerjakan tugas ibu rt, jahit menjahit, memburu majelis ilmu jd keasyikan tersendiri. Tak masalah, ketika mjd minoritas dlm penampilan krn sebagian besar akhwat2 mengenakan burqa (hijab penutup wajah), yg terpenting ilmunya dapet.

Semalam, bahasannya tentang jurus2 menjaga keharmonisan rumah tangga. Bagaimana kwajibang istri dan suami, bgmn saling memperlakukan satu sama lain, hakikat rumah tangga, dll.

Anak-anak kecil yg begitu banyak berlarian kesana kemari. Bahkan magribku sempat tak tuma'ninah karna mendengar tangisan bayi yg mungkin usianya masih hitungan 1-3 bulan. Di sekelilingku para ibu memangku anaknya, ada juga menggendong, menimang2 ananknya. Ada yg mengelus rambut anaknya saat anaknya mulai terlihat mengantuk..Ya, hal itu benar2 di sekelilingku. Di shaf depanku, disamping kanan kiri, di belakang, bahkan di luar shaf.

Ingatanku kembali pada april hingga juli lalu. Saat tiap selasa pagi aku membawa Mashka di perutku, kemudian menaiki tangga masjid ini...semakin hari semakin berat. Menunggu jam 9 untuk berangkat yoga hamil sembari dhuha dan menuntaskan target khatam sebelum kelahiran.
Mengelusnya lewat permukaan perut sembari mengajaknya berbicara...

"Nak, klo sudah lahir nanti, trus kamu uda bisa umi ajak jalan2, sering2 ke sini yuk ( maskam ugm). Habis umi ngiri tuh ibu2 itu bs ngajarin anaknya yg msih kecil ikutan dhuha sampai 6rakaat. Tumbuh jd anak sholeh ya, nak...Mencintai Allah dan RasulNya di atas segalanya."

Jika kemarin langgar dekat rumah, posting ini pun masih ttg kenangan Mashka di maskam ugm. Semalam sempat meneteskan airmata rindu yg tiba2 menyeruak di tengah kebisingan suara canda dan tangis anak2, serta suara al Ustadz yg sdg mengisi.

Tapi bagaimanapun jg, semalam pelajaran berharga juga kudapat. Pelajaran syukur dan intropeksi. Syukur akan visi rumah tangga yg kami bangun, syukur akan suami dan rumah yg menentramkan dan penuh kasih, intropeksi sbg istri, sbg ibu dan calon ibu, sebagai kaum yg sebagian bsr mjd bahan bakar jahanam bila kewajibannya sbg istri tak dipenuhi.

Terimakasi (lagi) ya Allah...

Selasa, Desember 31, 2013

Kerinduan di Penghujung Masehi 2013

Saat-saat usai jamaah di langgar memang saat yang paling membuat umi merindukanmu, nak...
Sejak tanda positif ada di testpack, entah ruhmu telah ditiup atau belum olehNya, saat itulah umi mulai bertekad tak akan bolong2 lagi jamaahnya. Meskipun pada prakteknya, umi absen juga.
Saat detak jantungmu mulai terekam oleh usg, saat itulah umi juga kerap berkomunikasi denganmu usai shalat. Meski secara fisik organmu belum terbentuk sempurna.

Dan alangkah bahagianya saat tendangan2 kecilmu mulai umi rasakan. Bahkan tak jarang umi memanggilmu...

Saat kamu mulai terasa berat, bahkan hingga hari2 menuju kelahiranmu, umi malah semakin semangat membawamu ke rumah Allah. Memang, umi mulai absen tarawih berjamaah saat usiamu beranjak 9 bulan dikandungan. Tapi awal2 ramadhan umi tekadkan untuk mengajakmu selalu tarawih berjamaah. Meski harus bawa minum dan diletakkan di samping sajadah, dan sapu tangan untuk mengelap keringat umi.

Ingatkah kau, anakku Mashka sayang...usai sholat kita akan memohon pada Allah agar dirimu tumbuh menjadi anak yg mencintai masjid dan memakmurkannya. "Robb, tumbuhkanlah anak dalam rahim hamba ini menjadi salah satu hambaMu yg mencintai masjid, yg mencintai jamaah spt kakung dan abinya''...Tak jarang kemudian kamu juga membalasnya dg gerakan.

Maka, kini, usai sholat selalu menjadi momen umi saaaaaangat merindukanmu, sayang. Tak disangka, ternyata Allah lebih mencintaimu dibanding umi, Dia juga sayang umi, buktinya kini kita dipisahkan sementara agar engkau, wahai anakku Mashka, dapat menikmati rumah langitNya.

ujung 2013
kamar timur langgar

Jumat, Desember 27, 2013

(my) December

20, 21, 22 Desember lalu jadi hari penuh pembelajaran. Hari dimana aku harus berada di tengah2 suasana yg awalnya mengguncang hati. Hari itu aku memang mengikuti bazar di sebuah rumah sakit swasta. Dua bulan sebelumnya memang sudah mendaftar. Tapi rasanya ingin kuurungkan niatku saat itu.
Rumahsakit, pasti akan banyak sekali dokter, residen terutama, dan anak-anak tentu saja yg memang mengikuti acara yg akan diadakan. Hatiku sempat mengerdil, nyaliku sempat menciut. Bayangkan kedukaan kehilangan buah hati kembali menghantui.

Ya, sejak kehilangan Mashka, memang rumah sakit jadi 'momok' tersendiri untukku, meski aku terus melawannya. Tak masalah memang, tapi setiap pulang dr Rs, ada sedikit rasa 'sesak' di dada. Terlebih ketika bertemu dokter atau residen. Residen terutama. Sekalipun kusadari betul bahwa tak semua dari mereka yg berlaku sombong dan jahat (dlm kacamataku), rasa dongkol itu kerap mampir di benakku. Aku, memilih lebih byk membatin istighfar ketika bertemu dg profesi tsb utk mengusir kedongkolan hatiku sendiri yg sudah pasti godaan syaitan.

Hari kedua bazar, tepat usiaku memasuki angka ke 27. Setahun lalu, rasanya adalah hari yg begitu indah dan berkah karna Mashka sudah ada dirahimku. Kala itu, kubayangkan betapa tahun ink pasti akan lebih membahagiakan karna mungkinnaku sudah menggendong Mashka yg beranjak berusia 5 bulan.'' Betapa indah hari itu'' pkirku saat itu.

Tapi rencana tinggal rencana, harapan tinggal harapan, Allah ternyata memiliki rencanaNya sendiri untukku dan keluargaku. Pagi itu usai subuh, saat suami sedang mengucapkan selamat milad, aku justru sesunggukan di dekapannya. Rasa rindu yg meluap tak mampu lagi kutahan. Betapa kurindukan sosok Mashka di tengah2 kami saat itu, makan bersama, menghabiskan hari bertiga, berempat, berlima, dan lebih banyak lagi bersama anggota kluarga yg lain.

Seharian itu kusibukkan diriku. Rindu tentu tak akan hilang, namun terus kucoba utk membuatku trs bisa berkarya hari itu. Banyak para ibu berlalu lalang sambil menggendong anaknya yg rata2 memang seusia Mashka bahkan ibu hamil. Rasanya begitu sesak...tapi terus kuulafadzkan Al Ikhlas dalam hati. Ya, semata agar keikhlasan hati ini semakin kokoh meski tak dipungkiri, setiap saatnya juga tergerus krn duka yg tiba2 muncul.

Robb, terimakasih atas segala yg terlimpah hingga detik ini... Semoga tahun depan jika Engkau masih memanjangkan umurku, maka ijinkan aku menikmati umur selanjutnya bersama anak2 yg kembali Engkau titipkan. Dan bila umurku tak sampai tahun selanjutnya, maka wafatkan aku dalam iman, dalam hati yg setulus2nya mencintaMu dan RasulMu.