Jumat, Desember 27, 2013

(my) December

20, 21, 22 Desember lalu jadi hari penuh pembelajaran. Hari dimana aku harus berada di tengah2 suasana yg awalnya mengguncang hati. Hari itu aku memang mengikuti bazar di sebuah rumah sakit swasta. Dua bulan sebelumnya memang sudah mendaftar. Tapi rasanya ingin kuurungkan niatku saat itu.
Rumahsakit, pasti akan banyak sekali dokter, residen terutama, dan anak-anak tentu saja yg memang mengikuti acara yg akan diadakan. Hatiku sempat mengerdil, nyaliku sempat menciut. Bayangkan kedukaan kehilangan buah hati kembali menghantui.

Ya, sejak kehilangan Mashka, memang rumah sakit jadi 'momok' tersendiri untukku, meski aku terus melawannya. Tak masalah memang, tapi setiap pulang dr Rs, ada sedikit rasa 'sesak' di dada. Terlebih ketika bertemu dokter atau residen. Residen terutama. Sekalipun kusadari betul bahwa tak semua dari mereka yg berlaku sombong dan jahat (dlm kacamataku), rasa dongkol itu kerap mampir di benakku. Aku, memilih lebih byk membatin istighfar ketika bertemu dg profesi tsb utk mengusir kedongkolan hatiku sendiri yg sudah pasti godaan syaitan.

Hari kedua bazar, tepat usiaku memasuki angka ke 27. Setahun lalu, rasanya adalah hari yg begitu indah dan berkah karna Mashka sudah ada dirahimku. Kala itu, kubayangkan betapa tahun ink pasti akan lebih membahagiakan karna mungkinnaku sudah menggendong Mashka yg beranjak berusia 5 bulan.'' Betapa indah hari itu'' pkirku saat itu.

Tapi rencana tinggal rencana, harapan tinggal harapan, Allah ternyata memiliki rencanaNya sendiri untukku dan keluargaku. Pagi itu usai subuh, saat suami sedang mengucapkan selamat milad, aku justru sesunggukan di dekapannya. Rasa rindu yg meluap tak mampu lagi kutahan. Betapa kurindukan sosok Mashka di tengah2 kami saat itu, makan bersama, menghabiskan hari bertiga, berempat, berlima, dan lebih banyak lagi bersama anggota kluarga yg lain.

Seharian itu kusibukkan diriku. Rindu tentu tak akan hilang, namun terus kucoba utk membuatku trs bisa berkarya hari itu. Banyak para ibu berlalu lalang sambil menggendong anaknya yg rata2 memang seusia Mashka bahkan ibu hamil. Rasanya begitu sesak...tapi terus kuulafadzkan Al Ikhlas dalam hati. Ya, semata agar keikhlasan hati ini semakin kokoh meski tak dipungkiri, setiap saatnya juga tergerus krn duka yg tiba2 muncul.

Robb, terimakasih atas segala yg terlimpah hingga detik ini... Semoga tahun depan jika Engkau masih memanjangkan umurku, maka ijinkan aku menikmati umur selanjutnya bersama anak2 yg kembali Engkau titipkan. Dan bila umurku tak sampai tahun selanjutnya, maka wafatkan aku dalam iman, dalam hati yg setulus2nya mencintaMu dan RasulMu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar