Rabu, Desember 18, 2013

Cerita di Langgar Sepuh (Zaki dan Hafidz)

Baru beberapa menit lalu aku terlibat percakapan dg dua orang anak sholeh yg kusuruh azan. Nama mereka Zaki Santoso dan Hafids Assidiq.

Awalnya, sejak pukul setengah 12 tadi kudengar suara anak2 yg bermain di depan langgar. Awalnya kukira anak2 skitar rumah, tp setelah kuperhatikan, suara mereka spertinya memang jauh dr logat jawa.
Azan dhuhur mulai berkumandang. Diam2 aku khawatir tdk ada yg azan, krn bapak yg biasa azan, td pagi bertolak ke Malang utk bersilaturahim ke rumah kakaknya, budeku. Dan benar saja, saat masjid dan mushola lain sudah mengumandangkan iqomah, belum ada satu orangpun yg mengambil kunci langgar yg mmg terletak di teras rumah.

Maka, segera kuhampiri dua anak asing yg ternyata sedang kebingungan memasuki langgar..
"Dek, azan ya..!''
"Iya, mbak" jawab mereka.

Segera kubuka langgar dan kunyalakan microfon utk mereka. Lega menyergap dlm hati, meskipun ada sdikit kecemasan ttg imamnya nanti. But, alhamdulillah, slh seorang tetanggaku kmdn muncul. Kuminta mereka iqomah dan jamaah dhuhur hari ini terlaksana.

Usai sholat, mereka yg tadi sempat kuminta utk tinggal sejenak segera kutemui. Di teras langgar, kubawakan dua buah roti coklat keju dan dua gelas air putih utk mereka.Sayangnya hr ini kami sedang puasa, jadilah hnya itu yg bs kusuguhkan utk mereka.

Di situlah, sembari mereka makan roti, kami bercakap2. Ada kekaguman tersendiri kala mendengar mereka bercerita. Oiya, mereka tyt dari pondok Tahfidz kampung sebelah. Zaki hafal juz 30, sedang Hafidz yg 2 th lbh muda, sdg dlm proses menuju hafal juz 30.

Hafidz asli Banten, ke jogja karna ayahnya melanjutkan studi di ugm. Pun dg Ibu dan ketiga adiknya, mereka semua ikut ke jogja. Hafids memiliki 4 adik, namun salah satunya meninggal saat bayi.
''Anak tante juga ko, Hafids, meninggal saat bayi''kataku
"Berarti belum punya dosa, mereka langsung masuk syurga" ungkap Hafidz
"Tp ada yg bilang mereka jd pelayan di syurga..menjadi muda terus'', timpal Zaki.

Ada haru yg tiba2 datang saat mendengar ucap polos dr anak2 lugu itu..

Berbeda dg Hafidz, Zaki memiliki kehidupan yg keras. Sejak kecil dibesarkan nenek dan bundanya. Entah siapa itu bunda, aku tak menanyakannya. Awalnya kupikir ibunya, tp aku tyt aku salah saat kudengar ceritanya yg beru bertemu ibunya saat kelas 1. Saat kutanya ayahnya, dia menjawab sejak umur 3 tahun dia sdh tak melihat ayahnya, itupun diketahuinya dr ibunya. Zaki sempat bilang kalau tahun dpn dia mau pindah lg ke bengkulu, tempat kelahirannya, dimana ada nenek dan bundanya. Dia tinggal di Mana, ibukota Bengkulu.
Aku masih agak bingung, lalu kmn ibunya..
"Ibu kadang pulang, trs pergi lagi ke kalimantan"
Aku baru paham, ''Ibu kerjanya dikalimantan y?''
''Iya'',jawabnya sambil trs menikmati roti yg digigitnya bagian bawah dahulu dan menyisakan bagian coklat dan keju utk dimakan terakhir.
Ada raut muka sedih saat kutanya apa dia rindu ibu ayahnya. Namun ada kalimat optimis yg keluar dr mulutnya yg sempat belepotan keju.
"Pasti besok bisa ketemu"
''Aamiin, insyaAllah'' balasku.

Ada satu hal lg yg kukagumi dr sosok Zaki,
Dia sempat berkata bahwa usai ujian nasional nanti ada waktu 1 bulan sblm masuk smp.
"Mo ke bengkulu naik sepeda"
He?? aku melongo.. ini anak ngigau apa ya.
"Kamu mau ke bengkulu naik sepeda???" tanyaku dg tanda tanya banyak.
"Iya, ke jakartanya minta antar, nanti ke bengkulu sepedaan" wajahnya terlihat ceria saat mengatakan itu.
''Jauhnyaaa..."

''Hahaha, biasa dia, mbak... setiap minggu pulang ke prambanan naik sepeda sendiri'' timpal Hafidz.

Fyi, kotagede prambanan itu jaraknya lbh dr 20 km, mgk 30, 1 jam perjalanan via kendaraan bermotor.
Dan well, Zaki keren untuk semua itu.
Percakapan kami ditutup krn roti sudah habis dan mereka harus segera kembali ke pondok.

Siang ini, dua sosok bocah asing itu memberiku byk pelajaran. Dua anak yg sedang asik bermain kemudian menghentikan permainannya krn waktu shalat tlh tiba, dua anak yg sedikit bayak sdh mampu memahami hakikat kematian dan kabadian, hakikat dosa setelah masa baligh, dan hakikat kehidupan yg luar biasa dr kacamata seorang anak berusia 10 dan 12 tahunan.

Terimakasih ya, Zaki dan Hafidz, smg kelak kalian bisa menjadi pemimpin2 yg hafidz Qur'an.

Minggu, November 24, 2013

Cerita Sebatang Pohon Mawar

Malam ini untuk kesekian kalinya aku mendengar isak perempuan yg setiap hari menyiramiku. Ah, tak bisa kubayangkan bagaimana wajahnya bila ia menangis. Karena dia selalu mengulas senyum pd siapapun dan kapanpun meski menurutku kala itu dia tersakiti.

Seperti beberapa waktu lalu ketika (seperti biasanya) dia sedang menyiramiku di halaman rumah, tiba2 ada seorang tetangga yg lewat sambil menggendong anaknya yg sedari td menangis.

"Wah, mbak bunga rajin sekali lho ngrawat kebunnya. Apalagi nanti kalo punya anak, pasti merawatnya lebih rajin, trus anaknya ngga nakal ky anak saya nich. Kerjanya cuma bisa nangis aja."
Kulihat aura perempuan itu muram sejenak kemudian kembali tersenyum..

"Aamiin...aamiin. Alhamdulillah mbak...kan skr yang bisa dirawat baru kebunnya... Lho, itu dek angga kan masih bayi mbak...ya wajar kalau cuma bisa nangis...Nanti kalo bisa sepak bola malah bingung..hehe.." Jawab perempuan itu masih dengan senyum tulusnya.

Aku tau benar bahwa meskipun tak sengaja, kata2 tetangganya tadi pasti sedikit membuatnya sedih. Bagitulah, karna selama akarku menempel di halaman rumahnya ini, belum pernah  kulihat tanda2 kehadiran 'anggota baru' keluarga kecil  ini.Entah kenapa.

Hingga malam ini tak seperti biasanya aku yg  biasa hanya bisa mendengar isaknya, lirih doanya pun terdengar.

"Ya Robb..
Sungguh jika pantas hamba mengadu, itu hanya padaMu.

Engkau Maha Tau Ya Malik...
Bahwa terkadang masih terlintas kata 'mengapa' ketika hamba melihat seorang ibu yg setiap hari selalu membentak bahkan hingga memukul/mencubit anaknya..

Melihat kenyataan bahwa seorang remaja memiliki buah hati yg menjadi 'aib' namun tumbuh begitu sehat meski sebenarnya kehadirannya tak pernah diinginkan..

Melihat begitu banyak orang tua yg tega membiarkan buah hatinya diasuh oleh orang lain sementara ia sibuk mengejar-ngejar dunia..

Melihat begitu banyak orang tua yg dengan teganya menyusui bayinya dengan susu formula yg tak pernah mereka pikirkan akibatnya kelak.

Melihat bahwa pasangan yg mendamba buah hati skian lama namun hingga saat ini belum juga Engkau berikan..

Melihat betapa beberapa ibu yg telah lama menanti dan merawat buah hatinya sepenuh hati dan tulus, namun Engkau pisahkan keduanya begitu cepat..

Ah, Engkau tau benar pasti Ya Robb.. betapa rasanya ingin sekali memprotes padaMu saat rahim ini harus diangkat. Rasanya Engkau baru saja memukul begitu keras, menenggelamkan masa depan dan menghapus mimpi2 indah. 

Tapi tidak Ya Robb...jika jalan satu2nya bagi hamba utk memiliki buah hati itu kelak di jannahMu, maka ijinkan hamba Ya Allah...ijinkan hamba menjadi seluas-luasnya manfaat bagi ummah...Istiqomahkan keikhlasan, kesabaran dan kebaikan diri ini.... Karna hamba tau, sebaik2 keputusan hanya keputusanMu...

Engkau punya rahasia ketika menetapkan seorang anak harus menerima bentakan setiap hari,
Engkau punya rahasia ketika perbuatan terlarang justru melahirkan keturunan,
Engkau punya rahasia ketika pasangan halal Kau minta untuk terus berikhtiar dan memohon kepadamu..
Engkau punya rahasia ketika kembali mengambil titipanMU dari mereka yang begitu menyanyang dan merawat titipanMu
Engkau punya rahasia untuk setiap kejadian...
seperti halnya Engkau jg pasti punya rahasia menetapkan jalan ini padaku...

Karna tak ada satupun yang terjadi TANPA kehendakMu, bahkan daun kering yang gugur di tanah sekalipun. Maka, seadil-adil takdir adalah takdir dariMu yang Maha Memberi Petunjuk.."

 ***
Rantingku bergerak2 diterpa angin... Kalau saja aku punya mata, mungkin tangisku sudah pecah. Kalau saja aku punya tangan, sudah kuseka air matanya. Namun aku hanya sebatang pohon mawar yang tumbuh di halaman rumahnya, maka yg kulakukan hanya mengamini tiap doanya dan berusaha menumbuhkan bunga tercantik untuk Bunga agar ia tersenyum saat melihatku.

Selasa, November 19, 2013

Rindu pada Prajurit Surga

Umi masih membaca AlMulk.
Airmatanya mengalir, diantara diam... tangan kami yg menggenggam seolah jadi alat komunikasi tersendiri yg hanya dimengerti kami berdua.

"Bi, mungkinkah kita bisa meminta agar kakak bisa bertemu idola kita, Rasulullah di firdaus?"

"Insya Allah...."

"Tp entah knapa umi selalu berdoa demikian lho abi... saat rasa rindu ini tak terbendung, maka yg umi minta ke Allah y spt itu. Soalnya surga kan di luar logika, umi g bisa ngebayangin. terus umi ngebayangin aja klo kakak sdg bertemu dg Rasulullah, kluarga, dan sahabatnya. Dg begitu umi lega...Krn Allah sdg menjamu kakak brsama manusia yg paliiiiing mulia."

Air mata kami trs menerus tumpah, meski tanpa isak...
Sampai akhirnya istighfar dan serangkaian surah membuat kami lelap untuk menyambut waktu bermesra dg Maha Pemilik Semesta untuk mengadu...

#rindusangprajuritsyurgamashka

181113