Inget beberapa tahun lalu ketika kajian keputrian..
"Ini satu hal yang pasti diketahui setiap manusia, namun tak berarti disadari yaitu mati."
"Ah, ngomongin mati mulu deh, serem tauk...", gitu celetuk salah seorang teman yang diam2 kusetujui juga kala itu.
Nah lhoh, sekarang ngaku. Iya, sejak dulu juga tau kalo ujung dari kehidupan ini pasti kematian. Lha wong jaman SMP uda dapet pelajarannya kok tentang penciptaan manusia sampai di hari perhitungan amalnya. Makanya klo sekarang ga ngerti juga kebangetan.
Nah, tapi sadar g kalo ternyata kebenaran itu sering disepelekan.
Ngerti banget kalo besok mati, sholat tiap hari, tapi pikiran masih lari-lari.
Ngerti banget kalo pada akhirnya umur bakal habis, mengaji tiap hari, tapi lupa mengkaji isi.
Sadar sekali mati itu pasti, disuruh berhijab syar'i, masih nanti2, dengan dalih ga sesuai dengan model masa kini.
JLEB!
Ini menohok banget di hati. Secara pengalaman pribadi.
Sampai akhirnya 'disentil' dengan diuji.
Musibah yang saya alami terus terang tidak saya anggap sebagai ujian, tapi sebuah teguran yang mungkin tak seberapa dari Yang Maha Memberi Peringatan.
Ujian itu bagi mereka yang imannya sudah mantep dan berhak naik kelas. Tapi bagi saya, rasanya kok ga pantes dibilang mo naik kelas. Baru suruh masuk kelas dan belajar lagi, itu yang bener. Kemaren2 cuma dengerin aja teorinya, tapi msih enggan ikut pelajaran prakteknya. Makanya sekarang harus 'mengulang' pelajaran, baik teori maupun prakteknya.
Ini catatan untuk memperingatkan diri dan keluarga saja
Sudah disentil, maka selayaknya fardhu dan sunah tiap hari tak terlupa, dan mengikat hati serta pikiran agar tak kemana2.
Sudah ditegur, maka selayaknya ga cuma mengaji tiap hari, bacaanya ga cuma asal, sebisa mungkin tartil dan mengkaji terjemah hingga tafsir...
Sudah diingatkan, maka selayaknya tak tunda berhijab syar'i, memang tak lagi sesuai dengan fashion masa kini, tapi yang penting adem di hati.
Sudah diajari oleh yang Maha Cinta...maka mulai kurangi kecintaan pada seseorang dan sesuatu yang ketemunya cuma bakalan di dunia.
Jadi inget, yang satu itu pernah terungkap pada suami, trus terjadilah percakapan:
Suami: "Jadi, umi bakal mengurangi cinta umi ke abi?"
Sy : "Iya donk...pasti. Kan kemaren cintanya masih kebanyakan. Abi juga harus gitu ya. Ga usahlah cinta2 banget sama Umi.
"Umi cinta abi karna Allah. Semakin Abi mencintai Allah, maka semakin besar pula cinta Umi ke Abi. Begitu sebaliknya ya, bi. Biar nanti kalo kita kehilangan masing2 dari kita, sakitnya tak begitu dalam...toh kita kan hanya dititipi"
Suami: (dengan raut wajah yang memuram) "Iya deh...ingetin Abi ya.." *mwuach
Sudah didekati sama yang Maha Sayang, maka selayaknya ubah tujuan masa depan, agar khusnul khotimah, terhindar dari siksa kubur, menerima catatan amal dengan tangan kanan, masuk surga... Waaaa....ini cita2 tertinggi deh pokoknya. Ga tau kapan bakal dipanggil, jadi siapnya harus tiap hari, tobatnya harus tiap saat, lha wong bikin dosanya juga tiap saat.
Wallahua'lam bishowab...
Sekali lagi ini cuma catatan pribadi sebagai peringatan diri...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar