Selasa, November 12, 2013

Menyadari yang Pasti

Inget beberapa tahun lalu ketika kajian keputrian..
"Ini satu hal yang pasti diketahui setiap manusia, namun tak berarti disadari yaitu mati."

"Ah, ngomongin mati mulu deh, serem tauk...", gitu celetuk salah seorang teman yang diam2 kusetujui juga kala itu.

Nah lhoh, sekarang ngaku. Iya, sejak dulu juga tau kalo ujung dari kehidupan ini pasti kematian. Lha wong jaman SMP uda dapet pelajarannya kok tentang penciptaan manusia sampai di hari perhitungan amalnya. Makanya klo sekarang ga ngerti juga kebangetan.

Nah, tapi sadar g kalo ternyata kebenaran itu sering disepelekan.
Ngerti banget kalo besok mati, sholat tiap hari, tapi pikiran masih lari-lari.
Ngerti banget kalo pada akhirnya umur bakal habis, mengaji tiap hari, tapi lupa mengkaji isi.
Sadar sekali mati itu pasti, disuruh berhijab syar'i, masih nanti2, dengan dalih ga sesuai dengan model masa kini.

JLEB!
Ini menohok banget di hati. Secara pengalaman pribadi.
Sampai akhirnya 'disentil' dengan diuji.
Musibah yang saya alami terus terang tidak saya anggap sebagai ujian, tapi sebuah teguran yang mungkin tak seberapa dari Yang Maha Memberi Peringatan.
Ujian itu bagi mereka yang imannya sudah mantep dan berhak naik kelas. Tapi bagi saya, rasanya kok ga pantes dibilang mo naik kelas. Baru suruh masuk kelas dan belajar lagi, itu yang bener. Kemaren2 cuma dengerin aja teorinya, tapi msih enggan ikut pelajaran prakteknya. Makanya sekarang harus 'mengulang' pelajaran, baik teori maupun prakteknya.

Ini catatan untuk memperingatkan diri dan keluarga saja
Sudah disentil, maka selayaknya fardhu dan sunah tiap hari tak terlupa, dan mengikat hati serta pikiran agar tak kemana2.
Sudah ditegur, maka selayaknya ga cuma mengaji tiap hari, bacaanya ga cuma asal, sebisa mungkin tartil dan mengkaji terjemah hingga tafsir...
Sudah diingatkan, maka selayaknya tak tunda berhijab syar'i, memang tak lagi sesuai dengan fashion masa kini, tapi yang penting adem di hati.

Sudah diajari oleh yang Maha Cinta...maka mulai kurangi kecintaan pada seseorang dan sesuatu yang ketemunya cuma bakalan di dunia.
Jadi inget, yang satu itu pernah terungkap pada suami, trus terjadilah percakapan:

Suami: "Jadi, umi bakal mengurangi cinta umi ke abi?"
Sy : "Iya donk...pasti. Kan kemaren cintanya masih kebanyakan. Abi juga harus gitu ya. Ga usahlah cinta2 banget sama Umi.
"Umi cinta abi karna Allah. Semakin Abi mencintai Allah, maka semakin besar pula cinta Umi ke Abi. Begitu sebaliknya ya, bi. Biar nanti kalo kita kehilangan masing2 dari kita, sakitnya tak begitu dalam...toh kita kan hanya dititipi"
Suami: (dengan raut wajah yang memuram) "Iya deh...ingetin Abi ya.." *mwuach

Sudah didekati sama yang Maha Sayang, maka selayaknya ubah tujuan masa depan, agar khusnul khotimah, terhindar dari siksa kubur, menerima catatan amal dengan tangan kanan, masuk surga... Waaaa....ini cita2 tertinggi deh pokoknya. Ga tau kapan bakal dipanggil, jadi siapnya harus tiap hari, tobatnya harus tiap saat, lha wong bikin dosanya juga tiap saat.

Wallahua'lam bishowab...
Sekali lagi ini cuma catatan pribadi sebagai peringatan diri...

Jumat, November 08, 2013

Betapa Indahnya...

Betapa indahnya..
Jika bisa menggendong sang buah hati menuju masjid
Saat usianya mulai beranjak 4 bulan
Sembari membawa alas yang empuk dan bantal kecil
Melihat wajahnya yang kebingungan namun tenang
atau menatap lelapnya dalam doa...

Betapa indahnya..
Melihat suami yang memanggul sang buah hati menuju masjid
meskipun usianya masih satu tahun.
menerjang dingin dini hari
menuju subuh di masjid...


Betapa indahnya...
Membangunkan sang buah hati kala pagi masih dingin
Memintanya membasahi tubuhnya dengan wudhu
Mengganti pakaiannya dengan baju terbaik

Betapa indahnya...
Membangunkan sang buah hati untuk bertahajud bersama
mengajarnya meminta padaMu, hanya padaMU...

Betapa indahnya...
Mengajarkan sang buah hati lafadz hijaiyah
usai jamaah subuh...
Mengajarkannya alif..
Mengajarkannya ba..
Mengajarkannya ta...

Betapa indahnya...
Mengajarkan sang buah hati untuk menghafal doa shalat
meskipun usianya masih dua tahun...

Betapa indahnya...
Ketika usai salam ada yang menyalami tangan kita
dan meyematkan kita di setiap doa2nya..

Betapa indahnya...
Ketika buah hati masih dipelukan, masih di dekapan

Betapa indahnya Ya Robb...
Jika Engkau masih memberi kami kesempatan untuk kembali menjadi orang tua




***
Inspirasi dari ust. YM dini hari tadi. Rasanya ingin sekali menangis ketika dalam tausiyahnya beliau sisipka puisi yang pernah dibacanya ketika di Masjid Walisongo.
Teringat tahun-tahun lalu ketika buah hati masih didamba, ada janji tersendiri dalam hati...ketika usianya menginjak 4 bulan, insya Allah sudah akan diajak berjamaah. Meskipun saat itu masih belum hamil.
Ketika Allah Yang Maha Mendengar mengabulkan doa, maka sebisa mungkin tak meninggalkan jamaah di Langgar kecil depan rumah. Berharaaaaap sekali bahwa kelak buah hati dalam kandungan akan mencintai rumah Allah sampai ia dewasa, tua, dan syahid. Bernadzar juga utk tak pernah meninggalkan baca Al Qur'an meski hanya satu ayat setiap hari, berharap kelak sang buah hati selalu mencintai Al Qur'an sebagai penerang jiwanya. Buah hati yang kami 'nazdarkan' untuk menjadi jundi pembela agamaNya, menyekolahkannya di skolah tahfidz sebelum akademik. Mengajarnya hijaiyah sebelum alfabet....

Ternyata Allah berkehendak lain...
Dia sendiri yang memilihnya untuk menempati bukan sekedar eumah-rumah kecilNya, namun taman-taman firdausNya.
Dia sendiri yang mengajarkan segala 'pelajaran akherat' pada buah hati kami, bahkan kepada kami.

Meskipun tak bisa menidurkannya di samping saat shalat di masjid,
Meskipun tak melihatnya di panggul sang abi kala berangkat ke masjid2..
Meskipun tak bisa membangunkannya sebelum subuh utk bertahajud bersama
meskipun tak mampu memeluknya dan mencium keningnya usai salam
Namun, kini dia bersama jiwa kami saat bersilaturahim dari masjid ke masjid
berada di hati kami kala lantunan doa terpanjat..

Allah,
jikalau memang belum Engkau ijinkan buah hati pertama kami membersamai ibadah kami kepadaMu, maka ijinkan adik-adiknya membersamai kami atas kehendakMu.
Dan ijinkan kelak surgaMulah tempat kami berkumpul kembali...



di sudut kamar Mashka yang senyap
Oleh-oleh tahajud bareng  @Yusuf_Mansur
di Masjid @jogokariyan pagi ini

Selasa, November 05, 2013

Al Mubarok new Hijri 1435

Jika ditanya apa makna tahun baru ini untukku adalah titik balik sebuah kehidupan untuk kesekian kalianya.

Tahun lalu tercatat sebagai sejarah yang mungkin selama Allah masih mengijinkan tak akan bisa terlupa olehku. Menjadi seorang ibu. Ya, meski amanahku tertangguhkan. Tahun lalu adalah karunia, tahun lalu adalah teguran, tahun lalu adalah perhatian dan wujud cintaNya.

Harapan tahun ini, semoga istiqomah dalam kaffah, tertambah karunia dan rezeki barakah, teridhoi segala hajat. 
Allahummaj'al awwala haadzihis sanati sholaahan, wa awsathaha suruuran wa akhiraha najaahan. Ya Allah, jadikan awal tahun ini kebaikan, pertengahannya kegembiraan dan akhirnya kesuksesan. Aamiin.