Rabu, Januari 14, 2015

Kapan Nulis Lagi?

*muncul dari tanah*
Rada serem ya... tapi bener..ini uda lama bgt sejak tulisan terakhir. Dan tetiba, setelah iseng2 ngebaca blog orang -yang ga sengaja nemu pas cari info harga tes torch di jogja-, ada gemerisik (ciehh) rindu akan blog sndiri yang lama tak ditengok.

Sebenernya si abi beberapa waktu lalu sempet ngingetin, malah mau beliin laptop baru dengan dalih biar bisa nulis lagi. Girang donk sayanya... ^^ Ahaha, etapi kan manajer keuangan kan di tangan saya, jadi mulai dari cashflow sampe budget anggaran masa kini dan masa depan saya yang ngerti. Doski mah taunya kerja dapet uang. Meski girang, tapi ga saya acc jg. Lah, secara sekarang lagi off produksi, jadi sumber rejeki cuman ngandelin Abi. Biasanya gitu juga dink.. wong kerjaan cuman cukup buat jajan kita aja...hhehe..
Back to nulis. Yach, jujur banget nget ya.. memanglah uda lama ga nulis (selain nyetatus..duh!). Ada beberapa rencana proyek buku pun belum bikin plot. Padahal.kalo dibilang pengen sih iya pake banget. Punya karya yg diterbitkan, dengan kelas menulis super abal2 ala diary gini, uda prestasi yang oke banget.

Tapi entah kemana perginya nyali saya. Rasanya ada ketakutan tersendiri saat menulis. Saya bukan tipikal.sastrawan, saya ini tipikal "gampang dipengaruhi". Nah itu masalahnya. Jadi tiap nulis, saya ga bisa konsisten dengan gaya bahasa dan tulisan saya. Kenapa? Karna itu pasti tulisan saya tergantung pada buku/ tulisan yang baru saya baca saat itu.

Contohnya ya, saat sedang asyik masyuk dengan buku2 ustadz Salim AFillah, tulisan yang saya hasilkan bisa puitis dan 'mendayu-dayu' seperti tulisan beliau.
Nah giliran saya, misalnya habis baca blognya Radityadika, tulisan Arham kendari, dan sejenisnya, maka tulisan dan bahasa saya bisa 'njomplang' 180 derajat kaya tulisan mereka yang rata2 gokil dan nyeleneh.

Baiklah, saya cukup merasa diri ga punya pendirian dalam tulis menulis karna ini. Hasilnya, jangankan pembaca, saya aja ngerasa bingung...
Selabil inikah saya? Hiks..#merunduk sedih

Jadi kapan saya bisa nulis lagi...
jawabannya hanya Allah yang tau..
Mohon kritik dan sarannya.. Meski saya tau, pembaca tulisan saya tak banyak, silahkan kritik dan beri saran..
Terimakasih... ^^

Senin, Oktober 20, 2014

Tanpa pesta, tanpa kue, tanpa kado, tanpa ucapan yg penuh gegap gempita, dengan nada hidup biasanya, kita lalui tanggal dimana beberapa tahun silam kau pernah terlahir.

Bukan karna lupa, bukan juga karna enggan, tapi karna Rasul kita tak mengajarkannya.
Maka ijinkan doa yang menyertai hari itu, sama seperti hari-hari lainnya.

Kalau saja boleh jujur, aku tak bahagia menyambutnya. Kurasa pelukan sudah mampu membuatmu mengerti kan,mas? Iya, karna hari itu, sebenarnya bukan hanya jatahmu umurmu yg berkurang, tapi juga jatah hidupku di dunia. Dan, ah, tanggal lahir selalu membuat kita makin mengingatnya.... :((

Maaf jika kado tak berujud nyata. Hanya berupa doa pada Sang Maha Cinta, yg semoga membawa jalan cinta padaNya, menyatu kembali usai dunia. Menjadi pemberat dalam timbangan hisab, dan tak menjadi musuh dalam pengadilanNya.

Mas,ijinkan aku menulis sepenggal doa dan pesan sederhana untukmu di hari 'spesial'mu
Aku memang mencintaimu, tapi semoga cintamu pada Robb kita jauh lebih besar dan Allah pun smakin mencintaimu...
Aku memang akan mendampingimu dalam suka maupun duka, tapi ingatlah Allah dalam kondisi apapun, maka semoga Allah selalu mengingatmu...
Engkau adalah pemikul tanggungjawab keluarga kita, aku, dan anak2 kita, maka smoga Allah karuniakan bahu tangguh untukmu, iman yg kokoh dan langkah yg senantiasa terjaga.

Barrakallah fii umrik, mas
Aku tak mampu memberi kado, tapi smoga Allah memberi umur yg barakah, rezeki yang barakah, keluarga yg barakah, dan hidup yang berlapis keberkahan didalamnya. Aamiin Allahummaamiin..

Rabu, September 17, 2014

Refleksi Hidup

Tetiba pagi ini saya merefleksi hidup.
Perjalanan hidup saya seolah kembali berputar dalam ingatan. Hidup yang sebenarnya, yang saya mulai dengan memilih menikah.
Tak ada yang menyangka, bahkan saya sendiri tidak pernah menyangka akan menikah di umur 23 tahun, hanya beberapa bulan setelah wisuda, yang sebelumnya masih punya kisah cinta yang complicated, dan bisa dipastikan tidak akan jadi sebegitu cepat. :)

Ya, kmudian datang tanpa diundang, sebuah pernyataan serius dari seorang pria yang kota kelahirannya saja baru kudengar darinya sebulan sebelum menikah.
Buku-buku yang pernah kubaca, tentang bagaimana pernikahan adalah ibadah yang menentramkan, membuatku memutuskan YA untuk menikah dengan SEDERHANA. Sangat sederhana tepatnya.
Lalu apakah tak ada angan2 pernikahan sempurna layaknya cinderella? Ada, tapi itu dulu sekali. Saat tiba waktunya, semua itu seolah menguap begitu saja, yang tersisa hanya perjalanan menuju ibadah yg sakral...penuh khidmat.

Muda, menikah, bekerja.
Terpaksa meninggalkan seorang pria yg baru berstatus suami selama 10 hari bersama mertuanya. Tanpa komunikasi, selama satu setengah bulan. Dilanjutkan satu setengah tahun lamanya, dengan tingkat petemuan 1-2 hingga 3 bulan sekali, dan telepon berjam2 sebelum tidur, setiap hari.

Resign. Memutuskan untuk meninggalkan segala bentuk fasilitas dan perhiasan yg betsifat dunia demi mengabdi, menjadi sederhana kembali, namun di samping suami. Tak ada gaji tinggi, apalagi jalan2 kr luar negri dari bonus gaji. Mengabdikan diri, demi meraih surga. Tak masuk akal, dianggap bodoh. Karna surga memanglah masih kasat mata, dibanding perhiasan dunia, maka penjelasan seperti apapun tak kan membuka hati pecinta dunia.
Bukan tak menggunakan logika, karna saya tak bisa menganggur. Bekerja dari rumah saja, meski sebenarnya sempat mendapat kesempatan tawaran bisa masuk bank tanpa seleksi. Tak diambil lagi??? Ya, karna sugguh ketakutan pada siksa riba membayangi....

Hamil dan melahirkan, kemudian kehilangan.
Duka yang membawa rahmat tersendiri bagi kami.
Bila ia masih di sini, bisa jadi saya adalah seorang ibu yang masih gemar berhijab namun tak syar'i, berhijab namun hanya ketika pergi. Yang masih tergila-gila pada fashionisty.
Bila ia masih di sini, mungkin saya adl ibu yg sibuk dengannya, bersibuk2 dngan urusannya, tak mengenal kajian tarbiyah, tak mengenal hijab syar'i, tak mengenal dakwah. Justru bersenang2 dengannya, mengenalkannya pada gemerapnya dunia, dan membuat saya lalai mengajar ketauhidan padanya.
Bila ia di sini, mugkin saya adl ibu yg merasa begitu beruntung dg segala kebahagiaan sempurna. Merasa tak butuh berlama2 sujud di malam hari, tilawah sepanjang hari, mentadaburi Al Qur'an demi berkomunikasi pada Dzat Yang Maha Mencintai.
Saya mungkin masih menjadi orang yang merasa sdh berhijab, namun masih berpikir seperti manusia liberal. Na'udzubillahimindzalik...

Maka kini, ketiadaannya mungkin mmg 'tepukan' ringan untuk menyadarkan saya yang bodoh dan tuli pada nasehat kebenaran. Yang dulu masih enggan dengan hijab syar'i meski tau itu benar. Yang dulu masih bermalas2 dalam majelis ilmu, padahal tau itu benar. Yang masih gemar ngemall, nonton, nongkrong, ghibah, dst... :'(

Dan dari sekian perjalanan hidup, terimakasih Allah atas segala rahmat yang melapangkan dada ini dari kesempitan dan gemerlapnya dunia....terimakasih atas suami yang begitu sabar menemani dan menerima. Mencintai dan bekerja keras dalam niat ibadah. Yang menuntun bukan menghakimi... Terimakasih atas rejeki yg cukup dan menentramkan dan yang lepas dari keragu-raguan akan sifatnya.
Terimakasih Robb...atas pertemuan dengan saudari2 seiman yang meneguhkan jalan di atas syariat....

...
Sept 17, 2014.
Hamba yang masih sering lupa bersyukur..